Senin, 22 Agustus 2016

KEMERDEKAAN KAUM PEREMPUAN DI ERA MODERN, MASIHKAH DIPERTARUHKAN?

Beberapa waktu lalu kita memperingati hari kemerdekan, dan setiap tahun kita juga memperingati Hari Kartini, sebagai wujud penghormatan kita kepada jasa para pahlawan pejuang emansipasi yaitu RA. Kartini. Pejuang emansipasi perempuan yang dikenal sangat gigih memperjuangkan hak-hak perempuan. Dalam kaitan nilai kemerdekaan dengan semangat emansipasi ini, adakah perempuan sudah mendapatkan kemerdekaaan yang sesungguhnya? Atakah ternyata hingga kini mereka masih dijajah dalam bentuk penjajahan berkedok modernisasi.

Namun jika merujuk para makna kata emansipasi, Apa itu emansipasi? Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia Emansipasi ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak diberi hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu. Sudah faham betulkah masyarakat kita tentang inti semangat emansipasi ini? Bahwa misi utama emansipasi ini sebenarnya bukanlah untuk membuat kebanyakan perempuan menjadi mangsa para pelaku kejahatan sebagai bagian dari sisi kesetaraan yang mereka maksudkan. Lalu bagaimana sikap dan tanggapan kaum pria yang seakan-akan mendapatkan tantangan untuk bisa bersaing dengan kaum wanita. Apa reaksi mereka?

Faktanya ada banyak kaum pria ketika berhadapn dengan perempuan dalam suatu situasi mereka mendorong perempuan untuk menggunakan hak emansipasinya (kesetaraan) jika ingin mendapatkan perlakukan yang sama (tempat duduk di angkutan umum misalnya). Yang pada akhirnya, bukannya mendapat perlakukan yang baik, sebaliknya jadi terkesan memojokkan dan melecehkan, karena akhirnya perempuan yang mendapat keistimewaan. Atas nama emansipasi ini justru perempuan menjadi sasaran kesewenangan kaum adam yang menganggap perempuan tidak seharusnya menuntut perlakukan yang sama jika pada faktanya mereka tidak mampu melakukan hal serupa. Banyak diantara kaum laki-laki yang menganggap aneh tuntutan kaum perempuan ini, terlalu tidak mungkin dalam hal apapun, karena perempuan punya banyak kelemahan dan kekurangan fisik. Dimata sebagian pria, tuntutan ini dianggap terlalu mengada-ada dan berlebihan.

Ada kesan, justru ketika perempuan mengatakan peran mereka dilandasi atas nama emansipasi, perlakuan yang
mereka terima justru sikap nyinyir dan meremehkan. Karena seakan-akan perempuan hanya berusaha bersembunyi dibalik slogan emansipasi demi mendapatkan banyak fasilitas lebih baik atas dasar kelemahannya itu. Lalu apa yang salah dengan semua ini? Nampaknya kita semua sudah salah mendefinisikan makna emansipasi yang di maksud Ibu Kita Kartini, nampaknya ada doktrin yang salah di mengerti tentang apa sebenarnya makna emansipasi. Terutama bagi kebanyakan kaum pria. Yang pada akhirnya mereka sedikit terpaksa menerima doktrin tersebut walau memang dalam pelaksanaannya terkesan dipaksakan. Diantara sekian banyak kesalahan fahaman penjabaran makna emansipasi ini bahkan menjadikan perempuan pihak yang paling banyak dirugikan.

Perempuan sendiri tidak bisa menentukan batasan apa yang seharusnya menjadi lingkup wilayah mereka ketika harus berhadapan dengan kekuatan fisik, kekuasaan, politik dan kriminalitas. Perempuan kerap menjadi umpan dan sasaran empuk yang dikorbankan demi mencapai tujuan segelintir orang. Dari sekian banyak persoalan yang berhubungan dengan perempuan, sebagian besar diantaranya perempuan hanya dijadikan sample/calon korban yang tidak berdaya, dan sebagian lainnya menjadi pelaku kejahatan yang ingin menampakkan kekuatan/kekejaman mereka. Atas nama emansipasi, mari kita hitung bersama point-point berikut ini, disisi mana perempuan diberdayakan sebagaimana seharusnya mahluk Tuhan yang paling indah, point mana yang menunjukkan peran mereka tidak ada beda dengan benda mati.

1. mari kita hitung ada berapa banyak TKI yang sudah dikirim ke luar negeri untuk mencari pekerjaan dengan alasan ekonomi sehingga mereka terpaksa meninggalkan keluarga di kampung demi sesuap nasi, pada beberapa kasus mereka menerima perlakuan tidak adil bahkan perbuatan biadab dari majikan. dan pemerintah hanya menghitung income atas pemasukan negara dari hasil keringat mereka lalu mereka diberi gelar para kartini devisa? apakah seperti ini layak disebut emansipasi?

2. mari kita hitung berapa banyak buruh perempuan yang dipekerjakan dipabrik-pabrik dengan standar upah rendah dan sama sekali tidak memperhatikan standar keselamatan yang mengutamakan kepentingan perempuan, ada banyak hak yang dilanggar dan itupun juga terpaksa mereka lakukan karena alasan ekonomi. Apakah itu layak disebut emansipasi?

3. mari kita hitung ada berapa banyak pekerja sektor informal yang berkeliaran di pinggir-pinngir jalan dan menjajakan barang dagangannya menjadi pedagang kaki lima, pekerjaan informal inipun terpaksa mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Apa ini wujud emansipasi sebenarnya?

4. mari kita hitung ada berapa banyak perempuan muda cantik terpaksa menjadi pekerja seks komersial yaitu pekerjaan mereka adalah melayani laki-laki hidung belang, karena mereka tidak punya keterampilan dan keahlian, dan sebagainya sekali lagi karena alasan ekonomi, apa ini yang dimaksud emansipasi?

5. mari kita hitung berapa banyak kaum perempuan muda yang bekerja di kantoran dan gedung-gedung bertingkat, berangkat pagi pulang malam dan di tengan perjalanan mereka mendapatkan perlakukan tidak senonoh oleh oknum-oknum di berbagai moda transportasi umum, sekali lagi ini dilakukan atas nama tuntutan ekonomi. Apakah ini yang dimaksud pejuang emansipasi?

6. mari kita hitung ada berapa banyak perempuan yang menjadi menjadi sentra ekploitasi dunia hiburan dan entertainment, mereka merelakan dirinya menjadi pusat perhatian dan pusat kejahatan seksual karena kecantikan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomis segelintir orang, sekali lagi itu dikarenakan dorongan ekonomi dengan imbalan menggiurkan. Apakah ini yang dimaksud emansipasi?

7. mari kita hitung berapa persen sektor pekerjaan yang seharusnya banyak diisi kaum perempuan seperti; pendidikan, kesehatan, kesenian, keterampilan dan sebagainya namun didalamnya pun mereka tetap harus bersaing dengan kaum lak-laki yang juga mendominasi bidang ini. Apa ini yang disebut emansipasi?

8. mari kita hitung ada berapa banyak kaum perempuan yang terpaksa menjalani pekerjaan pria misalnya menjadi supir, buruh bangunan, kuli angkut, olahragawan, tentara, termasuk juga pelaku kejahatan dan sebagainya. Apa ini yang diperlukan untuk menunjang semangat emansipasi?

9. mari kita hitung ada berapa banyak perempuan yang bekerja di sektor pemerintahan daerah dan pusat, yang mana sebenarnya waktu mereka harusnya lebih banyak dipakai untuk mendidik anak-anak di rumah, namun terhalang keadaan karena kesibukan di kantor yang tidak mengenal waktu senggang. Ujungnya, urusan anak-anak dan keluarga diserahkan kepada asisten rumah tangga yang pengetahuannya tidak seberapa (standar SLTP).

10. mari kita hitung ada berapa banyak perempuan yang meninggal dunia di tempatnya bekerja, meninggal akibat kekerasan di jalan, kekerasan dalam rumah tangga, akibat kekerasan seksual dan sebagainya, entah itu disebabkan kesengajaan atau tidak sengaja mengakibatkan mereka harus kehilangan nyawa, lalu negara pun tidak melihat jasa yang mereka sumbangkan dan menganggapnya kecelakaan biasa.

11. Mari kita hitung, ada berapa banyak perempuan yang dijadikan objek penelitian dan sasaran pengembangan produk rumah tangga dan kecantikan, memanfaatkan potensi nafsu belanja dan bersolek perempuan demi mendapatkan ribuan lipat keuntungan.

12. Atas nama emansipasi, mari kita hitung ada berapa banyak anak-anak kita yang menjadi korban kekerasan seksual, korban kekerasan dalam rumah tangga akibat orang tuanya berpisah, korban pembunuhan berencana, sasaran empuk berbagai aksi kejahatan yang mana semua itu dimulai dari ketiadaan perhatian orang tua yang sibuk bekerja dan mereka lebih mementingkan karier dibanding keutuhan rumah tangga dan keselamatan anak-anaknya. APa ini tujuan emansipasi?

Dan ada banyak lagi, yang mana ujung dari semua ini akhirnya adalah pendidikan anak jadi terbengkalai dan sudah anda hitung ada berapa banyak kerugian perempuan akibat mereka terpaksa meninggalkan rumah dan anak-anaknya di kemudian hari kelak? Anak-anak kitalah yang menjadi korban paling besar menanggung dampak semua ini, yaitu dimana mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tidak menghormati orang tuanya termasuk orang lain, karena semasa kecilnya ia diasuh oleh orang yang dibayar dan bukan oleh orang tuanya sendiri yang memberikan nilai-nilai moral ketulusan. Anak-anak dengan pola asuh mengekang dan membatasi gerak mereka akan menghasilkan tumbuh kembang generasi yang kaku dan keras menghadapi kehidupan, mereka adalah jiwa-jiwa yang pamrih.

Pertanyaan besarnya adalah? dimana nilai kemuliaan wanita dalam lingkup emansipasi wanita di 12 point atas? jika anda bisa melihatnya dengan mata hati yang jelas, justru wanita disana tidak ada bedanya dengan budak? emansipasi dalam bentuk baru perbudakan manusia yang mana manusianya sendiri tidak menyadari diri mereka sedang dieksploitasi, hak-haknya di pasung dan diborgol oleh Hak asasi Manusia (HAM) yang menganggap mereka sebagai para pahlawan devisa bagi sang penguasa padahal sesungguhnya mereka tidak lebih dari budak yang diberi bandrol emansipasi modern. Sadarkaah anda akan hal itu?

Apakah semua poin diats anda sebut semangat kesetaraan gender? Apakah anda tidak melihat besarnya sisi buruk yang dihasilkan, Apakah anda tidak merasakan bahwa sebagian besar dari perempuan hanya dijadikan sapi perah penguasa untuk menggerakkan roda ekonomi diberbagai sektor. Perempuan di negeri ini hanya dijadikan alat untuk membanjiri jumlah tenaga kerja sehingga investor mau masuk dan ongkos/upah buruh bisa ditekan. Bukan dalam rangka untuk mensejahterakan, namun untuk mengambil keuntungan dari sisi negatif emansipasi yang mana perempuan di negeri ini mau dan bersedia dijadikan buruh murah.

Lalu apa yang terjadi? Generasi muda kita hancur, baik secara moral dan mental. Kenapa? karena pola didik di rumah yang salah (diasuh oleh asisten rumah tangga atau bahkan oleh media sosial dan gadgetnya), dan kebiasan apa yang dilakukan orang tuanya kelak juga akan diwariskan kepada anak-anaknya dan seterusnya, hingga benar-benar hancurlah generasi kita ke depannya. Sebagaimana yang terjadi di sekeliling kita belakangan ini, ada orang tua memukul guru, ada anak-anak mengeroyok petugas sekolah, ada guru berkelahi dengan wari murid dan sebagainya. Semua pelaku saling baku hantam atas nama kepentingan masing-masing semakin mendominasi.

Bandingkan jika saja perempuan tidak banyak menghabiskan waktunya diluar rumah, bekerja di rumah atau bekerja di bidang tertentu saja yang sesuai bidang-bidang pekerjaan yang memang membutuhkan banyak keahlian tangan seorang wanita, misalnya di rumah sakit, klinik, sekolah, pelatihan dan pusat seni dan budaya, tentulah jiwa mereka juga tidak akan terganggu karena tidak akan menjadi sasaran kekerasan. Mereka juga akan tetap menjadi wanita yang bisa memberikan kontribusi kepada negara namun juga tidak mengesampingkan perannya sebagai pendidik di rumah. Bagaimanapun perempuan adalah mahluk Tuhan yang paling indah dan mereka diciptakan bukan sekedar untuk menjadi penghilang dahaga nafsu birahi para penikmat seks, mereka punya peran membangun generasi cerdas di masa depan.

Jika kita ingin bicara soal kesetaraan gender, maka perempuan harusnya bisa menentukan dibidang apa ia semestinya berkarya dan dengan siapa seharusnya ia berhadapan, bukan dengan laki-laki perkasa yang berkuasa di bidang yang seharusnya banyak digeluti perempuan. Perempuan harusnya bisa berkarya maksimal dibidang yang paling kondusif bagi ke-genderan mereka, bukan di bidang yang digeluti kebanyakan laki-laki berotot dan bukan harus ikut bersaing dengan kebanyakan laki-laki di medan perang, karena jika demikian maka disana kita akan menemukan ketidaksetaraan gender. Karena bagaimanapun kondisi fisik pria memang berbeda dengan wanita, tidak akan pernah sama sampai kapanpun.

Ingatlah wahai saudara/iku, nilai-nilai emansipasi yang dimaksud ibu kita kartini adalah semua wanita boleh bersekolah dan menentukan pilihan namun tentulah yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Semua wanita indonesia boleh bekerja namun tentulah harus yang sesuai dengan keahlian dan keterampilannya. Semua wanita indonesia boleh berkarier namun tentulah sesuai dengan kodratnya yang mengayomi dan melindungi keluarga dan masyarakat. Tidak ada yang salah dengan nilai-nilai luhur emansipasi yang dimaksudkan sang ibu pertiwi, namun kita sendiri yang salah mendefinisikannya secara berlebihan dan melampaui batasan nilai-nilai kepatutan.

Selama ini kita menganggap emansipasi adalah kita harus duduk sama-sama, bisa bertarung bersama kaum pria, masuk ke dalam ring tinju dan berhadapan dengan berbagai macam lawan laki-laki dan perempuan berbagai tipe lalu dipaksa memenangkan pertandingan hingga babak akhir, tanpa ampun, padahal sesungguhnya tidak. Perempuan tetaplah harus ditempatkan di tempat yang mulia, layak dan terhormat, diberikan kemudahan dan kenyamanan sehingga mereka bisa berkembang sesuai nilai-nilai emansipasi itu sendiri. Tetap harus ada batasan yang membedakan perlakukan antara pria dan wanita dalam berbagai bidang, dan dalam berbagai hal wanita seharusnya yang mendapat prioritas terbaik dalam hal pelayanan publik dan jasa.

Cara pandang masyarakat kita yang selama ini selalu menuntut kesetaraan hak semata, karena definisi kesetaraan dimaksud adalah kesetaraan peran dalam hal saling bekerja sama dalam membangun generasi cerdas dan tangguh di masa depan. Baik laki-laki dan perempuan punya peran masing-masing dan harus ada kerjasama yang baik.
Dalam kehidupan bermasyarakat Perempuan tetaplah harus mendapatkan perlakuan yang baik, dihormati dan dimuliakan dalam berbagai sisi kehidupan. Perempuan haruslah mendapatkan perlakukan istimewa dan lebih terhormat dalam hal apapun, karena perempuan adalah mahluk Tuhan yang istimewa dan mereka adalah para tokoh pembentuk generasi emas di masa depan, jasa mereka sangat besar bagi bangsa ini dan semua keberhasilan suatu negara berada di tangan para wanitanya.

Ajaran Islam juga mengajarkaan bagi setiap orang untuk bisa memuliakan wanita dalam berbagai hal, Islam sangat menghormati dan mengagungkan peran kaum perempuan. Sungguh agama Islam sangat menghargai dan memuliakan kaum perempuan dengan menetapkan hukum-hukum syariat yang khusus bagi mereka, serta menjelaskan hak dan kewajiban mereka dalam Islam. Semua itu bertujuan untuk menjaga dan melindungi kehormatan dan kemuliaan mereka.[2]

Syaikh Shâlih al-Fauzân hafidzahullâh berkata: “Wanita Muslimah memiliki kedudukan yang agung dalam Islam, sehingga banyak tugas mulia yang disandarkan kepadanya. Oleh karena itu, Nabi selalu menyampaikan nasehat-nasehat yang khusus bagi kaum wanita[3] , seperti khutbah yang beliau sampaikan di Arafah (ketika haji wada’).[4] Ini semua menunjukkan wajibnya memberikan perhatian kepada kaum wanita di setiap waktu….[5]

Di antara bentuk penghargaan Islam terhadap kaum perempuan adalah dengan menyamakan mereka dengan kaum laki-laki dalam mayoritas hukum-hukum syariat, dalam kewajiban bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla , menyempurnakan keimanan, dalam pahala dan siksaan, serta keumuman anjuran dan larangan dalam Islam.[6]

Jika saja kita semua sepakat bahwa dalam kehidupan bermasyarakat kita semua memandang perlu menghormati dan memuliakan perempuan dan ibu untuk kita jadikan tauladan, menghargai mereka dan mengutamakan peran serta mereka. Kaum laki-laki mau sukarela menjadi pelindung bagi kebanyakan kaum perempuan, semua dilakukan dalam rangka mengangkat harkat dan martabat perempuan. Dengan sikap seperti ini, tentu saja berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan bisa ditekan, kejahatan yang menjadikan perempuan sasaran akan berkurang. Karena timbul kesadaran bagi kaum pria untuk berperan menjadi tameng dan pelindung bagi perempuan, anak-anak, manula, disable dan sebagainya.

Peran laki-laki yang bertindak sebagai pembela kaum lemah akan sangat dibutuhkan bagi seluruh manusia tidak terkecuali bagi mahluk Allah swt lainnya. Timbul kesadaran di masyarakat kita bahwa kaum laki-laki sudah menaungi kaum perempuan dan membantu dalam berbagai keadaan, dengan kondisi seperti ini tentu saja kaum laki-laki tidak lagi memandang perempuan sebelah mata, karena mereka tahu mereka sama-sama berperan membangun bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik tentunya.


Read More..

Kamis, 11 Agustus 2016

SURGANYA ORANG RIDHO, TIDAK MELALUI HISAB DAN SHIROTH, TERTARIK?

Ada tempat khusus yang disiapkan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang selama hidup ia Ridho kepada Allah dan Allah pun Ridho kepadanya. Tempat ini dirancang bagi mereka yang selama hidup tidak pernah mengeluh dan berkeluh kesah tentang apapun yang datang dan pergi kepadanya, ia bisa merasakan bahwa semua itu memanglah bagian dari ketentuan Allah atas dirinya dan ia tidak pernah putus harapan atas Karunia dan Rahmat-Nya.

Dalam sebuah hadist disebutkan; "Beruntung sekali orang yang diberi petunjuk keislaman, rezekinya hanya sekedar cukup untuk keperluannya dan ia ridho dengan pemberian itu."

Nabi saw pun bersabda: "Ketika Allah mencintai seseorang hamba, maka Allah akan mengujinya dengan bencana, bila ia bersabar maka Allah akan memilihnya."

Sabda Nabi saw: "Pada hari kiamat kelak Allah akan menumbuhkan sayap di kalangan umat-Ku, merekapun terbang dari kuburannya menuju syurga. Mereka di sana bebas bersenang-senang sesukanya sementara sebagian besar lainnya sedang menunggu dan menjalani proses yang panjang." Tahukan anda siapakah mereka ini?

Para malaikatpun bertanya kepada mereka, "Apa kalian melihat hisab (perhitungan amal)?"
Mereka menjawab, "Kami tidak pernah melihat hisab."
Kata malaikat, "Apa kalian melewati Shiroth?"
Mereka menjawab, "Kami tidak pernah melewati Shiroth."
Para malaikatpun bertanya, "Apakah kalian melihat Jahanam?"
Mereka pun menjawab, "Kami tidak melihat Jahanam."

Malaikatpun bertanya kembali, "Kalian dari golongan mana?"
Mereka menjawab, "Kami dari golongan nabi Muhammad."
Malaikat kembali bertanya, "Kami mohon kepada kalian dengan nama Allah, ceritakanlah pada kami amalan apa yang kalian kerjakan di dunia?"
Mereka pun menjawab, "Kami hanya melakukan dua hal dalam hidup."
Malaikat berkata, "Amalan apakah itu?"
Merekapun menjelaskan, "Jika kami sendirian, kami malu berbuat durhaka kepada Allah, dan kami telah Ridho dengan pembagian yang sedikit selama di dunia."
Para malaikatpun menjawab, "Semua ini jelaslah pantas menjadi milik kalian."

Orang-orang yang selama hidup ia ridho dengan ketentuan-Nya, maka diakhirat kelakpun Allah Ridho mereka memasuki syurga-Nya tanpa proses apapun yang memberatkan. Disinilah syurganya orang-orang ridho dan mereka kekal didalamnya.


Read More..

CIRI ORANG YANG MENDAPAT PETUNJUK-NYA

ORANG-ORANG PILIHAN YANG MENDAPAT PETUNJUK ALLAH SWT

Jika Anda bertemu dengan orang yang Zuhud (menjauh dari dunia), maka ikutilah dia, ikuti kemanapun dia pergi dan ikuti apa yang dilakukannya, karena sesungguhnya Ia mempunyai ilmu, Ia adalah orang yang mendapatkan petunjuk dari-Nya, ia adalah orang pilihan, Allah memudahkan ia menerima Hidayah dan petunjuk tanpa di ajari dan tanpa ditunjukkan. Ia adalah manusia yang ditinggikan derajatnya beberapa tingkat diantara kebanyakan manusia. Dalam sebuah hadist disebutkan,".....mereka ialah orang yang memiliki hikmah, alim (memiliki ilmu) dan lantaran alimnya bisa mendekati seperti para Nabi."

Disamping itu mereka juga termasuk orang yang ridho atas keluasan dan ridho atas kejadian-kejadian Qodlo.

"Mereka Ridho kepada Allah dan Allah juga Ridho kepada mereka." (QS. Ar Rahman:60).

Melalui Hasan ra. dia menceritakan bahwa ketika nabi menemui para sahabatnya beliau bersabda:
"Apakah ada yang ingin dibutakan oleh Allah sampai tidak bisa melihat? Ketahuilah, sesungguhnya siapapun yang mencintai dunia dan panjang angan-angan, jelas ALlah akan membutakan mata hatinya sesuai ukuran cinta duniawian-nya.

Namun barang siapa yang Zuhud (menjauhi) terhadap dunia dan menghentikan angan-angannya, maka Allah memberikan ilmu padanya tanpa belajar dan memberikan hidayah padanya tanpa ditunjukkan.

Jika anda menimba ilmu darinya, maka sesungguhnya ilmunya amat berharga dari segala kenikmatan dunia dan ia bukan hanya akan membuat anda terhindar dari siksa neraka, bahkan ia akan memasukkan anda ke dalam syurga tanpa anda sadari, yaitu, selama anda mengamalkan ilmu yang ia sampaikan, anda juga mendapatkan berkah dan karunia-Nya.

Sangat sulit dijaman seperti sekarang ini menemukan orang yang wara dan menjalankan zuhud yang sebenar-benarnya di jalan Allah swt, karena besarnya penghalang dan banyaknya rintangan. Banyak yang tidak mampu menjalankannya karena daya tarik dunia begitu besar sehingga orang tidak mampu istiqomah dan akhirnya jatuh ke dalam lembah riya.

Tapi tetap ada beberapa orang diantara manusia yang mau dengan ikhlas melaksanakannya dan anda dapat menemukannya dilihat dari ilmu yang ia sampaikan merupakan bagian dari perintah Alah dan rasul-Nya dan juga merupakan ilmu sederhana yang mudah dilaksanakan dan dapat diterima dengan hati.

Orang ini tidak akan menampakkan diri ke muka umum dan membanggakan diri sebagai orang yang istimewa, ia kelihatan sama dengan manusia lainnya, tetapi hal yang paling istimewa dari orang ini adalah sesosok pribadi yang sederhana, santun dalam berkata-kata dan tingkah lakunya berbudi luhur, anda tanpa sadar akan mengikuti setiap perkataannya dan anjurannya dalam berbuat baik tanpa anda merasakan ragu dan tanpa perasaan berat dan takut sedikitpun. Anda merasa yakin bahwa ilmu yang disampaikan sangat bermanfaat akan membawa kebaikan bagi diri anda. itu karena anda tahu bahwa ia ikhlas melakukannya tanpa mengharap imbalan sedikitpun dari manusia, ia hanya mengharap riho Allah swt.

Namun jika anda bertemu dengan orang yang mengatasnamakan diri mereka wakil Allah di bumi, ia melakukan kebaikan dengan mengharap banyak imbalan juga dengan alasan keilmuaannya, maka sebaiknya anda lari dan menjauh darinya. Karena setiap usaha yang ia lakukan akan mendatangkan kehancuran, setiap urusannya berbuah dosa. Tidak ada yang akan anda dapatkan darinya kecuali anda akan menyesal sebesar-besarnya di akhirat kelak. Sebagaimana sabda Rasulullan saw:
"Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain dan seburuk-buruknya manusia adalah yang mengakibatkan kesengsaraan bagi orang lain."
Ikuti dan amalkan ilmu yang diberitakan oleh seorang yang Zuhud, karena keselamatan dan keridhoan Allah swt ada bersama dirinya.

Read More..

Sabtu, 30 Juli 2016

PAHALA BUKAN SEBAB KITA MASUK SYURGA

Pernahkah anda bertanya mengapa Allah menawarkan konsep imbalan kebaikan berupa Pahala? Apa itu pahala? Seperti apa bentuknya? Untuk apa dan kepada siapa sebenarnya pahala itu ditujukan? Bukankah konsep pahala ini hanya akan membuat setiap orang berorientasi berhitung (berbuat sesuatu karena mengharap imbalan) dan tidak menjadikan pribadi yang ikhlas dan tanpa pamrih? Bukankah konsep pahala ini hanya akan membuat seseorang berubah menjadi muslim yang pamrih=melakukan sesuatu karena alasan tertentu.

Padahal sebenarnya, konsep pemberian imbalan pahala itu sesungguhnya hanya diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja atau orang yang baru mengenal atau belajar islam, bukan diperuntukkan bagi umat muslim yang sudah mengerti ajaran islam dan menjalaninya bertahun-tahun. Bukan bagi orang dewasa yang sudah mengerti dan mempelajari islam sejak lama. Konsep pahala sebenarnya ditujukan bagi siapa saja yang baru belajar dan ingin mengenal islam (mualaf). Konsep pahala ini dibuat hanya untuk merangsang semangat setiap orang agar mereka mengerti bahwa setiap perbuatan baik akan menghasilkan kebaikan dan keuntungan, agar mereka terpacu dan bersemangat untuk banyak berbuat baik dengan alasan imbalan pahala yang akan diterima kelak.

Dan sesungguhnya pahala bukanlah satu-satunya alasan seseorang bisa masuk syurga-Nya. Semua umat muslim akan diputuskan masuk syurga bukanlah sekedar karena banyaknya pahala yang sudah mereka kumpulkan selama hidup, dan bukan sekedar karena ia lolos dari hisab/timbangan amal, melainkan itu adalah semata-mata karena karunia Allah swt kepada dirinya. Sebagaimana hadist rasulullah berikut ini:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَلاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816)

Mengapa demikian? Ini disebabkan, karena selama ini hidup di dunia, kita terlalu berorientasi pada materi, yaitu sesuatu yang berwujud, dan berbentuk nyata. Kita baru percaya sesuatu itu ada jika kita sudah melihat wujudnya. Sementara, apa-apa balasan kebaikan yang ditawarkan Allah tidak ada wujudnya, tidak bisa dilihat dengan mata namun bisa diterima oleh akal dan bisa dirasakan oleh hati. Ide pahala ini diterapkan sesungguhnya adalah dalam rangka proses peralihan dari materi berwujud (benda) menuju ketenangan yang hakiki, bahwa jika seseorang sudah berada pada tahap derajat iman yang baik dan pemahaman yang sempurna mengenai keimanan dan keislamannya, maka ia sudah tidak lagi menghitung berapa banyak jumlah pahala yang sudah dikumpulkan, sudah berapa banyak kebaikan yang dia perbuat, selain ia hanya akan memilih bersikap ikhlas, sabar dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah swt, percaya dan yakin bahwa Allah akan membalas semua perbuatannya dengan kebaikan pula.

"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula."
(QS. Ar Rahman:60)

Seseorang yang sudah tidak merasa berat menjalankan kewajibannya sebagai muslim (shalat, puasa, zakat dan sebagainya), sudah tidak mempertanyakan alasannya melakukan semua ketentuan itu, ia sudah tidak menghitung berapa banyak kebaikan yang sudah diperbuat, dan ia sudah tidak lagi mempermasalahkan berapa banyak pengorbanan yang sudah dia lakukan di jalan Allah selain ia sudah sepenuhnya menyerahkan semua usahanya itu kepada Allah swt. Itulah tujuan akhir bagi siapa saja yang mengerti bahwa pahala bukanlah satu-satunya alasan seseorang masuk syurga-Nya. Melainkan keikhlasan dan kepasrahannya kepada Sang Khaliklah yang membuat dirinya berharga di mata Allah swt. Sebagimana disebutkan dalan Ayat-Nya yang berbunyi:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadiid: 21).

Seandainya saja setiap orang berbuat baik karena mengharapkan imbalan pahala bagi dirinya agar bisa masuk syurga, pertanyaannya adalah apakah semua kenikmatan yang ada di syurga memang sepadan dengan jumlah pahala yang dikumpulkan manusia semasa hidupnya? Jawabannya adalah tidak, semua kenikmatan syurga tidak ada pembanding yang sepadan dengannya termasuk pahala seorang anak manusia, walau ia sudah berbuat baik sejak dalam masa kandungan, kecuali Allah Ridho kepadanya.

Contoh sederhananya adalah sebagai berikut; katakanlah ada seorang (fulan) yang berusaha ingin mendapatkan syurganya dengan secara terus menerus membaca Al Quran dan sedekah, apakah orang ini akan masuk syurga kelak? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari perhatikan dulu apa niat si fulan ini? apakah ia melakukannya semata-mata karena imbalan pahala atau karena kecintaannya kepada Allah swt? Jika ia melakukannya hanya karena ingin mengumpulkan pahala, maka kelak di hari akhir ia akan mendapatkan buah perbuatannya itu namun ia harus melewati tahap hisab (perhitungan tibangan amal) dan akhirnya diputuskan bahwa ia bisa masuk syurga karena amalannya tersebut.

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan” (QS. An-Nahl: 32)

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)

Namun jika ia melakukannya karena alasan kecintaannya kepada Allah tanpa mempehitungkan pahalanya, dan buah dari kecintaannya itu menghasilkan perbuatan positif lain yang bisa meningkatkan keimanannya misalnya ia bisa menjadi penolong agama Allah, memberikan pencerahan kepada sesamanya dan membantu sesama dan ia ikhlas melakukannya tidak mengharap imbalan (pahala/uang/pujian). Atas upaya dan jerih payahnya tersebut, bisa membuat banyak orang tertolong iman dan akidahnya serta menyelamatkan agama Allah dari kehancuran, maka atas usahanya tersebut Allah menjadi ridho kepadanya, lalu di hari akhir ia tidak melewati tahap hisab (perhitungan amal) karena jika dihitung secara kasat mata, semua usahanya tersebut amatlah besar nilainya dimata Allah dan tidak bisa dibandingkan dengan seluruh kenikmatan yang ada di syurga, bahkan melebihi rasa Cinta Allah kepada si fulan ini.

Jadi, ada proses dimana seseorang yang diberi rangsangan ganjaran pahala diharapkan bagi mereka agar bisa mencapai tahap "Ikhlas tanpa pamrih". Jika seseorang ingin mendapatkan ganjaran syurga tanpa hisab, maka mereka harus meningkatkan kualitas ibadah dan niat ibadahnya tersebut sudah bukan lagi menjadi kewajiban atau karena alasan pahala, melainkan sudah berubah menjadi bagian kebutuhan dan kecintaan kepada-Nya. Ia melakukan kebaikan atas dasar kebutuhannya kepada Allah dan atas rasa cintanya kepada Allah yang melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, sehingga ia rela melakukan apapun untuk menegakkan agama Allah, tanpa mempedulikan besarnya pengorbanan dan banyaknya penghalang. Dalam kekhusukannya itu Allah melihat hatinya hanya tertuju kepada-Nya, dan semua daya dan upayanya dikerahkan hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dalam keadaan seperti ini semoga Allah Ridho kepadanya.

"Allah Ridho kepada mereka, dan mereka ridho kepada-Nya." (QS. Al Bayyinah :8)

Pada sebagian yang sudah mencapai tahap ikhlas, orang ini sudah tidak mengira dirinya akan masuk syurga atau neraka. Malah bahkan dirinya merasa tidak layak untuk memasuki Syurga-Nya, karena ia bisa merasakan banyaknya kesalahan dan dosa yang diperbuat, ia merasa tidak layak menempati Syurga-Nya, lalu berusaha melakukan banyak kebaikan tanpa memperhitungkan imbalan selain terus berusaha menjaga keikhlasannya, ditahap ini orang sudah berada pada tingkatan taqwa yang sempurna, ia sudah berhasil melihat kedalam dirinya, yaitu tidak mengharapkan imbalan pahala melainkan hanya mengharap keridhoaan-Nya, mengharap karunia-Nya semata. Tidak ada hal lain yang paling diharapkannya yaitu hanyalah Ridho Illahi Robbi.

Dan kebaikan tingkat tinggi ialah Ridho Allah terhadap hamba-Nya, Dia memperoleh pahala keridhoan Allah swt buat Hamba-hamba-Nya di syurga Aden. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan ada beberapa tempat yang indah di Syurga Aden dan Keridhoan Allah adalah yang amat besar...." (QS. At Taubah:72)

Maka Ridhonya Allah yang memiliki surga adalah lebih tinggi dari Ridho itu sendiri. Jika selama hidup ini anda sudah bisa menjadi manusia yang Ridho kepada-Nya, berbahagialah, karena Ridho merupakan tujuan akhir para penghuni-penghuni syurga.



Read More..

Selasa, 19 Juli 2016

TIDAK APA JIKA ORANG MEMANDANGMU SEBELAH MATA

Mengomentari bentuk tubuh yang tidak proposional; gemuk/kurus/besar
Mengomentari wajahmu yang tidak sempurna; jelek/buruk rupa/ugly
Mengomentari hartamu yang serba kekurangan: miskin/melarat/fakir
Meremehkan kemampuanmu dan sebagainya

Percayalah, semua itu tidaklah ada artinya dimata Allah selain yang lebih dicintai-Nya adalah HATIMU yang BERSIH. Bahwa Allah hanya peduli pada Kondisi Hatimu yang:
Bersih dari Noda-noda; syirik/musyrik dan munafik
Bersih dari Penyakit; ujub, hasud/hasad, iri/dengki, kikir/bakhil
Bersih dari kotoran dunia; berbangga diri/sombong/riya/angkuh

Karena Allah hanya mencintai Hati umatnya yang; sabar, ikhlas, sederhana, menerima, tekun, berbaik sangka dan bersyukur. Karena bagi-Nya, Hati seorang mukmin yang bersih, jauh lebih berharga jika dibanding seluruh harta di dunia.

Karena Faktanya, di alam akhirat kelak Malaikat tidak akan mengajukan pertanyaan; Kenapa wajahmu jelek? atau kenapa badanmu gendut? atau kenapa hidupmu susah/miskin? Melainkan malaikat akan menanyakan; mengapa hatimu busuk? kenapa kamu penuh dengan kebencian? Kenapa kamu tidak mau mendengarkan dan mengikuti perintah Allah (keras hati)? Semua hal yang berkaitan dengan keimanan adalah yang pokok menjadi bentu pertanggung jawaban kita hidup di dunia ini.

Bukan materi yang membuat derajat seseorang mulia di sisi-Nya, melainkan Kesucian Hati dan Jiwa yang selalu terjaga dari keburukan dan kerusakan duniawi.
Maka dari itu, tidak akan pernah bisa kita mencapai kemuliaan di sisi manusia, namun bersegerlah kita memburu kemuliaan di sisi Allah swt, karena itu jauh lebih berharga dari apapun.

Read More..