Selasa, 30 April 2013

Kalian Tidak Tahu Dosa Ayah Dahulu

Malam itu Shobirin seorang ayah beranak 9 baru pulang dari sebuah urusan. Ia tengah mengendarai motor. Di keramangan malam di sebuah jalan di kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Temaram malam dan mata tuanya yang sudah tidak lagi tajam, membuat ia berjalan pelan dengan sepeda motor yang ia tunggangi.

Hanya sekitar 50 meter lagi ia akan berkelok masuk ke jalan menuju perumahan tempat ia menetap. Namun saat ia berbelok ke kiri untuk memasuki jalan tersebut, maka tak bisa ia elakkan, dari arah sebrang ada sebuah motor lain yang dengan deras menubruk motornya. BRAKKKK…! Shobirin jatuh ke sisi kiri motor sementara kaki kirinya terjepit. Shobirin mengaduh sakit, sementara pengendara motor yang menabraknya tampak panik ketakutan.
Shobirin adalah seorang yang dikenal baik akhlaknya. Tidak hanya itu, di Pontianak ia juga dikenal sebagai seorang pengusaha rumah makan sukses. Kini ia dan keluarganya punya 6 rumah makan besar dengan nama ‘Bersahaja’.

Banyak orang di kota itu yang kenal dengan Shobirin dan keluarganya. Karena itu, usai kejadian tabrakan itu maka semua penduduk berhamburan menolong saat mereka tahu bahwa Shobirin terluka. Ia dibawa penduduk ke rumahnya, sementara pengemudi yang menabraknya pun diseret untuk mempertanggungjawabkan ulah.

Terdengar rintihan mengaduh dari mulut Shobirin, sementara penabrak yang seorang pelajar SMU terlihat ketakutan.
Sesampainya di rumah, Shobirin langsung dirawat oleh keluarga. Seluruh anggota keluarga merasa panik & iba. Mereka merasakan sakit yang menimpa Shobirin. Salah seorang anak menjadi ‘kalap’ hingga ingin memukul pelajar yang menabrak ayah mereka. Hampir saja wajah pelajar yang ketakutan itu menjadi bulan-bulanan anak Shobirin. Saat mereka sudah mengangkat tangan untuk memukul, dalam rintih kesakitan Shobirin masih sempat berkata, “Jangan kalian pukul anak itu! Dia tidak bersalah. Aku yang salah. Kalian tidak tahu dosa yang pernah ayah lakukan dulu!”

Shobirin adalah ayah yang ditauladani anak-anaknya. Titahnya selalu didengar. Nasehatnya selalu dijaga. Meski SD pun tak tamat, namun ia memiliki kebijaksanaan hidup yang tidak pernah habis tergali oleh kesemua anaknya yang sarjana. Karenanya, mereka semua amat menghargai dan menghormati ayah mereka.

Usai mendengarkan suara Shobirin, maka kesemua anaknya mengurungkan niat untuk memukul pelajar tersebut.
Begitu mobil kijang sudah disiapkan, maka dibawalah Shobirin ke rumah sakit untuk dirawat.
Mobil pun berjalan mengantar Shobirin ke rumah sakit, sementara pelajar yang menabrak pun dibiarkan pulang oleh keluarga Shobirin.

Beberapa hari Shobirin di rawat. Dalam sebuah kesempatan selagi berada di ruang perawatan, salah seorang anak bertanya kepadanya, “Ayah, mengapa ayah melarang kami memukul anak yang menabrak ayah?! Biar ia juga merasakan rasa sakit yang ayah rasakan. Sekalian agar ia lebih hati-hati dalam berkendara di kemudian…”

Mendengar tutur anaknya, Shobirin mengerti perasaan cinta anak itu kepada dirinya. Ia tersenyum dan berkata dengan lembut, “Sekali lagi ayah sampaikan kepada kalian bahwa anggaplah kecelakaan itu sebagai penebus dosa ayah. Kalian khan tidak tahu dosa apa yang dulu pernah dilakukan ayah… Mudah-mudahan dengan kejadian itu, sebagian dosa ayah akan diampunkan Allah Swt.”

Kesemua anggota keluarga yang hadir hingga kini belum mengerti apa yang dimaksud oleh Shobirin. Namun bagi Shobirin, kini ia mulai mengerti bahwa kejadian ini adalah bagian tak terelakkan dari pembersihan diri dari dosa yang pernah dibuat. Sebagaimana sebuah hadits yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah Saw:

Tidak ada seorang mukmin yang tertimpa musibah, penyakit bahkan duri yang menusuk kakinya, kecuali musibah itu akan menjadi penebus dosa yang pernah ia lakukan!

Karena itu wahai saudaraku, kisah ini semoga menjadi pelajaran buat kita semua bahwa dalam menyikapi sebuah musibah pun kita harus memiliki pandagan positif yang jernih serta berbaik sangka terhadap ketentuan Allah Swt. Semoga bila kita termasuk orang yang dilapangkan hatinya oleh Allah, kita akan menemukan kemanisan takdir dalam setiap kejadian yang kita alami dalam hidup ini.

seperti penuturan 4 orang anaknya dalam sebuah acara silaturahmi di Pontianak.


Read More..

Rabu, 24 April 2013

Orang yang Takut Miskin justru akan Menjadi Miskin Hakiki

Dalam kehidupan di zaman modern penuh fitnah dewasa ini, kita jumpai banyak sekali manusia yang hidup dipenuhi kegelisahan berkepanjangan. Dan salah satu kegelisahan tersebut bersumber dari kekhawatirannya akan jatuh miskin. Inilah fenomena nyata yang membuktikan betapa faham materialisme telah mendominasi mayoritas penduduk planet bumi. Kebanyakan orang saat ini jauh lebih takut akan kehilangan harta daripada kehilangan iman dan keyakinannya akan Allah Sang Pencipta jagat raya. Banyak orang telah menjadikan kesuksesan dalam kehidupan dunia sebagai tujuan utamanya. Padahal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam memperingatkan kita bahwa jika dunia telah menjadi fokus perhatian utama, maka hidup seseorang bakal berantakan dan kemiskinan bakal menghantui dirinya terus-menerus.

“Barangsiapa yang menjadikan dunia ambisinya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran (kemiskinan) menghantui kedua matanya dan Allah tidak memberinya harta dunia kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR Ibnu Majah 4095)
Dan sebaliknya, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan bahwa hanya orang yang niat utamanya ialah kehidupan akhirat, maka hidupnya bakal berada dalam penataan yang rapih dan hidupnya akan dihiasi dengan kekayaan hakiki, yakni kekayaan hati. Bahkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menjamin orang tersebut bakal memperoleh dunia dengan jalan dunia yang datang kepada dirnya secara tunduk bahkan hina, bukan sebaliknya, ia yang harus mengejar dunia dengan hina sehingga merendahkan martabat diri.

“Dan barangsiapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya (dengan tunduk).” (HR Ibnu Majah 4095)

Apa yang dapat kita simpulkan dari hadits Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam di atas? Kesimpulannya ialah jika seorang hamba hidup dengan senantiasa sadar dan yakin bahwa Allah adalah Pemberi Rezeki sesungguhnya dan bahwa tugasnya sebagai orang beriman ialah terus-menerus mengokohkan keyakinan akan hidup yang sesungguhnya ialah di kampung akhirat nan kekal, bukan di negeri dunia nan fana ini, maka dengan sendirinya Allah-pun akan membalas keyakinannya yang mulia dan benar itu dengan balasan yang selayaknya sebagaimana Allah sendiri janjikan di dalam KitabNya:

”Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl ayat 97)

Barangsiapa ber’amal sholeh, maka Allah jamin kehidupannya bakal baik di dunia dan Allah bakal balas dengan yang jauh lebih baik dari ’amal sholehnya di akhirat kelak. Namun, saudaraku, itu semua dengan syarat yang sangat fundamental, yaitu ”dalam keadaan beriman.” Dan iman yang paling pokok ialah ber-tauhid. Termasuk di dalamnya ialah hanya bergantung kepada Allah Yang Maha Ahad (Esa), tidak bergantung kepada apapun atau siapapun selain Allah.

Oleh karenanya, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam memberikan kabar gembira kepada setiap muwahhid (ahli tauhid). Bahwa hidup mereka bakal dijauhkan dari kemiskinan. Dan untuk memperoleh jaminan tersebut ternyata cukup dengan setiap kali pulang ke rumah membaca ayat pertama surah Al-Ikhlas sebelum masuk ke dalam rumah. Tentunya itu semua dilakukan bukan sekedar sebagai mantera berupa komat-kamit di bibir belaka. Namun ia mestilah diiringi dengan keyakinan penuh akan makna dari ucapan kalimat tersebut: “Qul huw-Allahu Ahad” (Katakanlah: Allah itu Maha Esa). Artinya, ucapkanlah sambil meyakini sedalam mungkin di dalam hati bahwa tidak ada tempat selain Allah untuk memohon dan mengharapkan datangnya rezeki berkah yang bakal mencukupi hidup kita plus hidup anak-istri plus biaya kita untuk beribadah, ber’amal, berda’wah dan berjihad di jalan Allah Ta’aala.

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca “Qul huw-Allahu Ahad” (surah Al-Iklash ayat pertama) ketika masuk ke dalam rumahnya, maka kefakiran (kemiskinan) bakal tertolak dari penghuni rumah tersebut dan kedua tetangganya.” (HR Thabrani)

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia (penagih hutang/debt collector).”

- Pencinta Quran -

Read More..

Selasa, 23 April 2013

Penelitian, Perilaku Anjing Berdasarkan Medan Magnet Bumi

Tahukah Anda, bahwa perilaku anjing ternyata lebih suka mengarahkan tubuhnya sejajar dengan sumbu kutub utara dan selatan dalam kondisi medan magnetik dibawah stabil. Prediksi ini menggambarkan tingkat perubahan deklinasi perilaku anjing yang berorientasi pada sumbu kutub, sebuah penelitian tentang sensitifitas magnetik terhadap hewan.


Setidaknya, para ilmuwan dari Universität Duisburg-Essen telah membuktikan tentang sensitifitas anjing terhadap medan magnet, reaksi perilaku anjing diprediksi melalui flukttuasi alami dan sensitifitas tinggi terhadap perubahan kecil dalam kebiasaannya. Temuan ini merupakan sumber dan cakrawala baru dalam penelitian magnetoreception, dimana medan magnet stabil diperkirakan berkisar 20 persen pada waktu siang hari.


Pengaruh Perilaku Anjing Pada Medan Magnet

Hewan lain sejenis seperti serigala dan rubah merah memiliki kemampuan luar biasa yang mampu menjelajah dan memahami kawasan sekitar 150 hingga 200 kilometer persegi. Anjing sampai saat ini telah menjadi objek eksperimental di seluruh dunia dan dapat dengan mudah dilatih untuk bereaksi pada ransangan sensorik beragam.

Penelitian pengaruh medan magnet tehadap perilaku anjing melibatkan 70 anjing dari berbagai ras berbeda, dimana anjing dibebaskan pada wilayah terbuka dan tanpa menggunakan tali pengikat. Analisis statistik menunjukkan lebih dari tujuh ribu observasi yang direkam bersama-sama dengan kondisi lingkungan pada saat itu, waktu dan parameter penting lainnya juga dilibatkan (pengaruh umum medan magnet pada anjing) mengakibatkan hewan ini berubah (frustasi).


Anjing sangat terkait dengan preferensi yang jelas dalam menyelaraskan tubuh tertentu saat buang air kecil atau besar. Anjing-anjing ini diurutkan dan dikumpulkan sesuai dengan variasi kecil medan magnet selama proses pengumpulan data. Data perubahan pada perilaku anjing diambil secara acak yang meliputi perubahan kecil dalam intensitas dan deklinasi garis medan magnet dan semua tercatat di observatorium magnetik.

Hasil penelitian yang diperoleh dari analisis ternyata sangat mengejutkan, dimana studi menjelaskan bahwa anjing lebih memilih tubuh sejajar disepanjang sumbu magnet kutub utara dan selatan dalam kondisi medan magnet tenang atau normal. Ilmuwan menyimpulkan penemuan ini telah meberikan indikasi tentang apa yang dirasakan anjing terhadap perubahan magnetik.

Beberapa orang yang memiliki hewan peliharaan (khususnya anjing) menganggap hewan mereka mampu membaca kondisi alam dan kemampuan navigasi jauh lebih baik daripada pemiliknya. Tetapi ilmuwan masih belum bisa menjelaskan apakah mungkin hewan peliharaan mereka menggunakan perubahaan 'rasa' magnetik dalam hal perilaku anjing yang dianggap aneh, seperti navigasi. Tentunya hal ini juga akan berimbas pada analisis burung yang bermigrasi menuju ke tempat yang lebih aman, ini juga terjadi pada hewan lainnya.


Melalui pemikiran ini, para peneliti mencari tanda-tanda keselarasan magnetik pada perilaku anjing dan menganalisis 70 anjing, 1893 pengamatan pada saat buang air besar dan 5582 pengamatan pada saat buang air kecil dalam kurun waktu dua tahun. Setelah pengambilan sampel selesai, data diurutkan sesuai dengan kondisi geomagnetik yang berlaku selama periode yang berlaku pada masing-masing sampel. Keselarasan tubuh sehubungan dengan garis medan magnet diperoleh ketika adanya faktor penentu lain (angin, posisi matahari, rasa keingintahuan) telah membuktikan beberapa spesis mamalia memiliki perilaku beragam.

Keselarasan medan magnetik terbukti menjadi paradigma yang sesuai untuk mengetahui terjadinya sensitifitas magent pada hewan dengan potensi heuristik. Hal ini juga akan mengungkap pemahaman tentang mekanisme magetoreception dan mengidentifikasi fungsi lebih lanjut dari adanya perubahan magnetik (selain navigasi) pada perilaku anjing.

Read More..

Minggu, 21 April 2013

Berhati-hatilah Dengan Tentara Allah

eramuslim.com Aisyah ra pernah terkagum-kagum melihat seorang ibu yang baru saja diberinya tiga potong roti , dengan penuh kasih sayang oleh ibu tesebut dua potong roti yang diterimanya itu diberikan kepada kedua anaknya yang sedang kelaparan , dalam sekejap roti itu habis dilahap , karena masih lapar mereka minta bagian ibunya yang sekeping itu , apa yang dilakukan oleh sang ibu benar-benar mengagumkan , ia bagi sepotong roti itu menjadi dua bahagian dan memberikannya kepada kedua anaknya , sang ibu rela melepaskan bahagiannya demi anak-anak kesayangannya.

Peristiwa ini diceritakannya kepada Rasulullah Saw , suaminya . Maka secara singkat Rasulullah Saw memberi komentar bahwa “ Allah lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anak-anaknya.”

Ya , memang Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang , tanpa kasih sayang-Nya dunia ini tak akan terwujud , tanpa kasih sayang-Nya dunia ini sudah lama ditutup , bagaimana tidak . . . sedang manusia yang diamanahi untuk memelihara kelestarian bumi ini justeru membuat ulah merusak , bahkan tanpa malu-malu menentang Tuhan.

Penentangan manusia terhadap Allah Swt dilakukan secara terang-terangan , baik berupa pemikiran maupun perbuatan . Penyimpangan aqidah telah terjadi diseganap penjuru , pelanggaran syari’ah menjadi lumrah dan kerusakan akhlak jadi tontonan sehari-hari.

Kita tahu bahwa segala benda alam ini adalah milik Allah Swt dan sekaligus tentara-tentara-Nya yang sewaktu-waktu akan digerakkan sesuai kehendak-Nya . Air hujan yang selalu dinantikan kedatangannya oleh segenap manusia , bisa berubah menjadi bencana besar yang menelan korban ribuan manusia , sekali sapu ribuan hektar tanah tenggelam bersama isinya , semua bisa hanyut seketika. Api adalah juga tentara Allah, api memang bermanfaat besar bagi umat manusia , industry kecil dan industry besar tak akan jalan tanpa peran energy api ini. Akan tetapi bila Allah Swt menggerakkan api maka gedung pencakar langitpun bisa hangus dalam waktu yang tidak lama , hutan berjuta juta hektar bisa gundul dimakan api kebakaran.

” Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” ( QS Al-An’aam : 44 )

Rasulullah Saw bersabda : “ Bagaimana kamu jika dilanda oleh lima perkara ? , kalau aku ( Rasulullah Saw ) , aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya .

Yang pertama ; jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu .

Yang kedua ; Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan, kalaulah bukan karena binatang-binatang ternak tentulah hujan tidak akan diturunkan sama sekali.

Yang Ketiga ; Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezholiman penguasa.

Yang keempat ; Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka.

Yang kelima ; jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan Sunnah Nabi maka Allah akan menjadikan permusuhan diantara mereka . “ ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah )

Hadits diatas menjelaskan kepada kita hubungan antara kemaksiatan kepada Allah dengan berbagai musibah yang akan ditimpakan kepada manusia . Ribuan peristiwa yang kita baca , kita dengar dan kita lihat lewat media informasi ternyata menguap begitu saja tanpa menimbulkan kesan dan menjadi buah pelajaran , apalagi membuahkan hikmah .

Ini terjadi bukan karena manusia buta matanya , tetapi yang sebenarnya terjadi adalah kebutaan mata hati, mereka tukar kebenaran dengan kesenangan sesaat , mereka tinggalkan jalan petunjuk menuju jalan kesesatan .

“ Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).” ( QS Al-Baqarah : 17 – 18 )



Aisyah M Yusuf

Read More..

Jumat, 19 April 2013

Jangan Sombong dengan Hidayah

Badrul, lelaki kurus bertato itu berada di pelataran masjid sembari menunggu datangnya Ashar. Baru sore kemarin ia berjanji kepada ustad Fadlan, imam rawatib masjid itu. Ia menyatakan pertobatannya dan berjanji untuk memulai kembali rutinitas sholatnya yang sudah belasan tahun terhenti.

Seseorang yang baru keluar dari tempat wudhu menatap Badrul dengan pandangan curiga. Badrul segera mendatangi orang tersebut, ia ingin mengakrabkan dirinya dengan para penghuni masjid itu. Badrul mengulurkan tangan, memulai sapanya dengan senyum. Uluran tangan berbalas, mereka bersalaman.

“Masmuk?” tanya orang itu dengan ekspresi datar.

“Oh, namanya Mas Muk,” Badrul membatin. “Saya Badrul.” Ia perkenalkan dirinya.

“Min Aina Anta?”

“Min apaan? Apa maksudnya ya?”, Badrul membatin dengan ekspresi bingung sembari tetap menjabat tangan orang asing itu. “Mmm, saya nggak ngerti maksud sampeyan ngomong apa itu tadi..,” kali ini Badrul bicara.

Tak ada jawaban, orang tadi melepaskan jabatan tangannya dengan tersenyum sinis dengan melirik tato yang terlukis di sepanjang lengan Badrul. Ia lantas masuk ke dalam masjid tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

Badrul merasa sedikit tersinggung atas perlakuan orang itu terhadapnya. Tato ini adalah aib dosanya, ia seperti merasa dipermalukan ketika orang itu melirik lengannya dan tersenyum sinis tepat di depan wajahnya. “Hari pertama tobat, tak boleh kukacaukan.” Ia tenangkan dirinya dengan mengingat pertobatannya.

Azan sudah tinggal beberapa menit, orang-orang mulai berdatangan. Badrul bersegera melepas sepatunya di undakan kedua di teras masjid itu. Lalu terdengar teriakan dari arah masjid, “Jangan copot sepatu di situ!!”. Rupanya ‘Mas Muk’ yang berteriak.

Badrul salah tingkah, takut salah lagi menaruh sepatunya, iapun bertanya, “Terus, dimana naruhnya?”

“Gak tau..”, jawab ‘Mas Muk’ singkat.

Sesaat Badrul terbengong, lalu ia sadar. Dan…“Buk!!”, tangan kurus namun berotot milik Badrul mendarat tepat di hidung ‘Mas Muk’ beberapa detik kemudian. Darah keluar dari hidung ‘Mas Muk’, menetes di ruang utama masjid.

Banyak saudara kita yang belum mendapat hidayah. Mereka ada di sekitar kita. Mereka muslim, namun ternyata hanya sebatas tulisan “Islam” pada kartu dan kertas-kertas identitas. Mereka marah jika agama yang diakuinya dilecehkan, namun mereka tak merasa salah ketika mereka tak menjalankan rukun-rukunnya.

Dan beruntunglah kita, orang-orang yang tecelup hidayah. Rutin dalam shalat sesuai waktu dan kadarnya, taat dalam menyisihkan zakat, berazam kuat ketika berpuasa, dan menyisihkan sebagian dunia untuk menebus impian ke Baitullah. Inilah kita, manusia yang ingin menyempurnakan kualitas pribadi. Manusia-manusia yang telah mereguk indahnya berislam yang menuju kekaffahan.

Saudaraku, ketika anda sedang merasa beriman, apa yang ada di pikiran ketika lewat seseorang yang tertampil jauh dari kesan orang beriman? Apakah akan menepi, sebab merasa jijik. Seolah kulit orang itu adalah benda berbalut racun dan duri yang akan menggores dan menginfeksi. Atau anda akan memandang dengan tinggi hati, merasa anda adalah mahluk terbaik di bumi ini?

Ketika subuh berkumandang, anda bersiap melangkahkan diri ke mushala terdekat, tiba-tiba suara mesin motor muncul dari rumah tetangga anda. Pagar rumah terbuka, tampak tetangga anda yang seorang tukang sayur sudah siap dengan barang dagangannya yang sudah tertata sedemikian rupa di atas kendaraannya. Ia bersiap menjemput rizki, menuju pasar yang jaraknya tak terlalu jauh. “Rizkinya pasti tak barokah, sholat subuh aja kagak!” Anda pun mengutukinya dalam hati.
Terkadang, itulah kita. Hidayah yang telah menyirami jiwa kita, seolah telah menjadi sesuatu yang tak akan terampas. Hidayah kita adalah sesuatu yang eksklusif. Hidayah adalah hasil kerja kita, hasil pencarian kita sendiri. Seolah-olah, keislaman kita adalah kehebatan kita, kedigdayaan setelah bekerja-keras menjalankan rukun-rukunnya.

Lantas kita pun mulai memandang sinis kepada orang-orang yang masih terkubang dalam lembah-lembah duniawi. Dalam kacamata kita, seolah tak ada jalan bagi mereka untuk lepas menuju hidayah. Tak sadar, kita menjustifikasi bahwa dunia mereka adalah abadi, mereka kekal di dalamnya. Kita seolah yakin, bahwa dzikir-dzikir yang biasa terlantun sirri dari bibir kita selamanya akan terasa pahit bagi bibir-bibir mereka.

Masya Allah, betapa sombongnya kita. Ketika kita merasa keislaman kita adalah buah pengorbana kita. Hidayah hanya pantas untuk orang-orang seperti kita, yang rajin membaca artikel-artikel kesilaman. Padahal, “Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)

Hidayah adalah murni hak-Nya, prerogatif yang dimilikiNya tanpa campur tangan makhluk-makhluknya yang lemah. Setiap insan adalah calon penerima hidayah Allah, terserah Alah mau memilih siapa di antara insan-insan itu. Maka tak layak kita sombong, merasa “paling” baik saat membandingkan diri dengan orang-orang yang baru menjadi calon penerima hidayahNya.
Lihatlah insan mulia, Baginda Rasulullah, dengan pungkasan doa beliau yang khas. “… sesungguhnya mereka tidak mengerti,” begitu sering beliau memungkasi doa-doanya dengan frasa itu. Sebuah frasa yang mengisyaratkan sebuah pemakluman beliau, atas hidayah yang tak kunjung sampai juga kepada musuh-musuh islam. Frasa itu pun seringkali didahului dengan permohonan hidayah kepada Kekasihnya, bagi orang-orang yang menganiayanya.

Keteladanan dari orang paling mulia, mencontohkan cara untuk menghandle musuh-musuh islam hingga mampu merubah mereka menjadi pembela-pembela islam. Seperti Abu Sofyan, musuh utama islam di kala kafirnya yang begitu takut berbuat maksiat saat ia menjadi muslim. Atau seperti Ikrimah, putra paman Rasulullah yang juga musuh terburuk, Abu Jahal.

Marilah kita teladani manusia yang kita cintai itu. Tak perlu kita menjustifikasi orang-orang yang ada di luar standar keimanan kita. Jika kita tak mampu merangkul mereka, cukup kita kirimkan doa ke langit, memohonkan hidayah kepada Allah. Terlebih lagi bagi saudara-saudara muslim kita, yang keimanannya masih terbatas pada tulisan ‘islam’ di kertas-kertas legal.

Jangan sampai hidayah dan ilmu yang dikaruniakan Allah kepada kita menjadi hijab, sehingga kita menjauh dari saudara-saudara kita. Atau malah kita sendiri yang malah terjerumus dalam kenistaan, seperti sabdaNya, “Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk.” (QS. Az-zumar:23). Naudzubillahi min dzallik.
Maka tak layak kita sombong atas hidayah yang telah kita dekap, bukan tak mungkin Allah akan merenggutnya kembali, dan meninggalkan kita tanpa petunjuk, terkunci mati! Semoga tak terjadi. Kita berlindung kepada Allah, semoga Hidayah ini terjaga.

Read More..

Beginilah Seharusnya Seorang Muslim yang Kaya dan Berkuasa dalam Melihat Harta

KALAU ada orang berperkara karena rebutan harta itu biasa. Tetapi kisah ini sangat luar biasa. Ada dua orang berperkara soal harta tapi bukan untuk saling rebut, tetapi saling memberikan, karena merasa bukan haknya.

Kisah ini disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan termaktub dalam Kitab Shahih Imam Muslim.

“Ada seseorang membeli ladang dari orang lain. Kemudian orang itu menemukan sebuah pundi-pundi berisi emas dari ladang tersebut. Pembeli itu mengembalikan pundi-pundi itu ke si penjual. Sedang si penjual menolak karena merasa bukan miliknya. Katanya: “Ambillah! Tapi pembeli itupun menolak dengan berkata: ‘Aku hanya membeli ladang. Bukan membeli emas itu.”

Keduanya tetap tak mau menerima harta itu. Karena si penjual pun menyatakan bahwa dia menjual ladang dengan segala isinya. Akhirnya mereka pergi kepada seorang yang sholeh untuk membantu memecahkan persoalan ini.

Hakim yang ditunjuk mereka itu kemudian bertanya pada masing-masing, apakah mereka mempunyai anak. Ternyata ada. Yang satu mempunyai anak laki-laki, sedang yang lain mempunyai anak perempuan. Hakim kemudian berkata: “Kawinkan keduanya. Pakailah pundi itu sebagai biaya untuk menyelenggarakan pernikahan itu.”

Kisah tersebut benar-benar luar biasa. Keduanya tidak mau menerima harta yang bukan haknya, bukan hasil jerih payah mereka. Keduanya justru takut jika itu malah menggoyahkan, mengancam akhlak dan moral, serta mengganggu ketentraman jiwanya, yang merupakan inti dan hakikat kebahagiaan hidup.

Demikianlah seharusnya seorang Muslim melihat harta. Tiak asal dapat, tapi diperhatikan dulu, apakah harta itu hak atau tidak. Sebab jika bukan hak, harta itu malah akan merusak kekayaan sejati kita berupa iman dan ketentraman jiwa. Lihatlah para koruptor, sekalipun uang mereka banyak, tapi mereka tak tenang bahkan kelak akan disiksa karena makan harta yang bukan haknya.

Tauladan Sahabat Nabi yang Kaya

Ada dua sahabat Nabi yang kaya raya, yakni Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Keduanya tidak menjadi sombong karena harta, apalagi serakah untuk terus menambah koleksi hartanya. Malah gelisah, jika harta yang berlebihan itu yang sejatinya amanah Allah tidak dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, keduanya selalu memanfaatkan harta yang dimiliki untuk kepentingan Islam dan kebahagiaan umatnya. Menjadi sesama Muslim agar menjadi orang-orang yang mandiri dan terhormat, sehingga umat Islam menjadi unggul di atas umat-umat yang lain.

Utsman bin Affan radhiyallahu anhu pernah meringankan kesulitan penduduk Madinah. Saat itu musim kemarau melanda. Kebutuhan air meningkat sementara tidak ada persediaan air lagi. Satu-satunya cara untuk bisa mendapat air adalah dengan membeli sumur dari seorang Yahudi yang kejam.

Melihat situasi tersebut Rasulullah bersabda, “Siapa kiranya yang sudi membantu meringankan beban kaum Muslimin ini?”

Mendengar demikian, spontan Utsman bin Affan membeli sumur itu dari tangan si Yahudi dengan harga yang sangat mahal. Utsman tidak pernah merasa rugi dengan keputusan tersebut. Karena dalam pemahamannya, harta bukan untuk disimpan tetapi dimanfaatkan untuk kepentingan umat.

Demikian pula halnya dengan Abdurrahman bin Auf. Ia tidak pernah tanggung dalam memberikan harta untuk kemaslahatan umat. Pernah ia memberikan 700 ekor unta yang dimilikinya beserta segala muatannya untuk kepentingan umat Islam. Setiap hari Abdurrahman bin Auf memikirkan hartanya jangan sampai ada yang tidak termanfaatkan di jalan Allah.

Jadi, seorang hartawan tidak seharusnya jatuh dalam kenistaan karena menganggap harta yang disimpan lebih membahagiakan daripada dibelanjakan di jalan Allah. Sungguh tercela seorang hartawan yang dalam hidupnya memilih meribakan uang, memonopoli perdagangan, dan mempermainkan harga serta tenaga kaum lemah yang menimbulkan keresahan masyarakat. Apalagi memeras tenaga buruh, hingga mereka tidak dapat menunaikan kewajiban agamanya.

Keteladanan Umar bin Abdul Aziz


Selain orang kaya, penguasa termasuk orang yang memiliki kelapangan harta. Tetapi lain halnya dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia tak pernah memanfaatkan harta yang bukan haknya untuk kepentingan diri dan keluarganya.

Suatu hari khalifah meminta pelayannya untuk memanaskan air untuknya, supaya ia bisa berwudhu di hari yang sangat dingin, dengan cepat si pelayan kembali setelah memanaskan airnya, lalu khalifah bertanya, “Di mana kamu panaskan air secepat itu?

Pelayannya pun menjawab, “Aku memanaskannya di dapur umum”. Dapur umum didirikan Umar untuk memenuhi hajat kaum Muslimin yang dibiayai dari Baitul Mal. Khalifah Umar pun memarahi pelayannya atas perbuatannya itu.

Khalifah pun tak menyentuh sedikitpun air panas itu sampai pelayan itu pergi untuk membayar harga dari sekedar menumpang memanaskan air.

Jadi, tidak seharusnya seorang penguasa memanfaatkan jabatannya sebagai alat memperkaya diri dan keluarga. Bergaya hidup mewah, boros dan kikir. Karena bagaimanapun, kewenangan yang dimiliki untuk memanfaatkan harta rakyat sekalipun tidak diperiksa oleh pengadilan, kelak pasti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala.

Oleh karena itu dalam kitabnya Ihya Ulumuddin Imam Ghazali berpesan agar seorang penguasa atau pejabat negara harus berhati-hati dengan harta yang bersumber dari kas negara yang dikumpulkan dari pajak dan hasil ekspor. Karena hakikatnya harta itu adalah untuk kepentingan rakyat bukan penguasa.

Keutamaan Dermawan dan Tercelanya Kekikiran

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin berkata, “Ketahuilah bahwa jika kamu tidak memiliki harta, maka sikapilah dengna qana’ah. Sedangkan jika kamu memilikinya, maka sikapilah dengan mendahulukan orang lain, dermawan dan tidak pelit.

Kemudian Imam Ghazali mengutip hadits Nabi, “Sifat dermawan adalah salah satu pohon dari pepohonan surga yang dahannya terjuntai hingga ke tanah. Barangsiapa yang mengambil sehelai dahannya, maka dahan itu akan menuntunnya ke surga”.

Artinya, Muslim yang mendapat anugerah harta berlebih semestinya membagikan hartanya untuk kepentingan umat Islam. Bukan malah menyimpan dan terus menerus berusaha menambahnya tanpa peduli terhadap sesama alias kikir atau bakhil.

Siapa yang kikir tentu keberuntungan akan menjauh darinya.



وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS: Al Hasyr [59]: 9).

Dan, siapa yang tetap bakhil, kelak akan merasakan siksa yang memberatkan.

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْراً لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” (QS: Ali Imron [3]: 180).

Sifat kikir orang kaya dan penguasa akan berakibat pada kekacauan atau kerusuhan sosial. Rasulullah bersabda, “Waspadalah dari sifat kikir. Sesungguhnya orang-orang sebelummu binasa karenanya. Sifat kikir membuat mereka saling membunuh dan menghalalkan apa yang diharamkan bagi mereka.” (HR. Ahmad).*/Imam Nawawi

Read More..

Rabu, 17 April 2013

Bahaya Berbuat Aniaya pada kaum Duafa

Sebagai hamba-hamba Allah yang selalu hidup berdampingan di dunia ini, kita diajak untuk senantiasa menjaga niat, lidah, dan perbuatan lainnya. Sebab, di antara semua itu tak tertutup kemungkinan ada yang bersifat menzalimi atau menganiaya orang lain. Bila menganiaya, azabnya yang begitu dahsyat bukan hanya di dunia ini, tetapi juga di akhirat kelak.

Lebih-lebih lagi, doa orang-orang teraniaya dimudahkan terkabul. Dan tak tertutup kemungkinan, di antara sekian banyak yang berdoa, ada orang-orang taat dan bersih hatinya sehingga cepat dikabulkan doanya. Bayangkan bila yang teraniaya adalah orang-orang yang tak bersalah dalam jumlah banyak, mulai dari se kampung, se kabupaten atau bahkan se negara. Hal ini berkemungkinan dilakukan, terutama oleh orang-orang yang terlibat dalam mengurus urusan umat dan seseorang yang sengaja merusak kebutuhan orang banyak.


Karena menyayangi umatnya dari terkena azab berat, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengajak siapapun untuk menghindari diri atau segera membersihkan diri dari perbuatan aniaya sebelum meninggalkan dunia ini. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) dari orang itu, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika dia punya amal salih, maka akan diambil menurut penganiayaannya. Dan jika tidak mempunyai kebaikan, maka diambil dari kejahatan orang yang dianiaya itu untuk ditanggungkan kepadanya” (HR. Imam Bukhari & Imam Muslim)


Read More..

Senin, 15 April 2013

Profil 13 Dewa & Dewi Mesir Kuno

Mesir terkenal sebagai tanah firaun dan piramida.
Para firaun meyakini bahwa mereka memerintah dengan bantuan para dewa dan dewi.
Kepercayaan pada dewa-dewa begitu kuat sehingga rakyat Mesir kuno menganggap firaun dikirim oleh para dewa untuk memerintah mereka.
Berbagai kuil dibangun sebagai tempat pemujaan para dewa. Konon, orang Mesir kuno memiliki lebih dari 2000 dewa. Dewa-dewa tersebut terinspirasi oleh kekuatan alam.
Agama Mesir kuno sangat kompleks dan menarik. Untuk menjelaskan berbagai fenomena alam, dewa Mesir lantas diciptakan.
Para dewa ini membantu menjelaskan keberadaan hidup dan menjawab misteri yang belum terpecahkan.


Berikut adalah daftar dewa-dewa Mesir kuno yang terkemuka.
1. Amun
Amun berarti ‘yang tak terkalahkan’. Dia digambarkan sebagai seorang pria yang memakai dua bulu di kepala.
Amun dianggap sebagai raja dewa. Dia juga dikenal sebagai Amon, Amin, dan Amum.
Ketika disebut sebagai Amon, dia digambarkan memiliki seekor domba jantan, angsa, dan banteng sebagai hewan sucinya.
Kuil besar Karnak dibangun untuk memuja Amun dalam statusnya sebagai raja para dewa.
2. Anubis
Anubis atau dewa orang mati Mesir kuno, digambarkan sebagai pria dengan kepala jackal atau anjing liar.
Anubis adalah yang pertama melakukan mumifikasi Osiris dan dengan demikian, menjadi dewa pelindung untuk pembalsem mumi. Anubis juga dikenal sebagai pemandu orang mati di dunia bawah (underworld).
3. Baset (Bast)
Baset adalah dewi pelindung. Dia memiliki kepala kucing dan merupakan putri dewa matahari Ra.
Baset merupakan dewi perawan dan ibu dari Mihos. Dalam mitologi Yunani, Baset diidentifikasi sebagai Artemis.
4. Bes
Bes memiliki bentuk sebagai kurcaci gemuk yang memiliki lidah mencuat dengan mainan di tangan.
Bes dianggap sebagai dewa pelindung untuk rumah, proses melahirkan, lagu, humor, dan tari.
Tidak ada kuil yang didedikasikan untuknya. Bes dikatakan memiliki asal-usul dari Timur Tengah atau Afrika.
4. Horus
Horus digambarkan sebagai pria yang memiliki kepala elang. Dia dianggap sebagai dewa pelindung firaun.
Horus merupakan putra dari Isis dan Osiris. Setelah Osiris dibunuh oleh dewa Seth, Horus dibesarkan oleh ibunya untuk di kemudian hari membalas kematian ayahnya.
Horus menjadi idola bagi para pemuda yang ingin menjadi adil dan berbakti.
5. Isis
Isis atau ratu para dewa, digambarkan sebagai seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian megah.
Dia dianggap sebagai pelindung yang mempertahankan perdamaian di dunia.
Dia adalah putri dari Nut dan Geb. Isis bersaudara dengan Osiris, Set dan Nepthys. Isis dan Osiris diceritakan menikah dan memiliki anak yang diberi nama Horus.

Read More..

Minggu, 07 April 2013

Prestasi dan Tantangan Pendidikan Islam

kebanggan dan kepercayaan kaum Muslim terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam adalah modal dasar yang sangat penting bagi kemajuan pendidikan Islam di masa depan

PADA hari Jumat (01/3/2013), saya mendapatkan kesempatan menyampaikan pidato pembukaan (Keynote Speech) pada acara Munas III Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), di Palembang. Sumatera Selatan. Sekitar 1200 hadir dalam acara itu. Anggota JSIT sendiri sekarang mencapai lebih dari 1600 sekolah. Acara pembukaan di Arena Olah Raga Jakabaring Palembang itu sangat semarak. Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin dan Wakil Mendikbud bidang Kebudayaan hadir memberikan sambutan dan membuka acara yang dihadiri para guru dan pengelola sekolah Islam dari Sabang sampai Merauke.

Hadir pula, pada perhelatan ini, sejumlah cendekiawan dan praktisi pendidikan dari Pakistan, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Yang patut diapresiasi, menurut pengurus JSIT, para hadirin hadir atas biaya sendiri. Semangat dan antusiasme para hadirin antara lain ditandai dengan terdengarnya pekik takbir berulang kali saat acara berlangsung. Ini benar-benar sebuah momentum yang penting dalam dunia pendidikan Islam.

Pada kesempatan itulah, saya berkesempatan berbagi pikiran dan perasaan dengan para pakar dan praktisi pendidikan Islam itu. Kepada mereka saya sampaikan, bahwa saat ini, -- tanpa menafikan setor-sektor lainnya -- bisa dikatakan, pendidikan adalah satu-satunya sektor dakwah yang bisa dengan mudah ditunjukkan berbagai keberhasilannya. Dalam kurun sekitar 20 tahun terakhir, berbagai prestasi pendidikan Islam tampak menonjol, khususnya di tingkat taman kanak-kanak, tingkat dasar, dan menengah. Prestasi yang sangat menonjol adalah tertanamnya rasa kepercayaan dan bahkan rasa bangga kaum Muslim terhadap sekolah-sekolah Islam di berbagai daerah – apakah yang menggunakan label terpadu atau tidak.

Kini, dengan mudah kita menjumpai elite-elite muslim yang tanpa malu-malu dan bahkan merasa bangga mengirimkan anaknya ke sekolah Islam atau pondok-pondok pesantren. Prestasi-prestasi akademik sekolah Islam pun banyak yang membanggakan. Kini dengan begitu mudahnya kita menunjukkan sekolah-sekolah Islam unggulan di kota-kota di Indonesia yang nilai ujian nasionalnya melampaui prestasi sekolah-sekolah non-muslim atau sekolah umum.

“Kebanggaan” (pride/izzah) dalam diri seorang Muslim merupakan aspek penting dan mendasar untuk meraih prestasi-prestasi besar berikutnya. Jika kaum Muslim tidak bangga, tidak percaya, dan tidak memiliki ‘izzah terhadap lembaga-lembaga Islamnya sendiri, sulit diharapkan lembaga Islam itu akan berkembang. Kita ingat sebuah ungkapan terkenal dari cendekiawan Muslim Muhammad Asad yang beberapa kali kita kutip dalam CAP: no civilization can prosper or even exist after having lost this pride and the connection with its own past. Tidak ada satu peradaban yang akan berjaya atau bahkan akan eksis jika sudah hilang kebanggaannya terhadap dirinya atau terputus dari sejarahnya.

Jadi, kebanggan dan kepercayaan kaum Muslim terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam adalah modal dasar yang sangat penting bagi kemajuan pendidikan Islam di masa depan.

Jangan sampai kepercayaan (trust) itu disia-siakan. Perlu disadari bahwa prestasi ini tidak dicapai dengan mudah. Sejumlah pengelola lembaga pendidikan Islam bercerita suka-dukanya merintis pendidikan Islam di era 1980 dan 1990-an. Banyak di antara mereka yang datang dari rumah ke rumah untuk meyakinkan para orang tua muslim, bahwa sekolah yang akan mereka dirikan adalah sekolah yang serius dan bermutu tinggi. Tidak jarang mereka menjadikan anak-anak mereka sebagai “singa percobaan”. Dengan cara itu orang lain mau percaya. Uniknya, banyak perintis lembaga-lembaga pendidikan Islam “terpadu” ini adalah para professional muslim; apakah dokter, insinyur, pengusaha, dan sebagainya.

Dalam kaitan inilah, di Jakabaring Palembang itu, saya mengajak para guru untuk “bangga” sebagai guru. Pengelola pendidikan seyogyanya benar-benar menempatkan guru sebagai posisi terhormat, tidak kalah terhormatnya dengan pejabat. Guru – dalam pandangan saya – bukanlah sebuah profesi yang dihargai karena bayaran. Guru dalam Islam adalah mujahid. Menyampaikan ilmu adalah jihad fi-sabilillah. Kata Nabi: “Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu maka dia sedang berjihad di jalan Allah.”

Karena itu, sungguh rugi jika guru tidak serius dalam mengajar dan hanya mau mengajar karena dibayar. Dibayar atau tidak dibayar, orang yang punya ilmu wajib mengajarkan ilmunya. Tapi, sebagai mujahid, guru berhak mendapatkan “honor” (kehormatan) yang layak. Mujahid harus dimulyakan. Patut kita sampaikan: “Anda, para guru derajatnya sangat mulia, tidak kalah mulia dengan anggota DPR!”

Memang, kadangkala masih ada kesalahpahaman. Masih ada guru – termasuk dosen, rektor, dekan, dan sebagainya – merasa lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan para pejabat negara. Lembaga Pendidikan Islam harus benar-benar sangat serius untuk meningkatkan kualitas guru, sehingga mereka dapat menjadi “mujahid” di bidang keilmuan dan pendidikan. Keliru, jika masih ada lembaga pendidikan Islam yang lebih mengutamakan membangun gedung ketimbang meningkatkan kualitas guru.

Tantangan

Pada kesempatan itu saya juga menyampaikan bahwa di tengah-tengah pencapaian penting yang dicapai, ada dua tantangan besar yang sedang dihadapi oleh dunia pendidikan Islam. Pertama, godaan materialisme; godaan penyakit hubbud-dunya, cinta dunia. Kedua, jebakan kurikulum sekuler.

Tentang tantangan pertama, Rasulullah Muhammad sudah bersabda: “Hampir tiba suatu zaman dimana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni hidangan mereka.” Maka salah seorang sahabat bertanya: “Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada hari itu?” Nabi menjawab: “Bahkan, pada hari itu jumlah kamu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan melemparkan ke dalam hati kamu penyakit al wahnu.” Seorang sahabat bertanya: “Apakah al wahnu itu Ya Rasulallah?” Rasulullah menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud)

Hadits Rasulullah Muhammad ini menjelaskan kondisi umat yang sangat lemah, tidak berdaya, tiada arti, meskipun jumlahnya sangat besar. Tanpa perlu melakukan riset yang rumit, dengan mudah dapat dilihat, bahwa kondisi umat Islam saat ini sangat mirip dengan apa yang digambarkan Rasulullah Muhammad tersebut.

Di berbagai belahan dunia, umat menghadapi ujian dan cobaan yang berat. Di Palestina, Moro, Xin Jiang, India, Kashmir, Moro, Patani, dan di berbagai belahan dunia, umat Islam menghadapi penindasan dalam berbagai bidang kehidupan. Umat Islam, yang jumlahnya sekarang sekitar 1,4 milyar jiwa, bernasib seperti buih, kehilangan kepercayaan diri, diombang-ambingkan situasi dan kondisi.

Dalam sejarah kita bisa menyaksikan, bagaimana kehancuran kekuatan Muslim di Andalusia, Baghdad, juga Palestina, akibat meruyaknya budaya hubbud-dunya. Imam al-Ghazali, dalam Kitabnya, Ihya’ Ulumuddin, sudah menggariskan sebuah teori: “Rakyat rusak gara-gara rusaknya penguasa; penguasa rusak gara-gara ulama rusak; dan ulama rusak karena terjangkit penyakit gila jabatan dan gila harta (hubbul jaah wal maal).”

Peringatan Rasulullah ini dapat kita refleksikan dalam skala kecil pada lembaga-lembaga Islam. Jika penyakit “gila dunia” sudah merejalela di sekolah-sekolah Islam, maka sekolah Islam itu tinggal menunggu waktu kehancurannya. Mungkin bangunan sekolah itu tampak megah, bayarannya mahal, tetapi ruh pendidikan Islamnya sejatinya sudah hilang. Sekolah Islam itu tidak lagi menjadi tempat ideal untuk menanamkan aqidah dan akhlak yang mulia, sebab yang mereka saksikan, sekolahnya sendiri tidak memberikan teladan. Apalagi, jika para orang tua dan siswa mendapati praktik-praktik korup dan keserakahan di sekolahnya.

Di tengah meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam, godaan materi ini bisa jadi begitu menggiurkan. Sekolah Islam menjadi lahan bisnis yang menjanjikan keuntungan besar, sejalan dengan meningkatnya kesadaran ber-Islam di kalangan elite-elite muslim. Jika niat mendirikan sekolah Islam bukan lagi karena semangat jihad dalam bidang keilmuan, tetapi dimotivasi untuk mengeruk keuntungan duniawi semata, maka niat yang salah itu akan merusak seluruh aspek pendidikan Islam.

Perlu dicatat dengan baik, JSIT sudah menetapkan bahwa Karakteristik JSIT Indonesia diantaranya adalah: (1) Menjadikan Islam sebagai landasan filosofis dan operasional sekolah, (2) Mengintegrasikan ilmu dan nilai kauniyah dan qauliyah dalam bangunan kurikulum, (3) Menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran efektif untuk mencapai optimalisasi proses belajar mengajar, (4) Mengedepankan qudwah hasanah dalam membentuk karakter peserta didik, (5) Menumbuhkan bi’ah sholihah dalam iklim dan lingkungan sekolah
Mudah-mudahan karakteristik ideal sekolah Islam seperti itu bisa benar-benar terwujud. Karakteristik ideal itu akan berantakan jika penyakit al-wahnu sudah membudaya dalam kehidupan para guru dan pengalola sekolah.

Tantangan kedua yang sangat penting untuk kita pahami benar-benar adalah “jebakan kurikulum sekuler”. Saat ini, masih banyak lembaga pendidikan Islam yang belum benar-benar menata kurikulumnya berdasarkan konsep keilmuan Islam. Mereka masih menggunakan kurikulum-kurikulum yang bercampur aduk antara yang benar dan yang salah. Kurikulum sains, misalnya, belum diarahkan untuk mencetak manusia-manusia yang beriman dan bertaqwa, tetapi hanya diarahkan semata-mata untuk memberikan kemampuan siswa menjawab soal-soal ujian. Tentu saja itu tidak keliru, tetapi masih sangat belum memadai jika dilihat dalam perspektif keilmuan dalam Islam.

Masih banyak siswa-siswa sekolah Islam yang belum mengenal ilmuwan-ilmuwan Muslim sejati, yang bukan hanya pakar di bidang sains, tetapi mereka juga ulama-ulama yang sangat hebat, seperti Abu rayhan al-Biruni, Fakhruddin al-Razi, Ibn Khaldun, Imam al-Ghazali, dan sebagainya. Mereka tidak mengenal sejarah sains. Bahwa, peradaban Barat mewarisi sains bukan langsung dari khazanah peradaban Yunani. Tetapi, mereka banyak mewarisi sains dari para ilmuwan muslim.

Karena itu, dalam bukunya yang berjudul “What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization” (London: Watkins Publishing, 2006), Tim Wallace-Murphy meletakkan satu sub-bab khusus berjudul“The West Debt to Islam” (Hutang Barat terhadap Islam). Menurut penulis buku ini, hutang Barat terhadap Islam adalah hal yang tak ternilai harganya. “Even the brief study of history revealed in these pages demonstrates that European culture owes an immense and immeasurable debt to the world of Islam,” tulisnya. Juga ia tegaskan: “Kita di Barat menanggung hutang kepada dunia Islam yang tidak akan pernah lunas terbayarkan.” (We in the West owe a debt to the Muslim world that can be never fully repaid).

Fakta sejarah seperti ini sangat perlu dipahami oleh siswa-siswa sekolah Islam, agar mereka tidak memandang kemajuan Barat secara membabi-buta. Mereka perlu dibekali dengan sikap kritis dan apresiatif terhadap peradaban lain. Tidak menolak dan menerima secara membabi-buta apa pun yang datang dari peradaban lain. Apalagi, dalam kaitan pandangan hidup dan nilai-nilai kebenaran. Juga, agar tidak tertanam rasa ”minder”, rendah diri, dalam berhadapan dengan dunia modern yang menghegemoni seluruh aspek kehidupan manusia dewasa ini.

Contoh jebakan kurikulum sekuler lainnya. Misalnya, dalam kurikulum sejarah masih banyak yang mengajarkan sejarah manusia secara sekuler dan meterialis, semata-mata hanya merujuk kepada fosil-fosil manusia. Cara belajar sejarah semacam ini jauh dari konsep ilmu dalam Islam yang menggunakan pendekatan epistemologis Islami, yang memadukan tiga sumber ilmu: panca indera, akal, dan khabar shadiq; bukan mengandalkan panca indera dan akal semata.

Tahun 1988, pakar filsafat Islam, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas memberikan perhatian khusus terhadap kitab akidah Islam tertua yang beredar di wilayah Melayu, yaitu kitab Aqa’id al-Nasafiah. Tahun 1988, Prof. al-Attas menerbitkan salah satu karya monumentalnya: The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the ‘Aqaid of al-Nasafi (Kuala Lumpur: University Malaya, 1988).

Kitab Aqidah al-Nasafi ini unik. Baris-baris awal diawali dengan bimbingan cara berpikir dan cara meraih ilmu dalam Islam. Imam al-Nasafi menulis kalimat awal pada kitabnya: “haqa’iq al-asyya’ tsaaibitatun, wal- ilmu biha mutahaqqiqun, khilafan li-sifastha’iyyah.” (Hakekat segala sesuatu adalah tetap; dan memahaminya adalah kenyataan; berbeda dengan pandangan kaum sofis). Kaum sofir adalah kaum yang tidak percaya bahwa manusia bisa meraih ilmu. Mereka selalu ragu dengan pengatahuan yang diraihnya.

Lalu, Imam al-Nasafi melanjutkan uraiannya dengan mengunkapkan tiga sebab manusia meraih ilmu, yaitu melalui panca indera, akal, dan khabar shadiq (true report). Konsep epistemology al-Nasafi ini sangatlah penting untuk dipahami para pengkaji ilmu, khususnya para akademisi, dan juga setiap muslim. Kekeliruan dalam memahami konsep ilmu dapat menjauhkan manusia dari kebahagiaan sebab tidak pernah mengenal Tuhan Sang Pencipta.

Faktanya, di berbagai sekolah Islam, kini masih diajarkan buku-buku pelajaran yang sekular yang hanya mengandalkan ilmu empiris dan rasional. Bahkan, banyak yang terjebak oleh cara berpikir, bahwa agama adalah bukan ilmu; al-Quran bukan sebagai sumber ilmu, sehingga pelajaran sains, sejarah, sosiologi, filsafat, dan sebagainya, dijauhkan dari sumber-sumber al-Quran. Cara berpikir dikotomis dan sekuler semacam ini adalah keliru dan seyogyanya tidak mendapatkan tempat di lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Apapun kondisinya, kita patut mensyukuri segala macam anugerah Allah dalam bidang pendidikan Islam. Kita tidak boleh sombong. Apalagi merasa bahwa keberhasilan saat ini adalah semata-mata hasil kerja keras manusia, dan bukan anugerah Allah AL-QAIDAH. Pada saat yang sama, kita wajib mengevaluasi segala macam kelebihan dan kelemahan yang ada, sehingga lembaga-lembaga pendidikan Islam akan semakin baik kedepan dan mampu menjalankan fungsinya sebagaimana sepatutnya.

Kita camkan bersama perintah Allah Subhanahu Wata'ala: “Wahai orang-orang beriman, bersabarlah, perkuatlah kesabaranmu, bersiapsiagalah selalu, dan bertakwalah kepada Allah, semoga kamu akan menang.” (QS Ali Imran:200).*

Catatan Akhir Pekan (CAP) adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Read More..

"KECINTAAN RASULULLAH TERHADAP ANAK KECIL,YATIM PIATU DAN PENDERITA (Renungan Qalbu)

Oleh Von Edison Alouisci



Segala puji hanya bagi Allah s.w.t., Tuhan empunya sekalian Alam, Tiada Ia berhajat kepada selain-Nya, malah selain-Nya lah yang berhajat kepada-Nya. Selawat dan salam semoga dilimpahkan Allah s.w.t. ke atas junjungan kita Sayyidina Nabi Muhammad s.a.w. (Ya Allah tempatkan baginda di tempat yang terpuji sepertimana yang Kau janjikan Amin) Beserta Ahlulbayt dan Para Sahabat R.anhum yang mulia lagi mengerah keringat menyebarkan Islam yang tercinta. Dan kepada mereka yang mengikut mereka itu dari semasa ke semasa hingga ke hari kiamat...Ya Allah Ampuni kami, Rahmati Kami, Kasihani Kami ...Amin



Amma Ba'du,

Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim rah. meriwayatkan daripada Sayyidina Anas bin Malik r.anhu, bahawa junjungan kita Nabi s.a.w. bersabda :



"sedianya sembahyangku akan kupanjangkan, namun bila ku dengar tangisan bayi, terpaksa aku singkatkan kerana mengetahui betapa gelisah hati ibunya, dan di mana saja baginda dengan anak kecil maka dengan penuh kasih sayang dipegangnya."



Mengusap-usap dan membelai rambut kepalanya atau menciuminya, seperti kata Sayyidatina Aisyah r.anha, bahawa Nabi s.a.w. menciumi Al-Hassan dan Al-Husin, di hadapan Al'aqra bin Habis yang hairan lalu berkata :



"Ya Rasulullah , saya mempunyai sepuluh anak, tak seorangpun yang pernah ku cium seperti engkau ini," maka Rasulullah s.a.w. dengan tajam memandangnya, seraya bersabda "sesiapa yang tidak memiliki rasa rahmat dalam hatinya, tidak akan dirahmati oleh Allah s.w.t."



Sayyidatina Aisyah r.anha juga meriwayatkan : bahawa datang seorang Badwi kepada Rasulullah s.a.w. :Kalian suka benar menciumi anak, sedang kami tidak pernah melakukan yang demikian itu. Maka Rasulullah s.a.w. segera membalas "Apakah yang hendak kukatakan bila rahmat sudah hilang tercabut dari seseorang."



Baginda s.a.w. selalu menggembirakan hati anak-anak, dan bila datang seorang membawa bingkisan, berupa buah-buahan misalnya, maka yang pertama diberinya, ialah anak-anak kecil yang kebetulan ada di majlis itu, sebagai yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Sunniy dan Al-Imam At-Thabrani rah.



Sedang terhadap yatim piatu, perhatian Nabi s.a.w. sangat besar sekali, prihatin, melindungi, dan menjamin keperluan hidup mereka, dan selalu dipesankan dan dianjurkan kepada umatnya dalam tiap keadaan. "Aku dan pemeliharaan anak yatim, akan berada di syurga kelak", sambil mengisyaratkan dan mensejajarkan kedua jari tengah dan telunjuknya, demikianlah sabda baginda s.a.w. (H.R. Bukhari)



Dalam hadis yang lain baginda s.a.w. bersabda "Sebaik-baik rumah tangga muslim ialah yang di dalamnya ada anak yatim yang dilayani dengan baik" (H.R. Ibnu Majah)



Dan apabila ada seseorang dari sahabatnya menderita kerana sesuatu musibah yang dialaminya, baginda s.a.w. juga ikut merasakannya, bahkan ada kalanya menangis kerana terharu.



Pada suatu hari, baginda s.a.w. bersama dengan Sayyidina Abdur Rahman bin Auf r.anhu menjenguk ke rumah Sayyidina Sa'ad bin Ubadah r.anhu yang sedang sakit, demi Nabi s.a.w. melihatnya, maka bercucuranlah air matanya, sehingga menangis pula semua yang ada di rumah itu.



Dan ketika Sayyidina Usman bin Madh'un meninggal, Nabi s.a.w. datang melewat, baginda s.a.w. lalu menciumnya sedang air matanya meleleh membasahi pipinya, sehingga Sayyidatina Aisyah r.anha berkata aku melihat air mata Rasulullah s.a.w. jatuh membasahi wajah Usman r.anhu yang telah wafat itu, di dalam riwayat yang lain, Nabi s.a.w. mencium antara kedua matanya, kemudian menangis kerana terharu.





PENGERTIAN ANAK YATIM DAN KEDUDUKANNYA DALAM ISLAM





Siapakah yang dimaksud dengan anak yatim? Apakah perbedaan antara anak yatim dan anak piatu? Lalu bagaimana dengan anak yatim-piatu?



Secara bahasa “yatim” berasal dari bahasa arab. Dari fi’il madli “yatama” mudlori’ “yaitamu” dab mashdar ” yatmu” yang berarti : sedih. Atau bermakana : sendiri.



Adapun menurut istilah syara’ yang dimaksud dengan anak yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum dia baligh. Batas seorang anak disebut yatim adalah ketika anak tersebut telah baligh dan dewasa, berdasarkan sebuah hadits yang menceritakan bahwa Ibnu Abbas r.a. pernah menerima surat dari Najdah bin Amir yang berisi beberapa pertanyaan, salah satunya tentang batasan seorang disebut yatim, Ibnu Abbas menjawab:





وكتبت تسألنى عن اليتيم متى ينقطع عنه اسم اليتم ، وإنه لا ينقطع عنه اسم اليتم حتى يبلغ ويؤنس منه رشد

( رواه مسلم )



Dan kamu bertanya kepada saya tentang anak yatim, kapan terputus predikat yatim itu, sesungguhnya predikat itu putus bila ia sudah baligh dan menjadi dewasa

Sedangkan kata piatu bukan berasal dari bahasa arab, kata ini dalam bahasa Indonesia dinisbatkan kepada anak yang ditinggal mati oleh Ibunya, dan anak yatim-piatu : anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.



Didalam ajaran Islam, mereka semua mendapat perhatian khusus melebihi anak-anak yang wajar yang masih memiliki kedua orang tua. Islam memerintahkan kaum muslimin untuk senantiasa memperhatikan nasib mereka, berbuat baik kepada mereka, mengurus dan mengasuh mereka sampai dewasa. Islam juga memberi nilai yang sangat istimewa bagi orang-orang yang benar-benar menjalankan perintah ini.



Secara psykologis, orang dewasa sekalipun apabila ditinggal ayah atau ibu kandungnya pastilah merasa tergoncang jiwanya, dia akan sedih karena kehilangan salah se-orang yang sangat dekat dalam hidupnya. Orang yang selama ini menyayanginya, memperhatikannya, menghibur dan menasehatinya. Itu orang yang dewasa, coba kita bayangkan kalau itu menimpa anak-anak yang masih kecil, anak yang belum baligh, belum banyak mengerti tentang hidup dan kehidupan, bahkan belum mengerti baik dan buruk suatu perbuatan, tapi ditinggal pergi oleh Bapak atau Ibunya untuk selama-lamanya.



Betapa agungnya ajaran Islam, ajaran yang universal ini menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat tinggi, Islam mengajarkan untuk menyayangi mereka dan melarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyinggung perasaan mereka. Banyak sekali ayat-ayat Al-qur’an dan hadits-hadits Nabi saw yang menerangkan tentang hal ini. Dalam surat Al-Ma’un misalnya, Allah swt berfirman:





(( أرأيت الذي يكذب بالدين ، فذلك الذي يدع اليتيم ، ولا يحض على طعام المسكين ))

.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin “

{QS. Al-ma’un : 1-3}



Orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada fakir miskin, dicap sebagai pendusta Agama yang ancamannya berupa api neraka

Dalam ayat lain, Allah juga berfirman :



(( فأما اليتيم فلا تقهر ، وأما السا ئـل فلا تنهر ))



“Maka terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap pengemis janganlah menghardik”.{QS. Ad-Dhuha : 9 – 10 )

Sedangkan hadits-hadits Nabi saw yang menerangkan tentang keutamaan mengurus anak yatim diantaranya sabda beliau :





أنا وكافل اليتيم فى الجنة هكذا وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئا

(رواه البخاري ، كتاب الطلاق ، باب اللعان )



Aku dan pengasuh anak yatim berada di Surga seperti ini, Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah-nya dan beliau sedikit merengganggangkan kedua jarinya

Dan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda :



عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” من قبض يتيما من بين المسلمين إلى طعامه وشرابه أدخله الله الجنة إلا أن يعمل ذنبا لا يغفر له ( سنن الترمذي )



Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda : barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.



Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Abu Hurairoh r.a. hadits yang berbunyi :



عن أبي هريرة أن رجلا شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم قسوة قلبه فقال إمسح رأس اليتيم وأطعم المسكين (رواه أحمد )



Dari Abu Hurairoh, bahwa seorang laki-laki mengadu kepada Nabi saw akan hatinya yang keras, lalu Nabi berkata: usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin





Dan hadits dari Abu Umamah yang berbunyi :



عن أبى أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من مسح رأس يتيم أو يتيمة لم يمسحه إلا لله كان له بكل شعرة مرت عليها يده حسنات ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده كنت أنا وهو فى الجنة كهاتين وقرن بين أصبعيه (رواه أحمد )



Dari Abu Umamah dari Nabi saw berkata: barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan karena Allah, adalah baginya setiap rambut yang diusap dengan tangannya itu terdapat banyak kebaikan, dan barang siapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, adalah aku bersama dia disurga seperti ini, beliau mensejajarkan dua jari-nya.



Demikianlah, ajaran Islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada anak yatim dengan memerintahkan kaum muslimin untuk berbuat baik dan memuliakan mereka. . Kemudian memberi balasan pahala yang besar bagi yang benar-benar menjalankannya, disamping mengancam orang-orang yang apatis akan nasib meraka apalagi semena-mena terhadap harta mereka. Ajaran yang mempunyai nilai sosial tinggi ini, hanya ada didalam Islam. Bukan hanya slogan dan isapan jempol belaka, tapi dipraktekkan oleh para Sahabat Nabi dan kaum muslimin sampai saat ini. Bahkan pada jaman Nabi saw dan para Sahabatnya, anak-anak yatim diperlakukan sangat istimewa, kepentingan mereka diutamakan dari pada kepentingan pribadi atau keluarga sendiri.



Gambaran tentang hal ini, diantaranya dapat kita lihat dari hadits berikut ini :



عن ابن عباس قال لما أنزل الله عز وجل ( ولا تقربوا مال اليتيم إلا بالتى هي أحسن ) و (إن الذين يأكلون أموال اليتامى ظلما) الأية انطلق من كان عنده يتيم فعزل طعامه من طعامه وشرابه من شرابه فجعل يفضل من طعامه فيحبس له حتى يأكله أو يفسد فاشتد ذلك عليهم فذكروا ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم فأنزل الله عز وجل (ويسألونك عن اليتامى قل إصلا ح لهم خير وإن تخالطوهم فإخوانكم) فخلطوا طعامهم بطعامه وشرابهم بشرابه



Dari Ibnu Abbas, ia berkata : ketika Allah Azza wa jalla menurunkan ayat “janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang hak” dan “sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan dzolim” ayat ini berangkat dari keadaan orang-orang yang mengasuh anak yatim, dimana mereka memisahkan makanan mereka dan makanan anak itu, minuman mereka dan minuman anak itu, mereka mengutamakan makanan anak itu dari pada diri mereka, makanan anak itu diasingkan disuatu tempat sampai dimakannya atau menjadi basi, hal itu sangat berat bagi mereka kemudian mereka mengadu kepada Rasulullah saw.



Lalu Allah menurunkan ayat “dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang anak yatim. katakanlah berbuat baik kepada mereka adalah lebih baik, dan jika kalian bercampur dengan mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu” kemudian orang-orang itu menyatukan makanan mereka dengan anak yatim.



Anak Yatim Penyejuk Hati



Inginkah hatmu menjadi lembut dan damai? Rasulullah SAW memberi resep untuk itu. Kata Bersabda,



''Bila engkau ingin agar hati menjadi lembut dan damai dan Anda mencapai keinginanmu, sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah dia makanan seperti yang engkau makan. Bila itu engkau lakukan, hatimu akan tenang serta lembut dan keinginanmu akan tercapai. (HR Thabrani).



Hadis tersebut memberikan petunjuk kepada umat Islam bahwa salah satu sarana untuk menenangkan batin dan mendamaikan hati ini adalah mendekati anak yatim, terlebih yatim piatu. Mengusap kepala mereka dan memberinya makan minum merupakan simbol kepedulian dan perhatian serta tanggung jawab terhadap anak yatim/piatu.



Berbuat baik terhadap anak yatim/piatu bukanlah sekadar turut membantu menyelesaikan lapar dan dahaga sosialnya. Tetapi, di sisi lain perbuatan itu merasuk ke dalam batin, menenteramkan hati, dan mendamaikan perasaan orang yang memberi perhatian kepada mereka. Berbagai ayat Alquran dan hadis Nabi banyak membicarakan betapa mulianya kedudukan anak yatim/piatu di mata Allah SWT.



Di dalam surat Ad-Dhuha ayat 9, Allah SWT melarang untuk melakukan kekerasan kepada anak yatim/piatu. Firman Allah SWT: ''Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.'' Anak yatim yang ditinggal wafat oleh ayahnya dan yatim piatu yang ditinggalkan ayah-ibunya, mendambakan belaian dan kasih sayang dari orang lain. Baik keluarga terdekat maupun dari yang lainnya. Ia mengharapkan tumpuan kasih sayang dan sebaliknya juga sekaligus menjaga sumber kasih dan ketenangan itu. Orang yang menenangkan hati dan perasaan anak yatim, ia pun akan memperoleh balasan seperti itu pula, yakni ketenangan batin.



Rasulullah SAW terkenal dengan kelemahlembutannya yang demikian tinggi terhadap anak yatim/piatu. Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa pada suatu hari raya Idul Fitri, Rasulullah SAW melihat seorang anak yatim, lalu beliau mengelus dan merangkulnya, berbuat baik padanya, membawa anak itu ke rumah beliau, lalu berkata kepada anak yatim itu, ''Wahai anak, maukah engkau bila aku menjadi ayahmu dan Aisyah menjadi ibumu?''



Jadi, anak yatim/piatu adalah sumber ketenangan batin, mendekati dan berbuat baik kepadanya akan menenangkan kalbu. Sebaliknya, jikalau anak yatim disakiti dan dizalimi, maka Allah SWT akan menurunkan kesengsaraan hidup kepada mereka yang berbuat sewenang-wenang itu.



Nb.

Penulis menulis ini dengan perasaan haru biru..dan tetesan airmata..melihat betapa byk anak anak kecil..yatim piatu..seperti tidak di peduilikan..dijalan..ada yg mencari sesuap nasi di tong sampah..ada yg..meminta minta disudut mall,pasar..di usir..di caci..dan ada yg dipekerjakan..untuk..kepentingan pribadi..dan kepuasan sex..ada yg menjadi pembantu..majikan kejam..ada pula yg masih kecil umur 5 tahunan..terpaksa mencari napkah demi ibunya yg sakit..tak lagi bisa kerja..sementara ayahnya ntah dimana..kemana hati nurani kita? kemana nilai nilai kemanusiaan kita..kemana keimanan kita ? pantaskah org yg mengaku beriman menyia nyiakan insan manusia yg butuh pertolongan? ataukah kita hanya mau menolong..tetangga yg kaya..tetangga yg kenduri ?atau sahabat karana dipandang sahabat? sungguh! tiada akan pernah sempurna iman seseoarang yg melalaikan anak yatim piatu..Sahabat.kakak.adik.ayah dan ibu serta kaum muslimin semuanya.. kasihanilah, cintailah akan anak kecil, yatim piatu, dan penderita sebagaimana yang ditunjukkan junjungan kekasih kita, ikutan kita Sayyidina Nabi Muhammad s.a.w. . Sungguh pada diri Nabi s.a.w. itu, adalah akhlak yang termulia.



Selawat dan Salam moga dilimpahkan Allah s.w.t. atas junjungan serta Sayyid kita Nabi Muhammad s.a.w. (Ya Allah Tempatkan Junjungan kami di tempat yang Kau janjikan ...Amin) Beserta Ahlulbayt dan para sahabat r.anhum yang mulia lagi menyayangi akan Umat Nabi s.a.w. ini.



Dan Segala Puji hanya bagi Allah s.w.t., Tuhan Empunya sekalian Alam, Tiada berlaku sesuatu melainkan dengan Kehendak-Nya, lagi Maha Mengatur , Maha Kuasa , Tiada Daya Upaya melainkan Allah Azza Wajalla, Dan Allah s.w.t. Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.



Allah s.w.t. jua Yang Maha Mengetahui...



Jazakallah Khairan Kathira.



http://www.facebook.com/von.edison.alouisci

Read More..

Zalim, Sumber Kebangkrutan di Hari Kiamat!

AL-DZAHABI radhiyallahu anhu menuturkan dalam kitabnya Al-Kaba’ir, seperti dikutip oleh Dr. Abdul Aziz Al-Fauzan dalam bukunya Fiqih Sosial (Terj). “Aku telah melihat seorang lelaki yang tangannya terpotong mulai bagian pundaknya dan dia menyeru, “Barangsiapa yang melihatku, maka janganlah pernah menganiaya seorang pun.”

Aku pun mendekatinya dan bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku, bagaimana ceritanya hal ini bisa terjadi?” Dia berkata, “Kisah yang aneh. Dahulu aku adalah orang yang sering berbuat zalim. Pada suatu hari, aku melihat seorang nelayan yang mendapatkan ikan yang sangat besar dan aku pun tertarik akan ikan tersebut.

Kemudian aku datang kepadanya dan berkata, “Berikanlah ikan itu kepadaku!” Dia menjawab, “Aku tidak akan memberikannya kepadamu, aku akan menjualnya untuk makan keluargaku”.
Kemudian aku memukulnya dan mengambil ikan tersebut secara paksa, lalu aku pergi. Ketika aku berjalan membawa ikan rampasan, ikan itu menggigit ibu jari tanganku dengan gigitan yang sangat kuat. Ketika aku sampai ke rumah, aku lemparkan ikan itu.

Ibu jariku terasa sangat sakit sampai aku tidak dapat tidur, tanganku pun menjadi bengkak. Ketika tiba waktu pagi, aku pergi kepada seorang dokter. Kemudian ia berkata, “Racun gigitan ini mulai merambat, potonglah telapak tanganmu”.

Aku pun memotongnya. Tetapi rasa sakit masih terus menjalar bahkan semakin kuat, hingga akhirnya ku potong sampai siku. Tetapi tetap saja, rasa sakit itu makin menjadi. Kemudian orang-orang bertanya, “Apa yang menyebabkanmu mengalami hal ini?” Lalu aku ceritakan kisah ikan tadi.

Mereka berkata kepadaku, “Seandainya engkau meminta maaf kepada orang yang punya ikan ketika rasa sakit pertama menimpamu dan meminta keikhlasannya, niscara engkau tidak akan memotong satu bagian pun dari anggota tubuhmu. Pergilah sekarang kepadanya danmintalah keikhlasannya sebelum sakit itu menjalar ke seluruh tubuhmu.

Akun mencarinya dan bertemu. Aku langsung tersungkur di kakinya, menciumnya lalu menangis dan aku katakan padanya, “Wahai tuan, demi Allah, ampunilah diriku”. Kemudian aku bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendoakan buruk atasku akibat ikan yang telah aku ambil?”

Dia menjawab, “Ya aku berdoa, Ya Allah, dia telah menganiayaku dengan kekuatannya, maka tunjukkanlah kekuasaan-Mu dalam hal itu”. Lalu aku berkata, “Wahai tuan, Allah telah menunjukkan kekuasaan-Nya terhadap diriku dan aku bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Imam Al-Maraghi menjelaskan bahwa al-Zalim adalah perbuatan yang menyimpang dari jalan yang wajib ditempuh untuk mencari kebenaran. Sementara itu dalam Mu’jam dikatakan bahwa yang dimaksud dengan al-Zalim adalah perbuatan yang melampaui batas atau meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. (Lihat Ensiklopedia Makna al-Qur’an Syarah Alfaazhul Qur’an Karya M. Dhuha Abdul Jabbar & N. Burhanudin).

Selain itu al-Zalim juga bermakna kegelapan. Seperti yang Allah firmankan dalam al-Qur’an;
قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِـي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِـي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 258).

Orang yang zalim dalam ayat tersebut adalah orang yang tidak mau menggunakan dalil-dalil yang bisa mengantarkan dirinya tunduk mengetahui kebenaran dan tidak mau menerima hidayah.

Artinya orang itu berada dalam kegelapan iman, sehingga tidak bisa melihat kekuasaan Allah Ta’ala. Apalagi, menaati segala aturan atau hukum yang telah Allah tetapkan.

“Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 229).

Merugikan

Sebagaimana arti dari zalim itu sendiri yang tentu sangat merugikan dan merusak kehidupan, serta sangat dimurkai oleh Allah Ta’la, maka balasan kezaliman pun tidak main-main. Bahkan Allah mengintai siapa saja yang berbuat zalim.

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَؤُلَاء سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُم بِمُعْجِزِينَ

“Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.” (QS. Az Zumar [39]: 51).

Orang yang zalim itu tidak bisa lari dari siksa yang pedih dan di akhirat mereka akan disiksa di dalam neraka. “Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih” (QS. 3: 31). Kemudian, “Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim” (QS. 3: 151).

Mengenai siapa orang yang suka berbuat zalim Allah Subhanahu Wata’ala juga menjelaskan bahwa mereka adalah orang yang dalam hidupnya cinta kepada dunia, bangga bermewah-mewah dan gemar melakukan dosa.

وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مَا أُتْرِفُواْ فِيهِ وَكَانُواْ مُجْرِمِينَ

“Dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS: Huud [11]: 116).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang penghuni surga?” Para sahabat menjawab, “Tentu”. Beliau bersabda, “Yaitu setiap orang yang lemah dan direndahkan oleh orang lain. Tetapi seandainya mereka bersumpah demi Allah, pasti sumpahnya dikabulkan oleh-Nya. Dan maukah kalian aku beritahu tentang penghuni neraka? Yakni setiap orang yang sombong, kasar dan suka bermegah-megahan.” (HR: Bukhari).

Bahaya Zalim pada sesama

Secara umum, perbuatan zalim terbagi dalam tiga kategori. 1) Syirik, mensekutukan Allah (QS. 31: 13). Zalim ini adalah zalim yang tidak akan diampuni sama sekali. 2) Zalim seorang manusia kepada dirinya sendiri dengan melakukan maksiat kepada Allah. Zalim ini tidak menjadi beban bagi Allah. 3) Zalim seorang manusia kepada sesama manusia. Zalim ini yang tidak akan dibiarkan Allah Subhanahu Wata’ala.

Kezaliman ketiga atau kezaliman terhadap sesama merupakan kezaliman yang lebih berat dari sebelumnya, paling banyak dosanya, serta memiliki akibat yang paling buruk.

Seseorang tidak akan bisa lari darinya dan tidak bisa terhindar dari bahaya dan dosanya hanya dengan sekedar berhenti dan menyesali kezaliman yang diperbuatnya. Kecuali orang yang terzalimi atau dizalimi memberikan maaf secara ikhlas kemudian yang menzalimi segera mengembalikan hak-hak yang terzalimi.

Dr. Abdul Aziz Al-Fauzan mengutip pernyataan Ulama terdahulu, Sufyan Tsauri berkata, “Bertemu Allah dengan 70 dosa yang engkau lakukan atas Allah, akan lebih ringan daripada bertemu dengan-Nya dengan membawa satu dosa yang engkau lakukan atas orang lain”.
Sementara itu, masih dalam buku yang sama, Abu Bakar Al-Warraq berkata, “Perkara yang banyak menyebabkan terlepasnya iman dalam hati adalah berlaku zalim terhadap sesama manusia”.

Zalimnya seseorang terhadap orang lain tidak terbatas pada beberapa perilaku saja. Setiap perilaku yang mengganggu kepentingan orang lain atau lalai dalam memberikan hak-hak mereka, maka perilaku itu disebut zalim, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Berikut beberapa di antaranya.

Islam sangat mencegah terjadinya kezaliman itu dengan memberikan balasan yang sangat berat kepada para pelakunya.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melihat ke dalam rumah satu kaum tanpa izin mereka, maka dihalalkan bagi mereka untuk mencongkel matanya.” (HR: Bukhari).

Kemudian Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak menyukainya, maka Allah akan menusuk telinganya dengan peluru yang meleleh pada hari kiamat.” (HR: Bukhari).

Riwayat yang lain juga menyebutkan bahwa, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menzalimi sejengkal tanah, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh bumi.” (HR. Bukhari).

Jadi, kezaliman bukan perkara ringan. Perbuatan itu akan sangat memberatkan pelakunya baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Jika dia ahli ibadah, maka ia akan bangkrut di hari kiamat karena harus merelakan seluruh pahalanya untuk orang yang dizalimi. Kemudian dosa orang yang dizalimi dibebankan kepada sang pelaku kezaliman. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari berbuat kezaliman. Amin.*/Imam Nawawi
Rep: Imam Nawawi
Red: Cholis Akbar

Read More..

Selasa, 02 April 2013

Muliakan Orangtua dan Rawatlah Ia Hingga Akhir Hayat

Hidayatullah.com. SUNGGUH tidak ada kecerdasan yang lebih tinggi, amal yang sangat mulia, dan pahala paling agung dari diri seorang Muslim setelah ia beriman dan berjihad kecuali senantiasa memuliakan orangtuanya dan merawatnya hingga akhir hayat.

Secara gamblang Allah menyebutkan dalam firman-Nya bahwa kedudukan orangtua sangat mulia. Bahkan karena begitu mulianya, Allah langsung memandu umat Islam jangan sampai salah dalam bergaul untuk memuliakan orangtua, lebih-lebih di usia mereka yang sudah lanjut. Berkata “ah” saja kepada orangtua, Allah sangat melarangnya.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al- Isra’ [17]: 23).


Dalam tafsir Ibn Katsir disebutkan bahwa kata qadhaa dalam ayat ini berarti perintah. Sementara itu mujahid berkata artinya adalah berwasiat.

Berarti ayat ini sangat penting dan utama untuk diperhatikan dan diamalkan oleh seluruh umat Islam agar benar-benar bersemangat dalam memuliakan orangtua. Apalagi, perintah ini Allah tegaskan setelah perintah untuk ikhlas beribadah dengan tidak mempersekutukan-Nya.
Dengan kata lain, siapapun dari umat Islam yang tidak memuliakan orangtuanya berarti dia tidak berhak atas kemuliaan. Sebaliknya, kehinaan demi kehinaan akan selalu menghampiri perjalan hidupnya di dunia maupun akhirat.

Sebuah Hadits menyebutkan, “Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina, orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orangtuanya lanjut usia di sisinya (semasa hidupnya), namun ia (orangtuanya) tidak memasukkannya ke Surga.” (HR: Ahmad).

Panti jompo? No way!

Sungguh kerugian besar bila ada seorang Muslim yang menjumpai orangtuanya lanjut usia tetapi tidak merawatnya dengan tangannya sendiri, lebih mementingkan dirinya sendiri, mengkhawatirkan masa depannya sendiri, dan malah justru menitipkannya ke panti jompo, na’udzubillahi min dzalik.

Padahal, dirinya tumbuh dewasa dan pintar karena pengorbanan tanpa pamrih dari orangtua. Dengan perantara orangtualah kita ini lahir di dunia, kemudian tumbuh menjadi manusia dewasa, berpengetahuan, berpenghasilan bahkan menjadi orang terpandang. Istilahnya, tanpa pengorbanan orangtua, tak akan ada anak jadi dewasa.

Oleh karena itu, di ayat yang lain Allah memerintahkan umat Islam untuk bersyukur kepada kedua orangtua setelah bersyukur kepada-Nya.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman [31]: 14).

Jadi, memuliakan orangtua dan merawatnya adalah perkara utama. Bahkan setara dengan jihad (perang) di jalan Allah Ta’ala.

Suatu ketika, seorang sahabat bernama Jahimah pernah datang kepada Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah aku ingin ikut perang dan aku datang kepadamu untuk meminta saran”. Rasulullah pun bertanya, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” “Ya, masih,” jawabnya. Maka beliau bersabda, “Kalau begitu, temanilah ia, karena surga itu terletak di kedua kakinya.” (HR. Ahmad).

Dengan kata lain, seorang Muslim yang tidak menghormati orangtuanya, tidak memuliakannya, apalagi tidak mau merawatnya, jelas hidupnya akan jauh dari keberkahan. Dan, di akhirat ia tidak berhak atas surga Allah Subhanahu Wata’ala.

Keteladanan Uwais Al-Qarni

Ada seorang pemuda dengan penampilan cukup tampan, bermata biru, rambutnya merah, pakaiannya hanya dua helai yang sudah kusut. Satu untuk penutup badan, satunya untuk selendang. Ia tak dikenal banyak orang dan sangat miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya, tiada orang yang menghiraukannya.

Subhanallah, dia tidak dikenal oleh penduduk bumi, tetapi sangat terkenal penduduk langit. Jika berdoa pasti dikabulkan.

Dikisahkan sepulang dari perang, Rasulullah menanyakan kepada Aisyah ra berkenaan dengan orang yang datang mencarinya. Rasulullah menjelaskan bahwa dia adalah penghuni langit.

Mendengar perkataan baginda Rasul, Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Aisyah ra berkata, memang benar ada seorang pria yang datang mencari baginda Nabi, namun ia segera pulang kembali ke Yaman, dikarenakan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkannya terlalu lama. Rasulullah bersabda, “Jika kalian ingin bertemu dengan dia, perhatikanlah, ia memiliki tanda putih ditengah-tengah telapak tangannya. Dan suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.” Bahkan pada hari kiamat kelak ketika semua ahli ibadah dipanggil untuk memasuki surga, dia justru dipanggil agar berhenti terlebih dahulu dan diperintahkan memberi syafa’at, ternyata Allah memberikan dia izin untuk memberi syafa’at. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Seorang pemuda sholeh yang sangat mencintai Rasulnya serta taat dan berbakti kepada ibunya, sehingga Allah memberikan beberapa keistimewaan atas dirinya.

Jika ada manusia yang tidak pernah bertemu Rasulullah shallahu alayhi wasallam, namun beliau yang mulia mewasiatkan kepada sahabatnya, tepatnya kepada Umar bin Khaththab dan Ali radhiyallahu anhuma untuk mencari dan meminta doanya, orang tersebut adalah Uwais Al-Qarni.

Uwais bin Amir Al-Qarni berasal dari Qaran, sebuah desa terpencil. Dilahirkan oleh keluarga yang taat beribadah, tak pernah mengenyam pendidikan kecuali dari kedua orangtuanya yang sangat ditaatinya dan dimuliakan. Karena akhlaknya memuliakan orangtua itulah ia menjadi terkenal penduduk langit. Dan gara-gara itulah Amirul Mukminin Umar ibnu Khatab dan Ali bin Abi Thalib berjalan untuk mencarinya dan menemuinya hanya untuk minta nasehat dan doa. Karena jika dia berdoa pasti dikabulkan. Subhanallah.

Kisah Uwais ini menunjukkan bahwa memuliakan orangtua adalah perkara mulia yang sangat dicintai Allah subhanahu wata’ala.

Tunggu apalagi, mari kita muliakan kedua orangtua kita, niscaya surga akan berhias menanti dan menyambut kehadiran kita semua, amin.*/Imam Nawawi
Rep: Imam Nawawi
Red: Cholis Akbar

Read More..