Selasa, 23 April 2013

Penelitian, Perilaku Anjing Berdasarkan Medan Magnet Bumi

Tahukah Anda, bahwa perilaku anjing ternyata lebih suka mengarahkan tubuhnya sejajar dengan sumbu kutub utara dan selatan dalam kondisi medan magnetik dibawah stabil. Prediksi ini menggambarkan tingkat perubahan deklinasi perilaku anjing yang berorientasi pada sumbu kutub, sebuah penelitian tentang sensitifitas magnetik terhadap hewan.


Setidaknya, para ilmuwan dari Universit├Ąt Duisburg-Essen telah membuktikan tentang sensitifitas anjing terhadap medan magnet, reaksi perilaku anjing diprediksi melalui flukttuasi alami dan sensitifitas tinggi terhadap perubahan kecil dalam kebiasaannya. Temuan ini merupakan sumber dan cakrawala baru dalam penelitian magnetoreception, dimana medan magnet stabil diperkirakan berkisar 20 persen pada waktu siang hari.


Pengaruh Perilaku Anjing Pada Medan Magnet

Hewan lain sejenis seperti serigala dan rubah merah memiliki kemampuan luar biasa yang mampu menjelajah dan memahami kawasan sekitar 150 hingga 200 kilometer persegi. Anjing sampai saat ini telah menjadi objek eksperimental di seluruh dunia dan dapat dengan mudah dilatih untuk bereaksi pada ransangan sensorik beragam.

Penelitian pengaruh medan magnet tehadap perilaku anjing melibatkan 70 anjing dari berbagai ras berbeda, dimana anjing dibebaskan pada wilayah terbuka dan tanpa menggunakan tali pengikat. Analisis statistik menunjukkan lebih dari tujuh ribu observasi yang direkam bersama-sama dengan kondisi lingkungan pada saat itu, waktu dan parameter penting lainnya juga dilibatkan (pengaruh umum medan magnet pada anjing) mengakibatkan hewan ini berubah (frustasi).


Anjing sangat terkait dengan preferensi yang jelas dalam menyelaraskan tubuh tertentu saat buang air kecil atau besar. Anjing-anjing ini diurutkan dan dikumpulkan sesuai dengan variasi kecil medan magnet selama proses pengumpulan data. Data perubahan pada perilaku anjing diambil secara acak yang meliputi perubahan kecil dalam intensitas dan deklinasi garis medan magnet dan semua tercatat di observatorium magnetik.

Hasil penelitian yang diperoleh dari analisis ternyata sangat mengejutkan, dimana studi menjelaskan bahwa anjing lebih memilih tubuh sejajar disepanjang sumbu magnet kutub utara dan selatan dalam kondisi medan magnet tenang atau normal. Ilmuwan menyimpulkan penemuan ini telah meberikan indikasi tentang apa yang dirasakan anjing terhadap perubahan magnetik.

Beberapa orang yang memiliki hewan peliharaan (khususnya anjing) menganggap hewan mereka mampu membaca kondisi alam dan kemampuan navigasi jauh lebih baik daripada pemiliknya. Tetapi ilmuwan masih belum bisa menjelaskan apakah mungkin hewan peliharaan mereka menggunakan perubahaan 'rasa' magnetik dalam hal perilaku anjing yang dianggap aneh, seperti navigasi. Tentunya hal ini juga akan berimbas pada analisis burung yang bermigrasi menuju ke tempat yang lebih aman, ini juga terjadi pada hewan lainnya.


Melalui pemikiran ini, para peneliti mencari tanda-tanda keselarasan magnetik pada perilaku anjing dan menganalisis 70 anjing, 1893 pengamatan pada saat buang air besar dan 5582 pengamatan pada saat buang air kecil dalam kurun waktu dua tahun. Setelah pengambilan sampel selesai, data diurutkan sesuai dengan kondisi geomagnetik yang berlaku selama periode yang berlaku pada masing-masing sampel. Keselarasan tubuh sehubungan dengan garis medan magnet diperoleh ketika adanya faktor penentu lain (angin, posisi matahari, rasa keingintahuan) telah membuktikan beberapa spesis mamalia memiliki perilaku beragam.

Keselarasan medan magnetik terbukti menjadi paradigma yang sesuai untuk mengetahui terjadinya sensitifitas magent pada hewan dengan potensi heuristik. Hal ini juga akan mengungkap pemahaman tentang mekanisme magetoreception dan mengidentifikasi fungsi lebih lanjut dari adanya perubahan magnetik (selain navigasi) pada perilaku anjing.

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar