Sabtu, 04 April 2015

MENGAPA ORANG BAIK PERGI/WAFAT LEBIH CEPAT

Saat ini ada pertanyaan di masyarakat tentang mengapa orang baik dan sholeh pergi lebih dahulu dari dunia ini. Baru-baru ini kita kehilangan orang baik bernama Yoga/Olga Syahpurta, Alex Komang, diiringi dengan Ibu Nori dan beberapa tahun lalu kita juga kehilangan seorang ulama bernama Ustad Jefri Al Bukhori. Pertanyaan ini menjadi Tanya besar sebagian orang, mengapa orang-orang berpengaruh ini dipanggil lebih dahulu, mengapa bukan pada orang-orang yang jahat. Ada banyak orang baik dan sholeh dan berusia amat muda ternyata mereka sudah tidak ada lagi ditengah masyarakat. Ternyata ia sudah dipanggil Allah lebih dulu, jauh dari perkiraan manusia pada umumnya. Selama hidupnya orang-orang baik ini memiliki peran yang cukup besar, dimana umumnya mereka adalah orang yang memiliki jiwa social yang tinggi, gemar berbagi, suka memberi, selalu menolong orang lain dan berbagai keutamaan lain yang tidak dimiliki orang-orang pada umumnya. Mereka tidak pernah ragu dengan adanya kahirat dan selalu berpegang teguh pada Islam. Lalu mengapa? Mengapa seorang public figure? Karena para public figure ini adalah orang-orang yang selama ini menjadi pusat perhatian, mereka adalah orang-orang yang selalu menjadi sorotan dan pembicaraan khalayak, sisi baik maupun buruk. Adapun maksud dan tujuan Allah memangil lebih dahulu orang baik dan sholeh, semua itu adalah agar para pengikutnya juga akan mengikuti apa saja yang sudah dilakukan si orang baik ini. Agar kenangan baik yan ditinggalkan idolanya itu membekas kuat didalam dadanya dan di kehidupan ini para pengikutnya inipun akan melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah dilakukan idolanya itu.

Sudah disebutkan dalam beberapa hadist tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat; salah salah satu riwayat mengenai tanda-tanda datangnya hari kiamat, adalah ramai orang soleh meninggal dunia, berikut isi riwayat tersebut;
"Tidak akan datang hari kiamat sehingga Allah mengambil orang-orang yang baik dan ahli agama dimuka bumi, maka tiada yang tinggal padanya kecuali orang-orang yang hina dan buruk perilakunya yang tidak mengetahui yang makruf dan tidak mengingkari kemungkaran" - Riwayat Ahmad.

Tahukah anda hikmah dari riwayat tersebut, bahwa Allah memandang baik amal anak manusia yang berbuat baik selama menjalani kehidupan duniawi dan menjadikan keutamaan bagi mereka untuk mendapat kehormatan kembali menghadap terlebih dahulu. Orang-orang ini di mata Allah sebenarnyanya sedang mendapat kehormatan dan kemuliaan karena selama hidup di dunia ia telah banyak menebarkan kebaikan, menebarkan keindahan dan kemuliaan Islam, maka nyawa mereka pun dicabut lebih cepat lalu meninggalkan dunia ini, agar mereka segera menerima balasan kenikmatan akhirat juga lebih cepat dari yang seharusnya, sesuai yang Allah janjikan.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga ‘adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.”(QS. Al Bayyinah: 7-8).

Sementara orang-orang yang ditinggalkan sebagian adalah orang-orang yang masih merupakan manusia yang kurang amal ibadahnya, kurang sedekahnya, kurang memahami hakikat kehidupan, kurang mengenal diri dan pencipta-Nya, mereka masih kurang dalam segala hal, makanya Allah membiarkan mereka dalam segala kekurangannya itu semata-mata agar orang-orang ini berupaya sendiri; mengoreksi diri, mencari hidayah dan pemahaman sesuai dengan usaha dan upayanya, agar orang-orang ini berubah menjadi orang-orang baik dan sholeh seperti yang sudah dipanggil sebelumnya. Sehingga orang-orang ini memiliki amal yang cukup ketika menghadap sang Maha Pencipta.

Orang-orang ini meski mereka diberi waktu hidup didunia lebih panjang daripada orang-orang shaleh, namun dalam setiap detak waktu yang berlalu mereka sebenarnya sedang diberi kesempatan waktu untuk bertobat dan memikirkan cara menambah amal ibadah lebih banyak dan lebih baik lagi dari sebelumnya, mereka harus banyak belajar dari berbagai pelajaran berharga yang sudah dicontohnya idolanya. Kita harus pandai mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari kematian orang baik dan sholeh, mereka sesungguhnya adalah bagian dari peringatan Allah untuk kita, untuk membuat kita sadar bahwa hidup hidup manusia sudah berada di penghujung jaman, maka bersegeralah bertobat dan meramal shaleh, agar tidak masuk dalam golongan manusia rugi.

Apa-apa yang sudah ditinggalkan dan dicontohkan sang idola maka itulah yang akan menjadi panduan sisa manusia lainnya untuk memperbaiki diri, dan percayalah bahwa setelah beberapa tahun berlalu, jika ada beberapa orang yang mampu menjadikan diri mereka manusia baik dan sholeh, maka dengannya ALlah juga akan mempercepat kematiannya. Allah juga akan memanggil mereka menghadap lebih cepat, sehingga padanya yang tertinggal hanyalah kenangan baik di hati keluarga dan sahabat, lalu diteruskan lagi oleh generasi-generasi berikutnya. dan seterusnya- dan seterusnya dan yang tersisa dari mereka hanyalah yang jelek-jelek perilakunya hingga datangnya asap lembut yang menidurkan mereka (orang-orang baik di antara yan jelek-jelek) dan mulai berlakunya hari kiamat. Ini adalah layaknya proses penyaringan dan seleksi ketat bagi siapa saja yang menghendaki syurga yang kekal, maka mereka harus bekerja keras menggapainya.

Artinya ;“ALLAH tidak sekali-kali akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan yang kamu ada seorang (bercampur aduk mukmin dan munafik, bahkan Ia tetap menguji kamu) sehingga Ia memisahkan yang buruk (munafik) daripada yang baik (beriman)." (Al Imran 3:179)

Itulah sebabnya anda mungkin sering melihat mengapa justru banyak orang zalim lebih panjang usianya. Bisa jadi ini karena Allah yang sudah memberikannya kesempatan orang zalim ini waktu dan kesempatan memperbaiki diri, namun pada kenyataannya dia tidak pernah mau melakukan koreksi diri, maka baginya Allah swt membiarkannya terus-menerus berlumuran dosa hingga akhir usianya, sehingga akhirnya ia juga akan menerima serangkaian siksa tanpa henti, mulai dari siksa sakharatul maut, siksa alam kubur, siksa menanti hari kiamat, dan siksa setelah perhitungan amal. Orang-orang yang selama hidupnya semua waktu hanya dilaluinya dengan tindak kejahatan, maka demikian juga yang akan dialaminya di akhir hayatnya, semuanya hanya akan terdiri dari siksaan dan hinaan.

“Mereka hendak menipu ALlah dan orang-orang beriman, padahal mereka sedang menipu diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya" (QS. Al Baqarahh: 9).

Tanda-tanda datangnya hari kiamat lainnya adalah:

"Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bahawasanya ALLAH S.W.T. tidak mencabut (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) manusia. Tetapi ALLAH S.W.T. menghilangkan ilmu itu dengan mematikan alim-ulama'.

Selain mengangkat orang-orang baik, Allah juga mempercepat kematian alim ulama yang didalam diri mereka bersemayam ilmu. Para alim ulama ini adalah sumber datangnya rahmat keilmuan, lalu jika mereka tidak ada, ke manakah kita mencari pemahaman yang shahih tentang berbagai keilmuan agama. Tidak lain adalah kita harus menjadikan diri kita peka dengan berbagai peristiwa yang ada di sekitar kita, kita harus menghidupkan panca indera kita yang utama yaitu hati kita, karena pada setiap kejadian Allah senantiasa menyelipkan pesan dan hikmah, manusia yang menghidupkan hati nuraninya, maka dengan mudah mereka akan dapat menerima hikmah. Maka dari itu ilmu yang langsung masuk ke dalam hati adalah bekal yang terbaik bagi setiap manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sebagaimana firman-Nya berikut ini:

"Yaitu orang-orang yang beriman, dan hati mereka menjadi tenang hanya dengan mengingat ALlah." (QS. Ar-rad:28)

Cara berikutnya adalah, banyak-banyak pergunakan kemampuan mata untuk banyak membaca ayat suci al Quran dan hadist untuk mengkaji si kandungannya dan banyak-banyak menggunakan telinga untuk mendengarkan alunan ayat suci AL quran sehingga jiwa dan hati menjadi satu kesatuan utuh yag saling menopang teguhnya iman dalam dada. Hanya dengan mengoptimalkan ketiga panca indera ini semoga Allah menempatkan rahmatnya pada diri kita agar kita terhindar dari berbagai fitnah dunia dan bisa kembali ke pangkuannya dalam keadaan sebaik-baiknya iman.

Maka dari itu hikmah dibalik berbagai kejadian ini adalah panggilan untuk kita agar bersegera kita memperbaiki diri, membekali diri kita dengan berbagai amalan sholeh, membekali diri kita dengan berbagai amal kebajikan, mempersiapkan diri kita menghadap sang Khalik, dan menjadikan diri kita manusia yang selamat dunia dan akhirat. Saat ini urusan Allah terhadap manusia sudah tidak lebih dari sekedar memberi peringatan. Dunia sudah berada di ujung masa, sudah tidak ada lagi waktu dan kesempatan bagi kita untuk bersantai-santai dan berfoya-foya mempermainkan waktu. Karena disana hanya akan ada dua pilihan, surga atau neraka.

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar