Rabu, 18 Mei 2016

HIDUPLAH ALA PHILOSOFI POHON

Jika anda pernah melihat dengan seksama sebatang pohon yang tumbuh di sekitaran anda, apa yang anda kagumi dari wujud pohon itu. Ternyata ada hikmah besar mengapa Allah menciptakan mahluk yang satu ini, yaitu adanya unsur keindahan, ketenangan, keikhlasan, kemanfaatan dan kesabaran.

Pohon ini hanya bisa diam didalam sepi, walau ramai hiruk pikuk disekelilingnya ia tidak bergeming dan bahkan semakin menjulang ke atas. Hakikatnya jika manusia bisa mengambil hikmah dari penciptaan Pohon, maka manusia akan mampu mencapai keutamaan.

Nilai hidup ala Philosofi Pohon;

- Walau tak bisa bergerak (diam dan khusuk) tetapi ia bisa mencapai langit (puncak).

- Walau tidak bisa berlari (menghindar) dari terpaan badai (masalah), tetapi ia bisa tetap bertahan dan memberi perlindungan kepada yang membutuhkan.

- Walau punya keterbatasan, ia tetap bisa memberi manfaat kepada semua Mahluk-Nya; daun, batang, buah, kayu bahkan akar semua bermanfaat.


Jika manusia bisa mengilhami keindahan dari sebatang pohon, maka ia akan mampu mencapai puncak keutamaan hidup yaitu puncak kemuliaan di sisi-Nya. Pohon adalah salah satu contoh nyata keabadian, ia sudah ada sejak pertama kali alam ini diciptakan hingga datangnya hari Akhir, mereka adalah mahluk keabadian.

Read More..

Jumat, 06 Mei 2016

SIKSA BERLIPAT BAGI USTAD/USTADZAH MABUK DUNIA

Beberapa waktu belakangan ini kita disibukkan dengan pemberitaan ustad dan ustazah muda di berbagai media, tentang bagaimana kiprahnya menyandang gelar sebagai pendakwah yang mengundang kontroversi karena dianggap tidak bisa berlaku sebagaimana pemuka agama yang baik dan bisa memberi tauladan.

Disinyalir para ustadz/ah ini menggunakan ketenarannya untuk mencari kesenangan dunia atau bahkan memanfaatkan kedudukannya untuk meraup keuntungan untuk memuluskan berbagai rencana2 mereka dengan cara memanfaatkan pengaruhnya di masyarakat sehingga mereka bisa menggalang banyak dana untuk dijadikan alasan untuk membangun sekolah bertema agama, majlis taklim dan sebagainya.

Singkat kata, para pendakwah ini menggunakan dalih agama untuk membenarkan ambisinya mendirikan fasilitas bertema agama keperluan bekal akhirat mereka. Siapa sajakah? Ada ustad yang terkenal dengan ajaran "matematika Sedekah" dengan terang-terangan menjual produk jasa keuangan kepada pengikutnya (Paytrend) sejenis multilevel marketing untuk menjembatani para pemberi sedekah. Atau Ustadzah berinisial OSD yang belakangan ini heboh mendapat boikot dr 3000 orang atas status Ustadzah yang disandangnya, dan diberitakan kerap memasang tarif tinggi (35jt) pada tiap kesempatan, dan meminta pelayanan fasilitas mewah (bintang 5) jika ingin memanggilnya berceramah, dengan dalih dalam ranggka menghimpun dana untuk membangun sekolah penghafal Al Quran dan beberapa ambisi pribadi lainnya. Dan beberapa ustad/zah lain yang belum di ekspos media. Ini sangat memprihatinkan kita sebagai umat muslim tentuya.

Well, kita mungkin masih mengingat dengan jelas bagaimana nasib para pendakwah yang juga pernah bernasib buruk di tengah masa kejayaannya, dimana mereka juga sudah mendirikan pesantren dibeberapa kota. Mendapat julukan "Dai Sejuta Umat" yang juga berakhir dengan berbagai konflik diantaranya; memiliki banyak istri siri dan kehancuran kariernya ketika ia memilih jalur politik lalu ditinggalkan para pengikutnya. Atau bagaimana malangnya nasib Ustad kondang yang terkenal dengan ajaran Tauhidnya, kini kariernya juga sirna setelah kasus kawin cerai dengan istri-istrinya, yang disusul dengan bertubi-tubi cobaan yang menimpa dirinya. Itulah contoh-contoh nyata yang pernah ada, dimana seorang pemuka agama tidak akan mampu menahan berat beban nikmat dunia dan akhirnya mereka terpuruk dalam kehancuran bersama ambisi-ambisinya. Lalu bagaimana bisa para ustad2 muda ini menjadi gelap mata dan mereka menempuh jalan yang sama? Walau sudah ada contoh dimasa lalu?

Itu karena mereka sudah terlena dalam ketenaran, kepopuleran, disanjung dan di puja para pengikutnya dan terlena pada kenikmatan berbagai fasilitas duniawi. Yang mana mereka sendiri hanyalah manusia biasa yang sama dengan orang pada umumnya, punya ambisi dan keinginan, bedanya, mereka memiliki kelebihan ilmu dan mereka diberi kepercayaan oleh manusia untuk tampil di muka umum untuk memberi pencerahan kepada yang awam. Bedanya lagi, mereka tidak bisa menahan diri ketika ketika dunia menghadap dirinya.

Tahukah anda bahwa kebanyakan ustadz/ulama tidak mau/menghindar membaca bab ini karena mereka tau tidak bisa mencicipi kenikmatan dunia, atau mereka sudah merasa dipuncak keimanan maka mereka beranggapan mereka tidak akan mendapat siksa api neraka, tetapi itu salah besar. Karena Allah juga sudah menyediakan siksa bagi mereka yang berkhianat. Sebagian Hukama memberi gelar khusus kepada para ustad/zah jenis ini, yaitu para Ulama Dunia. Karena mereka mengerti konsekuensi besar atas sandangan gelar tersebut tapi mereka tutup mata dan telinga.

Lalu apa yang dimaksud dari kata "Ulama Dunia" yaitu ulama yang menyebarkan ilmunya kepada umat untuk mengejar-ngejar keindahan dunia, sebagai jembatan untuk memperoleh kemuliaan dan kedudukan di hadapan para memimpin dunia.

Nabi saw. bersabda: "Kelak di akhir jaman, ada orang bodoh tekun beribadah dan para alim-ulama yang menyimpang."

Nabi saw. juga bersabda: "Janganlah kamu belajar ilmu dengan tujuan berbangga diri dihadapan para ulama, untuk mendebat kepada orang-orang bodoh dan untuk menarik simpati dari manusia. Barang siapa melakukan hal tersebut, maka nerakalah tempat kembalinya."

Nabi saw juga bersabda: "Barang siapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuk atas dirinya, maka tidak semakin dekat dia kepada Allah tapi semakin jauh."

Semua ini menunjukkan betapa bahayanya suatu ilmu berada di tangan yang salah. Kadang kala, orang alim justru mengajukan diri mereka ke dalam kehancuran; hancur selamanya atau beruntung selamanya. Dan sungguh, orang yang terjun ke dalam ilmu akan sulit keselamatannya kalau dia tidak beruntung.

Umar. ra berkata: "Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan diantara semua masalah yang ku khawatirkan menimpa umat ini adalah semakin banyaknya orang munafik yang pandai(alim ulama). Mereka bertanya: " Bagaimana bisa seorang munafik bisa alim!"

Umar ra. menjawab: "Alim dan pandai lidahnya, tapi hati dan amalnya amat bodoh."

Hasan ra. berkata: "Janganlah kamu mengumpulkan ilmu dari ulama dan menimba mutiara hikmah dari para hukama, namun jalanmu seperti jalannya orang-orang bodoh dalam hal beramal."

Fudlail bin Iyyad berkata: "Sungguh aku merasa kasian terhadap tiga macam orang" :
1). Orang bangsawan yang menjadi rendah
2). Orang kaya yang jatuh miskin
3). Orang alim yang dipermainkan manusia.

Kata Hasan: "Siksa seorang ulama dunia adalah hati yang mati. Dan hati yang mati disebabkan mencari dunia dengan perbuatan yang bersifat ukhrawiyah."

Nabi saw. bersabda: "Sesungguhnya ada orang alim yang disiksa dengan suatu siksaan, dan para penghuni neraka akan mengelilinginya karena terlalu beratnya siksa."

Maksud orang alim tersebut adalah orang alim yang menyimpang (dari kealimannya). Usamah bin Ziad ra. berkata: "Aku mendengar rasulullah bersabda: " Pada hari kiamat akan didatangkan orang-orang alim, kemudian di lempar ke neraka sampai usus-ususnya terburai keluar laksana seekor keledai berputar membawa panggilingan."
Para penghuni neraka berkumpul dan bertanya: "Mengapa kamu seperti ini!" Dia menjawab: "AKu memerintahkan kebaikan tapi aku sendiri tidak melaksanakannya."

Sungguh siksa bagi ulama dunia akan dilipatgandakan karena besarnya maksiat mereka, karena sesungguhnya mereka mengerti. Maka dari itu Allah Swt berfirman dalam Al Quran:

"Sesungguhnya orang-orang munafik berada dalam tingkat neraka paling bawah...." (QS. An Nisa:145)

Firman-Nya yang lain:
"Maka ketika datang kepada mereka apa yang mereka mengerti, lalu mereka mengingkari, maka laknat Allah buat orang-orang yang ingkar." (QS. Al Baqarah:89)

Firman Allah Swt mengenai kisah Bal'am Baa'urak:
"Dan bacakanlah kepada mereka suatu kabar mengenai orang-orang yang sudah Kami berikan ayat-ayat kepadanya, kemudian dia membuangnya sampai dia diikuti syetan, maka dia termasuk orang-orang yang sesat." (QS. Al Araf:175)

Sampai Dia berfirman:
"Maka dia laksana seekor anjing, jika engkau menghalau, dia akan menjulurkan lidahnya..." (QS. Al Araf :176)

Demikianlah nasib orang alim yang lacut (menyimpang), Sebab Ba'lam telah diberi Kitab oleh Allah, namun ia lebih senang mengikuti hawa nafsunya, lantas ia pun diumpamakan anjing. Artinya, di diberi hikmah atau tidak diberikan, lidahnya tetap menjulur keluar mengikuti kesenangan hawa nafsu.

Maka dari itu Nabi saw bersabda: "Sebaik-baiknya manusia adalah orang mukmin yang alim, yang bila dibutuhkan bisa memberi manfaat, bila tidak dibutuhkan, maka ia bisa mencukupi dirinya."


Catatan: "Memang tidak semua ustad memiliki prilaku seperti diatas, dimasa lalu kita pernah punya Alm. Ustad Jefry Al Bukhori yang kini sudah tenang di sisi Allah, semasa hidupnya walau ia sedang berada di puncak kejayaan dan dunia sedang menghadap dirinya, namun dia tidak silau dan terlena, sebaliknya beliau hanya memilih menjual pakaian Koko yang dirancangnya sendiri di pasar Tanah Abang, atau menciptakan lagu2 Nasyid yang indah, perilakunya tetap rendah hati dan sederhana, mungkin inilah sebabnya Beliau dipanggil lebih dahulu, agar tidak terjangkit penyakit mabuk dunia. Semoga Arwahnya tenang di alam sana."
Mengapa para ustadz yang ada sekarang tidak bisa bersikap seperti Alm. Uje? mengapa mereka memilih menghamba kepada manusia dan kesenangan dunia? Maka dari itu teman, berhati-hatilah kita jika ingin mendapat gelar ustadz/ah, pelajarilah ilmu sebaik-baiknya, karena siksa bagi para ustadz/ulama amat berat di akhirat. Dan berhati-hatilah jika ingin mengikuti ilmu pendakwah, karena jika kita tidak tahu apa yang ada dalam hatinya (motif utama yg bukan krn Allah), maka kelak kita juga akan ikut disiksa bersamanya.

Sangat besar hikmah yang dikandung dari peristiwa ini, yaitu ke depannya akan menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak lagi sembarangan dan asal-asalan dalam memilih pemimpin/pemuka agama, lihatlah bagaimana cara mereka memperlakukan dirinya, apakah mereka memang bersungguh-sungguh ingin berbakti kepada Allah atau ada unsur lain yang menyelimutinya. Sayang sekali jika akhirnya kita tidak bisa memilih siapa orang yang pantas menjadi imam kita, sementara kita mengerti beratnya konsekuensi itu juga akan menjadi tanggung jawab kita nantinya.





Read More..

Sabtu, 30 April 2016

KISAH PERTOBATAN SANG JUTAWAN TRANSGENDER

Safiuddin Ilias. Jutawan muda asal Malaysia ini tengah mencuri perhatian publik. Bukan karena harta melimpah dari usaha kosmetiknya, tapi karena keputusannya untuk ‘berhijrah’, meninggalkan identitas sebagai seorang waria dan kembali menjadi laki-laki sejati. (dikutip dari laman dream.co.id)

Ya, semula Safiuddin adalah seorang waria. Pria yang berdandan dan berperilaku seperti wanita. Dia bahkan melakukan operasi, seperti melakukan implan payudara, agar mirip dengan wanita. Tapi beberapa waktu lalu, dia memutuskan untuk bertobat. Membuang semua `atribut kewanitaan`. Termasuk implan payudara yang dia pasang dulu.

Setelah menulis kisah hijrah yang mengharukan ke Facebook, kini pemuda 22 tahun dan sudah meraih sukses di usia 19 tahun itu menuturkan kisah pertobatan yang mengharukan itu. Semua ini berawal ketika ia masih menjadi waria, ada banyak orang yang mencemooh dan menghakiminya meski tak sedikit yang tetap mau menerimanya. Saat itu pula dia mencari konsep hidayah untuk berhijrah.

“Akhirnya saya faham, bahwa hidayah ialah kemauan untuk berubah. Apabila kita berubah menuju kebaikan, itulah hidayah,” kata dia.
“Saya ingin memperbaiki diri dan berdakwah,” tutur Saifuddin.

Safiuddin mengaku sengaja mengunggah tulisan itu ke Facebook. Dia ingin kisah itu menjadi pelajaran bagi siapa saja. Tiada maksud menyinggung hati siapapun.

“Bila kamu asyik menyebut tentang hal dunia, maka itu karena ada dunia di dalam hatimu. Bila kamu asyik menyebut tentang hal akhirat, maka ada Allah SWT di hati kamu.” ujar Safiuddin.
(Dalam beberapa tulisannya Saifulldin menyebutkan bahwa ia bertekad ingin menebus seluruh kesalahannya di masa lalu dan ingin membelanjakan seluruh kekayaannya untuk berdakwah dan menegakkan Dinul Islam).

Pelajaran Berharga dari Kisah ini adalah bahwa sebenarnya para kaum transgender ini memiliki sisi kehidupan yang lembut, hati mereka sangat halus dan sangat mudah tersentuh, itu yang mengakibatkan mereka salah mengerti, bahwa mereka menganggap diri mereka seorang wanita, sesungguhnya tidak, karena itu sebenarnya karena Allah adalah Dzat yang maha membolak-balikkan hati manusia.

Hadist Riwayat Muslim yang menyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendakNya.”

Di akhir jaman, kebanyakan manusia yang bertaqwa adalah manusia yang memiliki hati yang halus dan lembut, bukan lagi manusia yang berhati baja sebagaimana yang pernah ada di jaman para nabi, dimana mereka tanpa ragu turun ke medan perang menghunus senjata dan menyerahkan nyawa kepada Allah tanpa rasa takut sedikitpun. Manusia yang akan berperang melawan kejahatan hawa nafsu di akhir jaman kelak adalah manusia yang berhati yang lembut mudah tersentuh, dan mudah menerima. Mereka lebih banyak menggunakan rasa kemanusiaan jika dibanding kekuatan fisik. Karena di dalam hati yang lembut ini terdapat keikhlasan dan kesabaran, yang akan memudahkan orang menerima hidayah (petunjuk). Di dalam hati yang lembut ini Allah menancapkan keyakinan dan ketaqwaan seorang muslim berakhlak mulia.

Dijaman rasulullah, Islam pernah berjaya ditangan para pengikutnya yang berhati SINGA dan diakhir jaman kelak Islam akan kembali berjaya di tangan para pengikutnya yang berhati EMAS. Ya seperti itulah ciri dan cara Allah membolak-balikkan hati manusia. Sebagimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu.”

Seandainya saja kaum transgender ini tahu, betapa istimewanya mereka dihadirkan dimuka bumi ini dalam rangka menumbuhkana rasa kasih sayang diantara umat sehingga tegaklah Dinul Islam dalam kesejukan, ketenangan dan kedamaian bagi sesama. Tidak ada kekerasan, tidak ada perpecahan dan sangat kuatnya rasa persaudaraan yang akan mengantarkan kita semua pada keselamatan. Jika mereka menyadarinya maka mereka tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk segera berhjrah.

Read More..

Jumat, 22 April 2016

PERSIAPKAN BEKAL AKHIRATMU DARI SEKARANG

Perjalanan kehidupan anak Adam sangatlah panjang, sudah mencapai ribuan tahun, sementara usia mereka hidup tidak lebih dari 70 tahun. Dan untuk mencapai masa akhir jaman ini, entah dibutuhkan berapa ribu tahun lagi. Sementara setiap orang diwajibkan untuk mempersiapkan perbekalan menuju alam akhir sebanyak-banyaknya, namun jika dalam kurun masa hidupnya ia tidak mampu mempersiapkan perbekalan karena waktu yang dilalui lebih banyak disibukkan untuk urusan dunia, maka sisa usianya tidak akan cukup untuk mempersiapkan perbekalan.

Dalam kitab Nashaihul ‘Ibaad karya Imam Nawai Al-Batani, Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abu Dzar Al-ghifari ra : “Wahai Abu Dzar perbaikilah perahumu, karena lautan itu sangat dalam. Carilah perbekalan yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh. Kurangilah beban (dosa), karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi. Dan ikhlaslah dalam beramal karena yang menilai baik dan buruk adalah dzat yang maha melihat”.


Jika seorang mukmin sudah wafat dan meninggalkan dunia fana ini, terdapat 3 amalan saja yang masih diterima Allah sebagai pengganti jika sudah meninggalkan dunia ini sebelum datang hari akhir. Amalan-amalan tersebut akan terus mengalirkan pahala pada pelakunya sebagai bagian dari bekal yang kekal untuk menjalani kehidupan yang nyata di kampong akherat, yaitu adalah:

1. AMAL JARIYAH

Amal jariyyah menurut bahasa ialah perbuatan yang baik. Menurut istilah ulama syara’ amal jariyyah juga di sebut sebagai wakaf yaitu menahan sesuatu yang bolah dimanfaatkan bagi tujuan kemaslahatan umat serta kekal zatnya sebagai ( taqarrub) pendekatan diri terhadap Allah. Hukum melakukannya adalah sunat.
Firman Allah Ta’ala yang berbunyi :

لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون وما تنفقوا من شيء فإن الله به عليم
Yang kira-kira bermaksud :
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (Surah Ali ‘Imran, ayat 92)

Amal jariyah merupakan amalan yang terpuji disisi Allah antaranya ialah membangun masjid, surau/mushola atau pesantren/sekolah, mewakafkan kitab-kitab bermanfaat kepada masjid, membangun irigasi dan lain-lain semua yang berkaitan dengan kepentingan agama Allah swt. Perkara ini ada disebutkan dalam hadith, riwayat Ibn Majah bahawa Rasulullah SAW bersabda yang kira-kira bermaksud:

"Sesungguhnya amal dan kebaikan yang terus mengiringi seseorang ketika meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat, anak yang dididik agar menjadi orang shaleh, mewakafkan Al-Quran, masjid, membangun tempat penginapan bagi para musafir, membuat irigasi, dan bersedekah."
(HR Ibn Majah).

Pahala dari jenis amalan ini akan terus mengalir kepada si empunya amal hingga datangnya hari kiamat, besarnya pahala diperkirakan sangat besar, karena didalamnya ada orang banyak yang bisa menikmati kemudahan mengenal Allah dan rasul-Nya, mengenal agama dan seluruh ajaran-Nya. Jika hari kiamat datang 1000 tahun lagi, maka selama masa menunggu itu si fulan sudah mengumpulkan bekal yang amat besar bagi kehidupan akhiratnya.

2. ILMU YANG MANFAAT

Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda:
Maksudnya: "Sesiapa yang melalui jalan ke arah menuntut ilmu maka Allah mudahkan untuknya jalan ke syurga." (Hadith Riwayat Muslim)

Yang dimaksud ilmu bermanfaat adalah ilmu yang memiliki nilai keberlanjutan di masa depan. Tujuan setiap orang menuntut ilmu jangan hanya untuk mempebaiki kehidupan materinya, namun juga hendaknya diniatkan agar ilmu tersebut bermanfaat bagi kejayaan agama Allah swt di muka bumi. Banyak orang menuntut ilmu namun hanya menggunakannya untuk mencari materi di dunia, mereka tidak menggali ilmu Allah di muka bumi ini untuk diberikan pembelajaran bagi generasi berikutnya dan untuk saling menguatkan iman dan taqwa kepada Sang Khalik. Karena sesungguhnya hakikatnya ilmu itu adalah milik Allah swt saja, tidak ada seorangpun yang punya hak mengklaim bahwa dirinya adalah sang pemilik ilmu. Kepada mereka yang berilmu dan menyembunyikannya adalah termasuk daripada orang-orang yang rugi. Karena mereka cuma mendapat kepuasan diri sendiri dan pahalanya hanya sebatas didunia saja.

Hadith Riwayat Abu Daud dan at-Tirmidzi ada mengatakan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:
"Sesiapa yang ditanya tentang ilmu lalu dia menyembunyikannya akan diikat mulutnya (meletakkan kekang di mulutnya seperti kuda) dengan kekang dari api neraka pada Hari Kiamat.)"

Maka dari itu setiap orang yang belajar dan menuntut ilmu, merupakan kewajiban bagi mereka untuk memanfaatkan ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada orang lain yang sehingga ilmu itu akan berkembang terus dan semakin banyak manfaat yang diambil oleh generasi selanjutnya dan diantara mereka bisa saling mengingatkan dan menguatkan iman dna taqwa kepada Allah swt.

Seandainya anda mempelajari ilmu akidah, lalu anda menyebarkannya kepada banyak orang, lalu ada banyak orang yang merasa tertolong dengan usaha anda tersebut, lalu ia mengamalkan dan menjadikannya acuan dalam kehidupannya sehingga ia bisa selamat secara akidah dan keduniannya, maka anda sebagai orang yang sudah mengajarkan ilmu kepada orang tersebut juga akan menerima pahala yang terus mengalir, karena anda telah menolong orang tersebut dari kehancuran dan selamat dari siksa. Atas usaha orang tersebut mengamalkan ilmu yang anda berikan, maka anda juga akan menerima pahala yang mana jika ilmu itu terus dikembangkan, maka anda akan juga terus menerima pahala yang terus mengalir ke rekening akherat anda.

Sebagaimana yang dilakukan para guru dan pengajar yang bekerja ikhlas tanpa pamrih hanya ingin mencari ridha dari-Nya. Di sebabkan nilai keikhlasan amalan seseorang dalam mengajarkan ilmu mereka inilah, Allah mengangkat derajat para ilmuan dikalangan para sahabat dan ulama dan menjanjikan pahala yang besar semasa kita hidup ataupun setelah wafat.

3. DOA ANAK SHOLEH


Anak merupakan amanah Allah swt yang amat bernilai kepada kita untuk melahirkan generasi baru yang kuat dan memiliki ketangguhan iman dan taqwa di masa depan. Anak-anak sholeh ini hanya akan benar-benar terwujud ditangan orang tua yang amanah dan tawakal kepada-Nya. Sebuah hadist menjelaskan tentang tata cara mendidik anak sholeh;

“Berilah pendidikan anak-anakmu atas tiga macam; mengasihi nabi, mengasihi ahli rumahnya dan mempelajari Al Quran, maka sesungguhnya orang-orang yang hafal Al Quran berada dalam naungan Allah, pada hari yang tiada naungan selain naungan Allah swt beserta nabi-Nya dan sahabat-sahabat Nabi.” (HR Dailami dari Ali).

Mendidik anak dengan ajaran agama yang baik dan benar, akan menghasilkan anak yang soleh, baik budi pekerti dan agamanya bukan saja menjadi harapan bangsa dan masyarakat Islam malah kepentingannya kembali kepada orang tuanya itu sendiri kelak. Anak-anak sholeh ini adalah harapan masa depan umat muslim yang paling utama, mereka ibaratnya benteng yang tangguh dan kuat tidak tergoyahkan oleh hantaman dan godaan dunia. Anak sholeh ini memiliki keyakinan dan pendirian yang kuat imannya. Usaha besar orang tua untuk mendidik anak menjadi anak sholeh akan menjadi jalan kemudahan baginya menuju syurga, disamping anak-anak ini juga akan bisa menyelamatkan orang tuanya dari siksa api neraka dan doa-doa yang dikirimkannya akan menjadi bekal bagi kehidupannya di kampung akherat kelak. Anak sholeh ini juga akan menjadi ujung tombak tegaknya kebenaran Al Islam di muka bumi.

Maka dari itu saudaraku, segera bergegas mempersiapkan bekal yang abadi, sebelum tutup usia dan semua usaha anda tidak ada artinya lagi di hadapan Allah swt. Tiga macam perbekalan inilah yang akan bisa menyelamatkan kita dari penyesalan di padang ma’syar kelak. Tiga macam bekal inilah yang akan menolong kita kelak di timbangan amal kebaikan dan menyelamatkan kita dari kehinaan.

Read More..

Senin, 18 April 2016

Hidayah Menyambut, Gadis Tionghoa ini Mengucap Syahadat

Yang Mei Siu alias Diana, gadis manis tionghoa ini akhirnya menyebut dua kalimat syahadat setelah mendengar Adzan di tengah malam. Padahal, gadis kelahiran Palembang, 26 Juli1996 ini sangat anti dan begitu benci dengan Islam.

Diana yang awalnya memeluk Khatolik ini pun mengisahkan tentang perjalannan menemukan hidayah tepatnya saat mengenal mama angkat yang merupakan tetangganya tak jauh dari rumah. Karena kedekatan itulah, ia banyak belajar tentang Islam.

"Padahal saya ini dulu sangat anti dengan Islam. Selalu menganggap orang Muslim itu kejam, teroris, dan kalau ada tindak kejahatan pasti pelakunya orang Islam," ujarnya.

Namun kebencian itu kikis setalah Irene Susanti Shaleh, sang mama angkat mengenalinya secara perlahan tentang Islam. Diana pun mulai tertarik belajar dan membandingkan Alquran dan Alkitab.

"Dari sanalah saya tahu, Islam itu memiliki tuhan yang satu, bukan tiga. Saat melakukan ibadah seperti sholat pun harus bersuci dahulu. Disanalah letak keindahannya menurut saya," ujar mahasiswi Fakultas Bisnis dan Akutansi jurusan Ekonomi semester 2 universitas Khatolik Musi Charitas ini.

Dalam kurun waktu 3 bulan mempelajari Islam dan Alquran, Diana pun mulai ikut melakukan Shalat dan belajar Iqra. Dalam masa belajar itulah, ia pernah suatu hari tidur dan mendengar suara azdan.

"Waktu itu tepat pukul 00.00, saya heran, itu azdan apa. Sementara waktu shubuh belum. Saat saya tanya sama momy (panggilan ke mama angkat-red), katanya ia tak mendengar suara apapun," ungkap wanita yang hobi memasak ini.

Suara Adzan tersebut membuatnya merinding, sekaligus penasaran. Keanehan lain datang lagi saat ia tertidur dan bermimpi.

Dalam mimpinya, ia didatangi seberkas cahaya, lantas suara berat seorang laki-laki berkata 'nak, lakukanlah shalat Tahajjud'. Ia pun lantas kembali melaporkan kepada mama angkat.

"Momy bilang itulah hidayah, dan aku merupakan salah satu orang yang beruntung bisa mendapatkan hidayah tersebut," jelasnya.

Awal Juni pun ia bersama teman satu kampusnya berinisiatif mendatangi masjid Muhammad Cheng Ho Jakabaring dan menanyakan bagaimana menjadi mualaf.

Petugas masjid lantas mengarahkannya untuk datang dan mengambil formulir di sekretariat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumsel.

"Setelah mengisi formulir, saya disuruh datang pada hari Kamis tanggal 4 Juni kemarin selepas Ashar ke masjid Cheng Ho. Dan Alhamdulillah, saya langsung mengucapkan syahadat. Ibarat terlahir kembali, saya lega dan sangat bersyukur," ungkapnya.

Kebahagiaannya tak cukup sampai disini. Istri ketua PITI juga memberikannya nama baru yakni Siti Fatimah.

Kabar masuknya Diana ke agama Islam pun langsung beredar ke kalangan kampus. Bahkan Pastur kampusnya pun sampai menghubunginya.

"Saya ditanya, apakah yakin masuk Islam? saya hanya menjawab iya dengan mantap. Dan Pastur berpesan, tetap saja harus lancar kuliah dan menerima keputusan saya," ujarnya.

Dan tahun ini pun, Diana mulai menjalankan puasa untuk pertama kali. Bahkan dari awal sampai hari ini, Diana hanya batal sebanyak tiga kali. Ia pun mengaku meski hanya di sekitar komplek, ia sudah mulai mengenakan Jilbab.

"Alhamdulillah bertemu Ramadhan, dan bisa pakai jilbab. Ini merupakan pengalaman pertama dan sangat indah bagi saya," ungkapnya.

sumber:tribunews.com

Read More..