Kamis, 26 Januari 2017

DIBALIK KEBESARAN DAN KEAGUNGAN, MANUSIA HANYA SETITIK DEBU

Seorang imam besar yang terkenal ke seluruh penjuru negeri, karya-karyanya mendunia hingga saat ini, pernahkah anda mendengar salah satu diantara mereka memiliki sifat yang keras. Pernahkah anda mendengar imam besar Al Gazali memiliki sifat keras dan suka menyerang lawan, atau Abu Hurairah yang pemarah dan pendendam, atau Imam Bukhari yang suka mencela dan menghujat orang lain. Tidak, tidak ada satupun dari mereka yang memiliki sifat seperti ini, semuanya memberi contoh teladan yang baik, rendah hati dan berhati lembut. Semua imam besar itu dikenal sangat bijak, bahasanya santun, tutur katanya lembut dan gaya bicaranya lemah lembut. Bahkan semua pokok ilmu yang mereka wariskan pada dunia ini adalah tata cara menjalankan hidup penuh kebaikan dengan kesejukan.

Para imam besar itu masih dimanfaatkan ilmunya karena kebesaran jiwa dan kemampuannya mengembangkan alam pikiran dan jiwanya untuk menyelamatkan akidah umat yang mudah terombang ambing hingga akhir jaman. Ilmunya bukan semata-mata untuk mencari keuntungan pribadi, tetapi juga untuk membesarkan nilai-nilai luhur yang dibawa islam sehingga dapat diterapkan dengan benar kepada masyarakat muslim di era modernisasi. Sangat besar jasa-jasa mereka sehingga kita tidak akan mampu menghapus jejak ilmu yang telah mereka ajarkan.

Lalu melihat apa yang terjadi belakangan ini, ada seorang pemuka agama yang bersikap sangat keras dalam menyuarakan nilai keislaman, dalam usaha menegakkan nilai keagamaan, dalam menegakkan kebenaran. Sang Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab, sikap kerasnya ini ditampakkan dengan keberaniannya menentang penguasa dengan jargon-jargon nyeleneh yang menyudutkan dan memberi kesan adanya unsure penghasutan untuk menumbuhkan kebencian. Baik itu Kebencian antar sesame ataupun kebencian kepada pemerintah berkuasa. Sikap menentangnya ini diutarakan dengan kata-katanya yang kasar dan tidak pantas diucapkan oleh seorang yang menamakan diri ulama. Seorang pemuka agama yang seharusnya memberikan contoh yang baik dan tauladan bagi umat.


Sang Habib ini sudah berulang kali masuk penjara, tidak jera dengan upayanya tersebut, hingga saat ini beliau masih terus saja melakukan apa yang dianggapnya kebenaran tersebut. Apa yang dianggapnya tidak sesuai dengan akidah islam, sebagai contoh yang sedang ramai dibicarakan adalah apa yang dilakukannya belakangan ini. Beliau bermaksud ingin mengkritik logo yang tercantum dalam uang pecahan baru Rp 100 ribu yang baru saja dikeluarkan Bank Indonesia (BI), tetapi dengan cara berargumen dari sudut pandangnya sendiri (tanpa meminta klarifikasi terlebih dahulu) bahwa dalam logo yang dimaksud itu mengandung unsure komunisme (PKI) yaitu lambang “Palu Arit”. yang artinya logo ini mengisyaratkan bahwa ada upaya menyusupkan kebangkitan PKI dalam mata uang.

Padahal logo yang dimaksud itu secara kebetulan menyerupai lambang palu arit, tetapi sebenarnya itu adalah bagian dari teknik rectoverso, yaitu teknik pencahayaan bayangan tiga dimensi yang digunakan sebagai pengamanan uang sehingga jika diterawang logo aslinya akan muncul dan merujuk pada symbol BI yang tidak bisa dipalsukan dengan alat sederhana. Pemerintah merasa isu itu tidak benar dan akhirnya kasus ini masuk dalam ranah hukum untuk dibuktikan kebenarannya dipengadilan. Akibatnya kontroversi ini, kini benar-benar terjadi kekisruhan dimasyarakat, ada yang membenarkan dan banyak juga masyarakat yang tidak setuju. Dalam hal ini, jika sampai masuk ranah hukum dan pembuktian, maka bisa jadi ini memang ada unsure ketidaksengajaan atau kekeliruan semata dan tidak perlu diperpanjang atau mungkin bisa juga nanti Habib dijebloskan ke dalam penjara karena upaya penyebaran kebencian.

Jadi jika yang dipermasalahkan itu tidak terbukti, maka sia-sia apa yang sudah dilakukan, sang habib kembali masuk penjara, sementara masyarakat kita sudah terlanjur terbentuk pola pikir yang salah dan sudah terkotak-kotak dan terpecah belah. Apakah tindakan seperti ini perlu dibesar-besarkan, sementara kasus lebih besar yang seharusnya menjadi perhatian kita tentang kasus penodaan agama yang dilakukan Ir. Basuki Cahaya Purnama luput dari perhatian kita karena timbulnya kasus ini. Kita semua jadi tidak berkonsentrasi pada kasus Al Maidah 51, karena sidang yang digelar sebagaimana yang dijanjikan terbuka ternyata tidak bisa disaksikan langsung oleh masyarakat karena sidangnya tertutup dan kita tidak bisa mengawasi langsung. Jadi masih perlukan kita terus-terusan dibawa dalam polemic yang tidak perlu, sementara ada kasus lain yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita jadi tersamarkan.

Jadi sebenarnya apa yang dilakukan sang Habib ini sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan, energi kita habis dengan hal-hal seperti ini. DImana kita harusnya bisa membedakan mana yang lebih utama dan penting. Tapi sayangnya, tidak semua orang bisa melihat ini, semua larut dalam kesimpangsiuran. Ditambah lagi beberapa kasus lain yang membelit sang Habib, mulai dari kasus penghinaan terhadap Pancasila, kasus pornografi dengan tersangka Firza Husein,kasus penyerobotan Lahan di Sukabuumi dan sebagainya. Ada banyak kasus yang menyedot perhatian kita sebagai umat yang memandang habib ini suka membuat kontroversi serta selalu membawa banyak masalah dalam setiap aksinya. Perhatikan juga isi ceramah dan tausiah yang dikumandangkannya dalam berbagai kesempatan, banyak yang berbau kekerasan dan ajakan membangun kebencian (cenderung pada ajaran islam garis keras). Dan atas tindakannya saat ini, ada banyak daerah yang menolak kehadiran sang Habib untuk berceramah.

Dan buruknya lagi. Tidak peduli bagaimana cara pandang dan masukan orang lain, Habib tetap melakukan tindakan yang dianggapnya paling benar tersebut. Tidak ada satu orangpun termasuk para ulama yang berani membendung sikap sang habib, karena beliau memiliki kemampuan berdebat yang baik dan mampu membolak-balikkan kalimat. Dan sayangnya apapun yang dilakukan sang Habib, selalu ada yang mendukung dan membenarkan tindakannya. Mereka mengikuti dan mengiyakan apa saja yang diutarakan sang Habib, terlepas apakah itu benar atau tidak di sisi pandang lain.

Lalu sudah benarkah apa yang dilakukan sang Habib, perlukah kita mencari tahu darimana datangnya sifat-sifat seperti ini? ditengah dinamika masyarakat yang memandang bahwa islam tidak seharusnya diterapkan dengan cara kekerasan. Bahwa ada sebagian masyarakat juga tidak bisa menerima cara-cara yang dilakukan sang Habib karena dianggap bisa merusak persatuan bahkan dalam kalangan umat islam sendiri. Bagaimana Islam memandang perilaku sang Habib dan para pengikutnya yang belakangan hari ini dianggap kurang sesuai dengan nilai islam.

BERKACA PADA CERMIN KEBENARAN

Dalam Islam, Allah membagi manusia menjadi beberapa golongan, salah satunya adalah golongan manusia yang menjadi teman dan pendukung iblis. Yaitu orang-orang yang hidup dan perjuangannya tanpa sadar menjadi jalan kemudahan bagi iblis untuk menguasai manusia. Yang pertama, golongan orang yang sombong dan kedua golongan buta/bodoh.

Pertama, pada sebagian orang, Allah menamai mereka adalah Mutakabbirin, yaitu orang-orang yang sombong. Orang yang merasa dirinya lebih tinggi derajatnya, orang yang lebih baik, lebih mulia, lebih banyak ilmunya, dan lebih segala-galanya dari yang lain. Ketika seseorang memiliki perasaan ini, maka tanpa sadar perasaan ini meresap ke dalam hatinya, ia tidak bisa mengenali mana yang benar dan mana yang salah, karena sifat sombong sudah menguasainya, sehingga ia terus mengokohkan dirinya sebagai orang yang hebat, lalu diaktualisasikan melalui anggota tubuhnya semisal dengan kata-kalimat cemoohan atau hinaan kepada orang yang dipandangnya rendah untuk menunjukkan bahwa dirinya jauh lebih baik dari orang tersebut. Menurut Rasulullah SAW, ketakaburannya didefinisikan sebagai bentuk penolakan atas kebenaran dan menghinakan mahluk (HR. Muslim)

Pintu-pintu kesombongan ini ada banyak dan kesemua pintu kesombongan ini adalah jalan utama masuknya syetan. Diantaranya sesuatu yang menyangkut keutamaan dan kelebihan yang dimiliki seseorang, seperti harta benda, kekuasaan, nama besar, kekuatan, status social, ilmu pengetahuan, atau keturunan. Pada pintu-pintu tersebut rentan disusupi bisikan/hasutan syetan. Yang mana bila seorang muslim tidak memiliki rasa tawadhu (rendah hati), maka ia akan memiliki kecenderungan untuk bersifat takabur. Sombong/ujub adalah salah satu sifat Iblis Azazil yang dilaknati Allah swt karena terang-terangan menolak perintah Allah swt untuk bersujud kepada Adam as. Maka siapa saja yang dalam hatinya telah terjangkit penyakit hati (sombong), bisa dipastikan ia memiliki sifat-sifat syetan/iblis dalam dirinya. Dalam Al Quran Allah swt berfirman:

“Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan disisi orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewewenang-wenang.” (QS. Al Mukminun :35)

Kala itu iblis merasa enggan sujud kepada Adam karena ia terbuat dari api sementara Adam dari tanah. Seketika sifat sombong menguasai iblis dan ia tidak bisa mengontrol kesalahan tindakannya tersebut. Sifat sombong yang timbul, hanya karena ia melihat dirinya lebih baik dari yang lain, padahal sebenarnya selama ribuan tahun ia sudah beribadah menyembah Allah tanpa cela, dan menjadi pemimpin para malaikat tetapi nampaknya nilai ibadah yang dilakukannya itu tidak bisa membuatnya makin tunduk kepada perintah Allah, melainkan menjadikan ia pembangkang, akhirnya iblis menjadi mahluk paling rendah dan hina dihadapan Allah, hanya karena perasaan sombong yang menyelimuti dirinya dan ia tidak bisa menolak perasaan itu.

Dan itulah yang sangat disesali iblis selama ribuan tahun dan itu juga yang menjadi penyebab timbulnya dendam iblis kepada bangsa manusia, akan menjatuhkan martabat setiap manusia dalam sifat sombong dan takabur sebagaimana yang pernah dilakukannya. Sifat yang pernah menjerumuskan dirinya dalam kehancuran. Karena iblis berkeyakinan, bahkan iblis saja yang memiliki kekuatan tidak mampu mengendalikan rasa sombong, apalagi manusia biasa. Iblis akan berusaha keras menjatuhkan setiap manusia yang berada dipuncak kejayaan dengan sifat sombong yang terus menggerogoti dirinya. Karena sifat sombong jugalah yang telah menjatuhkannya dan sifat sombong juga yang akan menghancurkan manusia dihadapan Allah.

Dalam hal ini, Imam Al Gazali berpendapat bahwa tidak ada satupun budi pekerti buruk yang tidak dimiliki orang-orang sombong. Ia tidak bisa meninggalkan sifat angkuh, iri, dengki, dendam, amarah, buruk sangka, gemar mengumpat, menghasut dan menghina. Dalam kitabnya yang terkenal "Ihya ulumudin" Imam Al Gazali juga berpendapat; "Jika dalam hatimu terdapat sangkaan buruk, maka sesungguhnya hal itu berasal dari syetan, yang sengaja ditancapkan dalam hatimu."

Kesombongan adalah penyakit hati yang amat berat, karena menjadi hijab yang akan menutup mata hatinya terhadap kebenaran. Orang yang sudah terjangkit sifat sombong, tidak akan bisa menerima kebenaran, karena Allah telah mengunci mati mata hatinya.

Nabi Isa as. Pun pernah berwasiat:
“Tanaman tidak tumbuh di tanah yang keras dan berbatu, tanaman hanya tumbuh di tanah yang gembur dan empuk. Sama halnya kebajikan akan tumbuh di hati yang lembut dan lunak, bukan di hati yang keras dan sombong.”

Dan kondisi seperti inilah yang sekarang sedang kita hadapi, banyak orang yang sedang berada di atas awan tidak bisa mengendalikan diri dan merasa senang diagung-agungkan manusia yang tidak punya ilmu. Ada banyak orang tidak bisa mengenali dirinya sendiri dalam bayang-bayang kesenangan dunia. Mereka menganggap dirinya sudah ditinggikan derajatnya dan merasa dirinya sudah menjadi pembawa kebenaran dan merasa dirinya sangat sempurna. Padahal sesunguhnya itu adalah bagian dari bisikan dan bujukan iblis untuk mengelabui manusia yang sedang mabuk dan terlena. Iblis sedang menggiringnya kedalam kehancuran.

Ketika berada diatas mimbar yang tinggi dan menatap ke bawah ada banyak orang yang memberinya punggung sebagai pijakan, mereka merasa inilah saat dimana mereka telah mencapai puncak kejayaan. Dan disaat seperti inilah syetan bekerja keras membangun pondasi kesombongan dalam diri orang itu untuk terus menampakkan diri sebagai orang yang paling kuat, ditakuti dan disegani dengan berbagai argument kebenaran yang ada dalam dirinya. Syetan akan terus membangun imeg orang ini sebagai orang yang perkasa dan harus menjadi yang paling di takuti, hingga akhirnya orang ini akan membangun jati dirinya menjadi orang yang harus ditakuti bahkan melebihi rasa takutnya manusia kepada Tuhan-Nya.

Padahal, hanya Allah lah sang pemilik sifat sombong itu. Hanya Allah yang berhak, manusia sebagai mahluk ciptaan-Nya tidak punya hak atas sifat itu, bahkan terbesitpun tidak pantas, merasa lebih tinggi dan lebih besar sehingga ingin menyamakan dirinya dengan Tuhan. Maka sesungguhnya orang itu sudah benar-benar terjerumus dalam kehancuran yang nyata. Dalam hadist Qudsi dijelaskan:

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Sombong itu selendang-Ku dan kebesaran itu sarung-Ku, barangsiapa yang melawan-Ku dalam salah satunya maka ia Aku lempar ke dalam neraka.” (Hadist ditakrij oleh Abu Dawud).

Dan Allah pun mengancam siapa saja yang berani bersikap sombong selama di dunia dengan ancaman keras yang tertera di banyak firman-Nya, salah satunya berikut ini:
“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam legam. Bukankah neraka itu menjadi tempat bagi orang yang menyombongkan diri.”
(QS. Az Zumar:60)

Sejatinya sifat sombong harus dilawan dengan rendah hati, artinya siapa saja yang merasakan dirinya diberikan kemudahan dalam hal keduniaan dan ibadahnya, maka harusnya manusia mampu menggiring kedua kelebihannya itu menuju sifat tawadhu dan rendah hati. Manusia harus mampu menampik keinginan yang timbul untuk berbangga diri dan ujub yang timbul dalam dirinya untuk dikendalikan menjadi jalan ketaatan dan kepatuhan pada perintah Allah swt.

Karena Inti utama tujuan ditetapkanya kewajiban beribadah bagi seluruh mahluk adalah agar manusia bisa menundukkan berbagai bentuk sifat buruk yang ada dalam dirinya, terutama kesombongan. Agar ia tidak tergelincir dalam hasutan dan bujukan syetan yang akan menjerumuskannya dalam kehancuran. Lihatlah apa yang terjadi pada bangsa iblis, walau ribuan tahun sudah mengabdi kepada Allah tetapi ketika diuji oleh Allah tentang ketaatannya, iblis gagal dan hancur.

Begitu juga dengan manusia, ujian mereka pun sama, bukan soal berapa banyak ibadah yang telah mereka dirikan dan berapa banyak ilmu yang mereka kuasai, tetapi tentang berapa besar ketundukan dan ketaatan mereka kepada perintah Allah swt. Mampukah mereka menundukkan sifat sombong dan berbangga diri yang ada dalam dirinya ketika berada dipuncak kejayaan, dikala Allah memintanya mematuhi perintah merendah dari diri dihadapan Allah, mampukah ia menerima cobaan itu. Bangsa iblis sudah terbukti gagal, seharusnya manusia bisa lebih mampu karena ia sudah diberikan banyak kelebihan dan keutamaan. Dan itulah sebabnya Allah menciptakan mahluk berbeda yang bernama manusia dan iblis, diantara mereka terdapat perbedaan yang nyata, yaitu kemampuan mengendalikan diri.

GOLONGAN BUTA (TAKLID)

Golongan kedua adalah golongan manusia yang buta, yaitu orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya untuk mengambil pelajaran. Golongan ini berada di belakang golongan mutakabirin, yaitu para pengikut orang-orang yang sombong. Golongan taklid atau orang buta ini memberikan dukungan terhadap orang sombong semata-mata karena rasa simpati, bukan karena mereka sudah meneliti atau membuat analisa kritis terhadap paham (ajaran) yang diikutinya. Orang-orang seperti ini biasanya sangat patuh terhadap guru-gurunya, sehingga apapun yang diperintahkan dan dicontohkan oleh guru-gurunya walaupun salah menurut syariat mereka akan dengan senang hati menjalaninya karena dangkalnya pengetahuan mereka.

Ketaklidan mudah terjadi pada setiap orang (terutama kalangan awam) karena mereka berpendidikan rendah, tidak memiliki pendidikan dan wawasan yang memadai, pandangannya (saklek/harga mati) pada orang-orang yang dijadikannya panutan. Memandang berlebihan orang yang dianggapnya memiliki ilmu lebih tinggi darinya. Kesalahan terbesar golongan ini adalah mereka menganggap dengan mengikuti ajaran dari gurunya, mereka sudah dijamin masuk syurga. Padahal sesungguhnya itu adalah pandangan yang salah, keputusan tentang siapa yang layak masuk syurga bukan disebabkan karena kepada siapa ia berguru, tetapi bagaimana ia memanfaatkan ilmu itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi mahluk yang tunduk dan pada kebenaran yang hanya datang dari ALlah swt.
Dalam firman-Nya Allah telah menunjukkan, seperti apa perilaku golongan ini;

“Dan apabila dinasihatkan kepada orang-orang kafir, ikutilah segala apa yang Allah turunkan (kepada mereka),” maka mereka menjawab, “Kami hanya dapat mengikuti apa yang diwariskan dari leluhur kami, meskipun orang-orang tua mereka itu sama sekali tidak mengerti apapun (yang dijalaninya) dan mereka bukan orang yang mendapat petunjuk. “
(QS. Al Baqarah :17)

Inilah yang sedang menjangkiti masyarakat kita saat ini, banyak yang mengagungkan dan memberikan dukungan kepada sang Habib sementara mereka sendiri tidak memiliki ilmu. Mereka membenarkan saja apa yang dilakukan habib karena merasa diri mereka tidak cukup ilmu dan sang habib dipandangnya sangat kritis dan cerdas, maka mereka berduyun-duyun memberikan panggung sementara sang habib ternyata juga tidak memilik cukup kemampuan mengendalikan diri.

Lalu apa yang terjadi? Kini masyarakat kita terkotak-kotak dan terpecah belah menjadi beberapa golongan, ada yang merasa paling benar dan paling sakti, dan ada juga yang tidak sepaham dan tidak membenarkan dan ada juga yang tidak memilih satu diantara keduanya. Bibit-bibit perpecahan seperti inilah yang akan terus tumbuh di masyarakat kita jika kita membiarkan saja apa yang sedang berlangsung sekarang ini. Bibit-bibit ini akan tumbuh dan mengakar ke dalam sanubari lalu juga akan diwariskan kepada generasi selanjutnya yang kita bisa sebutkan bahwa ini adalah satu bibit kehancuran umat muslim di Negara mayoritas muslim dunia saat ini. Cegahlah jika memang masih bisa kita mencegahnya. Bagimana cara mencegahnya?

Dari Anas ra. Rasulullah bersabda: "Hendaklah kamu menolong saudaramu yang menganiaya dan di aniaya,"
Sabahat bertanya; "Wahai rasulullah, aku menolong jika ia dianiaya, maka bagaimana cara menolongnya jika ia yang melakukan aniaya?"
Rasulullah bersabda; "Engkau cegah ia dari penganiayaan, maka demikian itu berarti telah menolongnya." (HR. Bukhari)

Cegahlah dan ajaklah saudara kita yang masih kurang ilmunya untuk lebih banyak memfokuskan diri pada hal-hal penting untuk kemaslahatan umat. Ada banyak kasus yang membutuhkan perhatian kita dan dinilai lebih urgent. Ketaklidan atau kebodohan sebenarnya bisa diatasi dengan cara mencari guru-guru yang berahlak mulia dan qonaah, carilah guru-guru yang baik tutur katanya, santun, jiwanya tenang, banyak ilmunya dan bisa mengajak pada kebenaran dengan cara yang benar. Di negeri ini ada banyak alim ulama yang mendapat petunjuk Allah swt, lihatlah dari sikap dan tabiatnya dalam bersyiar, mengutamakan perbaikan dalam diri (mengutamakan intropeksi) daripada sibuk mengurusi kesalahan orang lain.

Yang perlu ditekankan disini adalah bukan soal berapa banyak ilmu yang akan dikuasai, bukan soal berapa banyak ibadah yang ditegakkan tapi yang lebih penting lagi adalah seberapa besar kemampuan kita mengelola ilmu dan ibadahnya itu untuk bisa mengendalikan diri dan hawa nafsu atas perintah dan petunjuk Allah swt. Ada banyak orang yang memiliki ilmu dan mereka juga berkuasa, tetapi ketika didatangkan cobaan kepada dirinya, mereka tidak mampu menerima cobaan itu dan menguasai dirinya untuk bersikap patuh pada perintah Allah swt. Banyak orang tidak mampu mengendalikan diri ketika berada dipuncak kejayaan, mereka banyak yang jatuh bergelimpangan dalam kehinaan, lalu menyesal tiada akhir. Semua itu diakibatkan ilmu dan ibadahnya tidak bisa menjadi pendorong tumbuhnya iman dalam dirinya melainkan semakin sombong.

Oleh sebab itu yakinlah bahwa satu-satunya sumber kebenaran datang hanya dari Allah swt berikut firman-Nya:

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al Baqarah: 147)


Artikel Terkait: