Kamis, 20 April 2017

DUA SEBAB AHOK-DJAROT KALAH PILGUB DKI

Ada banyak spekuliasi mengenai alasan kekalahan Ahok dalam Pilkada 2017 ini, beberapa pakar bicara bahwa ini karena alasan agama, karena perpindahan suara dari Kubu Agus-SIlvi, karena alas an bagi-bagi sembako, alas an-alasan lain yang jika kita cermati alasan itu kebanyakan berasal dari kubu Ahok sendiri, bukan disebabkan karena orang tertarik dengan program yang di tawarkan Kubu Anies-Sandi. Apakah benar, warga Jakarta sebenarnya tidak tertarik dengan program Anies-sandi, dan memilih Anies karena tidak ada pilihan lain, alias mengamini slogan “asal bukan Ahok”? atau mereka menolak Ahok karena alasan lain yang tidak kita ketahui? lalu apa sebenarnya alasan mendasar warga Jakarta tidak memilih Ahok dipilkada kali ini? Apakah kinerja Ahok selama ini ternyata tidak berhasil di mata warganya, atau mungkinkah kinerja ini hanya menyentuh segolongan orang saja, padahal hasil berbagai survey menunjukkan bahwa sebagian besar warga Jakarta merasa puas dengan hasil kinerja Petahana, jika hasil akhir pemungutan suara seperti ini, artinya hasil pooling sama sekali tidak menunjukkan fakta dilapangan, bahwa sebenarnya sebagian besar warga tidak puas dengan kinerja petahana? Sehingga merasa perlu melakukan perubahan kepemimpinan di wilayahnya.

Kita semua dibuat bingung dengan perilaku masyarakat Jakarta saat ini, disatu sisi mereka menerima disisi lain mereka juga menolak. Ada apa dengan masyarakat Jakarta saat ini, padahal, segala upaya telah dilakukan kubu Ahok untuk memenangkan pertarungan ini. LIhatlah bagaimana gigihnya para gerilyawan dan relawan Ahok mendukung dan mengkampanyekan dirinya melalui media social dan media mainstream. Segala cara dilakukan untuk memenangkan Ahok agar warga Jakarta mau memilih dirinya. tapi sayangnya ada dua factor yang tidak boleh dipandang sebelah mata oleh para pendukung ahok, dan dua sebab inilah yang menjadi sebab AHok kalah telak di putaran kedua Pilkada DKI saat ini. Menghadapi lawannya yang mereka anggap masih “anak ingusan”. Disamping beberapa factor yang sudah disebutkan diatas. Apa sajakah dua factor itu?

Pertama, Ahok tidak mau menyentuh kelompok ekonomi bawah, bahwa kenyataan AHok tidak mau bersikap sama seperti apa yang dilakukan Jokowi ketika sebelum menjabat sebagai Gubernur DKI, yaitu mendekati atau bahasa yang biasa dipakai Jokowi adalah Blusukan. Dimana Blusukan sangat rajin dilakukan Jokowi saat mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI melawan Faudi Bowo saat itu, Jokowi rajin menjenguk rakyat kecil dan berinteraksi langsung dengan mereka, hal itu tidak pernah dilakukan Ahok, baik selama masa kampanye apalagi ketika sudah menjabat sebagai Gubernur menggantikan Jokowi yang menjadi Presiden. Kebijakan Ahok juga dipandang terlalu mementingkan kepentingan rakyat menengah dan atas, menggunakan cara represif dalam menyelesaikan persoalan pembangunan dengan cara gusur dan rusun. Rakyat menganggap pemimpinnya ini kurang manusiawi dalam menerapkan kebijakannya, bertangan besi dan bersikap layaknya pisau; tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Inilah kesan mendalam yang tertanam dalam hati kebanyakan warga Jakarta, berbeda 180 derajat dengan Jokowi yang ketika memimpin Jakarta tidak pernah menggunakan pendekatan kekerasan. Makanya Jokowi dengan mudah bisa memenangkan pertarungan melawan Prabowo Subiyanto ketika Pilpres 2014 silam. Dengan mudah Jokowi bisa merangkul masyarakat walau ia harus berhadapan seorang Jenderal yang sudah malang melintang di dunia perpolitikan, dan Jokowi hanyalan orang biasa yang mencoba peruntungannya di Pilpres kala itu. Itu yang tidak dimiliki Ahok, sehingga AHok tidak dipilih bukan karena semata-mata alasan perbedaan agama, melainkan karena Ahok tidak bisa memikat hati rakyatnya.

Kedua, karena Rakyat melihat keberpihakan Pemerintah yang Nyata. Dalam kasus Surat Al Maidah, warga tidak memilih ahok bukan semata-mata karena AHok dianggap telah menodai agama islam, melainkan karena rakyat melihat adalah upaya keberpihakan pemerintah dalam kasus Ahok, misalnya dalam perlakuan istimewa yang diterima Ahok, mulai dari status tersangka yang tidak di tahan, mengaktifkan kembali AHok menjadi Gubernur setelah habis masa kampanye, dalam hal sidang juga tidak ditayangkan langsung (live), penundaan pembacaan tuntutan jaksa menunggu hasil pilkada, pengamanan maksimal menjelang pilkada DKI (64 ribu pasukan) yang dinilai berlebihan dan sebagainya. Dan berbagai perlakukan istimewa yang diterima Ahok selama menjabat, Ahok seakan mendapatkan perlakukan khusus terkait jabatannya ini dan ia sangat dilindungi banyak pihak, baik di pemerintahan juga di kalangan elite, dan intelektual. Rakyat membaca ini sebagai bentuk ketidakadilan yang nyata, dimana penguasa sangat melindungi kepentingan golongan kaya daripada rakyat miskin, padahal suara terbanyak berasal dari golongan menengah bawah ini. Dan kondisi ini dinilai kelak akan banyak merugikan rakyat.

Kedua point ini dibenarkan oleh Ketua DPP PDI-P Hendrawan Supratikno, beliau mengatakan bahwa salah satu faktor kekalahan Ahok adalah karena adalah masalah birokrasi. Salah satunya "curhatan" dari warga. Hendrawan menceritakan sejumlah keluhan yang diterimanya terhadap Ahok yang diungkapkan oleh birokrat hingga pengusaha.

"Birokrat yang saya temui mengatakan 'haduh, kalau Ahok menang lagi, penderitaan kami semakin panjang, enggak bisa main-main anggaran'. Pengusaha yang saya temui 'apa sih untungnya Ahok sebagai gubernur. Pajak dinaikkan'," ungkap Hendrawan.

"Beberapa orang lainnya, 'duh nanti kami kemaraunya lebih panjang lagi'," sambung dia.

TUMBUHNYA "PEOPLE POWER"

Inilah salah satu bentuk telah tumbuhnya “people power” dimana masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi pentingnya menolak berbagai bentuk penindasan yang mengatasnamakan pembangunan modern. Fakta ini bisa dibuktikan berdasarkan perolehan suara, dimana Ahok-Djarot memperoleh 40% suara, yang mana itu merefleksikan jumlah penduduk Jakarta yang mapan dan berkecukupan, mereka pasti akan memilih AHok sebagai pejabat yang banyak memberikan kenyamanan bagi warga mampu. Sementara Anis-sandi memperoleh hampir 60%, yang ini merefleksikan jumlah mayoritas penduduk menengah dan miskin yang berada dibawah garis kemiskinan dan mereka masih berharap terjadinya perubahan dan perbaikan.

Ketika rakyat sudah bisa mengendus situasi ini, pendukung Ahok tetap berjalan dengan pongah dan sombongnya, bahwa kekuasan dan uang bisa membeli apapun (buktinya ada sumbangan sembako buat warga). Anggapan mereka ini ternyata salah besar. Dan ketika mereka juga berusaha keras mengendalikan jalur saluran informasi di media social dan media mainstream, mengendalikan opini public untuk mempercayai semua perkataan mereka, semua itu sama sekali tidak menghasilkan apa-apa selain kecewa. Segala upaya yang dilakukan pendukung dan relawan AHok kini hanya sia-sia ketika mereka harus berhadapan dengan opini public yang sama sekali tidak berubah.

Lihatlah angka perolehan yang didapat Ahok, jumlahnya masih tetap sama dengan yang diperoleh di putaran pertama, itu artinya opini public sama sekali tidak bisa diganggu gugat, ketika mereka sudah melihat dan merasakan sendiri bagaimaan cara kerja AHok selama berkuasa dan juga besarnya campur tangan pemerintah didalamnya, serta berbagai kondisi yang tidak berpihak pada kepentingan muslim. Keputusan warga tidak berubah sejak putaran satu hingga putaran dua, angka itu tetap sama dan hanya menujukkan migrasi total suara dukungan Agus-Silvi kepada kubu ANies-Sandi, jika ditotal jumlahnya tetap sama. Inilah fakta sesungguhnya yang diluar prediksi semua orang, bahwa seandainya Ahok dikala itu tidak menyinggung surat Al Maidah pun, warga Jakarta tetap tidak akan memilih Ahok sebagai pemimpinnya, karena warga Jakarta menilai dari kinerja.

Dan lihatlah apa yang terjadi, Tidak ada satu orangpun yang menyangka akhirnya hasil akhir menujukkan angka seperti ini. (Bahkan umat muslimpun tidak menyangka angkanya akan terpaut jauh seperti ini, mengingat ketatnya penjagaan aparat). Ini menunjukkan bahwa warga Jakarta tidak memilih Ahok bukan semata-mata karena Ahok telah membuat gaduh, tetapi karena pertama AHok tidak bisa merangkul hati rakyat dalam program kerjanya dan kedua karena keberpihakan pemerintah yang mengistimewakan AHok ini dipandang banyak merugikan muslim. Seandainya saja Ahok bisa bersikap santun dan lemah lembut kepada rakyatnya yang miskin, dan seandainya saja pemerintah tidak terlalu mengistimewakan Ahok, mungkin simpati kepada Ahok masih bisa diperjuangkan. Orang jakarta bukanlah orang yang tidak bisa menerima perbedaan, mereka mau menerima Ahok walaupun berbeda keyakinan, tetapi ketika perbedaan itu dijadikan alat politik, maka penilaian akan beralih pada kinerja. Kinerja Ahok memang dinilai baik oleh pendukugnya, bersifat transparan dan juga akuntabel, tetapi sayang ahok dinilai tidak pandai memanfaatkan posisinya untuk menarik simpati publik. Sebagaimana yang pernah dilakukan Jokowi di masa kepemimpinannya, Jokowi adalah satu-satunya orang yang bisa mengelola potensi daerah dan masyarakatnya dalam satu wadah sehingga semuanya bisa bersinergi, nah hal itu yang tidak dimiliki Ahok.

Dalam hal ini, suara terbesar yang paling menentukan adalah kaum miskin kota dan kaum marjinal, nasib mereka kurang diperhatikan dan bahwa mereka merasa terancam jika Ahok memipin Jakarta kembali. Sebab akan ada banyak wilayah yang akan segera di pugar dan revitalisasi, dan disanalah tempat mata pencaharian mereka. Jadi alasan mereka tidak memilih ahok juga bukan karena mereka tertarik dengan program Anies-sandi, mereka juga bisa mengukur bahwa semua janji kampanye itu bisa bersifat fatamorgana, tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa jika Ahok memimpin kembali, bisa dipastikan nasib dan hidup mereka tidak akan berlangsung lama. Ahok bisa kembali bersikap kejam dan tidak pandang bulu karena sudah nyata penguasa memberikan keleluasaan dan kekuasaan penuh kepadanya untuk melakukan apa saja di Jakarta ini. Ahok bukan hanya akan menggunakan tangan besi, tetapi juga akan bersikap lebih keras karena tahu ia didukung penuh oleh seluruh aparat ini untuk memerangi rakyat kecil.

Tapi untunglah, atas kesabaran dan ketakwaan warga muslim DKI kepada Sang Pencipta tidak pernah putus dan tidak pernah habis, atas ketenangannya menghadapi kehendak penguasa arogan ini, Allah memberikan kemudahan dan kemenangan di sisi umat muslim, akhirnya Allah swt menjawab doa orang teraniaya dengan caranya memberikan 60% warga Jakarta pemimpin dari golongannya yang sesame muslim, subhanallah, kemenangan itu telah datang kepada orang-orang yang sabar dan tawakal. Bagaimanapun sulitnya dan kerasnya upaya musuh ingin membinasakan umat muslim dengan cara mengolok-olok ayat suci-Nya, inilah moment dimana Allah swt ingin menujukkan bahwa surat Al Maidah itu mengandung kebenaran. Atas upaya warga menolak arogansi penguasa dan terus berdiri teguh dalam iman dan kesabaran, Allah menjawab doa umat muslim di tanggal 19 april ini dengan tegas, bahwa ayat suci Al maidah itu memang harus diperjuangkan dengan segenap jiwa dan raga. Dan lihatlah hasilnya, sepenuhnya ini adalah kemenangan yang datangnya dari Allah swt, tuhan semesta Alam. Hanya atas kuasa-Nya semua kemenangan ini bisa dicapai, sebagaimana isi firman-firman-Nya berikut ini:
--------------------------------------------

Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya; sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan. ( Ibrahim : 47 )

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).( Al-Fath : 1-3 )

Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.( Ar-R'ad : 42 )

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.( As-Shaff:8 )

Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.( Az-Zumar : 61 )

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.(As-shaff:9)
---------------------------------------------

Inilah pelajaran paling mahal yang harus dilalui bangsa ini, hasil pilkada ini menunjukkan bahwa warga jakarta adalah orang yang paling rasional dan realistis menghadapi pilihan hidup. mereka sudah terbiasa dan terlatih dengan berbagai tekanan dan ancaman, tetapi masih tetap bisa bersikap tenang dan damai menghadapi cobaan. Seandainya saja ketika dalam aksi yang terjadi pada 212 atau 411 masyarakat mudah tersulut emosi lalu terjadilah bentrokan, atau paling buruk pecahlah perang, bisa dipastikan hari kemenangan itu tidak akan pernah datang, melainkan semakin berkuasanya para musuh islam dan merajalelanya kekufuran.

Tapi ketika kemenangan itu datang dengan cara damai, islam benar-benar bisa berdiri tegak di bumi pertiwi ini dan ditakuti oleh musuh. Selamat buat seluruh warga jakarta, anda semua telah memenangkan pertarungan ini dengan cara yang baik dan bermartabat. Membuat islam semakin harum di berbagai negara islam lainnya dan membuat nyali musuh semakin ciut/kecil dan takut menghadapi kalian ke depannya. Inilah kemenangan islam yang nyata, dan inilah kemenangan yang sangat dekat, dekat dengan kuasa Illahi Robbi.

Read More..

Senin, 10 April 2017

ISLAM DAN MASA DEPAN DUNIA

DISITEGRASI DAN ANCAMAN KEHANCURAN ISLAM

Dalam lawatannya ke Indonesia, Raja Salman Bin Abdul Azis berpesan ingin mengembangkan ajaran islam moderat yang ada di Indonesia untuk di pelajari di negaranya. Yaitu ajaran Islam yang rahamatan lil alamin. Hal ini membuat terkejut banyak pihak. Karena sebagaimana kita semua tahu bahwa Arab Saudi adalah pusatnya ajaran islam dan disanalah awal mula tumbuhnya islam. Tetapi mengapa raja Saudi sendiri menginginkan dipelajarinya Islam nusantara yang mungkin bagi sebagian orang masih memiliki banyak kekurangan disana-sini. Sementara penguasa Arab Saudi di Negara itu sebagian besar masyarakatnya berpendidikan tinggi dan mereka kebanyakan lulusan perguruan tinggi eropa dan amerika yang ternama (Oxford, Harvard dll), apakah pola pikir mereka dianggap masih belum cukup moderat jika dibanding Islam yang dianut kebanyakan orang Indonesia. Sekilas saja jika kita bandingkan dalam hal ilmu pengetahuan, sudah pasti bangsa arab ini memiliki cara pandang yang sangat modern jika dibanding kebanyakan orang Indonesia. Tetapi pastilah disini adalah hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara matematis dan hitungan angka, pastilah ada sesuatu yang unik dari keberadaan Islam Indonesia yang tidak dimiliki orang islam pada umumnya.


ISLAM MODERAT YANG RAHAMATAN LIL ALAMIN

Apa yang terjadi di belahan dunia sana, ketika Islam berkembang pesat dan ada sekelompok orang yang merasa khawatir dengan lonjakan jumlah penduduk islam ini, mereka berupaya mencari cara untuk menghambat pertumbuhannya dengan cara menyebarkan isu sesat dan menyimpang tentang Islam, hingga membentuk gerombolan orang siap mati yang berjuang atas nama Islam. Upaya-upaya in terus dilakukan, tetapi sayangnya jumlah penduduk muslim bukan berkurang, sebaliknya malah semakin besar. Upaya lain pun gencar dilakukan, yaitu dengan memecah belah elemen suatu bangsa hingga mereka bertikai satu sama lain hanya karena perbedaan mazhab dan aliran, dan nampaknya upaya ini membuahkan hasil signifikan, yaitu kini banyak Negara-negara islam di timur tengah berkonflik dan saling berhadapan. Mereka terpecah belah dan tercerai berai mengatasnamakan islam di dalamnya. Disatu sisi keberadaan islam diterima di kalangan barat dan banyak yang masuk islam, disisi lain umat islam sendiri bertikai dan mengakibatkan banyak jatuh korban dan kehilangan nyawa. Jumlah penduduk muslim dalam satu waktu terjadi penambahan sekaligus pengurangan signifikan.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan Islam yang ada di Timur Tengah sana? Mengapa mereka tidak bisa bersatu dan mempertahankan identitas dirinya sebagai satu kesatuan, padahal ajaran yang mereka anut adalah murni syariat islam. Mengapa mereka menjadi manusia yang mudah dipecah belah dan di kotak-kotak lalu tercerai berai dalam lingkungan mereka sendiri. Negara-negara islam yang ada di timur tengah sana kini sedang mengalami banyak pertikaian dan konflik; antara Arab Saudi dengan Iran, antara Arab Saudi dengan Uni Emirat Arab, antara Turki dengan Belanda, antara Turki dengan Rusia. Semua Negara mayoritas muslim ini sedang memperebutkan identitas diri yang tidak bisa mereka tegakkan diatas lahan mereka sendiri, karena persoalan terbesar yang datang berasal dari dalam diri mereka sendiri, yaitu pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak disertai dengan kesadaran rasa bersatu (nasionalis).

SEJARAH PANJANG PROPAGANDA DI INDONESIA


Bangsa Indonesia ini memiliki sejarah panjang mengenai upaya berbagai pihak ingin memecah belah bangsa ini yaitu ketika masa penjajahan portugis dan belanda. Bagaimana hebatnya upaya colonial melakukan politik devide et empera, yaitu memecah belah bangsa ini menjadi beberapa kelompok-kelompok kecil untuk kemudian dikuasi, dikendalikan lalu di jajah dan diambil sumber kekayaan alamnya. Pelajaran sejarah ini ternyata mampu membuat bangsa ini mengambil pelajaran berharga, betapa bahayanya politik memecah belah ini bagi kelangsungan hidup bangsa. Jika tidak dilakukan pencegahan sedari awal terutama dalam hal landasan dasar Negara, pada bagian paling mendasar kehidupan berbangsa ini harus diletakkan pondasi kuat dan kokoh sehingga upaya memecah belah tidak akan terulang kembali, dan itulah sebabnya pentingnya semua pihak memahami hakikatnya pancasila, disanalah semua awal mula berdiri bangsa ini. Pancasila lah yang telah mempersatukan bangsa ini dalam satu ikatan satu nusa, satu bahasa, dan satu bangsa.

TIMUR TENGAH DAN KEKACAUAN AKHIR ZAMAN


Negara timur yang saat ini sudah terkotak-kotak dan menuju kehancuran sudah diambang mata, apa yang tidak mereka miliki adalah apa yang kita punya saat ini, yaitu rasa persatuan dan kesatuan. Mereka mungkin bisa menghasilkan income per kapita paling tinggi di dunia dengan sumber minyak mentahnya, mereka bisa mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, tetapi ketika berhadapan dengan isu disintegrasi bangsa (perpecahan), ketika berhadapan dengan upaya memecah belah, mereka tidak punya formula selain berupaya meningkatkan terus-menerus pendapatannya, yang mana ketika ekonomi globalpun sedang lesu (mengalami penurunan), mereka tidak akan bisa terus berpura-pura tenang, padahal sesungguhnya seluruh rakyatnya gelisah dan sedang berada dibawah ancaman besar yaitu disintegrasi. Dalam tekanan ekonomi global, kebanyakan rakyat tidak mampu bertahan karena mereka sudah sepenuhnya bergantung pada kebijakan penguasa yang diharapkan mampu memberikan jalan keluar. Tetapi jika landasan utama Negara tersebut hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dan tidak memiliki modal pentingnya rasa persatuan, maka tekanan itu akan dirasakan semakin berat dan tidak bisa membendung berbagai ketidakpuasan dan ketegangan antar umat.

Ketika ancaman perpecahan ini sudah menggurita dan merasuki alam bawah sadar kebanyakan orang, maka tidak ada cara lain yang bisa dilakukan penguasa selain menerapkan system pemerintahan tangan besi yaitu pemerintahan dictator dan otoriter untuk mengendalikan pergerakan massa agar tidak keluar jalur dan tidak membahayakan eksistensi pemerintahan. Dihadapkan pada situasi aspirasi masyarakat yang tidak bisa dibendung dengan kekuatan milier, maka lama kelamaan kondisi ini akan memperburuk situasi keamanan dan mengancam stabilitas Negara. Negara dan pemimpin berkuasa akan mudah digoyang dengan berbagai isu dan ancaman, dalam keadaan tidak menentu ini sangat mudah menggulingkan pemerintahan berkuasa dan inilah yang sedang berkecamuk di Negara-negara penuh konflik ini, mereka tidak bisa lagi mengendalikan jumah penduduk yang makin banyak, ditambah lagi campur tangan asing yang ingin mengambil keuntungan situasi gawat ini semakin memperburuk otoritas keamanan suatu bangsa.

HUKUM SYARIAT ISLAM DAN ISU PERPECAHAN

Apa yang tidak dimengerti tentang inti ajaran islam sebagian umat muslim di berbagai belahan dunia mayoritas Negara muslim adalah adalah bahwa sesungguhnya Allah swt mengemas hukum syariat yang tertera dalam Al Quran, bersifat luas dan fleksibel, bisa mengikuti berbagai perubahan zaman. Ajaran islam bisa digunakan pada berbagai situasi dan kondisi, sesuai apa kebutuhan umat pada masa itu. Ajaran islam bisa di pakai untuk kepentingan keadaan darurat perang, kondisi damai dan ada juga yang bisa digunakan untuk kepentingan menjaga perdamaian. Semua tertera dengan sangat jelas di Al quran.

Yang dilakukan oleh kebanyakan Negara muslim di timur tengah adalah, mereka menggunakan semua hokum syariat dan ketentuan Allah itu pada semua kondisi. Mulai dari hokum rajam, cambuk, gantung, jihad, riba, poligami dan sebagainya. Semua itu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak peduli apakah kondisi saat itu sedang dalam keadaan damai atau perang. Semua hokum syariat diterapkan dalam berbagai keadaan, tidak ada yang tidak dipakai, semua diterapkan sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Al Quran. Sebagaimana yang terjadi di Arab Saudi, mereka menegakkan hokum islam dengan sangat keras di wilayahnya, dalam perjalannnya memang arab Saudi bisa menjadi Negara yang kaya dan makmur, tetapi ketika berhadapan dengan upaya musuh islam memecah belah, mereka kini dalam kondisi terancam disintegrasi bangsa. Hokum dengan aliran Whabi disana kini tengah diperdebatkan karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman.

Misalnya mengenai hokum hak perempuan, kebanyakan perempuan di arab Saudi terkekang oleh hukum yang melarang mereka melakukan banyak aktivitas, seperti misalnya perempuan tidak memiliki hak konstitusi di muka hukum, mereka tidak memiliki hak dalam pemilu. Penerapan hokum islam yang terlalu tegas dianggap sebagai wujud lain pemerintahan yang otoriter dan suka membelenggu hak warganya. Ketika tidak bisa dicarikan solusi dan jalan keluarnya, maka tumbuhlah bibit-bibit kebencian dan permusuhan di masyarakat yang akan berujung pada perpecahan.

Sebagai contoh, penerapan hokum poligami, hokum poligami sesungguhnya cocok digunakan ketika dalam keadaan perang, yaitu ketika ada kebanyakan janda-janda dan yatim yang harus kehilangan imam dalam keluarganya, adanya poligami di maksudkan agar para janda ini mendapatkan perlindungan dan menjamin hak-hak kehidupan mereka. Dan ketika hokum poligami digunakan di masa damai atau bukan keadaan perang, lihatlah apa yang terjadi, para laki-laki berduit banyak menggunakan dalih hokum poligami ini untuk menikahi anak dibawah umur, alias ABG usia 15 tahun. Memiliki istri lebih dari satu hanya karena alas an mencari kesenangan dunia belaka, bukan karena ingin mendekatkan diri kepada Allah swt. Poligami dijadikan alasan untuk memuaskan hawa nafsu birahi para pemilik uang dan kekuasaan.

Atau contoh lainnya, hokum jihad, hokum ini juga sangat cocok digunakan ketika Negara dalam keadaan perang, yaitu perang melawan thagut (musuh islam), dengan tujuan agar umat muslim tidak merasa gentar menghadapi musuh di medan perang. Jihad yang sebenar-benarnya menyerahkan jiwa dan raga demi mempertahankan akidah. Ketika hokum jihad dipakai dalam keadaan damai dan tidak perang, lihatlah apa yang terjadi, mengatasnamakan islam mereka membunuh saudaranya sendiri yang berbeda faham dan aliran. Bukannya mengharumkan kebesaran islam, sebaliknya malah mencoreng islam.

Kondisi inilah yang dimanfaatkan musuh-musuh islam, bahwa dengan menerapkan semua inti ajaran islam dalam situasi apapun, islam akan sangat mudah dihancurkan. Islam akan mudah di provokasi, dengan dasar ajarannya sendiri. Islam akan mudah dipecah belah dan diadu domba antar sesama, karena menerapkan seluruh syariat islam dalam berbagai kondisi bisa menciptakan konflik dan menyulut kebencian antar sesama. Padahal tidak seperti itu tujuan Allah menurunkan AL quran, manusia yang mengimani Al quran harusnya bisa membedakan dan memilah-milah, tidak mengadopsi semua hokum-hukum itu pada semua situasi, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi dan keadaan yang sedang berlaku. Mementingkan keberlangsungan tumbuh kembang nilai islam disesuaikan dengan kebutuhan jaman, sehingga umat islam bisa terus berkembang dan menggali terus nilai-nilai kehidupan di masa depan.

HUKUM ISLAM YANG SEJUK DAN DAMAI


Harusnya dalam keadaan perdamaian dan tidak ada peperangan, hokum yang di gunakan adalah hokum islam yang damai dan menyejukkan. Al quran sudah menyebutkan ada 200 ayat yang bicara kedamaian dan kondisi aman, ayat-ayat ini bisa digunakan untuk mencari jalan keluar sebuah permasalahan, tidak semua harus diakhiri dengan kematian dan pembunuhan. Berikut ini adalah salah satu contoh ayat yang bicara kedamaian dan mengajak semua pihak untuk mengutamakan damai daripada peperangan.

"Sesungguhnya Allah swt. menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat ; dan melarang dari perbuatan keji, dan hal yang tidak disenangi, dan memberontak. Dia memberi kamu nasihat supaya kamu mengambil pelajaran."
(Q.S. 16:91)

"Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah swt. beserta orang- orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. 29:70)

"Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)

Dan jika Negara dalam keadaan peperangan, maka gunakanlah hokum syariat islam yang keras (islam garis keras) di terapkan dengan sekuat-kuatnya terhadap musuh-musuh islam. Orang islam harus menggigit kuat-kuat apa yang diperintahkan Al Quran dan berusaha sekuat tenaga mempertahankan iman dengan sekuat-kuatnya iman. Terapkan hokum islam yang mengedepankan akidah islam tanpa merasa ragu apalagi takut, hokum Allah sudah pasti tegak dan islam bisa dipastikan menang melawan musuh.

Dimasa pemerintahan rasulullah dan sahabat, situasi peperangan ini pernah banyak dimenangkan oleh kaum muslim, karena umat berhasil menegakkan islam dengan keyakinan penuh dalam dada mereka bagaikan harimau lapar di medan perang. Tidak ada umat islam yang mudah tertipu oleh tipu daya musuh, karena sedemikian kuatnya keyakinan dan iman mereka sehingga tidak mudah digoyahkan oleh godaan apapun.

Nah ketika di masa kemerdekaan dan perdamaian era modern ini, nampaknya mulai banyak orang muslim yang lengah dan terbuai kenikmatan dunia. Walau mereka sudah menegakkan hokum syariat dalam kehidupan sehari-harinya tetapi mereka tidak mampu menahan godaan dunia yang datang. Kenikmatan dunia membuat mereka lupa dan terlena dalam kesenangan memabukkan, sikap seperti ini lama kelamaan makin melunturkan nilai-nilai islam itu sendiri dan akhirnya mereka juga menolak apa yang ditetapkan dan memilih jalan lain untuk mempertahankan kenikmatan dunia. Contohnya, Hokum poligami diterapkan di masa modern bukannya memperindah islam sebaliknya menjadikan islam difitnah karena dianggap suka mengekspoitasi kaum hawa. Disisi lain, hukum larangan memakan riba tidak diterapkan di masa damai, yang terjadi banyak umat yang terjebak dalam uang haram dan korupsi menghalalkan berbagai cara. Padahal dimasa damai justru hokum larangan memakan riba yang harus diutamakan, agar tidak membiarkan meluasnya penyebaran uang haram yang bisa merusak iman dan akidah umat islam.

Perlu juga sama-sama kita ingat, bahwa hokum syariat yang tertera di dalam AL quran, seluruhnya dihasilkan di masa pemerintahan rasulullah nabi kita Muhammad saw. Semua isinya mencakup kondisi dan keadaan pada masa itu yaitu keadaan damai ataupun perang. Bahwa dimasa pemerintahan rasulullah, sang Nabi saw telah mengalami dua periode jaman secara bersamaan, yaitu keadaan damai dan keadaan peperangan. Maka dari itu semua isi kandungan AL quran bisa dipelajari dan diamalkan dalam berbagai situasi dan kondisi, tetapi bukan berarti semua hokum tersebut harus diterapkan sekaligus tidak memperhatikan masa yang berlaku. Umat harus bisa membedakan mana hokum yang harus digunakan di masa perang atau di masa damai, keduanya memiliki konteks berbeda tetapi memiliki satu tujuan yaitu memakmurkan islam dari berbagai sisi kehidupan. Mendahulukan kepentingan umat dan mensyiarkan islam disesuaikan dengan perkembangan jaman.

PERANG DI ERA PERDAMAIAN YANG FATAMORGANA

Menurut anda, apa alasan musuh-musuh islam membiarkan umat muslim saat ini berada dalam situasi damai? Membiarkan islam tumbuh berkembang dalam ketenanngan, dan tidak menyatakan perang secara terang-terangan, padahal di masa lalu, mereka tahu persis bahwa mereka pernah dihancurkan oleh dinasti kekaisaran islam, dalam perang Badar, perang Uhud, perang salib, perang di masa Dinasti Ottoman misalnya, mereka pernah hancur karena dominasi kekuatan islam di masa peperangan. Tidak ada yang meragukan kehandalan pasukan islam, mereka tahu persis bahwa islam sangat kuat dan keras menerapkan hukumnya hingga tidak akan mengalami kekalahan sedikitpun atas peristiwa besar yang pernah mereka alami. Kondisi perang sama sekali tidak menguntungkan bagi kaum kafir, melainkan mereka akan makin terpojok dan lemah.

Kondisi yang terjadi saat ini adalah momentum mereka kembali ingin menghancurkan islam, yaitu dengan memanfaatkan kondisi damai dan ketenangan. Kondisi damai ini adalah bagian dari upaya mereka menciptakan perang yang tidak terlihat kasat mata yaitu dengan cara menghancurkan nilai-nilai keislaman itu sendiri dengan cara memecah belah mashab dan aliran yang berasal dari dalam diri umat sendiri. Mulai dari menyebarkan virus-virus tumbuh suburnya berbagai macam aliran, misalnya syiah, wahabi, takfiri, islam sekuler dan sebagainya. Disamping juga menumbuh suburkan faham feminism, LGBT, narkoba, seks bebas dikalangan muda dan sebagainya.

Itu adalah bagian dari taktik berperang kaum kafir dalam mengahancurkan islam. Musuh-musuh islam ingin membuat orang islam itu sendiri yang merusak agamanya dengan tangannya sendiri, dengan dipicu oleh berbagai provokasi pihak asing. Dan faktanya cara ini dinilai cukup sukses dan membuahkan hasil, lihatlah apa yang terjadi di Suriah, Mesir, Bosnia, palestina, iran, irak, dan Negara-negara timur mayoritas islam di sana saat ini sudah memasuki tahap peleburan dan pemusnahan secara massal. Mereka bukan hanya sudah terkotak-kotak bahkan saat ini sudah memasuki tahap pemusnahan massal alias akan dibumi hanguskan dengan cara keji.

Bagaimana kejamnya cara mereka memusnahkan umat islam dengan senjata kimia dan biologis dengan alasan yang tidak masuk akal. Tanah kelahirannya di ambil paksa, sumber energinya dikuasai dan penduduknya diungsikan ke Negara lain, bukan sekedar untuk ditampung, mereka juga disana akan dihinakan oleh penguasa setempat. Dijadikan alat untuk memfitnah islam dengan serangkaian terror. Bukankan ini sebuah fakta yang mengerikan, bagaimana islam hingga saat ini sudah digunakan sebagai alat untuk menghancurkan islam itu sendiri dengan cara dan taktik musuh, memanfaatkan keadaan tenang sebagai alasan dilancarkannya sebuah serangan terhadap warga sipil tidak berdosa. Inilah yang diinginkan para musuh islam sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu, islam akan membunuh dirinya sendiri dengan tangannya sendiri. Musuh islam tidak perlu susah payah menghadapi mereka di medan perang, cukup menyulutkan isu kebencian dan permusuhan maka terjadilah apa bisa menghancurkan islam dengan mudah yaitu perang saudara.

HUKUM SYARIAT ISLAM YANG WARNA-WARNI

Kondisi ini juga tidak berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, ada saja pihak yang ingin mendirikan Negara islam dengan penerapan hokum syariat islam garis keras didalamnya dengan alasan pemerintah yang berkuasa terlalu korup. Mulai dari DII/TII, hingga jaringan teroris internasional yang diekspor oleh Negara tetangga kita Malaysia dan Filipina, mereka ingin memposisikan islam di negeri kita ini sebagai islam garis keras. Karena penduduk mayoritas di negeri ini adalah islam, islam yang warna-warni, jadi dianggap jauh lebih mudah memecah belah bangsa ini karena sudah bercampur baur dengan berbagai etnis, budaya dan tradisi setempat. Islam di nusantara ini dianggap juga mudah dikendalikan dan ditaklukkan karena umatnya tidak melaksanakan ajaran islam dengan keras sebagaimana yang ada di Negara timur sana. Kondisi ini dianggap akan jauh memudahkan upaya musuh islam dalam menghancurkan akidah islam nusantara, karena pemerintahannya pun tidak membenarkan penerapan hokum islam dalam kehidupan berbangsa. Pemerintahnya pun menerapkan system peradilannya banyak mengadopsi hokum Negara Belanda, yaitu hokum yang ditinggalkan penjajahan colonial atau hokum yang menyesuaikan dengan kebutuhan umum.

Maka dari itu, tidak mengherankan jika yang kita lihat adalah pemerintahan dan rakyatnya berjalan masing-masing. Islam nusantara dipaksa menerapkan hokum colonial dalam kehidupannya karena tidak ada pilihan lain, sebab penguasanya tidak membenarkan hokum islam dijadikan landasan hokum Negara. Dalam hal ini Allah swt mengetahui betul bagaimana sulitnya pergerakan islam di Indonesia, karena secara akidah mereka bebas menjalankan kewajiban beribadah tetapi dalam penerapan hokum islam, mereka dipaksa menggunakan system ad dajjal seperti system keuangan riba. Yang sama sekali tidak menguntungkan umat islam secara keseluruhan. Orang islam di Indonesia boleh bebas beribadah tetapi mereka juga memakan uang riba dalam kehidupan kesehariannya. Padahal dampak penerapan riba bisa merusak moral dan mental bangsa ini. Riba bisa mencuci otak bangsa menjadi bangsa yang bengis dan tega membunuh saudaranya sendiri demi kesenangan dunia, melalui korupsi. Riba bisa menggiring penggunanya untuk menghalalkan segala cara dalam mencari rizki. Tidak mau tunduk kepada perintah dan larangan Allah swt. riba bisa membuat penggunanya memiliki jiwa yang keras dan sulit menerima hikmah, jiwanya terhalang oleh kotoran dunia.

SKENARIO MEMECAH BELAH UMAT

Ini adalah salah satu scenario musuh islam untuk memecah belah umat di tengah perbedaan dan keragaman suku dan etnis, islam terus diganggu dengan berbagai macam provokasi dan intimidasi, walau jumlah penduduk muslim tergolong banyak, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan melawan dan menolak tiran yang ditujukan kepada umat kebanyakan. Walau islam adalah warga mayoritas tetapi tidak selamanya hokum berpihak pada kepentingan orang islam, pada beberapa kasus umat terpaksa harus menerima kekalahan dengan cara mengedepankan ukhuah islamiah daripada terjadi perpecahan. Walau pada banyak kasus, musuh islam kerap menyulut kegaduhan, dan ketika umat menuntut keadilan, mereka tidak mendapatkannya melainkan harus bersikap mengalah dan menahan diri agar tidak terjadi bentrokan. Nilai-nilai toleransi beragama yang dianut bangsa ini masih banyak ketimpangan, sebagai kelompok mayoritas, islam yang kerap di hina oleh segelintir minoritas, tidak bisa berbuat banyak untuk membela agamanya, karena sekali lagi dalih bahwa Negara ini bukan Negara agama kembali dimunculkan ke public, sehingga kondisi umat islam pada umumnya selalu berada di bawah tekanan. Baik itu tekanan dari public maupun tekanan internasional.

DIBALIK PUJIAN TOLERANSI UMAT BERAGAMA

Masyarakat Islam di Indonesia yang dipandang oleh dunia internasional sangat menjunjung tinggi nilai toleransi, dipuji dan disanjung-sanjung sesungguhnya itu adalah bagian dari proses pembantukan jati diri yang lebih mengedepankan nilai persatuan bangsa. Tidak ada alasan lain, bagi seorang muslim dinegeri ini untuk menuntut banyak pada setiap peristiwa besar yang mencabik-cabik ajaran islam selain umat harus banyak menahan diri dan bersabar. Ketika agama di jadikan komoditas politik, diperdebatkan di ruang public, dipertentangkan dan sebagainya, dimana sebenarnya dibalik semua itu adalah kenyataan bahwa sebenarnya masyarakat kita tidaklah mengerti hakikatnya ilmu agama itu sendiri. Masyarakat hanya mengadopsi nilai-nilai islam hanya secara garis besar, mereka tidak memahami isi dan maksud dari semua perintah dan petunjuk agama yang paling esensial.

Ujung dari semua ini adalah masyarakat jadi mudah diadu domba dan digiring pada sebuah kepentingan yang mengatasnamakan agama. Mereka membenarkan semua dalil yang digunakan penguasa yang tanpa sadar ingin mengambil keuntungan dari ketidak tahuan orang awam, bahwa sebenarnya mereka telah menjadi sapi perah dan alat untuk memudahkan terwujudnya kepentingan segelintir orang. Kondisi ini yang sering menjadi dilemma di masyarakat, disatu sisi harus mempertahankan akidah disisi lain harus mengedepankan persatuan.

ISLAM MODERAT YANG RAHMATAN LIL ALAMIN

Atas dasar keadaan ini, maka dari itu, umat muslim Indonesia tidak bisa menampakkan diri mereka terlalu kasat mata di hadapan public, mereka memilih menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas keagamaan yang bersifat spiritual movement. Sebuah kegiatan keagamaan yang bersifat perbaikan ke dalam diri, memperbaiki kualitas ibadah, memberikan pencerahan kepada sesame, membantu kekurangan orang lain, mendonasikan berbagai keperluan umat dan sebagainya yang mana kegiatan keagamaan ini lebih bersifat intern atau berorientasi ke dalam perbaikan iman dan taqwa bagi umat. Atas kesabaran dan ketekunaannya ini, kini umat islam di Indonesia bertransformasi menjadi umat yang bisa menjaga tolerasi antar umat beragama, bisa menjaga kerukunan antar sesame, bisa menunjukkan diri sebagai jiwa-jiwa damai yang cinta ketenangan dan perdamaian dibanding permusuhan dan konflik. Umat islam Indonesia kini mendapat julukan manusia beriman yang sangat berjiwa besar dan mengutamakan persatuan walau sebenarnya semua itu bukanlah perkara mudah. Inilah bagian dari proses pencarian jati diri yang mana dalam keadaan damai seperti ini, kebanyakan umatpun lebih banyak mengamalkan hokum syariat islam yang damai. Hokum islam yang lebih mengedepankan kebaikan, kedamaian, ukhuah islamiah, dan kerukunan. Dan inilah yang dinamakan Islam yang rahmatan lil alamin, islam yang menjadi rahmat bagi semua.

Tidak ada lagi sifat iri, dengki, hasut dan amarah, semua permasalahan bisa diselesaikan dengan meminta petunjuk dari orang yang mengerti agama. Orang islam dalam hal ini benar-benar dituntut kemampuannya menahan diri dan sepenuhnya menyerahkan segala urusan kepada Sang Pencipta Alam Semesta, Allah Swt. Bagi umat, hanya Allah swt sajalah tempat bersandar paling utama, tempat sebaik-baiknya semua perkara dikembalikan, bukan pemimpin apalagi penguasa. Dan atas dasar kesadaran inilah Allah swt meridhoi dan merahmati perjuangan islam nusantara dalam menjaga nama baik islam. Umat telah dengan segala daya upaya memperjuangkan ajaran islam tetapi dalam perjalanannya islam di Indonesia ditakdirkan untuk menjadi islam yang modern atau islam moderat, yang bisa menerima perbedaan dan menerima kekurangan bukan karena islam lebih rendah/lemah tetapi karena menatap bahwa islam adalah agama yang cinta damai dan islam adalah agama yang sejuk. Islam nusantara bukan islam garis keras yang selalu harus menghunus pedang jika terjadi perbedaan, islam nusantara adalah islam yang bisa bicara atas dasar kepentingan banyak orang.

Kondisi iman umat muslim di Indonesia ini lebih banyak kepada upaya mendidik diri menjadi pribadi yang kuat dan tangguh menghadapi berbagai guncangan dan cobaan. Tidak semua orang bisa menerima keadaan ketika harus berhadapan dengan situasai yang sama sekali tidak memberikan peluang membela kebenaran. Orang islam walaupun terbiasa dengan keadaan tekanan dan penderitaan, tetapi bukanlah pribadi yang lemah dan mudah menyerah pada keadaan. Musuh-musuh islampun bingung dengan keadaan muslim nusantara saat ini, mengapa bisa berbagai kondisi miskin dan melarat seperti ini masih bisa menyebut dan menggemakan asma Allah swt dalam tidurnya. Sesuatu yang menurut mereka tidak habis pikir, mengapa kondisi umat islam nusantara ini bukannya semakin terpuruk sebaliknya semakin bersinar dan menyilaukan mata dunia internasional. Ternyata kemiskinan sama sekalii tidak bisa mematikan iman, justru sebaliknya kemiskinan membuat iman semakin bersinar terang. Semakin besar keyakinan dan ketaqwaan umat kepada hokum Allah swt, semakin dekat dengan rahmat-Nya.

INDONESIA DAN MASA DEPAN DUNIA

Adapun bentuk pujian bangsa-bangsa barat (inggris, belanda) terhadap toleransi umat beragama di negeri ini ketika mereka berkunjung adalah salah satu bentuk tanda Tanya besar, mengapa islam di Indonesia ini dalam keadaan miskin justru bisa berkembang bagaikan jamur di musim hujan. Mereka mempertanyakan apa yang menjadi rahasia semua ini dan bagaimana cara agar bisa membendung pertumbuhannya. Jika memang ada cara yang bisa dipakai untuk membatasi pertumbuhan penduduk muslim, maka lakukanlah apa saja untuk menahan laju pertumbuhan penduduk muslim yang tidak bisa dibatasi ini. Musuh islam memandang suatu hari nanti Indonesia akan menjadi ancaman besar, karena mayoritas penduduknya adalah muslim dan terbesar di dunia. Suatu hari nanti Indonesia akan menjadi salah satu Negara islam terkuat yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Jika saat ini mereka bisa mengurangi populasi muslim di timur tengah, maka di masa depan mereka pasti tidak akan mampu mengurangi populasi penduduk muslim nusantara karena jumlahnya sudah berlipat=lipat jika disbanding jumlah penduduk muslim timur tengah.

Dimasa depan, hanya akan tersisa beberapa Negara besar dengan tingkat integritas tinggi yang akan bertahan ditengah semakin langkanya bahan baku mineral dan energi. Hanya tersisa beberapa Negara dengan tingkat kemandirian energi terbaik yang bisa menjalani masa-masa akhir menjelang akhir jaman. Kelangkaan sumber daya energi, jumlah populasi penduduk yang harus terus disuplay, ancaman disintegrasi, ancaman perubahan iklim global, ancaman perang nuklir dan berbagai ancaman lain yang siap menelan sebuah bangsa dalam sekejap. Dan Negara-negara dengan tingkat kemandirian energi dan kesiapan menghadapi ancaman masa depan adalah; Amerika Serikat, Korea Utara dan Korea Selatan, China, Rusia, Israel, Jepang, Australia dan beberapa Negara besar lain semoga saja Indonesia bisa masuk dalam hitungan. Hanya Negara-negara yang saat ini bisa melalui beratnya masa sulit akibat pelemahan ekonomi global yang akan bisa memasuki babak akhir percaturan ekonomi dunia.

Salah satu contoh benua yang sudah hilang dan lenyap dari bumi ini dan sudah tidak pernah disebutkan lagi di kancah internasional adalah Afrika, benua afrika bagaikan belahan dunia yang sudah lenyap dari permukaan bumi. Tidak ada lagi pihak yang memperebutkan dan memperbincangkan benua ini (Somalia dan Uganda), karena dimasa lalu ia pernah menjadi salah satu benua yang paling sibuk dengan konflik dan kecamuk perang saudara. Jika yang terjadi di saat ini adalah konflik sedang berkecamuk di timur tengah, maka bisa jadi kelak timur tengah juga akan menjadi salah satu benua yang hilang dari permukaan bumi. Ia akan dilupakan masyarakat dunia karena pernah menjadi sentra kekacauan dan perebutan kekuasaan, pusat perang saudara dan perebutan energi, dan kini afrika hanya tinggal padang rumput tandus dan gersang dan dihuni oleh penduduk kelaparan karena tidak ada sumber kehidupan di sana.

Indonesia di masa depan akan menjadi pusat perebutan kekuasaan dan energi masa depan, karena kekayaan alamnya dan dan posisi strategisnya di lintasi garis katulistiwa yang menjadikannya sumber kehidupan hayati, di masa depan indonesia akan menjadi salah satu sentra perebutan oleh bangsa-bangsa besar berkuasa. Maka dari itu, sudahkah kita sadar bahwa setelah usai konflik perang di timur tengah, pusat konflik berikutnya akan pindah ke Negara kita? The next area konflik yang akan dimulai dari perebutan batas laut china selatan, akan memulai babak awal ketegangan di negeri tercinta ini. Saat ini garis batas Laut China selatan sudah diklaim oleh beberapa negara karena disana ada Blok Natuna yang kaya sumber energi. Pulau Natuna saat ini dijaga ketat oleh aparat keamanan, karena jika kondisi negara dalam keadaan gawat, atau terjadi huru-hara, maka pulau ini yang akan menjadi gerbang pintu masuk pihak asing menguasai negara.

Inilah gambaran masa depan dunia, indonesialah yang akan menjadi babak penutup dimulainya perang dunia ketiga yang berbasis nulklir. Indonesialah bangsa terakhir yang akan menjaga benteng pertahanan islam, sebagai salah satu negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia akan menjadi pusat perebutan kekuatan ekonomi dunia ditengah kecamuk ancaman perang senjata pemusnah masal berbasis nuklir dan kimia. sudah siapkah kita semua? Menyiapkan generasi akan datang yang kuat dan tangguh mampu berhadapan dengan musuh islam yang paling nyata yaitu keganasan perang?

Read More..

Jumat, 07 April 2017

PROFIL: SISI MINUS PASLON DKI-1

Kalo ditanya soal keunggulan dan kelebihan paslon Gubernur DKI pasti semus sudah pada hafal di luar kepala. Nah tapi kalo ditanya soal kekurangan dan kelemahan, siapa yang mau berbagi dan bahkan mengorek-ngorek sisi negatif sebagai bahan pertimbangan. Bukan untuk menjelekkan tetapi marilah kita sama-sama menimbang dan mengukur kemampuan, mana yang lebih baik dan lebih kurang sisi negatifnya, mana yang lebih sedikit kemungkinan terburuk bisa berdampak pada kehidupan kita, dan ini untuk membuat kita tidak salah dalam memilih pemimpin. Bagaimana pun Semua orang punya kekurangan, kelemahan dan ketidakmampuan, manusiawi saja jika kita ingin mengetahuinya dan tahukah anda apa saja kekurangan semua paslon DKI yang ada saat ini?

1. ANIES BASWEDAN
Terlalu ambisi dunia pendidikan.
Apapun tema dan persoalan yang di tanyakan kepadanya maka itu pasti akan dikaitkan dengan pendidikan, entah itu masalah ekonomi, sosial, pasar tradisional, transportasi, harga sembako, semuanya dihubungkan dengan pendidikan. Anies dikenal sangat kental menyuarakan pendidikan dalam setiap kampanyenya, padahal dia sedang di calonkan sebagai kepala daerah yang harus menguasai semua bidang tidak hanya pendidikan. Nampaknya ambisinya mendirikan lembaga pendidikan masih belum kesampaian, ia masih berupaya keras menarik perhatian pendukungnya melalui jualan dari sisi pendidikan. Praktisi pendidikan yang berlatar pendidikan luar negeri ini pernah diisukan akan menerapkan hukum syariah jika ia terpilih jadi gubernur, dan sesungguhnya itu benar berita Hoax, sebab Anies tidak memiliki back graoud pendidikan islam, ia dibesarkan dalam sistem pendidikan sekuler atau bergelar Master dari universitas Amerika Serikat. Jadi tidak mungkin anies akan menjalankan sistem syariah karena ia sendiri tidak mengerti sistem syariah.

2. SANDIAGA SALAHUDIN UNO
Pengusaha Ambisius. Pengusaha sukses ini menganggap dirinya punya kemampuan memimpin seluruh warga jakarta sebagaimana ia memimpin perusahaan besar. Apakah warga jakarta sama dengan pekerja pabrik, yang harus bekerja sesuai aturan pabrik dan baru diberi imbalan jika sudah memberikan kontribusi bagi pengusaha. Sandiaga ini juga suka membangun mimpi, membuat banyak janji-janji surga dalam kampanyenya dan bahkan membangun mimpi diatas mimpi. (OKe Oce, KJP Plus, KPR rumah 0%). Padahal warga jakarta sudah bosan dengan berbagai janji dan mimpi. Dalam janjinya, Sandiaga seakan-akan bicara bahwa ia bisa membangun jakarta dengan semua kekayaan harta yang dimilikinya. Kita melihat seakan-akan sandi mau mengorbankan seluruh kekayaannya untuk dibagikan kepada seluruh warga jakarta jika ia terpilih, apakah benar seorang pengusaha mau melakukan hal itu. Sandiaga juga terlibat dengan banyak masalah hukum, kiprahnya didunia usaha juga masih diragukan, disinyalir jika terpilih nanti Sandiaga justru yang paling dominan menjadi gubernur jika dibanding Anies, karena pastilah anies akan memilih sibuk dengan ambisi dunia pendidikannya, sementara komando pemerintahan sepenuhnya akan diserahkan kepada Sandiaga, sebagai pengusaha yang sudah mengeluarkan modal banyak untuk kepentingan kampanye paslon ini.

3. Basuki Cahaya Purnama (AHok)
Si Arogan yang sulit Kendalikan diri. Ahok juga punya kekurangan, walau sudah berusaha keras untuk tidak terpancing emosi, faktanya ahok sering tidak bisa menahan amarahnya dan sulit mengendalikan diri di depan umum. Sifat arogan dalam dirinya masih mendominasi sehingga ia kadang sulit membedakan mana yang seharusnya didahulukan diutarakan kepada publik, mana yang harusnya tidak perlu diutarakan dan mana yang akan memancing emosi orang banyak. Ahok masih belum bisa mengenali diri dari sisi positif yang ingin ia tampilkan kepada publik, ia masih mencari jati diri, dimana ia ingin menampilkan dirinya secara jujur dan apa adanya kepada publik, tapi karena unsur emosi juga masih sering mengiringi, maka jatuhnya ia masih diangap suka bersikap kasar dan arogan. Hal itu yang dimanfaatkan lawan politiknya, itulah titik kelemahan ahok, lawan politiknya bisa menjatuhkan dirinya hanya dengan memancing emosi ahok, maka ahok seketika akan terbakar habis oleh ulahnya sendiri. Warga jakarta melihat sikap ahok ini wajar sekaligus aneh, disatu sisi ia ingin menunjukkan kebenaran, di sisi lain ia menampakkan sikap arogan. Dua sisi pribadi yang berlawanan bisa tergambar jelas dalam satu waktu. Walau mungkin tujuannya baik, tetapi seringnya dalam penyampaian terkesan ia terlalu berlebihan dan memaksakan kehendak. Kerugian bagi warga jakarta yang memilih ahok jadi pemimpinnya adalah akan mudah terjadi konflik yang disebabkan kesalahanfahaman maksud dan tujuan pembicaraan yang bisa digiring pihak musuh pada perpecahan atau maksud2 terselubung lain.

4. Djarot Saiful Hidayat
Sikalem yang teraniaya. Sebelum masa kampanye, jarang sekali warga Jakarta melihat Djarot tampil di layar kaca atau sekedar memberikan pengarahan kepada warganya. Selama ini ia banyak bekerja di belakang layar dan lebih banyak turun langsung ke lapangan memantau berbagai proyek. Djarot selama ini dipandang sebagai pajangan Balai Kota, karena dia juga dikabarkan kurang sejalan dalam pemikiran dengan sang Bos yaitu Basuki Cahaya Purnama. Mereka berdua dikenal tidak akur dan kurang sefaham dalam banyak hal. Djarot selama ini kurang diberikan peran dalam berbagai pekerjaan penting dan krusial, ia hanya bertugas sebagaimana pegawai biasa dan menjadi ban serep sang gubernur. Walau sebenarnya Djarot memiliki visi dan misi yang baik, tetapi selama ini ia kurang diperhatikan dan diberi tempat yang layak sebagaimana yang kita lihat sekarang ini. Penampakan Djarot kini mulai diperhitungkan sebagai politisi yang memiliki bobot dalam memimpin, ia memiliki kecakapan dalam memimpin, tutur kata dan gaya bicaranya pun tegas, terstruktur dan fokus (tidak bertele-tele). Djarot diperkirakan akan menjadi lawan politik yang tangguh jika ia diberikan posisi penting, dan Djarot ini juga bisa menyejukkan hati masyarakat.

Satu hal yang pasti disini adalah sebuah fakta bahwa pertarungan dipilkada DKI kali ini memang akan menjadi sulit karena kekuasaan masih didominasi oleh petahana, pejabat yang masih bisa menjabat lagi ditambah lagi sang petahana mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat. Maka pertarungan pilkada DKI ini memamg kental dan sarat nuansa pilitik, dimana dibalik semua ini ada dominasi kekuatan pusat yang masih menginginkan pucuk pimpinan dipegang oleh kelompok mereka. Lain cerita jika sang petahana sudah tidak bisa menjabat lagi, masih ada kemungkinan penantang Ahok menang. Nah sekarang sudah jelas kan keliatan, seperti apa sebenarnya pribadi para pasangan calon pemimpin Jakarta. Gak usah pada bingung dan galau lagi dalam memilih, pilih aja mana yang sesuai kata hati nurani anda. Jangan apa yang disebutkan dalam tulisan ini, tulisan ini hanya memberikan masukan saja, sisanya itu terserah anda.


Read More..