Senin, 26 September 2016

BENARKAH WARGA JAKARTA PUAS DENGAN KINERJA PETAHANA?

Baru-baru ini Lembaga survei Poltracking Indonesia merilis hasil survei terkait kepuasan warga Jakarta terhadap pemerintahan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Hasil survei itu memperlihatkan tingkat kepuasan warga Jakarta jelang Pilkada DKI 2017. Menurut hasil survei tersebut, kepuasan warga Jakarta terhadap pemerintahan Ahok sebesar 68,72 persen, sedangkan responden yang tidak puas sebesar 27,7 persen. Respoden sisanya menjawab tidak tahu. Dari hasil survei tersebut, responden menyebut salah satu keberhasilan pemerintahan Ahok-Djarot yaitu pelayanan kesehatan yang terjangkau sebesar 75,4 persen dan pembangunan infrastruktur seperti pembangunan fasilitas umum sebesar 69,7 persen. Namun, masih ada 24,9 persen responden yang menganggap Ahok belum bisa mengurangi kemacetan. Begitu juga terkait harga kebutuhan bahan pokok yang masih belum terjangkau, ketidakpuasan responden mencapai 23 persen.
Survei tersebut dilakukan pada 6-9 September 2016 dan melibatkan 400 responden. Margin of error survei ini diklaim sebesar 4.95 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Metode pengumpulan data dilakukan secara tatap muka menggunakan kuisioner. Benarkah warga sudah merasa puas dengan kinerja Petahana (Ahok dan Djarot)?

Ulasan warga
Sebuah hasil survey diumumkan kepada public dalam skala nasional ini kami anggap terlalu berlebihan dan mengada-ada, mengapa? Karena cakupannya terlalu umum dan luas, dan sebagaimana kita semua tahu bahwa Jakarta ini adalah ibukota Negara, pusat pemerintahan ada di Jakarta dan bahkan semua instansi pemerintahan juga berafiliasi di Jakarta. Sebagai contoh bahwa warga Jakarta merasa puas dengan pelayanan kesehatan, itu bukan berarti karena peran besar kebijakan petahana, itu disebabkan karena di Jakarta ada kementerian kesehatan yang menggulirkan berbagai kebijakannya melalui pelayanan kesehatan masyarakat memang lebih baik dan ini adalah karena besarnya peran kementerian kesehatan dan BPJS yang berpusta di Jakarta. Atau misalnya kepuasan terhadap fasilitas umum, jika saja survey ini menunjukkan secara spesifik fasilitas umum yang dimaksud seperti; apakah warga Jakarta merasa puas dengan pelayanan transportasi umum? Dengan melihat kondisi transportasi umum yang ada saat ini, pasti warga Jakarta akan memberikan nilai rendah terhadap hasil kerja petahana. Atau misalnya apakah warga merasa puas dengan penanganan banjir? Apakah warga merasa puas dengan penanganan sampah? Apakah warga puas dengan cara penanganan daerah kumuh? Semua point2 ini akan menunjuk langsung pada tingkat kinerja petahana, bukan hal-hal yang bersifat umum seperti yang disebutkan dalam survey tersebut. Survey ini tidak valid untuk menunjukkan t-qaingkat kepuasan warga terhadap tingkat kinerja petahanan. Disamping itu survey ini juga hanya melibatkan 400 orang atau kurang dari satu persen penduduk Jakarta. (penduduk DKI saat ini 10-12 juta), terlalu beresiko untuk ditarik kesimpulan umum.

Lalu melandasi pada survey tersebut, apakah ini juga berarti sebagian warga Jakarta menyatakan diri mereka puas dengan kinerja pemda walau faktanya jalan-jalan masih macet parah di hari kerja, banjir dan genangan air masih mengepung jika hujan lebat turun, pedagang kaki lima yang menjamur dimana-mana, meski pemukiman kumuh penduduk juga masih padat di berbagai lokasi, meski berbagai fasilitas umum tidak berfungsi (baru2 ini JPO ambruk akibat beban papan reklame), meski fasilitas social dan fasum layak tidak berfungsi, meski sumber air bersih yang layak pakai pun jakarta tidak bisa menyediakannya, meski system pengelolaan sampah yang ramah lingkungan pun tidak diterapkan, meski fasilitas pelayanan public pun masih banyak kekurangan di sana-sini, meski tingkat pengangguran juga tinggi, dan meski-meski lainnya dan sebagainya yang mana sebenarnya kondisi Jakarta masih sama saja dengan yang ada sebelumnya, tidak ada perubahan signifikan alias Jakarta masih jalan ditempat.

Apakah kondisi seperti ini yang membuat warga Jakarta merasa puas dan mereka merasa perlu mempertahankan kinerja petahana? Kita semua dibuat bingung dengan jawaban survey ini ingin menunjukkan apa, disisi mana mereka merasakan kepuasan atas kinerja petahana, sementara kondisi yang ada dilapangan masih sama saja atau bahkan lebih buruk lagi. Sebagai contohnya saja kondisi jalan trotoar Tanah Abang yang sebelumnya sudah berhasil di bersihkan dimasa Jokowi, kini kembali kumuh dan menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima dan setiap hari dilakukan pengusiran oleh petugas Satpol PP dan membuat kegaduhan di jalan. Atau penerapan kebijakan Ganjil-genap untuk menggantikan kebijakan Three in one di jam2 sibuk, faktanya itu sama sekali tidak mengurangi kemacetan, hanya memindahkan titik kemacetan ke lokasi lain atau hanya membuat bingung warga yang ingin melintas jalan Protokol. Atau kebijakan pemda memindahkan warga korban penggusuran, hingga kini masih menyisakan kekacauan. Dan lain-lain masalah yang dihadapi warga Jakarta.

Jadi dalam hal ini warga Jakarta itu menyatakan kepuasannya dalam hal apa? Jika semua permasalahan kota yang paling mendasar saja selesai. Bagaimana mereka bisa bicara puas kepada kinerja petahana? Apakah survey ini dibuat hanya karena ingin mengangkat pamor sang petahana yang sedang diusung untuk kepentingan Pilgub DKI-1 2017? Apakah lembaga survey juga harus ikut2an main politik dalam rangka menghimpun opini public? Ooh…yang benar saja. Apakah warga harus percaya dengan hasil survey yang tidak valid seperti ini. Survey ini dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya baik dilihat dari jumlah responden, aspek yang ingin dinilai dan juga dari hasil yang dicapai. Harusnya survey ini memiliki tingkat validitas yang tinggi baru bisa disajikan dan dipublikasikan kepada public sebagai bagian dari hasil akurat sebuat lembaga penelitian independen.

Read More..

Minggu, 18 September 2016

HAKIKATNYA MENGAJAK ORANG PADA KEBAIKAN

Jika anda adalah salah seorang yang suka menulis artikel berisi ajakan pada kebaikan, tahukah anda apa hakikat dari mengajak kebaikan dan mencegah kejahatan? kenapa kita dianjurkan untuk saling mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan? dan apa ganjaran bagi yang melakukan hal tersebut? Bagaimana Allah memandang mereka yang selalu melakukan kebaikan demi mencegah keburukan? Berikut ini uraiannya. Semoga anda memahami bahwa kebaikan itu bukan hanya akan memperbaiki orang lain, melainkan kebaikan itu akan kembali kepada diri sendiri dalam berbagai bentuk.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat pada manusia lain dan sejelek-jeleknya manusia adalah yang mengakibatkan kesengsaraan bagi orang lain.”

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barang siapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka rubahlah (cegahlah) dengan tanganmu (kekuasaanmu), kalau tidak mampu hendaklah dengan lidahmu, dan kalau tidak mampu maka hendaklah dengan hatimu; demikian ini menunjukkan lemahnya iman.”

Maksudnya lemah dari segi perbuatan orang-orang beriman. Kata sebagian ulama, maksudnya mencegah dengan tangan adalah khusus bagi para pemimpin, mencegah dengan lidah adalah khusus bagi para ulama, dan mencegah dengan hati adalah bagi orang-orang awam (umum). Penjelasannya; dan orang-orang yang mampu melakukannya sama dengan memiliki kewajiban memberantas kemungkaran. Sebagaimana Allah swt berfirman:

“Tolong-menolonglah kamu dalam berbuat baik dan taqwa, serta janganlah kalian tolong-menolong dalam kejahatan dan dosa." (QS. Al Maidah:2)

Hal yang termasuk tolong-menolong ialah menyerukan kebajikan dan memudahkan jalan untuk ke sana, menutup jalan kejahatan dan permusuhan dengan tetap mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan.

Sabda Nabi saw. dalam hadist lain:

“Barangsiapa yang menggertak pemilik bid’ah maka Allah akan memenuhi hatinya dengan rasa aman dan iman. Barangsiapa ang menghinakan pemilik Bid’ah maka Allah akan memberikan rasa aman pada hari mengejutkan. Dan barangsiapa yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka dia adalah Kahlifah Allah di muka bumi, Khalifah Kitabullah dan Khalifah Rasulullah.”


Melalui Hudzaifah ra. Nabi saw. bersabda: ”Akan datang suatu zaman menimpa manusia, dimana bangkai keledai yang busuk lebih mereka sukai daripada orang mukmin yang beramar ma’ruf nahi mungkar!”

Allah swt berfiman:

“Orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain; dengan memerintah kebajikan dan mencegah kemungkaran serta mendirikan shalat.” (QS. 9:7)


Dan Allah mencela kaum yang meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar tertera dalam firman-Nya:

“Mereka tidak saling mencegah dari perbuatan mungkar yang mereka perbuat (tidak saling melarang antara satu dengan yang lain), sungguh amat buruk apa yang mereka perbuat.”

Melalui Sayyidah Aisyah ra. Rasulullah saw pernah bersabda: “Allah telah menyiksa suatu perkampungan yang penghuninya hanya berjumlah 18 orang, padahal amal mereka bagaikan para nabi.”

Mereka bertanya: “Bagaimana bisa, Ya Rasulullah!"

Nabi saw menjawab: “ Mereka tidak memarahi sesuatu karena Allah dan juga memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran karena Allah.”

Mereka kembali bertanya, “Lalu seperti apa bentuk siksaannya ya Rasul!”

Nabi saw menjawab, “Allah menguasakan kepada mereka penguasa yang dhalim, yang tidak menghargai orang tua dan tidak menyayangi anak-anak mereka, atau orang-orang pilihan berdoa namun doanya tidak dikabulkan, dan yang memohon pertolongan namun tidak didatangkan pertolongan, dan mereka juga minta ampun namun tidak mendapat ampunan.”

Allah Ta’ala dalam hadist Qudsi Allah berfiman: “Wahai anak cucu Adam, janganlah kalian menjadi orang yang ahli mengakhirkan tobat, panjang angan-angan dan kembali ke akherat tanpa bekal, bicaranya seperti ahli ibadah (suka menasehati orang) tapi perbuatannya bagaikan orang munafik (nasehatnya tidak dipakai untuk dirinya sendiri), bila diberi tidak pernah puas dan kalau dihalangi tidak mau bersabar. Ia mencintai orang yang shaleh namun bukan yang berasal dari golongan mereka, serta membenci orang-orang yang munafik padahal termasuk golongan munafik. Mereka memerintahkan kebaikan namun tidak pernah mengerjakannya juga, mereka mencegah kejahatan namun dilain waktu mereka juga melakukan kejahatan serupa."

IMBALAN BAGI YANG MENEGAKKAN AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR

Kata Musa as.: “Wahai Tuhan, apa balasan bagi orang yang memanggil saudaranya dan yang beramar ma’ruf nahi mungkar?”

Allah Taala berfirman :”Setiap kalimatnya aku tulis untuknya bagai ibadah setahun, dan AKU malu menyiksanya dengan api neraka."

Abu Dzar Al Ghifari ra. Berkata: dari Abu Bakar Ash Shidiq berkata: “Ya rasul, apakah ada perjuangan lain yang lebih utama selain perang melawan kaum musyrik (menyekutukan Allah)?”

RAsulullah saw. menjawab: “Wahai Abu bakar, menurut pandangan Allah seorang pejuang di bumi (khalifah) lebih utama daripada para syuhada yang hidup dan diberi rezeki serta berjalan di bumi, dimana Allah akan membanggakan mereka di hadapan para malaikat langit. Surga telah berhias diri dan akan menyambut kedatangan mereka sebagaimana berhiasnya Ummu Salamah ra. Untuk Rasulullah saw.”

Abu Bakar Asd Shidiq berkata: “Siapakah mereka ya Rasul!”

Jawab RAsul saw, “Mereka adalah orang-orang yang menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran karena Allah, yang mencintai dan membenci karena Allah Ta’ala.”

Kata Ubaidah bin Jarroh ra. :”Ya Rasul, Syuhada manakah yang paling mulia di sisi Allah swt.”

Beliau saw. bersabda: “ Lelaki yang menghadapi penguasa yang menyeleweng dan ia memerintahkan agar berbuat baik dan menjauhi kemungkaran, namun ia dibunuh oleh penguasa itu, maka kelak derajatnya di syurga ada diantara Hamzah dan Ja’far.”


Rasulullah juga bersabda:
Demi Dzat Yang menguasai Jiwaku, sesungguhnya ada seorang hamba yang berada di kamar yang lebih tinggi dari kamarnya para syuhada. Tiap kamarnya ada 300 pintu, dan setiap pintunya terbuat dari mutiara Ya’qut dan Zamrud Hijau, dimana setiap pintunya ada cahaya yang menyinari.

Tiap laki-laki diantara mereka bisa menikahi 300 bidadari yang bermata jeli yang mampu menundukkan pandangan setiap laki-laki sambil bekata;”Apakah engkau ingat pada hari dimana engkau telah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar!”

Dalam sebuah hadist, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman:
“Wahai Musa, Masihkah engkau beramal demi Aku dengan amalan yang sempurna!”

Nabi Musa as. Menjawab: “Wahai Tuhan, aku telah sembahyang karena Engkau, berpuasa juga karena Engkau, bersedekah juga karena Engkau, bersujud dan memuji karena Engkau, serta membaca Kitab-Mu dan Dzikir kepada-Mu.”

Allah berfirman, "Wahai Musa, sebab shalat engkau memperoleh hujjah, lantaran puasa engkau memperoleh perisai, lantaran sedekah engkau memperoleh perlindungan, lalu amalan manakah yang engkau taruhkan untuk-Ku!"

Musa Berkata, "Tunjukkan padaku Tuhan, amal manakah yang harus aku kerjakan!"

Lalu Allah berfirman:
“Wahai Musa,apakah engkau pernah mencintai kekasih-Ku semata-mata karena Aku! dan memusuhi musuh-Ku karena Aku!. Sesungguhnya amal perbuatan yang paling utama ialah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah atas musuh-musuh Allah."

Wahai suadaraku, sudahkah kita mencapai tingkatan itu jika kita memang termasuk orang yang suka mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Mengajak orang pada kebaikan semata-mata karena mengharap Allah Ridho kepada usaha kita, berharap kebaikan itu membuahkan kebaikan lain yang juga akan membawa kebaikan bagi agama Allah swt. Mencegah kemungkaran juga karena Allah, diharapkan kejahatan itu tidak akan membawa dampak buruk pada agama Allah, karena itulah sebaik-baiknya amal di sisi Allah swt. Jika kita memang mengaku sebagai orang islam dan mengetahui dengan jelas apa itu makna amar ma'ruf nahi mungkar, maka apakah kita masih hanya berdiam diri menunggu keajaiban.

Read More..

Jumat, 16 September 2016

PERSETERUAN RIDWAN KAMIL DAN KPAI DI MEDSOS, ARIEL NOAH JADI KORBAN?

Menanggapi viral yang terjadi belakangan ini, antara Ariel Noah Band dan KPAI, sementara Sang walikota Bandung yang mengunggah foto di akun instagramnya memilih diam, jadi perbincangan hangat belakangan ini, ada apa gerangan? Mari kita simak dan bahas bersama. Berikut ini sudut pandang masing-masing pihak yang berseteru.

KPAI
KPAI mempermasalahkan Ridwan Kamil ang tidak memiliki rasa sensitiftas pada persoalan masa lalu Ariel yang pernah tersangkut masalah porografi, KPAI beranggapan bahwa seharusnya seorang pejabat public tidak mempertontonkan rasa intimnya di media social dan seolah-olah memberikan pengarahan kepada masarakatnya untuk mengidolakan seorang yang pernah bermasalah dengan hokum, terutama berkaitan dengan masalah social. Hal ini bisa menimbulkan kerancuan tentang status hokum yang pernah menyandang oknum tersangka menjadi blur atau bahkan hilang dimasyarakat, Tapi apakah benar masyarakat masih mempersoalkan status hokum Ariel hingga saat ini?


ARIEL BAND NOAH
Ariel Noah Band, mempermasalahkan KPAI yang tidak transparan dan detail menjabarkan dimana letak kesalahan pribadi Ariel Noah yang kala itu ia pun tidak meminta sang Bupati untuk mengunggah video tersebut ke akun Ridwan Kamil, dan posisi kesalahan itu kini ditanggung oleh Ariel pribadi. Hal ini sangat merugikan dirinya, karena seperti pedang bermata dua ia juga merasa ini ada unsure pencemaran nama baik dan upaya pembunuhan karakter. Karena sebagaimana kita semua tahu walau memang benar masyarakat sudah menghukumnya dengan sanksi social yang amat berat kala itu, ia juga sudah menjalani masa tahanan selama beberapa tahun, namun kini mengapa hal itu masih menjadi menjadi batu sandungan dan menjadi topic pembicaraan hanya karena ketidaksengajaan fansnya mengupload gambar dirinya sedang berduet, lalu orang itu berteriak hal itu tidak pantas. Apakah Ariel seumur hidup harus terus menerima sanksi social seperti ini?

RIDWAN KAMIL
Sisi Ridwan Kamil, sebagai seorang pejabat yang berjiiwa muda, ia juga mungkin memiliki rasa kagum kepada sosok Ariel yang dinilainya memiliki potensi dan bakat berkarya meski sudah mendapat banyak masalah dalam hidupnya, namun dalam keterpurukannya itu ia tidak menganggap itu adalah penghalang sebaliknya menjadi penyemangat baginya untuk berkarya. Dalam Akunnya mungkin Ridwan Kamil sebenarnya ingin menyampaikan kepada warganya bahwa ia secara pribadi mengagumi sosok ini karana kemampuannya bertahan di tengah badai dan kemampuannya menciptakan karya-karya music bermutu yang diakui dunia. Itu tidak mudah dilakukan oleh siapapun dan semangat berjuangnya itu yang harusnya dicontoh oleh kebanyakan anak muda, bukan hal-hal buruk yang pernah melekat pada dirinya. Jadikanlah itu pelajaran berharga untuk membangun lebih baik, lagi pula siapasih manusia di dunia ini lahir sudah penuh dengan kesempurnaan? Semua orang memiliki proses hidup masing-masing, tinggal bagaimana bagaimana kita mengambil pelajaran.

Sanksi social adalah hukuman yang diberikan orang atau public figure yang secara hokum terbukti melanggar aturan dan tata karma yang ditetapkan di masyarakat, telah melukai kepercayaan public dan hukuman itu bisa berbagai macam bentuknya, mulai dari mencibir, menghina, memojokkan, menyudutkan hingga pada pengasingan dan dikeluarkan dari lingkungan masyarakat. Sanksi social diberikan kepada orang tersebut pada saat kejadian dan peristiwa itu berlangsung, berapa lama masa hukuman bisa berlangsung panjang dan bisa juga pendek, tergantung kondisi masyarakat yang menilai seberapa besar efek jera yang ditimbulkan membuat perubahan perilaku, apakah dapat diambil pelajaran oleh pelaku atau tidak, apakah ia masih mengulangi kesalahannya lagi atau tidak. Dalam hal ini masyarakat yang menilai, seiring berjalannya waktu.

Dalam kasus Ariel versus KPAi ini yang memberikan sanksi social di sini bukannya masarakat yang melihat gambar tersebut (follower Ridwan Kamil), yang memberikan stigma buruk itu adalah KPAI. Apakah KPAI mewakili rasa di masyarakat? Dalam hal ini masyarakat dibuat bingung bersikap, karena faktanya di gambar tersebut tidak ada norma yang dilanggar dan sama sekali tidak ada unsure pornografi. Lalu apa maksud diangkatnya topic ini di masyarakat?

Perlu kita sama-sama sadari bahwa gambar dan foto yang ditampilkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan skandal masa lalu Ariel, gambar itu hanya menunjukkan kedekatan antara pemimpin dengan warga masyarakat biasa, lalu apakah perlu kita mengaitkannya dengan rasa empati dan simpati pemimpin? Tentunya tidak perlu, karena kenyataannya kini Ariel sudah berubah, ia sudah mengambil pelajaran dari masa lalunya, ia sudah move on dan ia sudah kembali mengharumkan nama bangsa di berbagai Negara dengan keindahan hasil karyanya, apakah masyarakat masih mencap dirinya manusia super mesum seperti dulu? Rasanya masyarakat kita bukanlah masyarakat primitive yang di cekoki apa saja langsung mereka lahap. Masyarakat kita sudah dewasa, dan mereka sudah memafkan, dan memberikan kesempatan kepada Ariel untuk membuktikan dirinya lebih dari yang pernah ada, maka semua sanksi social di masyarakat sudah tidak berlaku lagi. Ariel sudah bebas dari hukuman sosial yang pernah disandangnya, maka ia memilih mempertanyakan sikap KPAI yang berujung negatif ini. Maka dari itu, Jangan lagi kita selalu bersikap menghakimi seseorang karena sampulnya. KPAI juga mungkin seharusnya tidak bersikap terlalu ekstrim seperti ini, kasian masyarakat dibawa dalam opini buntu seperti ini. Sekarang kita sama-sama berpikir membangun negeri ini dengan semangat saling berprasangka baik saja, ya semoga saja kita semua berhasil.

Read More..

Kamis, 08 September 2016

BIOGRAFI LENGKAP DRS. DJAROT SAIFUL HIDAYAT

Jika belakangan ini beredar kabar Partai PDI-P memberi sinyal akan mengusung Drs. Djarot Saiful Hidayat, MSi sebagai cawagub DKI-1 2017, tapi cagubnya sendiri masih tanda tanya. Lalu siapa yang paling pantas menduduki Cagub DKI jika bukan Drs. Djarot Saiful Hidayat, MSi sendiri. MAsarakat harus bisa membawa opini publik mengerucut pada sosok yang satu ini, sinyal dari PDI-P ini adalah sinyal baik dan harus diapresiasi dengan memberi dukungan besar pada Drs. Djarot Saiful Hidayat, MSi agar bisa menjadi calon yang kuat. Tapi untuk lebih mengenal lagi seperti apa sosok Drs. Djarot Saiful Hidayat, MSi, berikut ini kami jabarkan profil lengkapnya.

Drs. Djarot Saiful Hidayat, MSi seorang pamong (pemimpin) bernurani wong cilik. Selama menjabat sebagai Walikota Blitar (2000-2010) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta (2014-2017), kader PDI Perjuangan berdarah Jawa kelahiran Gorontalo, 30 Oktober 1955, tersebut telah membuktikan bahwa dia tidak sekadar peduli melainkan sungguh berhati nurani wong cilik.
antan Pembantu Rektor I Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya (1997-1999), itu saat menjabat Walikota Blitar dua periode, berhasil menata ribuan pedagang kaki lima yang dulunya kumuh di kompleks alun-alun menjadi tertata rapi. Sama seperti Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Jokowi saat menjabat Walikota Solo, dia membatasi berdirinya mall. Djarot dan Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Jokowi lebih memilih menata pasar tradisional dan pedagang kaki lima dengan konsep yang matang daripada mengizinkan berdirinya mall-mall yang justru menghimpit wong cilik. Sehingga dia dijuluki sebagai pakar pasar tradisional.[1] Kebijakannya tersebut terbukti berhasil mendongkrak perekonomian di Blitar.

Djarot dikenal warganya sebagai wali kota yang amat merakyat, sederhana dan selalu blusukan untuk melihat kondisi langsung rakyatnya di lapangan. Dia sering blusukan dengan mengayuh sendiri sepedanya. Dia menemui rakyatnya yang tinggal di rumah-rumah reyot dan kumuh. Dia pun membuat kebijakan renovasi rumah tidak layak huni dengan dana hibah di setiap kelurahan dan desa. Hinggga akhir jabatannya sebagai Walikota, dia telah merenovasi 2000 lebih rumah, sehingga tidak ada lagi rumah reyot di Blitar.

Selama menjabat Walikota, Djarot berhasil mengubah Blitar yang tadinya hanya sebuah kota kecil dan miskin menjadi daerah terkaya nomor 2 di Jawa Timur. Maka tak heran, selama kepemimpinan suami Heppy Farida, itu Kota Blitar mendapat penghargaan selama 3 tahun berturut-turut sebagai Kota Terbersih dan menyabet Piala Adipura pada 2006, 2007, dan 2008. Dia juga mendapat Penghargaan Upakarti (2007), Peringkat Pertama penerapan E-Government di Jawa Timur (22 Maret 2010), Penghargaan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (2008), Penghargaan Terbaik Citizen’s Charter Bidang Kesehatan, Otonomi Award dari Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) dan Penghargaan atas terobosan inovasi daerah se-Provinsi Jawa Timur (30 April 2008).
Politisi Cendekia

Djarot Saiful Hidayat, putra keempat dari keluarga M. Thoyib, seorang pensiunan militer dari detasemen perhubungan. Ketika baru lahir, ayahnya memberi dia nama Saiful Hidayat, tanpa Djarot. Nama depan Djarot itu ditambahkan kemudian. Berawal dari panggilan seorang tukang tempe langganan sang ibu. Kebetulan, ketika kecil dia sering diasuh penjual tempe langganan ibunya itu. Karena ketika kecil dia sering sakit-sakitan pengasuhnya yang penjual tempe itu suka memanggilnya Djarot. Bahkan memamanggil ibunya, Ibu Djarot. Djarot itu artinya anak laki-laki. Kepercayaan masyarakat kala itu, anak yang sering sakit-sakitan perlu ganti atau tambah nama.

Panggilan Djarot itu menjadi melekat dan akrab di tengah keluarga. Sehingga, kemudian orangtuanya menambahkan nama Djarot kepadanya menjadi Djarot Saiful Hidayat. Menurut orang tuanya, nama panjangnya itu (Djarot Saiful Hidayat) mempunyai makna tersendiri yaitu yang berarti laki-laki (Djarot) pembawa pedang (Saiful) yang diberikan petunjuk dan kemuliaan (Hidayat).

Dengan tambahan nama Djarot, itu ibunya menyisipkan doa kiranya si bocah yang sempat sakit-sakitan itu kelak akan menjadi anak laki-laki yang akan bisa memimpin dan memberikan petunjuk maupun teladan. "Ibu juga berdoa supaya pas gede, berkumis, dan agak ganteng," jelas Djarot. [2]

Karena adanya penambahan nama tersebut, Djarot pun kemudian terpaksa mengurus akta kelahiran ke kelurahan lantaran akta sebelumnya tercantum nama Saiful Hidayat. Alasannya ke kelurahan karena waktu kecil sering sakit-sakitan maka perlu ditambah nama Djarot.

Djarot diasuh dalam lingkungan keluarga yang sudah terbiasa bekerja keras. Pekerjaan apapun dilakukan, mulai dari bertani, berternak dan berjualan di pasar, yang penting halal, dan pendidikan tidak teputus. Djarot dari kecil sering berpindah ke beberapa daerah mengikuti ayahnya yang seorang tentara.

Berkat kerja keras orang tua dan keluarganya, Djarot pun bisa menimba ilmu di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB), Malang, hingga mendapat gelar Drs (S1) pada tahun 1986. Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya pada Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta, hingga meraih gelar Magister (S2) pada tahun 1991.

Dia pun mengawali kariernya sebagai dosen di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Dia telah menjabat Pembantu Dekan I FIA, UNTAG Surabaya (1984-1991) dan menjabat Dekan FIA, UNTAG Surabaya (1991-1997). Bahkan sempat menjabat Pembantu Rektor I Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya (1997-1999).

Selain aktif sebagai dosen, dia juga aktif dalam dunia politik. Dia seorang Lihat Daftar Tokoh Politisi
politisi yang berlatar belakang cendekiawan. Tahun 1999, Djarot aktif sebagai Ketua I Pappuda PDI Perjuangan, Jawa Timur. Pada Pemilu 1999, pemilu pertama setelah reformasi 1998, Djarot terpilih menjadi Anggota DPRD Jawa Timur dan menjabat Ketua Komisi A DPRD Jawa Timur (1999-2000).

Baru satu tahun menjadi Anggota DPRD Jatim, PDI Perjuangan mengusungnya menjadi Calon Walikota Blitar. Dalam pemilihan di DPRD Kota Blitar, Djarot terpilih menjadi Wali Kota Blitar ke-21 (3 Mei 2000 – 2005). Dalam Pilkada berikutnya, Djarot dipercaya rakyat Blitar kembali menjabat Walikota untuk periode kedua (2015 - 3 Agustus 2010).

Saat menjabat Walikota, Djarot juga aktif sebagai Deputi I BADIKLATDA PDI Perjuangan, Jawa Timur (2001) dan Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan Jawa Timur (2005-2010).

Setelah mengakhiri periode keduanya sebagai Walikota Blitar, Djarot aktif menjabat Ketua DPD PA GMNI Jawa Timur (2010-2014), Ketua Bidang Organisasi DPP PDI Perjuangan (2010-2015) dan Ketua Bidang Keanggotaan dan Organisasi DPP PDI Perjuangan (2015-Sekarang)

Dalam Pemilu 2014, Djarot terpilih menjadi Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (2014-2019). Namun pada Desember 2014, jabatan Anggota DPR RI tersebut dilepaskannya setelah Gubernur DKI Jakarta Wakil Gubernur DKI Jakarta 2012-2017
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang baru saja dilantik menggantikan Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Jokowi, memilih dan melantiknya menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, 17 Desember 2014 – 20 Oktober 2017, menggantikan posisi Ahok sendiri.

Walikota Blitar ke-21

Djarot Saiful Hidayat adalah Walikota Blitar ke-21, dua periode, 2000-2005 dan 2005-2010. Dia menggantikan Istijono Soenarto dan digantikan oleh Samanhudi Anwar. Sejak awal memimpin Kota Blitar, Djarot sudah menunjukkan kepedulian dan keberpihakannya kepada rakyat jelata atau wong cilik. Bahkan dari apa yang dilakukannya membuktikan bahwa Djarot tak sekadar peduli dan berpihak, melainkan memang dia menyelami hati nurani rakyat jelata.

Sejak hari-hari awal menjabat walikota, Djarot sudah suka blusukan, jauh sebelum Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Joko Widodo melakukannya setelah menjabat Walikota Solo (28 Juli 2005 sampai 1 Oktober 2012). Djarot telah blusukan dengan naik sepeda dan speda motor tanpa protokoler sejak tahun 2000, lima tahun sebelum Jokowi menjadi Walikota Solo.

Djarot naik sepeda atau pakai Yamaha Scorpio merah dan pakai kaos oblong mengitari berbagai tempat di Blitar, menyapa dan mendengar aspirasi rakyat tanpa protokoler dan (mengundang) liputan pers. Dia melakukannya dengan nuraninya sendiri, tanpa bermaksud pencitraan diri. Dia sosok pekerja keras, jujur, bersahaja, kreatif, pro rakyat dan selalu berpegang pada aturan, konstitusi dan Pancasila.

Selama 10 tahun memimpin Blitar banyak langkah berani dan inovatif yang dilakukannya. Saat baru saja dilantik menjabat Walikota Blitar, dia menolak mobil dinas baru. Dia memilih memakai mobil bekas walikota pendahulunya, Toyota Crown. Hingga dua periode (10 tahun) menjabat walikota, dia tetap mempertahankan Toyota Crown tersebut.

Kenapa? Demi penghematan, karena mobil tersebut bagi dia masih layak, tak perlu diganti hanya karena pejabatnya berganti. Selain itu, kalau mobil dinas walikota diganti pasti ketua DPRD, ketua fraksi, dan staf di balaikota semuanya minta ganti. Walaupun sebenarnya penggantian mobil itu sudah dianggarkan, tapi Djarot tetap menolak karena menganggap hal itu pemborosan.

Salah satu kebijakan yang terinspirasi dari blusukannya adalah kebijakan renovasi rumah tidak layak huni dengan menyediakan dana hibah. Pemkot Blitar mengucurkan uang insentif untuk memperbaiki rumah warga yang tak layak huni senilai Rp 4,5 - 7 juta per rumah. Dengan kebijakan ini, Djarot juga berhasil membangkitkan kembali semangat bergotong-royong di tengah masyarakat. Masyarakat bergotong-royong merenovasi rumah-rumah reyot yang ada di sekitarnya. Sampai akhir jabatannya, lebih 2000 rumah reyot telah direnovasi di beberapa kelurahan dan desa. Hingga dipastikan tidak ada lagi rumah reyot tak layak huni di Blitar.

Selain itu, ketika keluarga besar Sukarno pada tahun 2008 berniat menjual rumah masa kecil Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno di Jalan Sultan Agung, Kota Blitar, Jawa Timur. Djarot (Pemkot Blitar) membeli rumah itu dan dijadikan cagar budaya. Dia menunjukkan tanggung jawab untuk kelestarian aset sejarah.

Saat baru menjabat walikota, Djarot baru saja melepas masa lajangnya. Saat itu pasangan suami-istri itu tidak memiliki aset tanah ataupun rumah pribadi di Blitar selain rumah dinas yang disediakan Pemkot. Prihatin melihat kenyataan itu, salah seorang stafnya di Pemkot datang menghadap dan menawarkan sebidang tanah untuk diambil secara gratis bagi walikota baru. Tanah yang cukup luas (hektaran) itu terletak di kawasan strategis. Disebut, tanah itu tidak terdata di aset Pemkot dan bisa dimiliki 100 persen atas nama pribadi. Tanah gendom yang statusnya aman untuk dikuasai secara pribadi.

Tapi Djarot dengan tegas menolaknya. Bahkan dia meminta stafnya untuk mendata semua aset pemerintah dan tanah gendom masuk dalam aset Pemkot. Sehingga tanah-tanah tak bertuan itu menjadi terdata sebagai aset Pemkot Blitar.

Djarot juga dengan gesit melakukan efisiensi di berbagai lini. Di antaranya, jabatan struktural yang tidak strategis dan tidak bermanfaat dihilangkan dari struktur Pemkot Blitar. Tak kurang dari dari 100 posisi dipangkas, sehingga birokrasi Pemkot Blitar menjadi lebih ramping dan gesit.

Keberpihakannya kepada rakyat kecil dan menengah, juga terwujudkan dari kebijakannya menata pasar tradisional dan pedagang kaki lima, serta membatasi berdirinya mall di kota Blitar. Kebijakan inilah yang juga diterapkan Jokowi di Solo. Djarot dan Jokowi lebih berpihak kepada pedagang di pasar tradisional dan kaki lima untuk menggerakkan roda perekonomian di kota yang dipimpinnya. "Saya bangga, kota Blitar dipenuhi pedagang kaki lima yang tertata baik," kata Djarot. Dengan konsep matang, Djarot berhasil menata ribuan pedagang kaki lima yang sebelumya kumuh di kompleks alun-alun menjadi tertata rapi.

Wakil Gubernur DKI

Setelah Jokowi terpilih menjadi Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Presiden RI, Ahok yang tadinya menjabat Wakil Gubernur kemudian Presiden melantiknya menjabat Guberbur DKI Jakarta di Istana Negara Jakarta Rabu 19 November 2014. Jabatan Wakil Gubernur yang lowong, kemudian harus segera diisi.

Muncul beberapa nama sebagai kandidat mengisi jabatan Wakil Gubernur DKI tersebut. Beberapa pihak menyebut Partai Ketua Dewan Penasehat Partai Gerindra
Gerindra-lah yang berhak menunjuk calon untuk mengisi jabatan itu, karena tadinya wakil gubernur itu dari Partai Ketua Dewan Penasehat Partai Gerindra
Gerindra, yakni Ahok yang telah menyatakan diri keluar dari Ketua Dewan Penasehat Partai Gerindra
Gerindra. Namun pihak lain menyebut, justru PDI Perjuanganlah yang paling berhak, karena tadinya Jokowi dan Ahok diusung PDI Perjuangan dan Gerindra.

Akhirnya, Ahok diberi kebebasan memilih kader PDI Perjuangan untuk mendampinginya. Beberapa nama disebut, antara lain Boy Sadikin, putera Gubernur DKI Jakarta (1966-1977)
Ali Sadikin yang menjabat Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta, dan Djarot Saiful Hidayat, mantan Walikota Blitar yang tengah menjabat Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan. Ahok memilih Djarot Saiful Hidayat karena jejak rekamnya yang berhasil memimpin Kota Blitar.

Setelah mendapat persetujuan DPRD DKI, Ahok melantik Djarot Saiful Hidayat menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 17 Desember 2014 di Gedung Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta.

Setelah dilantik, Djarot memilih tetap memakai mobil Toyota Innova hitam miliknya. Padahal sebenarnya, Pemerintah Provinsi DKI menyediakan mobil dinas bermerek Lexus untuknya selaku Wakil Gubernur DKI Jakarta. Namun dia memilih untuk tak menggunakan mobil itu. "Aku disiapin Lexus dan aku enggak pakai," kata Djarot di kantornya, Senin, 22 Desember 2014. Maka, daripada menganggur, Djarot menyarankan agar mobil itu dijual. Sebab, meski tak digunakan, pemerintah tetap harus mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk merawat mobil itu.

Daripada disediakan mobil mewah, dia lebih meminta disediakan lima sepeda motor untuk digunakan blusukan. Satu sepeda motor itu ditempatkan di rumahnya. Sisanya ditaruh di lokasi-lokasi blusukannya.

Setelah lima unit sepeda motor yang dimintanya tiba, Selasa, 23 Desember 2014, Djarot Syaiful Hidayat, secara tiba-tiba meninggalkan Balai Kota untuk blusukan ke Pintu Air Kali Cideng, Jakarta Pusat. Dia bertolak dari kantornya dengan menggunakan sepeda motor tersebut. Saat meninggalkan Balai Kota, Djarot mengenakan seragam dinas harian berwarna cokelat yang dilapisi jaket kulit berwarna cokelat. Djarot mengemudikan sendiri sepeda motornya dan membonceng ajudannya. Empat sepeda motor lainnya mengikuti.

Djarot mengatakan sengaja memesan lima unit sepeda motor untuk digunakan blusukan. Karena perjalanan menggunakan sepeda motor mampu menghemat waktu, lebih gesit. Selain itu, menurutnya, sepeda motor memiliki daya jangkau yang lebih luas ketimbang mobil. "Saya bisa masuk ke gang di kampung-kampung," ujar Djarot.

Sebelumnya, dia blusukan ke Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur dengan meminjam sepeda motor tukang ojek untuk mengunjungi warganya.
Minimarket dan Pasar Tradisional

Berselang satu hari setelah dilantik menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat mengatakan keinginannya untuk mengevaluasi keberadaan minimarket di Ibu Kota. "Setiap minimarket di kelurahan dan kecamatan harus dikontrol," tegasnya di Balai Kota, Jumat, 19 Desember 2014.

Menurut Djarot, minimarket tidak bisa dibiarkan tumbuh berkembang bak jamur di musim hujan. "Tidak boleh ada pembiaran. Sebab bila terjadi pembiaran, pasar tradisional akan mati. Sehubungan dengan itu, dia berencana membuat kebijakan ihwal syarat pendirian minimarket. Salah satunya Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha minimarket wajib menampung produk usaha menengah, kecil dan mikro. "Tidak boleh mau kaya sendiri tanpa melihat warga sekitar," tegas Djarot.

Djarot menyatakan akan fokus pada pasar tradisional dan perkampungan kumuh, termasuk pembatasan minimarket. Menurutnya, jumlah mini market di Jakarta sudah melebihi batas dan berpotensi mematikan pedagang kecil.

Saat blusukan di Terminal Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Januari 2015, Djarot menegaskan sikapnya yang tidak akan menggusur para pedagang. Penegasan itu dikemukakannya setelah mendengar kekuatiran para pedagang sebagaimana disuarakan Ketua Perkumpulan Pedagang Kaki Lima Pasar Senen Mangatir Simanjuntak. "Yang kami dengar, pasar tradisional akan diubah menjadi pasar modern, Pak," kata Simanjuntak kepada Djarot. Mangatir menilai, jika konsep pasar tradisional diubah, harga sewa yang ditetapkan bakal jadi mahal. Hal ini akan membuat pedagang kaki lima tak bisa membayar sewa.

Djarot menepis kabar itu. Dia menjelaskan, bukan konsep pasarnya yang diganti, tapi pengelolaannya yang akan diperbarui. Dia ingin kesan kumuh hilang dari pasar tradisional. "Pasar tradisional identik dengan becek, bau, gelap. Nanti akan dikelola dengan baik supaya tak kalah dengan pasar modern," ujarnya.

Pasar tradisional yang becek dan bau, disaksikan Djarot ketika blusukan ke Pasar Jaya Kedoya. Dia pun menegur Lurah Kedoya Utara Abdul Latif dan perwakilan Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya di Kedoya, Dede Tabrizi, Selasa, 27 Januari 2015 yang mengaku sampah yang menumpuk di pasar itu sudah seminggu tak diangkat. Dia pun meminta sampah itu segera diangkat, serta memberi tenggat waktu membersihkan pasar secera keseluruhan.

Sehubungan dengan kebersihan pasar tradisional, Djarot mengadakan pertemuan dengan Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Selasa, 30 Desember 2014. Seusai pertemuan itu, kepada pers, Djarot menyampaikan keinginannya untuk menjadikan pasar tradisional sebagai pusat pengolahan kompos. Dia memberi contoh, pasar Kramat Jati, 80 persen sampahnya adalah organik.

Menurutnya, banyak hal positif yang akan diperoleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta jika gagasan ini berhasil dilaksanakan. Selain buangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang di Bekasi berkurang, pupuk hasil olahan bisa dimanfaatkan oleh Dinas Pertamanan dan sebagian lagi didistribusikan kepada masyarakat.

Ketika blusukan di Pasar Induk Kramat Jati, Rabu, 4 Februari 2015, Djarot meminta Perusahaan Daerah Pasar Jaya mengubah Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, menjadi pasar wisata. "Jadi pasar wisata belanja sayur-mayur dan buah-buahan segar," katanya.

Menurutnya, banyak hal yang harus diperbaiki oleh PD Pasar Jaya agar Pasar Induk Kramat Jati bisa menjadi pasar wisata. Di antaranya, harus menjadi lebih bersih dan terang; jalan di depan pasar harus diatur agar tidak macet; juga harus memiliki tempat pengelolaan sampah, sehingga sampah tak menumpuk dan tak mengeluarkan bau tak sedap. Djarot memberi target satu tahun kepada PD Pasar Jaya untuk menata seluruh pedagang Pasar Induk Kramat Jati hingga pasar itu benar-benar layak menjadi pasar wisata.

Perihal penataan pemukiman kumuh, Djarot sangat mendukung rencana Jokowi tentang kampung deret. Menurutnya, kampung deret pada dasarnya solusi untuk merapikan permukiman kumuh. Konsep kampung deret merupakan inisyatif Jokowi sewaktu menjabat Gubernur DKI Jakarta. Namun, status kepemilikan lahan menjadi salah satu hal yang mengganjal dalam pelaksanaan kampung deret.

Kampung deret yang dibangun di atas lahan milik pemerintah menimbulkan resiko konflik. Menurut Jokowi, tanah negara yang bukan jalur hijau bisa diterbitkan sertifikatnya. Adapun yang berhak menempati unit kampung deret adalah masyarakat yang tinggal di suatu wilayah selama lebih dari 20 tahun. Namun permasalahan lain timbul, manakala pemilik memperjualbelikan unit kampung deret.

Masih banyak lagi gagasannya sebagai hasil interaksinya dengan warga dalam berbagai pertemuan blusukannya. Selain penataan pasar tradisional dan pedagang kaki lima, penataan pemukiman kumuh dan pengolahan sampah, juga langkah mengatasi banjir dan lain-lain. Namun posisinya sebagai Wakil Gubernur tidak memberi ruang yang luas baginya untuk segera merealisasikannya.

Dia bahkan pernah dimarahi Gubernur Ahok ketika Djarot Saiful Hidayat mendukung penyelenggaraan Pesta Rakyat Jakarta di Parkir Timur Senayan. Salah satu pertimbangannya adalah penyelenggara PRJ bakal tak menarik biaya terhadap pengunjung dan PRJ cocok untuk masyarakat menengah ke bawah.

Menurut Djarot, sudah menjadi kewajiban pemerintah memberikan peluang bagi pedagang kecil untuk bisa mengakses pameran. Djarot mengatakan, pemerintah harus memberikan akses bagi pedagang kecil untuk bisa berjualan di PRJ.

Apalagi menurut Djarot, penyelenggaraan PRJ tak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI. "Saya mendukungnya karena tak ada dana APBD yang digunakan, dan usulan PRJ itu juga datang dari masyarakat," tegasnya.

Atas keberpihakannya kepada pedagang kecil dan masyarakat kecil dan menengah itu, Gubernur DKI Jakarta Wakil Gubernur DKI Jakarta 2012-2017
Basuki Tjahaja Purnama menegur Djarot. Menurut Ahok, Djarot, sebagai wakil gubernur, telah melebihi kewenangannya dengan mengeluarkan surat izin bagi penyelenggaraan Pesta Rakyat Jakarta. Basuki menegaskan yang berhak mengeluarkan surat izin atas nama Pemerintah Provinsi DKI ialah Gubernur DKI. Penulis: Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia.

Ch. Robin Simanullang | Bio TokohIndonesia.com | Tokoh.id

Footnotes:
[1] Pakar Pasar Tradisional: Camat Kepulauan Seribu Utara, Heriyanti, menyebut Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat sebagai pakar pasar tradisional. Http://metro.tempo.co/read/news/2014/12/19/231629560/djarot-ditantang-bikin-pasar-di-kepulauan-seribu.
[2] Djarot Saiful Hidayat menjelaskan arti namanya tersebut ketika memperkenalkan diri saat Hidayat memimpin rapat koordinasi Kesiapsiagaan dan Antisipasi Banjir bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DKI Jakarta di Balaikota, Jakarta, Jumat (19/12/2014), sehari setelah dia dilantik menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/4481-pamong-bernurani-wong-cilik
Copyright © tokohindonesia.com

Read More..

Selasa, 06 September 2016

Semua orang akan Menyeberang Shirath

Jembatan shirath dibentangkan di atas neraka agar dilewati oleh orang-orang beriman, baik dari kalangan Islam maupun ahli kitab. Para pelaku dosa besar dan perbuatan maksiat dari kalangan umat Muhammad SAW juga diharuskan menyeberangi jembatan ini. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Abu Said Al Khudri r.a. berkata : “ Rasulullah SAW telah menyampaikan kepadaku bahwa jembatan shirath itu lebih tipis dari sehelai rambut dan setajam pedang”

Ibnu Mas’ud berkata ,” Jembatan shirath merupakan jalan yang lurus sepanjang neraka. Bentuknya seperti pedang yang panjang, dapat mematahkan , dan licin. Di atas jembatan shirath ini terdapat besi-besi yang berasal dari neraka. Besi-besi ini mencakar dan mencengkram siapa saja yang dikendaki. Diantara orang-orang yang menyeberangi shirath, terdapat orang yang berlari secepat kilat hingga akhirnya dia dapat selamat. Ada yang berlari seperti angin hingga dia selamat sampai di seberang. Ada yang berlari secepat kuda. Ada pula yang berlari biasa dan berjalan.” (diriwayatkan oleh Thabrani dan Bahihaqi dengan sanad yang shahih)


Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda,” Neraka jahanam itu memiliki jembatan yang lebih tipis dari sehelai rambut dan setajam pedang. Di atas jembatan itu terdapat besi-besi dan pagar yang runcing . Keduanya akan mengambil apa saja yang dikehendaki Allah. Orang-orang yang ada di atas jembatan itu, ada yang berlari secepat kedipan mata, kilat, angin dan kuda berlari. Para malaikat berkata” Ya Allah, selamatkan! Selamatkan!” Yang berhasil sampai di seberang jembatan diselamatkan. Yang dikoyak juga selamat. Sedangkan , yang dibanting ke dalam neraka dengan posisi wajah terlebih dulu masuk ke dalam neraka (HR Ahmad)

Dari Ubaid bin Umair bahwa Nabi SAW bersabda,” Jembatan shirath itu berada di atas neraka. Bentuknya setajam pedang. Di kedua sisi jembatan itu terdapat besi-besi dan pagar runcing. Besi dan pagar runcing ini harus dilalui oleh semua orang sehingga (ada sebagian) tersangkut, terkoyak. Demi jiwaku di tangan-Nya, orang-orang yang berjumlah lebih dari Rabi’ajh dan Madhar akan benar-benar dikoyak oleh satu kait daging yang besar. Para malaikat yang berada di kedua sisi jembatan shirath berdoa,” Ya Allah selamatkan! Selamatkan!”… (HR Baihaqi dan Ibnu Ad-Dunya) Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Kemudian jembatan shirath dibentangkan di atas neraka dan aku adalah Rasul pertama yang menyeberanginya dan dilanjutkan dengan umatku. Pada saat itu tidak seorangpun yang berbicara. Hanya para Rasul yang berbicara. Mereka mengucapkan,” Ya Allah, selamatkan! Selamatkan!” Di dalam neraka terdapat beberapa besi runcing (tempat menggantungkan daging) seperti duri As-Sa’dan. Apakah kalian tahu apa y ang dimaksud dengan duri As- Sa’dan? Mereka menjawab,” Ya kami tahu’ Rasulullah SAW bersabda, “Besi-besi runcing itu seperti duri AS-Sa’dan. Namun hanya Allah yang tahu sebesar apa besi-besi runcing itu. Besi-besi itu akan menyambar manusia karena amal perbuatannya yang pernah dilakukan di dunia …”(HR Bukhari dan Muslim)


Arti dari jembatan shirath dibentangkan di atas neraka adalah dibentangkan di berbagai sisi neraka. Jadi jembatan shirath itu banyak membentang di atas neraka. Ketika menyeberang shirath, tidak seorangpun yang yang bercakap-cakap atau berbicara. Hanya para Rasul yang berbicara karena saat itu adalah saat yang amat mengerikan dan menakutkan. Para Rasul berdoa untuk umatnya masing-masing. Doa ini menunjukkan bahwa mereka amat sayang kepada ummatnya….

Mahir Ash Shufiy https://www.eramuslim.com/hadits/semua-orang-beriman-akan-lewati-jembatan-shirath-dan-kasih-sayang-para-rasul.htm#.WeX7S_mCx0w

Read More..