Senin, 22 Mei 2017

SETELAH SUARA AHOK DAN RIZIEK TAK TERDENGAR LAGI

Setelah berbulan-bulan lamanya, polemik kasus penistaan agama oleh Ahok berakhir dengan vonis 2 tahun penjara di pengadilan, diikuti dengan menghilangnya pemimpin besar FPI sang Habib Riziek Shihab ke luar negeri. Bangsa ini kini menemukan kesejukan dan kedamaian dari hingar bingar media sosial yang selama ini sibuk memberitakan kontroversi keduanya. Ditambah lagi kini sudah memasuki bulan suci, bulannya bersih-bersih diri, suasana kebathinan bangsa ini berangsur mereda dan tensi mulai menurun stabil. Ada sisi baik dari kejadian itu, bahwa semua orang jadi bisa mengambil hikmah dan melihat sisi positif dari semua ini bisa menjadi pelajaran mahal bagi iklim politik negeri ini. Apa saja sisi positifnya, berikut ulasannya.

Tidak ada lagi gejolak dan sentimen negatif yang bisa merusak suasana kebathinan bangsa ini. Semua pihak sudah diminta kesediaannya menjaga perdamaian baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Jangan lagi ada kegaduhan dan ribut-ribut gonjang-ganjing yang tidak ada kesudahannya.
Ada baiknya juga ketika dua tokoh ini tiba-tiba hilang dari pembahasan banyak media yang bolak-balik memberitakan mereka, semua orang jadi lebih terkendali dan mudah mempersiapkan diri menghadapi bulan ramadhan. Kita bisa menjalankan ibadah puasa lebih khusuk. Bahkan sebuah lembaga pemeringkat investasi memberikan apresiasi pada situasi politik kita dengan memasukkan Indonesia dalam daftar negara layak investasi jangka panjang. Kini kita sedikit bisa bernafas lega setelah huru-hara politik pilkada, semua bisa kembali kepada berjalan normal dan ekonomi bisa kembali bangkit.

Coba saja anda bayangkan jika dua tokoh ini masih berkeliaran bebas, bagaimana caranya bangsa ini keluar dari kegaduhan dan kesemrawutan opini yang saling serang dan menjatuhkan antara pendukung keduanya. Inilah sisi baiknya, akhir yang indah bisa dirasakan oleh kebanyakan masyarakat yang bisa kembali hidup normal dan bisa kembali menata kehidupannya tanpa harus bertarung bathin terpecah menjadi dua kubu yang saling beseberangan. Cukup sudah, konflik ini sudah cukup menguras energi kita dan kembali lagi kita menjadi warga negara yang waras.

Walau diawal banyak pihak yang tidak setuju dengan vonis yang dijatuhkan terhadap Ahok, terjadi perlawan massa pendukung AHok, tetapi akhirnya semua itu bisa diredakan. Ditambah lagi kini tersiar berita sang Habib tidak akan kembali ke negeri ini dalam waktu dekat, dan pihak keluarga Ahok juga sudah membatalkan tuntutan banding atas vonisnya. Ini akan menjadi berita baik bagi semua, karena atas keinginan keduanya juga mereka lebih memilih menahan diri untuk tidak melanjutkan konflik di meja pengadilan, atau tidak akan memperpanjang kasusnya di meja hijau karena sudah pasti energi bangsa ini akan kembalii tersedot pada sepak terjang keduanya. Kembali lagi pendukung dua tokoh ini akan saling berhadap-hadapan di depan halaman pengadilan, saling hujat dan caci maki menyulut kemarahan publik kembali tersulut.

Untuk apalagi semua itu dilakukan, jika ternyata itu hanya akan makin membuat luka lama terkoyak kembali. Hukum sudah ditegakkan dan kini adalah waktunya bagi masyarakat untuk memfokuskan diri beribadah dan memohon ampunan-Nya. Bulan baik dan bulan penuh berkah jangan lagi dikotori dengan semangat saling hujat dan saling fitnah, menumbuhkan perpecahan dan kebencian antara umat. Bulan baik dipakai untuk ibadah dan mendekaatkan diri kepada Sang Pencipta. Proses hukum Sang Habib bisa diproses setelah bulan ramadhan atau setelah beliau kembali ke tanah air. Jangan merusak kekhusukan orang beribadah di bulan suci, tunggu hingga bulan suci selesai barulah kita kembali berjibaku dengan berbagai persolan bangsa ini. Tahan diri semua pihak sangat diperlukan. Semoga kedua tokoh ini bisa mengambil pelajaran dari peristiwa itu, dan masyarakat bisa kembali bersatu lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Artikel Terkait: