Kamis, 08 Desember 2016

PENANGKAPAN 8 AKTIVIS PENCETUS MAKAR OLEH POLRI SUDAH TEPAT

Banyak pihak menyayangkan tindakan polri menangkap 11 aktivis yang di tuding akan melakukan aksi makar pada 2 desember 2016 lalu. Delapan orang yang diduga ingin makar di antaranya Adityawarman, Kivalan Zen, Eko, Rachmawati Soekarno Putri, Ratna Sarumpaet, Alvin Indra Alfaris, Virza Huzen, dan Sri Bintang Pamungkas. Diantara mereka menyatakan tindakan ini berlebihan dan terlalu sentimental. Tidak memiliki landasan yang cukup dan tuduhan ini tidak memiliki cukup bukti yang benar-benar menunjang tujuan kearah makar yaitu upaya penggulingan pemerintahan Jokowi. Kita semua pasti penasaran dengan agenda rahasia ini. Benarkah ke-11 aktivis ini benar-benar akan melakukan makar, atau itu baru sekedar wacana? Yang pada prinsipnya aparat penegak hokum setingkat polri pastinya sudah punya acuan/SOP dan alat bukti yang cukup untuk menyimpulkan apakah sekelompk orang memang sedang berusaha menyusun rencana makar atau tidak.

Polisi pasti sudah mengintai dan mengawasi gerak-gerik mereka sehingga akhirnya diambil kesimpulan bahwa kelompok ini ingin melakukan suatu aktivitas yang pada akhirnya berujung pada kegiatan yang berujung makar. Sebagaimana yang polisi lakukan pada aktivitas para teroris, semuanya dilakukan berdasarkan adanya agenda-agenda terselubung yang direncanakan dan terus diupayakan bergulir mengikuti perkembangan situasi hingga berujung pada kesimpulan bahwa agenda mereka bisa tercium sebelum aksi bunuh diri dengan peledakan bom dilaksanakan, polisi bisa mencegahnya dengan cara menangkap para pelaku teror. Ini memang ruang lingkup polisi dalam mencegah bergulirnya upaya pelaksaan terror ataupun berbagai kegiatan perusakan massa.


Dan apa yang dilakukan 11 aktvis ini memang terlihat sangat pre-mature atau terlalu dini dan berlebihan, jika mereka disangkakan akan melakukan makar, tetapi tahukah anda bahwa aktivitas mereka ini sangat berbahaya bagi bangsa kita? Seberapa besar tingkat bahayanya? Mari kita simak sama-sama.

KERJASAMA TIM DAN PEMBAGIAN TUGAS

Sebagaimana kita semua ketahui bahwa beberapa tokoh yang terlibat di dalam kelompok ini, masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda; ada yang politisi, ada yang militer, ada yang budayawan, ada yang pengamat social, ada yang calon kepala daerah, ada yang ahli teknologi informasi ada dan sebagainya. Semuanya punya peran dan tugas masing-masing, terstruktur dan teroganisir, tujuan jangka pendeknya adalah menyebarkan kebencian dan permusuhan kepada pemerintah di media social melalui berbagai akun fiktif dan sebagainya, memperkeruh suasana dan membangun distrust dengan tujuan agar masyarakat mudah diprovokasi dan diajak bergabung lalu menyatakan diri mereka mau ikut berevolusi dan menyetujui untuk diadakannya siding istimewa di parlemen, itu adalah tujuan akhirnya. Jadi jangan dianggap enteng acara kumpul-kumpul para inspirator seperti ini, jika ditelusuri mereka memang punya agenda besar yang siap digelar kapan saja dan tidak berlaku surut, alias tidak ada batas waktu bisa dibuka kapan saja dan dalam kondisi apa saja, salah satunya ketika akan diadakan aksi kembali turun ke jalan oleh ormas islam tanggal 2 desember lalu.

AKSI PENCUCIAN OTAK DENGAN ORASI NASIONALIS GARIS KERAS

Dalam aksi ini, mereka hanya ingin memperkeruh suasana dan membelokkan gerakan massa yang berkumpul di jalan menuju gedung parlemen DRP/MPR dengan tujuan agar terjadi revolusi sebagaimana yang pernah terjadi di tahun 1998. Agenda mereka ini akan benar-benar berhasil jika saja pada saat aksi super damai 2 desember itu dilaksanakan sama persis dengan aksi 4 november sebelumnya, dimana massa berkumpul tidak terkoordinir dan bisa digiring ke mana saja? lalu siapa yang akan berperan aktif di lapangan? Ya itu kan ada musisi Ahman Dhani yang sudah stand by di Hotel Sari Pan PAcifik, lokasi yang paling dekat dengan lokasi demonstrasi, ia sudah bersiap-siap menggelar orasi di hadapan public, lalu menggiring massa ke lokasi yang mereka inginkan. Sama halnya dengan upaya pencucian otak, dikala ribuan orang berkumpul lalu dicekoki dengan berbagai faham dan idealisme nasionalis garis keras, lalu membakar emosi warga maka dalam kondisi ini massa bisa berubah 100 derajat dari yang sebelumnya damai berubah menjadi anarkis. Inilah pola dan motif para kelompok ini ingin melaksanakan agendanya di tanggal bersejarah itu, dan untungnya polisi bisa mencium aroma tidak sedap itu lalu melakukan pencegahan dengan cepat.

IKLAN ROKOK YANG MENGINSPIRASI

Anda tahu apa lagi misi kelompok ini selain ingin menebarkan kebencian dan penghasutan massa di media sosial? Sebagaimana yang pernah disampaikan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dalam kuliah umumnya di beberapa tempat, bahwa media bisa merubah mind set seseorang setelah sekian tahun dengan upaya yang dilakukan secara terus-menerus. Orang bisa tanpa sengaja menanamkan sesuatu dalam benaknya bahwa sesuatu yang menarik perhatiannya itu bisa membuatnya tetap teringat walau sudah berlalu. Sebagaimana yang beliau contohkan, bagaimana dampak besar yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan rokok Long Beach, setiap hari menayangkan iklan dengan theme song menarik dan akhirnya bisa membuat orang faham bahwa itu adalah iklan rokok walau kita tidak pernah melihat wujud rokok itu tetapi theme song yang dilanunkan itu membuat orang mengetahui apa yang ada dalam isi lanunan itu.

Sama halnya dengan upaya menebarkan kebencian di media social, secara berkelanjutan dan terus-menerus akan menghasilkan cara berpikir masyarakat tertanam nilai negative dan akhirnya membangun distrust pada pemerintah. Walau kita juga tidak tahu kapan persisnya eksekusi aksi makar itu akan dilaksanakan, dalam hal ini kelompok ini sedang ingin membangun mind set buruk di masyarakat tentang pemerintahan yang berkuasa saat ini. Mereka sedang berupaya merekrut orang-orang pintar di bidang ilmu informatika, orang-orang yang pandai membuat argumentasi dan bisa menarik simpati public, lalu mengarahkan cara berpikir pada pola antipati dan kebencian, bahwa apapun yang dilakukan pemerintah semuanya bohong dan semuanya tidak akan berdampak positif. Ini yang saat ini sedang mereka godoq dan dimatangkan dengan sangat detail dan inilah yang sangat berbahaya.

ISU MASUKNYA TENAGA KERJA ASING ASAL CHINA

Banyak anak muda yang akan dicuci otaknya dengan cara menunjukkan sisi negative pemerintah dalam hal lapangan kerja, misalnya, disebarkan berita tentang maraknya pekerja asal China dan Tiongkok yang direkrut lalu bekerja di beberapa sector penting. Isu seperti ini pastinya akan sangat menjerumuskan citra pemerintahan Jokowi karena dianggap pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja bagi warganya, malah impor tenaga kerja dari Negara lain. Isu seperti ini sangat sensitive dikalangan anak muda, pastinya sangat meresahkan. Tetapi pada kenyataannya, memang China yang memiliki tenaga kerja terampil dengan upah murah dan bahkan Negara Amerika juga masih menggunakan tenaga asing ini untuk proses pembangunan di negaranya. Apalagi kebutuhan tenaga terampil di negara kita yang minim skill SDM-nya. Jika anak muda mau bercemin dari isu ini, harusnya anak muda Indonesia bisa melihat ini sebagai peluang, harus mau meningkatkan kemampuan skill yang dibutuhkan sector-sektor penting itu, sehingga bisa bersaing dan bisa masuk lapangan kerja sesuai standar internasional. Isu-isu negative seperti ini yang mereka kembangkan di media social sehingga terciptalah mind set anti kebijakan pemerintahan.

AUSTRALIA DAN TANGAN INTELEGEN

Lalu siapa yang mau mendanai aksi makar ini ke depannya? Negara tetangga mana yang tidak punya kepentingan dengan Indonesia? Singapura, Malaysia, Australia, dan sebagainya. Jika semua Negara tetangga ini memang melihat adanya prospek cemerlang dari ide para inspirator ini, bukan tidak mungkin mereka akan mau menggelontorkan berapapun dana yang dibutuhkan untuk mempermudah tercapainya tujuan makar. Hal ini bukanlah hal sulit, karena pemberontakan/revolusi akan digerakkan oleh masyarakatnya sendiri sementara mereka tidak perlu susah payah mengotori tangannya dengan revolusi. Beberapa waktu lalu, Australia terbukti telah menjadi provokator yang menghembuskan isu perpecahan dalam tubuh TNI, lalu Australia juga yang punya andil dalam penyebaran isu Panglima TNI akan mengkudeta pemerintahan Joko Widodo, lalu Australia juga yang menggulirkan isu Panglima TNI berbenturan dengan Ketua FPI Habib Rizieq.

Lalu mengapa Autralia sedemikian berupaya keras memperkeruh suasana dengan cara membenturkan berbagai elemen bangsa? Dalam rangka memecah belah bangsa sehingga kita tidak saling bersatu, kita tercerai berai. Ini pasti bukan hanya ingin bertujuan makar, bahkan seperti ada upaya ingin menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat dari dalam secara perlahan dan berkesinambungan. Tidak ada bedanya dengan apa yang dilakukan kelompok aktivis ini, mereka juga akan terus menghembuskan isu-isu negative di media social, media yang dapat diakses seluruh umat dalam waktu singkat sehingga suatu saat kelak bisa menuai hasil akhir yaitu menggulingkan pemerintahan secara revolusi.

Jadi apa yang dilakukan polri terhadap 11 aktivis ini kami anggap wajar dan bahkan wajib dilakukan secepatnya, karena sifatnya adalah pencegahan dan preventif, mencegah terbentuknya opini negative dimasyarakat. Masyarakat bukan tidak boleh mengkritik dan mengomentari kinerja pemerintahan, tetapi jika mereka memiliki agenda ingin menggulingkan pemerintahan yang sah dengan kedok kritik maka itu juga tidak bisa dibenarkan. Maka dari itu, kita sudah seharusnya mendukung kerja polri yang dalam hal ini sudah bertindak tepat berupaya melindungi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Polri sudah bekerja sesuai tugas dan fungsinya mengayomi masyarakat. Sekarang tinggal bagaimana masyarakat memandang sebuah isu yang beredar di media sosial apakah itu dalam rangka membangun trust atau distrust.

Artikel Terkait: