Hadits Nabi saw tentang kondisi manusia; "Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya, tentang masa mudanya, digunakan untuk apa, tentang hartanya, dari mana diperoleh dan kemana dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengan ilmunya itu." (HR. Tirmidzi).

Kamis, 27 April 2017

TIGA PERUMPAMAAN CARA TURUNNYA HIDAYAH

Ada sebuah perumpamaan berkenaan dengan cara manusia dalam mendapat hidayah. Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari. Apa ucapan atau hadist dari nabi Muhammad saw yang disampaikan oleh Abu Musa al-Asy’ari? Rasulullah saw bersabda;

“matsaluma baatsaniyallahu bihi minal huda wal ilmi kamatsalin ghaisin ashoba ardha faka nat minha thaifatun thayyibatun qabilatil ma faanbatatil kal awal usbal katsir wakanat minha ajadib amsakatil ma fanafaanallahubihannas fasyaribu minha wasyaqau wazarau wa ashoba thaifatan minha ukhra wahiya ki innama hiyaki an lam tumsiku ma an wala tumbitu kalaa”

Ini hadis yang perlu untuk direnungkan, karena di dalam hadis ini Rasulullah memberikan kita perumpamaan dari segala sesuatu yang setiap hari kita lihat. Apa kata beliau? Sesungguhnya perumpamaan dari hidayah dan ilmu yang diberikan oleh Allah swt kepadaku adalah ibarat hujan yang turun ke bumi. Kalau hujan turun maka ada di antara bagian bumi yang subur tanahnya, tanah yang baik, tanah yang siap menerima curahan hujan tersebut. Tanah yang subur mampu menyerap air hujan, dan tidak lama ia menumbuhkan rumput-rumput dan tumbuh-tumbuhan. Tanah yang tidak subur dan gersang, maka ia akan sulit menyerap air.

Ada juga tanah yang tidak subur tetapi bisa menyimpan air di atas permukaannnya. Seperti embung atau kolam, ia tidak langsung menyerap air tapi mampu menyimpan air tersebut. Sehingga dengan sebab air yang dipelihara oleh tanah tersebut bisa digunakan untuk minum, dan bisa untuk mengairi tanaman.

Ketiga, ada juga tanah yang sekalipun setiap hari diguyur oleh hujan, tapi tidak bisa menyimpan maupun memelihara air, sehingga air mengalir. Tanah apa itu? Tanah yang luar biasa tandus. Tidak bisa menyerap ataupun memelihara air di atasnya. Sehingga air tersebut mengalir terus tidak ada manfaatnya. Itu tanah yang tandus, batu karang, atau batu-batu yang keras, atau pasir-pasir, atau puncak gunung, bagaimana pun banyak curah hujan turun tidak bisa disimpan, mengalir terus. Nah itu permisalan kata rasulullah, ibarat manusia ketika menerima hidayah dari Allah.

Jadi, manusia itu ada tiga macam kata rasulullah saw; nabi Muhammad saw diutus untuk membawa dua hal; yaitu al-huda dan ilmu, al-huda maknanya petunjuk, cahaya penerang di dalam hati kita. Petunjuk itu berada di dalam hati, itu yang pertama dibawa oleh nabi Muhammad saw. Kedua, yang dibawa oleh nabi Muhammad saw adalah ilmu. Nah, jadi yang dibawa oleh Rasulullah saw adalah sesuatu yang menerangi hati kita yaitu iman,dan sesuatu yang menerangi akal pikiran kita, yaitu ilmu pengetahuan. Jadi, inilah dua hal yang harus kita cari, hidayah dan ilmu pengetahuan.

Di dalam hadis ini yang disebut pertama oleh Rasulullah adalah al-huda, artinya petunjuk, iman. Kemudian,yang kedua disebut adalah ilmu pengetahuan. Apa maknanya? Iman atau petunjuk harus lebih dahulu sebelum ada ilmu pengetahuan, harus iman yang lebih dahulu, karena ia yang paling menentukan. Karena banyak dalam kehidupan dunia orang yang memiliki ilmu yang luar biasa tetapi karena tidak diberikan hidayah oleh Allah, ilmunya menjadi tidak bermanfaat.

Jadi, Agama itu ibarat hujan kata rasulullah saw. Hujan menghidupkan bumi tempat manusia, agama turun dari atas, dari Allah swt. Agama mengandung kesucian dan kebersihan, tidak ajaran agama kita yang jelek-jelek. Kita diperintah untuk membersihkan badan kita, diminta kita membersihkan hati kita, rumah kita, semuanya itu bersih, bersih, bersih, itulah ajaran agama. Demikian pula air hujan mengandung air yang bersih.

Kemudian kata ulama, hidayah itu turun untuk semua manusia, tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian pula hujan ketika turun di suatu tempat, ia tidak milih-milih.

Agama islam diibaratkan seperti hujan yang turun ke atas bumi, ada tiga macam manusia di dalam menghadapi cahaya agama; sama seperti bumi yang menghadapi hujan yang turun. Pertama adalah manusia yang sanggup untuk menerima cahaya agama; dia pelajari agama, belajar mengaji, dirikan shalat, ikut berpuasa, suka silaturrahim, suka menuntut ilmu, kemudian sesudah dia punya ilmu, dia ajarkan kepada saudara-saudarnya, itu ibarat tanah yang subur ketika hujan turun dia menyerap air hujan kemudian ia tumbuhkan tumbuh-tumbuhan diatasnya dan memberi manfaat kepada sesama, itu ibarat manusia yang mau menuntut ilmu, kemudian sesudah memiliki ilmu dia mengajarkannya.

Kedua, kata Rasulullah saw, ada juga macam tanah yang tidak bisa menyerap air tetapi ia bisa menahan, nah tanah tersebut ada yang besar dan kecil, ada yang disebut danau, laut, kolam. inilah manusia yang kedua, ia tidak bisa menyerap air, tetapi bisa menahan air, sehingga bisa bermanfaat bagi orang lain. Ini orang yang bermanfaat bagi orang lain, memerintah orang kepada kebaikan tetapi ia sendiri tidak mengerjakannnya.

Kemudian ada tanah yang keras, yang air tidak bisa diserap, atau seperti batu yang tidak bisa menyerap air seperti puncak gunung, itulah model manusia ketiga, walapun sering turun hujan deras, tapi tidak ada air yang bisa diserap, terbuang sia-sia, ibarat orang dikasih tahu dan ajar tetap tidak ada manfaatnya, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

Dari hadis tersebut Rasulullah menyebutkan itulah permasalahan atau perumpamaan orang yang memiliki ilmu sekalipun mengaji sedikit, tapi kemudian itu dimanfaatkan untuk orang lain. Itulah orang-orang yang benar mulia di sisi Allah swt.

Tentunya, Rasulullah menyampaikan hadis tersebut, artinya memperingatkan kita, membuatkan kita perumpamaan yaitu untuk menjadi bahan kita untuk bermuhasabah, yaitu untuk introspeksi diri. Jadi kita harus bermanfaat untuk diri kita dan untuk orang lain. Jangan seperti lilin yang membakar dirinya, itulah perempuan orang berilmu yang tidak mengamalkan dirinya.

Kemudian ada orang yang keras hatinya seperti batu, kalau kita merasa hati kita keras maka mari kita lembutkan dengan banyak-banyak berdzikir, beristigfar, dan bertaubat kepada Allah.

sumber:http://suaranw.com/berita-743-tiga-perumpamaan-manusia-dalam-menghadapi-hidayah.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

MENJUAL AGAMA PADA PENGUASA DISIFATI ANJING DALAM AL QURAN

Pemimpin/Ulama adalah cermin dari umat atau rakyat yang dipimpinnya. Definisi Ulama (wikipedia) adalah pemuka agama atau pemimpin agama ...

Popular Post