Senin, 26 September 2016

BENARKAH WARGA JAKARTA PUAS DENGAN KINERJA PETAHANA?

Baru-baru ini Lembaga survei Poltracking Indonesia merilis hasil survei terkait kepuasan warga Jakarta terhadap pemerintahan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Hasil survei itu memperlihatkan tingkat kepuasan warga Jakarta jelang Pilkada DKI 2017. Menurut hasil survei tersebut, kepuasan warga Jakarta terhadap pemerintahan Ahok sebesar 68,72 persen, sedangkan responden yang tidak puas sebesar 27,7 persen. Respoden sisanya menjawab tidak tahu. Dari hasil survei tersebut, responden menyebut salah satu keberhasilan pemerintahan Ahok-Djarot yaitu pelayanan kesehatan yang terjangkau sebesar 75,4 persen dan pembangunan infrastruktur seperti pembangunan fasilitas umum sebesar 69,7 persen. Namun, masih ada 24,9 persen responden yang menganggap Ahok belum bisa mengurangi kemacetan. Begitu juga terkait harga kebutuhan bahan pokok yang masih belum terjangkau, ketidakpuasan responden mencapai 23 persen.
Survei tersebut dilakukan pada 6-9 September 2016 dan melibatkan 400 responden. Margin of error survei ini diklaim sebesar 4.95 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Metode pengumpulan data dilakukan secara tatap muka menggunakan kuisioner. Benarkah warga sudah merasa puas dengan kinerja Petahana (Ahok dan Djarot)?

Ulasan warga
Sebuah hasil survey diumumkan kepada public dalam skala nasional ini kami anggap terlalu berlebihan dan mengada-ada, mengapa? Karena cakupannya terlalu umum dan luas, dan sebagaimana kita semua tahu bahwa Jakarta ini adalah ibukota Negara, pusat pemerintahan ada di Jakarta dan bahkan semua instansi pemerintahan juga berafiliasi di Jakarta. Sebagai contoh bahwa warga Jakarta merasa puas dengan pelayanan kesehatan, itu bukan berarti karena peran besar kebijakan petahana, itu disebabkan karena di Jakarta ada kementerian kesehatan yang menggulirkan berbagai kebijakannya melalui pelayanan kesehatan masyarakat memang lebih baik dan ini adalah karena besarnya peran kementerian kesehatan dan BPJS yang berpusta di Jakarta. Atau misalnya kepuasan terhadap fasilitas umum, jika saja survey ini menunjukkan secara spesifik fasilitas umum yang dimaksud seperti; apakah warga Jakarta merasa puas dengan pelayanan transportasi umum? Dengan melihat kondisi transportasi umum yang ada saat ini, pasti warga Jakarta akan memberikan nilai rendah terhadap hasil kerja petahana. Atau misalnya apakah warga merasa puas dengan penanganan banjir? Apakah warga merasa puas dengan penanganan sampah? Apakah warga puas dengan cara penanganan daerah kumuh? Semua point2 ini akan menunjuk langsung pada tingkat kinerja petahana, bukan hal-hal yang bersifat umum seperti yang disebutkan dalam survey tersebut. Survey ini tidak valid untuk menunjukkan t-qaingkat kepuasan warga terhadap tingkat kinerja petahanan. Disamping itu survey ini juga hanya melibatkan 400 orang atau kurang dari satu persen penduduk Jakarta. (penduduk DKI saat ini 10-12 juta), terlalu beresiko untuk ditarik kesimpulan umum.

Lalu melandasi pada survey tersebut, apakah ini juga berarti sebagian warga Jakarta menyatakan diri mereka puas dengan kinerja pemda walau faktanya jalan-jalan masih macet parah di hari kerja, banjir dan genangan air masih mengepung jika hujan lebat turun, pedagang kaki lima yang menjamur dimana-mana, meski pemukiman kumuh penduduk juga masih padat di berbagai lokasi, meski berbagai fasilitas umum tidak berfungsi (baru2 ini JPO ambruk akibat beban papan reklame), meski fasilitas social dan fasum layak tidak berfungsi, meski sumber air bersih yang layak pakai pun jakarta tidak bisa menyediakannya, meski system pengelolaan sampah yang ramah lingkungan pun tidak diterapkan, meski fasilitas pelayanan public pun masih banyak kekurangan di sana-sini, meski tingkat pengangguran juga tinggi, dan meski-meski lainnya dan sebagainya yang mana sebenarnya kondisi Jakarta masih sama saja dengan yang ada sebelumnya, tidak ada perubahan signifikan alias Jakarta masih jalan ditempat.

Apakah kondisi seperti ini yang membuat warga Jakarta merasa puas dan mereka merasa perlu mempertahankan kinerja petahana? Kita semua dibuat bingung dengan jawaban survey ini ingin menunjukkan apa, disisi mana mereka merasakan kepuasan atas kinerja petahana, sementara kondisi yang ada dilapangan masih sama saja atau bahkan lebih buruk lagi. Sebagai contohnya saja kondisi jalan trotoar Tanah Abang yang sebelumnya sudah berhasil di bersihkan dimasa Jokowi, kini kembali kumuh dan menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima dan setiap hari dilakukan pengusiran oleh petugas Satpol PP dan membuat kegaduhan di jalan. Atau penerapan kebijakan Ganjil-genap untuk menggantikan kebijakan Three in one di jam2 sibuk, faktanya itu sama sekali tidak mengurangi kemacetan, hanya memindahkan titik kemacetan ke lokasi lain atau hanya membuat bingung warga yang ingin melintas jalan Protokol. Atau kebijakan pemda memindahkan warga korban penggusuran, hingga kini masih menyisakan kekacauan. Dan lain-lain masalah yang dihadapi warga Jakarta.

Jadi dalam hal ini warga Jakarta itu menyatakan kepuasannya dalam hal apa? Jika semua permasalahan kota yang paling mendasar saja selesai. Bagaimana mereka bisa bicara puas kepada kinerja petahana? Apakah survey ini dibuat hanya karena ingin mengangkat pamor sang petahana yang sedang diusung untuk kepentingan Pilgub DKI-1 2017? Apakah lembaga survey juga harus ikut2an main politik dalam rangka menghimpun opini public? Ooh…yang benar saja. Apakah warga harus percaya dengan hasil survey yang tidak valid seperti ini. Survey ini dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya baik dilihat dari jumlah responden, aspek yang ingin dinilai dan juga dari hasil yang dicapai. Harusnya survey ini memiliki tingkat validitas yang tinggi baru bisa disajikan dan dipublikasikan kepada public sebagai bagian dari hasil akurat sebuat lembaga penelitian independen.

Read More..

Minggu, 18 September 2016

HAKIKATNYA MENGAJAK ORANG PADA KEBAIKAN

Jika anda adalah salah seorang yang suka menulis artikel berisi ajakan pada kebaikan, tahukah anda apa hakikat dari mengajak kebaikan dan mencegah kejahatan? kenapa kita dianjurkan untuk saling mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan? dan apa ganjaran bagi yang melakukan hal tersebut? Bagaimana Allah memandang mereka yang selalu melakukan kebaikan demi mencegah keburukan? Berikut ini uraiannya. Semoga anda memahami bahwa kebaikan itu bukan hanya akan memperbaiki orang lain, melainkan kebaikan itu akan kembali kepada diri sendiri dalam berbagai bentuk.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat pada manusia lain dan sejelek-jeleknya manusia adalah yang mengakibatkan kesengsaraan bagi orang lain.”

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barang siapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka rubahlah (cegahlah) dengan tanganmu (kekuasaanmu), kalau tidak mampu hendaklah dengan lidahmu, dan kalau tidak mampu maka hendaklah dengan hatimu; demikian ini menunjukkan lemahnya iman.”

Maksudnya lemah dari segi perbuatan orang-orang beriman. Kata sebagian ulama, maksudnya mencegah dengan tangan adalah khusus bagi para pemimpin, mencegah dengan lidah adalah khusus bagi para ulama, dan mencegah dengan hati adalah bagi orang-orang awam (umum). Penjelasannya; dan orang-orang yang mampu melakukannya sama dengan memiliki kewajiban memberantas kemungkaran. Sebagaimana Allah swt berfirman:

“Tolong-menolonglah kamu dalam berbuat baik dan taqwa, serta janganlah kalian tolong-menolong dalam kejahatan dan dosa." (QS. Al Maidah:2)

Hal yang termasuk tolong-menolong ialah menyerukan kebajikan dan memudahkan jalan untuk ke sana, menutup jalan kejahatan dan permusuhan dengan tetap mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan.

Sabda Nabi saw. dalam hadist lain:

“Barangsiapa yang menggertak pemilik bid’ah maka Allah akan memenuhi hatinya dengan rasa aman dan iman. Barangsiapa ang menghinakan pemilik Bid’ah maka Allah akan memberikan rasa aman pada hari mengejutkan. Dan barangsiapa yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka dia adalah Kahlifah Allah di muka bumi, Khalifah Kitabullah dan Khalifah Rasulullah.”


Melalui Hudzaifah ra. Nabi saw. bersabda: ”Akan datang suatu zaman menimpa manusia, dimana bangkai keledai yang busuk lebih mereka sukai daripada orang mukmin yang beramar ma’ruf nahi mungkar!”

Allah swt berfiman:

“Orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain; dengan memerintah kebajikan dan mencegah kemungkaran serta mendirikan shalat.” (QS. 9:7)


Dan Allah mencela kaum yang meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar tertera dalam firman-Nya:

“Mereka tidak saling mencegah dari perbuatan mungkar yang mereka perbuat (tidak saling melarang antara satu dengan yang lain), sungguh amat buruk apa yang mereka perbuat.”

Melalui Sayyidah Aisyah ra. Rasulullah saw pernah bersabda: “Allah telah menyiksa suatu perkampungan yang penghuninya hanya berjumlah 18 orang, padahal amal mereka bagaikan para nabi.”

Mereka bertanya: “Bagaimana bisa, Ya Rasulullah!"

Nabi saw menjawab: “ Mereka tidak memarahi sesuatu karena Allah dan juga memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran karena Allah.”

Mereka kembali bertanya, “Lalu seperti apa bentuk siksaannya ya Rasul!”

Nabi saw menjawab, “Allah menguasakan kepada mereka penguasa yang dhalim, yang tidak menghargai orang tua dan tidak menyayangi anak-anak mereka, atau orang-orang pilihan berdoa namun doanya tidak dikabulkan, dan yang memohon pertolongan namun tidak didatangkan pertolongan, dan mereka juga minta ampun namun tidak mendapat ampunan.”

Allah Ta’ala dalam hadist Qudsi Allah berfiman: “Wahai anak cucu Adam, janganlah kalian menjadi orang yang ahli mengakhirkan tobat, panjang angan-angan dan kembali ke akherat tanpa bekal, bicaranya seperti ahli ibadah (suka menasehati orang) tapi perbuatannya bagaikan orang munafik (nasehatnya tidak dipakai untuk dirinya sendiri), bila diberi tidak pernah puas dan kalau dihalangi tidak mau bersabar. Ia mencintai orang yang shaleh namun bukan yang berasal dari golongan mereka, serta membenci orang-orang yang munafik padahal termasuk golongan munafik. Mereka memerintahkan kebaikan namun tidak pernah mengerjakannya juga, mereka mencegah kejahatan namun dilain waktu mereka juga melakukan kejahatan serupa."

IMBALAN BAGI YANG MENEGAKKAN AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR

Kata Musa as.: “Wahai Tuhan, apa balasan bagi orang yang memanggil saudaranya dan yang beramar ma’ruf nahi mungkar?”

Allah Taala berfirman :”Setiap kalimatnya aku tulis untuknya bagai ibadah setahun, dan AKU malu menyiksanya dengan api neraka."

Abu Dzar Al Ghifari ra. Berkata: dari Abu Bakar Ash Shidiq berkata: “Ya rasul, apakah ada perjuangan lain yang lebih utama selain perang melawan kaum musyrik (menyekutukan Allah)?”

RAsulullah saw. menjawab: “Wahai Abu bakar, menurut pandangan Allah seorang pejuang di bumi (khalifah) lebih utama daripada para syuhada yang hidup dan diberi rezeki serta berjalan di bumi, dimana Allah akan membanggakan mereka di hadapan para malaikat langit. Surga telah berhias diri dan akan menyambut kedatangan mereka sebagaimana berhiasnya Ummu Salamah ra. Untuk Rasulullah saw.”

Abu Bakar Asd Shidiq berkata: “Siapakah mereka ya Rasul!”

Jawab RAsul saw, “Mereka adalah orang-orang yang menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran karena Allah, yang mencintai dan membenci karena Allah Ta’ala.”

Kata Ubaidah bin Jarroh ra. :”Ya Rasul, Syuhada manakah yang paling mulia di sisi Allah swt.”

Beliau saw. bersabda: “ Lelaki yang menghadapi penguasa yang menyeleweng dan ia memerintahkan agar berbuat baik dan menjauhi kemungkaran, namun ia dibunuh oleh penguasa itu, maka kelak derajatnya di syurga ada diantara Hamzah dan Ja’far.”


Rasulullah juga bersabda:
Demi Dzat Yang menguasai Jiwaku, sesungguhnya ada seorang hamba yang berada di kamar yang lebih tinggi dari kamarnya para syuhada. Tiap kamarnya ada 300 pintu, dan setiap pintunya terbuat dari mutiara Ya’qut dan Zamrud Hijau, dimana setiap pintunya ada cahaya yang menyinari.

Tiap laki-laki diantara mereka bisa menikahi 300 bidadari yang bermata jeli yang mampu menundukkan pandangan setiap laki-laki sambil bekata;”Apakah engkau ingat pada hari dimana engkau telah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar!”

Dalam sebuah hadist, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman:
“Wahai Musa, Masihkah engkau beramal demi Aku dengan amalan yang sempurna!”

Nabi Musa as. Menjawab: “Wahai Tuhan, aku telah sembahyang karena Engkau, berpuasa juga karena Engkau, bersedekah juga karena Engkau, bersujud dan memuji karena Engkau, serta membaca Kitab-Mu dan Dzikir kepada-Mu.”

Allah berfirman, "Wahai Musa, sebab shalat engkau memperoleh hujjah, lantaran puasa engkau memperoleh perisai, lantaran sedekah engkau memperoleh perlindungan, lalu amalan manakah yang engkau taruhkan untuk-Ku!"

Musa Berkata, "Tunjukkan padaku Tuhan, amal manakah yang harus aku kerjakan!"

Lalu Allah berfirman:
“Wahai Musa,apakah engkau pernah mencintai kekasih-Ku semata-mata karena Aku! dan memusuhi musuh-Ku karena Aku!. Sesungguhnya amal perbuatan yang paling utama ialah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah atas musuh-musuh Allah."

Wahai suadaraku, sudahkah kita mencapai tingkatan itu jika kita memang termasuk orang yang suka mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Mengajak orang pada kebaikan semata-mata karena mengharap Allah Ridho kepada usaha kita, berharap kebaikan itu membuahkan kebaikan lain yang juga akan membawa kebaikan bagi agama Allah swt. Mencegah kemungkaran juga karena Allah, diharapkan kejahatan itu tidak akan membawa dampak buruk pada agama Allah, karena itulah sebaik-baiknya amal di sisi Allah swt. Jika kita memang mengaku sebagai orang islam dan mengetahui dengan jelas apa itu makna amar ma'ruf nahi mungkar, maka apakah kita masih hanya berdiam diri menunggu keajaiban.

Read More..

Jumat, 16 September 2016

PERSETERUAN RIDWAN KAMIL DAN KPAI DI MEDSOS, ARIEL NOAH JADI KORBAN?

Menanggapi viral yang terjadi belakangan ini, antara Ariel Noah Band dan KPAI, sementara Sang walikota Bandung yang mengunggah foto di akun instagramnya memilih diam, jadi perbincangan hangat belakangan ini, ada apa gerangan? Mari kita simak dan bahas bersama. Berikut ini sudut pandang masing-masing pihak yang berseteru.

KPAI
KPAI mempermasalahkan Ridwan Kamil ang tidak memiliki rasa sensitiftas pada persoalan masa lalu Ariel yang pernah tersangkut masalah porografi, KPAI beranggapan bahwa seharusnya seorang pejabat public tidak mempertontonkan rasa intimnya di media social dan seolah-olah memberikan pengarahan kepada masarakatnya untuk mengidolakan seorang yang pernah bermasalah dengan hokum, terutama berkaitan dengan masalah social. Hal ini bisa menimbulkan kerancuan tentang status hokum yang pernah menyandang oknum tersangka menjadi blur atau bahkan hilang dimasyarakat, Tapi apakah benar masyarakat masih mempersoalkan status hokum Ariel hingga saat ini?


ARIEL BAND NOAH
Ariel Noah Band, mempermasalahkan KPAI yang tidak transparan dan detail menjabarkan dimana letak kesalahan pribadi Ariel Noah yang kala itu ia pun tidak meminta sang Bupati untuk mengunggah video tersebut ke akun Ridwan Kamil, dan posisi kesalahan itu kini ditanggung oleh Ariel pribadi. Hal ini sangat merugikan dirinya, karena seperti pedang bermata dua ia juga merasa ini ada unsure pencemaran nama baik dan upaya pembunuhan karakter. Karena sebagaimana kita semua tahu walau memang benar masyarakat sudah menghukumnya dengan sanksi social yang amat berat kala itu, ia juga sudah menjalani masa tahanan selama beberapa tahun, namun kini mengapa hal itu masih menjadi menjadi batu sandungan dan menjadi topic pembicaraan hanya karena ketidaksengajaan fansnya mengupload gambar dirinya sedang berduet, lalu orang itu berteriak hal itu tidak pantas. Apakah Ariel seumur hidup harus terus menerima sanksi social seperti ini?

RIDWAN KAMIL
Sisi Ridwan Kamil, sebagai seorang pejabat yang berjiiwa muda, ia juga mungkin memiliki rasa kagum kepada sosok Ariel yang dinilainya memiliki potensi dan bakat berkarya meski sudah mendapat banyak masalah dalam hidupnya, namun dalam keterpurukannya itu ia tidak menganggap itu adalah penghalang sebaliknya menjadi penyemangat baginya untuk berkarya. Dalam Akunnya mungkin Ridwan Kamil sebenarnya ingin menyampaikan kepada warganya bahwa ia secara pribadi mengagumi sosok ini karana kemampuannya bertahan di tengah badai dan kemampuannya menciptakan karya-karya music bermutu yang diakui dunia. Itu tidak mudah dilakukan oleh siapapun dan semangat berjuangnya itu yang harusnya dicontoh oleh kebanyakan anak muda, bukan hal-hal buruk yang pernah melekat pada dirinya. Jadikanlah itu pelajaran berharga untuk membangun lebih baik, lagi pula siapasih manusia di dunia ini lahir sudah penuh dengan kesempurnaan? Semua orang memiliki proses hidup masing-masing, tinggal bagaimana bagaimana kita mengambil pelajaran.

Sanksi social adalah hukuman yang diberikan orang atau public figure yang secara hokum terbukti melanggar aturan dan tata karma yang ditetapkan di masyarakat, telah melukai kepercayaan public dan hukuman itu bisa berbagai macam bentuknya, mulai dari mencibir, menghina, memojokkan, menyudutkan hingga pada pengasingan dan dikeluarkan dari lingkungan masyarakat. Sanksi social diberikan kepada orang tersebut pada saat kejadian dan peristiwa itu berlangsung, berapa lama masa hukuman bisa berlangsung panjang dan bisa juga pendek, tergantung kondisi masyarakat yang menilai seberapa besar efek jera yang ditimbulkan membuat perubahan perilaku, apakah dapat diambil pelajaran oleh pelaku atau tidak, apakah ia masih mengulangi kesalahannya lagi atau tidak. Dalam hal ini masyarakat yang menilai, seiring berjalannya waktu.

Dalam kasus Ariel versus KPAi ini yang memberikan sanksi social di sini bukannya masarakat yang melihat gambar tersebut (follower Ridwan Kamil), yang memberikan stigma buruk itu adalah KPAI. Apakah KPAI mewakili rasa di masyarakat? Dalam hal ini masyarakat dibuat bingung bersikap, karena faktanya di gambar tersebut tidak ada norma yang dilanggar dan sama sekali tidak ada unsure pornografi. Lalu apa maksud diangkatnya topic ini di masyarakat?

Perlu kita sama-sama sadari bahwa gambar dan foto yang ditampilkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan skandal masa lalu Ariel, gambar itu hanya menunjukkan kedekatan antara pemimpin dengan warga masyarakat biasa, lalu apakah perlu kita mengaitkannya dengan rasa empati dan simpati pemimpin? Tentunya tidak perlu, karena kenyataannya kini Ariel sudah berubah, ia sudah mengambil pelajaran dari masa lalunya, ia sudah move on dan ia sudah kembali mengharumkan nama bangsa di berbagai Negara dengan keindahan hasil karyanya, apakah masyarakat masih mencap dirinya manusia super mesum seperti dulu? Rasanya masyarakat kita bukanlah masyarakat primitive yang di cekoki apa saja langsung mereka lahap. Masyarakat kita sudah dewasa, dan mereka sudah memafkan, dan memberikan kesempatan kepada Ariel untuk membuktikan dirinya lebih dari yang pernah ada, maka semua sanksi social di masyarakat sudah tidak berlaku lagi. Ariel sudah bebas dari hukuman sosial yang pernah disandangnya, maka ia memilih mempertanyakan sikap KPAI yang berujung negatif ini. Maka dari itu, Jangan lagi kita selalu bersikap menghakimi seseorang karena sampulnya. KPAI juga mungkin seharusnya tidak bersikap terlalu ekstrim seperti ini, kasian masyarakat dibawa dalam opini buntu seperti ini. Sekarang kita sama-sama berpikir membangun negeri ini dengan semangat saling berprasangka baik saja, ya semoga saja kita semua berhasil.

Read More..

Selasa, 06 September 2016

SANDIAGA UNO TUMBANG, AHOK KEJEPIT DIPOJOKAN, RISMA GOOD BYE, SIAPA CALON KUAT DKI-1?

Belakangan ini ramai berita mencuatkan nama balon dari partai Gerinda, Sandiaga Uno yang diduga terkait kasus korupsi Pembangunan Depo Minyak di Banten yang merugikan negara US $ 6,4 juta. Ini adalah berita bukan main mengejutkan warga ibukota, karena Sandiaga adalah calon yang belakangan ini sedang sibuk-sibunknya bergerilya dilapangan untuk mencari dukungan, ia sedang semangat-semangatnya pasang badan, tebar pesona dan umbar janji dimana-mana. Tapi setelah kasus yang melilit dirinya terkuak, kini ia menghilang di telan bumi. Sementara Ahok sedang dijepit di MK karena draft gugatannya di tolak, karena tidak punya dasar hukum yang jelas. Ahok selalu mengeluarkan pernyataan yang berubah-ubah dan ini membuat geram banyak pihak. Jika sebelumnya Ahok merasa yakin akan mendapatkan dukungan dari Partai PDI-P, kenyataannya baru-baru ini pihak PDI-P menarik niat dukungan kepada Ahok karena merasa rakyat tidak akan merestui niat tersebut. Jika kondisi sudah seperti ini, lalu siapa yang bakalan bertahan hingga akhir pencalonan? Siapa yang akan menjadi lawan tanding Ahok jika beberapa calon hingga kini masih belum menunjukkan keunggulan apalagi mata publik pun belum mengerucut pada salah satu calon kuat? Padahal masa akhir pendaftaran cagub/cawagub tinggal sebentar lagi (24 september 2016) dan masa pemilihan akan dilaksanakan di bulan Februari 2017. Keadaan seperti ini kan genting sekali bagi warga jakarta untuk segera menentukan pilihan.


Selama ini kita tidak dibiasakan mencari pemimpin dilihat dari keahlian dan keberhasilannya memimpin suatu kota dan wilayah, kita terbiasa menilai pemimpin dari apa yang mereka miliki, misalnya berapa banyak harta kekayaan dan kedudukan, berapa banyak rumah dan mobil yang mereka miliki. Parameter yang kita gunakan untuk mengukur keberhasilan kepemimpinan adalah harta. Maka dari itu, ketika mereka dihadapkan pada skill/kemampuan kongkrit memimpin, mereka hanya bicara seputar teori dan wacana, tidak ada yang benar-benar bisa menguasai kondisi lapangan. Padahal Jakarta ini sudah sangat tua dan renta (650 tahun) maka Jakarta membutuhkan Super Hero Sungguhan, bukan lagi Superhero gadungan yang hanya mengerti teori tapi tidak tahu apa-apa tentang keadaan lapangan.

DKI Jakarta ini butuh lebih dari sekedar orang hebat dan kuat, lebih dari sekedar manusia super yang hanya mengandalkan tampang ganteng dan peralatan lengkap dan canggih (layaknya super hero ala Holywood), Jakarta kelak membutuhkan pemimpin yang lebih kuat, tangguh dan tahan banting. Bukan gubernur selebriti yang dikenal jelas oleh warganya karena tingkah lakunya yang kontroversial, terlalu banyak bicara dibanding kerja.

Karena Saat ini warga Jakarta sudah bisa dikatakan cerdas dan kritis, mereka sudah tidak bisa lagi diakali dengan dalih dan alasan berkedok kepentingan sesaat (politik), mayoritas warga jakarta saat ini adalah kaum muda dan intelektual kritis. Jadi jika hingga kini partai masih menggunakan paradigma lama dalam mekanisme mendulang suara, maka langkah mereka amat sangat memalukan. Masyarakat jakarta sudah berganti generasi, menjadi generasi muda digital yang dinamis, sementara paradigma partai masih berorientasi tahun 80-an. Cara seperti ini harusnya sudah ditinggalkan, mempercayakan pucuk pimpinan kepada generasi muda yang lebih moderat dan bisa merangkul idealisme kaum muda. Menjaring suara sudah bukan lagi dengan menggunakan pengeras suara keliling kampung, tetapi sudah dengan sistem direct Wifi alias terkoneksi secara otomatis dari hati ke hati tanpa perlu susah payah gelar dagangan dilapangan terbuka. Karena jika pemimpin sudah dekat dengan rakyatnya (terkoneksi), tidak perlu dikasih pemberitahuan, rakyat akan bergerak dengan sendirinya. Semua orang tertawa jika sistem pencalonan pemimpin masih menggunakan cara kuno seperti ini, sementara sekarang semua barang rumah tangga saja sudah menggunakan sistem jasa online, termasuk ojek. Masa iYa memilih pemimpin masih sistem tradisional, ini kan sangat memalukan.

Jadi menurut hemat kami, Sandiaga bukanlah calon yang cukup tangguh untuk diperhitungkan menjadi pemimpin Ibukota negara ini di masa depan. Masih banyak kekurangan dan masih banyak calon lain yang layak menempati kursi DKI-1 ini 2017. Mungkin ada baiknya kita membiarkan Sandiaga terus berkembang bersama usaha yang digelutinya, membuat lebih banyak lapangan kerja. Atau setidaknya biarkan Sandiaga menuntaskan permasalahan hukum yang melilit dirinya. Lalu Bagaimana dengan Ibu Tri Risma Harini yang belakangan juga diberitakan akan diusung salah satu partai? Nampaknya kali ini kita harus menahan diri dan tidak bersikap gegabah dalam bertindak dan memberikan kesempatan kepada Ibu Risma untuk lebih berkonsentrasi membangun kota Surabaya, karena bagaimanapun ia baru saja dilantik dan sedang menata kota tersebut, sementara Jakarta ini kan masih ada banyak orang yang cukup konpeten.

Lalu Siapa yang Layak Di Usung Publik untuk memimpin DKI-1 2017-2022?

Sebenarnya di negeri ini ada banyak pemimpin yang baik dan jujur, di beberapa daerah yang sedang menjabat sebagai kepala daerah dan wakil juga ada yang berkualitas, hanya saja partai-partai besar tidak pernah mau mengelola dan memberdayakan mereka dengan baik sehingga tidak bisa dikenali oleh masyarakat bahwa pemimpin itu layak diperhitungkan. Media tidak pernah mengekspos kiprah para pemimpin ini, hanya mengeskpos yang kontroversial saja. Maka dari itu sekarang kita sulit meneropong bakal calon yang dianggap paling layak yang cocok menduduki jabatan paling strategis tersebut.

Satu-satunya orang yang mengerti dan bisa dipercaya memikul tanggung jawab ini adalah orang yang pernah duduk dan berdiri ditempat yang sama, orang yang setiap hari berhadapan dengan masyarakat dan berada di lokasi kejadian. Bukan hanya mengerti bahkan ia sudah punya masterplan yang siap dilaksanakan untuk mengatasi semua permasalahan warganya. Bukan lagi sekedar wacana tetapi sudah tersedia buku petunjuk dan arah kebijakan beberapa tahun ke depan. Saat ini Jakarta sudah tidak membutuhkan slogan baru, logo baru atau wacana baru, semua itu sudah tidak diperlukan lagi. Jakarta hanya membutuhkan pemimpin yang jujur, kerja keras, disiplin, independen dan amanah.


Lalu Siapa kira-kira yang pantas? Adalah Wakil Gubernur DKI saat ini Djarot Saefullah Hidayat, Orang yang selama ini mendampingin Ahok memimpin Jakarta, beliau adalah salah satu calon yang harus diperhitungkan eksistensinya. Kenapa? Karena beliaulah selama beberapa tahun belakangan ini mengetahui dengan pasti apa saja yang terjadi di Jakarta ini dan beliau bukanlah pemimpin selebriti yang bekerja karena mengharap pujian dan menaikkan pamor untuk mencari dukungan massa. Sosok Low Profile ini dinilai memiliki cukup modal untuk maju pilgub 2017 karena meski suaranya tidak pernah terdengar tetapi ia dikenal cukup cekatan. Djarot Saeefullah sudah mengalami berbagai pergantian pemimpin di lingkungannya dan dia faham betul dengan apa yang diinginkan masyarakat, bagaimana cara mengatasi dan membuat masyarakatnya tenang. Ibaratnya orang itu sudah reflek dan terbiasa dengan berbagai keluh kesah dan kekacauan ibukota ini. DJarot ini bukan orang baru di Jakarta ini dan ia adalah calon yang tidak banyak omong namun lebih banyak kerja. Disamping itu beliau juga tetap bisa melanjutkan program pembangunan yang sudah ada sebelumnya. Jangan sampai, ganti pemimpin ganti program kerja juga.

Profil Singkat
Drs. H. Djarot Saiful Hidayat, MS adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta yang menjabat sejak 17 Desember 2014. Sebelumnya ia adalah anggota DPR RI periode 2014-2019. Djarot pernah menjabat sebagai Wali Kota Blitar sejak 3 Mei 2000 hingga 3 Agustus 2010 dan anggota DPRD Jawa Timur sejak 1999 hingga 2000.

Djarot Saiful Hidayat, atau akrab disapa dengan nama Djarot, menimba ilmu di Universitas Brawijaya (UB), Malang, Fakultas Ilmu Administrasi (FIA). Setelah menamatkan pendidikannya di UB pada tahun 1986, ia mendapat gelar Sarjana (S1). Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya dengan terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Fakultas Ilmu Politik hingga memperoleh gelar Magister (S2) pada tahun 1991.

Lalu apa alasan Wagub DJarot harus diperhitungkan eksistensinya?
1. Beliau pernah berkecimpung di dunia pendidikan, menjadi seorang dosen di Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya. Tidak hanya sebagai dosen, ia juga merangkap tugas sebagai Pembantu Rektor I di universitas tersebut pada tahun 1997 hingga 1999, atas dasar pertimbangan ini kita berharap beliau adalah sosok yang mengerti kebutuhan jiwa muda anak-anak generasi saat ini.
2. Beliau Pernah menjabat sebagai walikota Blitar selama 2 periode dan ada banyak penghargaan ketika beliau menjabat.
3. Beliau pernah menjabat sebagai Anggota DPR periode 2014-2019, pastilah ini disebabkan karena sosok Djarot yang dekat dengan masyarakat.
4. Beliau juga adalah merupakan salah satu anggota kader Partai PDI-P yang loyal dan dikenal kooperatif dilingkungan partai dan pemerintahan, atas dasar ini diharapkan kelak ia akan memiliki dukungan di parlemen.
5. Beliau adalah sosok sederhana, dalam kehidupan kesehariannya terbiasa mengunakan sepeda motor untuk berangkat ke Balai Kota dan sedikit sekali kita mendengar tingkah lakunya yang dianggap nyeleneh.
6. Beliau adalah salah satu pemimpin yang sabar dan taat aturan, meski selama 2 tahun lebih mendampingi Ahok sebagai wakilnya, namun kita bisa merasakan bagaimana beratnya tugas yang diemban sebagai orang nomor dua DKI ini pastilah bukan perkara sederhana.

Dan masih banyak lagi hal-hal positif yang dimiliki Djarot untuk dijadikan pertimbangan sebagai salah satu alternatif kebutuhan calon pemimpin yang sangat urgent saat ini. Dan lagi rasanya jika Djarot bisa menjadi lawan tanding Ahok di Pillgub DKI 2017 kelak, maka ini akan menjadi pertarungan paling sengit dan menegangkan sepanjang masa. Jika dalam pilgub kelak hanya ada dua pasang calon yang memperebutkan kursi panas DKI-1, maka ini akan menjadi pusat perhatian masyarakat seluruh indonesia atau bahkan dunia. Ini akan jadi berita utama dan kembali lagi kita akan melihat pertarungan paling menegangkan di abad ini.

Dibalik semua itu, PDI-P sebagai partai yang mengayomi Djarot selama ini hanya ingin menempatkan Djarot di DKI-2, namun kali ini PDI-P harus berani mengambil resiko untuk mengangkat Djarot sebagai calon kuat yang akan menempati kursi DKI-1 2017. Karena sudah menjadi keniscayaan bahwa satu-satunya orang yang akan dapat menandingi Ahok di Pilgud nanti adalah orangg terdekat Ahok itu sendiri yaitu wakilnya yang selama ini mengetahui dengan jelas semua arah kebijakan. Hanya Djarot yang akan bisa mematahkan semua tuduhan dan kekurangan dirinya. Ini akan menjadi pertarungan yang seimbang dan rakyat akan melihat ini adalah sebuah bentuk perjuangan PDI-P membentuk pemimpin yang kuat dan dapat dipertanggung jawabkan kepemimpinannya.

Lalu Siapa wakil yang layak mendampingi Djarot menghadapi pasangan Ahok? Seorang nama yang pernah disebut-sebut akan mendampingi Ahok jika Ahok memilih jalur independen, namun kini nama itu dikubur hidup-hidup karena kini Ahok sudha memilih jalur partai politik. Nama itu adalah Pak Heru Budi Hartono, kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Pemda DKI. Ia adalah calon wagub yang paling cocok mendampingi Djarot, karena keduanya sama-sama dari pemerintahan dan sama-sama pernah punya hubungan dengan Ahok.

Prestasi Saat Pimpin Blitar

Ada segudang prestasi yang diraih Djarot selama menjabat walikota Blitar 2 periode. Memimpin dari tahun 2000 hingga 2010, dia berhasil menata 1.000 pedagang kaki lima (PKL) dan menekan pembangunan mal atau gedung pencakar langit di daerahnya.

Selain itu, Djarot juga memperoleh Penghargaan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah 2008. Begitu juga dengan Piala Adipura selama 3 tahun berturut-turut, 2006, 2007, dan 2008. "Juga dapat penghargaan dari Majalah Tempo sebagai kepala daerah terbaik se-Indonesia.

Djarot mengaku mempunyai kemampuan yang cukup mumpuni. Ia pun menyebut beberapa prestasi yang pernah diraih saat menjabat sebagai Walikota Blitar selama 2 periode pada 2000-2005 dan 2005-2010.

"10 Tahun ketika di Blitar tidak ada satu pun pegawai saya yang masuk penjara, dan di bawah kepemimpinan saya, indeks pembangunan manusia Kota Blitar, jadi yang tertinggi di Jawa Timur dan ke-3 se-Indonesia,"



Read More..

Rabu, 31 Agustus 2016

MUNGKIN INI ALASAN PDI-P BELUM MENENTUKAN SIKAP DUKUNGANNYA TERHADAP AHOK

Ingin mengetahui tingkat kelayakan calon incumbent Ahok menuju DKI-1 gampang aja, gak perlu kita repot-repot melihat dari sisi Sara/etnis/agamanya, nilailah dari sikap berpolitiknya dalam komitmen dan konsistensi dalam bersikap. Ahok Sebagai salah satu calon yang akan mencalonkan diri di Pilgub DKI, memiliki rekam jejek buruk di masa lalu, ada baiknya kita semua berkaca pada masa lalu . Tulisan ini dibuat dalam rangka menanggapi krisis kepemimpinan di negeri ini bukan alasan lain.

Diawal Ahok adalah satu-satunya calon yang bertekad akan maju menjadi cagub DKI melalui calon independen, ia beranggapan bahwa jika menggunakan kendaraan politik, maka ia khawatir tidak akan bisa bersikap dan bertindak independen, karena otomatis kebijakannya akan dikendalikan partai politik pendukungnya. Ini artinya secara nurani sejak awal Ahok ini orang yang tidak mau di atur oleh siapapun, ia mau bekerja sendiri, ia tidak mau dikendalikan oleh pihak lain. Maka atas dasar inilah ini menghimpun kekuatan melalui jalur “Teman Ahok” yang belakangan ini terbukti tidak independen karena sarat unsure moneypolitik dan manipulasi data kependudukan.



Dalam keadaan terjepit seperti ini, sangat mudah bagi Ahok tentunya untuk berpaling, meski diawal dia sendiri sudah bertekad tidak ingin menjadikan parpol sebagai kendaraan politiknya, namun jika sudah seperti ini, apa boleh buat, maka ia dengan terpaksa menjilat ludahnya sendiri yang diawal ia beranggapan bisa mendapat dukungan 1 juta masyarakat, faktanya ia harus menerima kenyataan bahwa kelak ia akan menjadi pemimpin yang harus mau bekerja dibawah kendali partai. Lalu dengan kondisi seperti ini, apakah Ahok akan benar-benar bisa bekerja maksimal, sementara selama masa jabatannya saja ia sudah banyak mendapat perlawanan dari warganya terkait penerapan berbagai kebijakan, padahal ia sedang tidak berada dibawah tekanan partai, sebagian warganya beranggapan Ahok tidak manusiawi dalam bekerja, lalu apakah Ahok tidak akan bertindak lebih kejam jika kelak dia akan bekerja di bawah kendali partai? Inilah yang jadi pertanyaan sebagian warga Jakarta hingga hari ini.

Sebagai mana kita semua ketahui bahwa Ahok sudah melepaskan keanggotaannya di partai Grindera beberapa Tahun lalu. Meski pada awalnya partai yang mengusungnya hingga ke kursi DKI-2 berdampingan dengan Jokowi adalah partai Gerindra. Seperti kacang lupa pada kulitnya, sikap Ahok ini membuat Partai Gerindra hingga saat ini masih sakit hati, karena telah dikhianati Ahok sedemikian rupa dan hingga kini bahkan berupaya keras ingin membuat Ahok tidak bisa menjabat kembali sebagai DKI-1 dengan cara mereka mengusung calon lain yang akan berhadapan dengannya. Gerindra adalah salah satu contoh kongkrit parpol yang kecewa dengan sikap politik Ahok di masa lalu.

Meski sudah mendapatkan dukungan resmi dari tiga partai besar yaitu Nasdem, Hanura dan Golkar, Ahok masih belum merasa puas, ia masih terus berupaya mendapatkan dukungan PDI-P. Dengan segala upaya Ahok berusaha mendekati Megawati Sukarnoputri kemudian berkoar-koar dimedia dan mengklaim dirinya sudah mendapat restu dari Pimpinan tertinggi Partai PDI-P tersebut. Dengan sikap politik Ahok yang berlebihan seperti ini, PDI-P akhirnya memberi sinyal akan mendukungan AHOK untuk Pilgub DKI 2017, atas dasar hasil pooling? Walaupun diawal banyak dari Kader PDI-P yang tidak setuju mengusung Ahok sebagai calon mewakili partai PDI-P karena disinyalir Ahok memiliki sikap tidak disiplin dan cenderung melawan aturan partai, tidak mau menjadi anggota partai, dan ia diprediksi akan membawa kerugian bagi citra Partai PDI-P dikemudian hari, karena Ahok bisa bertindak secara sepihak dan tidak mau berkoordinasi dengan partai pendukungnya.

Mengapa Ahok dianggap akan menjadi pembawa bencana bagi PDI-P, karena sebagaimana kita ketahui, belakangan ini partai berlambang kepala Banteng ini disegani lawan-lawan politiknya karena kepiawai-annya melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas di kancah dunia perpolitikan. Sebut saja Presiden Joko Widodo, yang merupakan salah satu kadernya yang setia, dan juga dikenal sangat dekat dengan rakyat ini adalah salah satu bentuk kongkrit buah kerja keras partai mendidik kadernya. Lalu kita tahu juga Walikota Surabaya Ibu Tri Risma Harini, beliau juga merupakan bagian dari keberhasilan partai PDI-P membentuk karakter pemimpin yang mencuat namanya karena kerja kerasnya dan kedekatannya dengan masyarakat Surabaya sudah tidak diragukan lagi. Ada juga Ganjar Pranowo yang menjabat sebagai Gubernur Jawa tengah dan sangat dicinta rakyatnya.

Apakah AHOk kelak tidak akan menjadi bumerang dan mengecewakan PDI-P, jika di tengah jalan ada ketidakcocokan, Bagaimana jika AHOK mengkhianati PDI-P sebagaimana yang pernah ia lakukan kepada Gerindra. Sementara PDI-P adalah salah satu partai yang banyak memiliki pendukung setia di akar rumput (masyarakat) yang sangat menggantungkan harapan kepada partai tersebut. Apakah PDI-P juga sudah siap ditinggalkan para pengikutnya jika kelak PDI-P tidak bisa mempertahankan Ahok sebagai calon yang mereka usung? Beberapa tahun lalu kita pernah punya sejarah bagaimana Partai Golkar, PKS, PKB, Demokrat dan sebagainya yang kesohor kala itu kini hanya tinggal kenangan (diumpamakan kapal karam) karena pernah mengecewakan rakyat dengan sikap para pemimpinnya yang korup. Partai-partai ini terlalu bersemangat mendulang uang dibanding mendulang dukungan rakyat, sehingga sudah tidak punya gigi lagi di mata publik.


Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa alasan PDI-P memilih Ahok karena berdasarkan hasil survey INDEF menunjukkan tingkat elektabilitas Ahok jauh diatas rata-rata pesaingnya. Ia dianggap masih menjadi pilihan warga Jakarta dan ini yang menjadi sebab PDI-P masih diperhitungkan Ahok masuk bursa calon yang kuat. Dalam hal ini, kita bukan ingin menampik hasil pooling lembaga survey tersebut, namun bagaimana mungkin dasar penentuan kelayakan calon ini hanya dilandaskan pada perhitungan angka di atas kertas, sementara di lapangan setiap hari ada saja masyarakat yang turun ke jalan gelar demo menolak Ahok. Ini menunjukkan apa yang disebutkan di dalam pooling bertolak belangang dengan fakta dilapangan, angka tingkat elektabilitas yang di maksud PDI-P tidak mencerminkan kondisi masyarakat pada umumnya. Jika kita bandingkan dengan kedua kader PDI-P yang lain seperti Jokowi dan Ibu Risma? Apakah kondisi seperti ini juga sering terjadi selama masa jabatan mereka? sebaliknya Ibu Risma dilarang oleh masyarakat Surabaya untuk mencalonkan diri menjadi DKI-1 karena masih dibutuhkan. Lalu bagaimana bisa PDI-P ingin mencalonkan Ahok sementara Ahok tidak diinginkan warganya?

Sekali lagi kita harus banyak berkaca pada masa lalu, Ahok mungkin memang bisa memuaskan kepentingan beberapa orang (kasus Reklamasi Jakarta Utara), tetapi sebagaimana kita semua tahu bahwa AHOk juga pernah melukai dan mengecewakan banyak orang. Ia adalah sosok pemimpin yang suka memanfaatkan situasi demi kepentingan sesaat, dalam keadaan terjepit ia siap menelikung dan menjilat ludahnya kembali, demi mendapatkan dukungan yang lebih kuat agar dirinya bisa di maju kembali. Apakah sikap dan perilaku pemimpin seperti ini yang ingin kita lihat dimasa depan?

Setelah merasa percaya diri sudah mendapat restu dari PDI-P, Ahok tidak berhenti sampai disitu. Meski sudah mendapat banyak dukungan partai, sementara calon-calon lain masih mengemis-ngemis dukungan dan tidak ada yg gubris, baginya itu masih kurang, karena ada satu hal lagi yang akan menghalangi dirinya jadi DKI-I yaitu UU Pilkada yang mewajibkan semua petahana mengambil cuti selama masa kampanye. UU ini dinilainya akan menjadi penghalang maka dengan penuh keyakinan ia menggugat UU Pilkada tersebut ke MK. Ada beberapa spekuliasi yang mendasari gugatan ahok ini, pertama, mungkin karena Ahok merasa tidak bisa mempercayai bawahannya yang kelak akan mengambil alih pekerjaannya, sementara ia bisa memanfaatkan wewenangnya tersebut. Kedua, Bisa jadi Ahok ingin menggunakan fasilitas dan jabatannya untuk digunakan sebagai kendaraan politik selama masa kampanye, meski ia sudah mendapatkan dukungan beberapa partai besar, ia masih merasa belum cukup sehingga masih harus menggunakan jabatannya. Atau ketiga, karena AHok tidak memiliki cukup rasa percaya diri menghadapi konstituennya, sebab apa? karena sejak awal Ahok bukanlah calon yang datang ke Jakarta ini karena warga Jakarta memilihnya, dulu ia dipilih karena dia adalah pasangan Jokowi dan sekarngpun menjabat karena melanjutkan kekosongan posisi yang ditinggalkan Jokowi menjadi Presiden. Ahok tidak memiliki cukup nyali untuk berhadapan langsung dengan rakyatnya, walau dia sudah diberi jaminan begitu banyak parpol.

Dengan sikapnya Ahok seperti publik jadi berasumsi bahwa Ahok ini sangat berambisi dan ia bisa melakukan banyak cara untuk mencapai tujuannya. Kedua, publik juga akan menduga Ahok memiliki misi terselubung dibalik semangat dan ambisinya ini, semacam ada suatu tujuan yang harus dia tuju, mungkin semacam imeg di mata publik. Bahwa kelak jika ia terpilih menjadi Gubernur secara aklamasi, maka ia akan bisa menumbangkan anggapan bahwa non muslim tidak akan bisa memimpin warga mayoritas muslim, apalagi Jakarta adalah pusatnya perhatian dunia yang penduduknya mayoritaas muslim. Ini akan menjadi penilaian tersendiri dimata internasional bahwa ia akan menjadi tolak ukur keberhasilan Non muslim mengendalikan muslim.

Ahok bukan saja menampakkan diri sebagai orang tidak percaya dengan parpol pendukungnya ia juga tidak percaya pada sistem, pada rakyatnya bahkan terhadap dirinya sendiri. Ia tidak merasa cukup percaya diri berhadapan dengan orang yang diawal sudah pasang badan akan mendukung dirinya. Jika seperti ini, bisakah ia memimpin rakyatnya jika dimasa krusial seperti ini ia tidak mau berhadapan dengan wong cilik yang sangat amat di takuti partai pendukungnya terutama PDI-P? Apakah rakyat bisa berharap kepada pemimpin seperti ini?

Atas semua kondisi ini, mungkin inilah salah satu sebab hingga kini PDI-P masih belum menentukan sikap politiknya. Publik masih menunggu PDI-P menjatuhkan pilihannya kepada calon yang menurut mereka tidak akan merugikan di masa depan. Atau mungkin penyebab lain yang mendasari sikap PDI-P adalah karena sebagaimana yang sering terjadi di masa pemilihan kepala daerah, diawal banyak kepala daerah yang mati-matian berusaha mendapatkan dukungan PDI-P tapi setelah terpilih, mereka bagaikan kacang lupa pada kulitnya. Dengan pedenya membelakangi dan melupakan peran, jasa dan kerja keras Partai PDI-P semasa pencalonan. Lalu melihat sepak terjang Ahok di atas, apakah mungkin PDI- P tidak akan menanggung malu di kemudian hari? Hmm...sepertinya tidak ada yang bisa menjamin.

Hal ini pernah terjadi manakala Ahok menyinggung masalah Mahar Politik kepada Ketua Umum Partai Megawati Soekarnoputri dan ini menjadikan Megawati marah besar dan menganggap Ahok terlalu meremehkan Partainya. Lalu bagaimana mungkin PDI-P begitu saja menerima permohonan Ahok untuk mendukung dirinya, sementara etika berpolitiknya saja tidak pantas disebut sebagai politisi. Jadi kita sekarang faham jika sampai hari ini Partai besar ini belum memberikan sinyal kepada siapa balon akan diberikan.

Berkaca pada apa yang terjadi di London, seorang walikota terpilih dari kalangan Muslim untuk memimpin kota Paris. Ini adalah sebuah bentuk keniscayaan sifat kepemimpinan yang terpilih secara aklamasi karena mayoritas penduduk London adalah non muslim dan pastinya mereka adalah golongan terpelajar dan cerdas yang bisa melihat pemimpinnya bukan karena agama/sara dan suku, melainkan karena Khalid Khan ini dikelal sangat cerdas, santun dan bersahaja dalam memimpin. Masyarakat London memandang Khalid Khan pantas memimpin kota mereka karena memiliki bentuk kepemimpinan yang sesuai kebutuhan masyarakat yang dinamis. Sementara yang terjadi di Jakarta dengan mayoritas muslim, jika kelak yang terjadi adalah Ahok yang memenangkan pilkada, maka ini adalah salah satu bentuk kemunduran. Warga dunia akan mencap kita adalah bangsa yang bodoh, sementara jika Ahok sampai kalah di Jakarta dan dimenangkan warga muslim, maka warga Jakarta akan mendapat gelar bangsa yang lebih cerdas daripada warga Paris. Kenapa? Karena warga paris yang non muslim saja mau menerima muslim sebagai pemimpinnya, kenapa warga jakarta yang mayaoritas muslim malah memilih non muslim sebagai pemimpinnya. Sekarang kita mengerti mengapa kita perlu berhati-hati dalam memilih pemimpin, besar sekali dampak dan pengaruhnya di masa depan.

Dan sebagai umat islam, kita tentulah sudah diajarkan dengan bagaimana memilih pemimpin yang baik. Kepemimpinan itu adalah amanah, besar sekali pengaruhnya selagi masih bisa kita perbaiki maka berusahalah sekuat tenaga. Bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّا لاَ نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلَا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ

“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” [HR. al-Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733]

Ketahuilah, wahai mereka yang sedang memperebutkan kursi jabatan dan kepemimpinan sementara dia bukan orang yang pantas untuk mendudukinya, kelak pada hari kiamat kedudukan itu nantinya akan menjadi penyesalan kita semua karena kita tidak bersungguh-sungguh ingin memperbaiki nasib kita melalui tangan kita sendiri.


Read More..