Rabu, 24 Mei 2017

Tumbal dalam Dunia Mistis dan Kehidupan

Daging kerbau menjadi rebutan setelah disembelih pada Upacara Karo.
Tumbal adalah korban yang dipersembahkan untuk tercapainya suatu tujuan atau maksud. Entah itu kesuksesan di bidang usaha dan ambisi jabatan, memperoleh ilmu, kekayaan secara pintas, pasangan hidup, dan kebahagiaan keluarga. Tumbal bisa berupa hewan dan manusia. Inilah bedanya dengan sesaji. Sesaji hanya berupa makanan, bunga, kemenyan, dan pakaian.

Tumbal akan sulit dibuktikan bagi mereka yang tidak tertarik akan fenomena ini. Namun bila kita mau membaca majalah atau tabloid kuning, secara nyata terlihat bahwa ini ada dan sering dilakukan sebagian masyarakat kita. Tak terkecuali bagi mereka yang telah memperoleh pendidikan tinggi dan pemeluk agama yang taat.

Fenomena ini dibaca dan dipahami dengan baik oleh kaum paranormal dadakan. Mereka berani memasang iklan dan memasang tarif secara terbuka. Keberhasilan mereka secara ekonomi cukup membuktikan bahwa usaha mereka secara ‘bisnis’ sukses!

Hewan sebagai tumbal.

Tak terlalu sulit untuk menghubungi paranormal yang mau menyatakan kesanggupannya untuk memperlancar suatu tujuan dan ambisi seseorang dengan menyediakan tumbal berupa hewan. Hewan yang dijadikan tumbal biasanya merpati, ayam, kambing, dan kerbau. Sapi jarang dijadikan tumbal karena dalam pengaruh pandangan Hindu, sapi adalah tunggangan Betara Guru. Sedangkan babi, dalam pengaruh Islam merupakan binatang yang diharamkan.

Ritual persembahan tumbal hewan bisa dilakukan dimanapun sesuai dengan petunjuk paranormal yang diyakini. Kadang di tempat keramat, perbatasan kota dan desa, persimpangan jalan yang sering dilalui, punden, dan bahkan di hutan serta sungai.

Seekor kambing yang telah disembelih untuk tumbal dalam Upacara Entas-entas Suku Tengger di Desa Ngadas
Manusia sebagai tumbal.

Membuktikan bahwa adanya manusia sebagai tumbal hidup amat sulit dibuktikan. Manusia sebagai tumbal memang sering dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun apakah ini hanya sekedar isu masyarakat yang kurang paham ataukah isu miring yang dilontarkan oleh seseorang yang tidak senang akan kesuksesan saingannya di bidang usaha dan bisnis serta ambisi jabatan?

Sebagai contoh: seseorang yang sukses namun salah satu keturunannya mengalami cacat fisik, down syndhrome, kecelakaan, atau menderita suatu penyakit yang sulit disembuhkan sering dibicarakan sebagai tumbal!

2 – 3 orang paranormal yang pernah penulis ajak bicara secara diplomatis sambil tersenyum mengatakan: ‘Kalau ada yang bersedia mengorbankan salah satu keluarganya suruh ke sini ....’ Tentu saja penulis tak mau jadi makelar atau perantara.

Manusia mati atau jenazah sebagai tumbal.


Pada daerah tertentu, jika ada seseorang meninggal pada Selawa Kliwon dan Jumat Legi maka makamnya akan dijaga dengan ketat sampai berakhirnya hari itu untuk menjaga agar secuil bagian dari mayat atau kain kafannya tidak dicuri untuk dijadikan tumbal. Tentang hal ini bukan lagi isu atau pembicaraan omongkosong. Bagi mereka yang hidup di pedesaan atau pedalaman sering atau mudah untuk menemukan seseorang yang nekat melakukan hal ini, sekalipun sudah jarang. Jika bertanya apakah hanya jenazah seseorang yang meninggal pada hari tertentu yang bisa dijadikan tumbal. Tentu saja tidak!!!

Manusia sebagi tumbal pembangunan.

Pertengahan tahun 60an, setelah jatuhnya Soekarno dan naiknya Soeharto sebagai presiden serta gaung pembangunan menggema banyak isu penculikan anak untuk dijadikan tumbal pembangunan waduk, jembatan, dan jalan raya. Orangtua sering berpesan kepada anaknya agar berhati-hati jika bertemu dengan mobil bergambar gunting. Apakah ini hanya isu yang dilontarkan lawan politik Soeharto yang sebelumnya berkuasa dan kebetulan saat itu juga sering terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap aktifis dan simpatisan PKI.

Beberapa sesepuh dan pinisepuh atau orang yang ditokohkan, sebenarnya kurang sepakat dengan adanya tumbal, baik hewan apalagi manusia. Memang perlu adanya semacam ritual khusus untuk memohon kelancaran dan keselamatan pembangunan sebuah proyek dengan acara makan bersama atau kembul bujana. Penyembelihan hewan untuk lauk pauk dalam kembul bujana sebagai sarana kebersamaan dan keselamatan bukanlah tumbal pembangunan.

Read More..

Senin, 22 Mei 2017

PESAN DIBALIK "AGAMA WARISAN" AFI

Jika kita ingin memahami apa sebenarnya yang ingin disampaikan Afi dalam tulisan singkatnya bertajuk "agama warisan" yang belakangan ini viral di media sosial. (terlepas dari polemik tulisan itu ternyata plagiasi tulisan orang lain) penulis hanyalah satu dari ribuan orang yang bisa merasakan kegelisan masyarakat lain ketika belakangan ini didengungkan semangat persatuan dalam perbedaan. Penulis hanyalah satu dari ribuan orang yang hanya bisa menuliskan kegelisahannya itu dilaman pribadinya, tanpa mengeharap imbalan/pujian ia mencurahkan apa yang dirasakannya sekedar untuk menumpahkan isi pikiran dan hatinya yang kalut dengan carut-marut kondisi bangsa saat ini.

Inilh fenomena kecerdasan anak milenial, mereka adalah anak-anak yang punya indera sangat tajam dan peka dengan kondisi sosial, mereka bisa mengeluarkan isi hatinya tanpa perlu menodongkan senjata dan tanpa perlu turun ke jalan tetapi berani menujukkan fakta yang menohok beberapa pihak tentang sudut pandangnya, yang mana tidak semua orang setuju dengannya. Tujuan Afi sangat mulia, yaitu ingin menyadarkan kita akan besarnya arti persatuan dan keberagaman, tidak sebatas apa yang ditulis dikitab suci, tetapi itu adalah stempel yang melekat pada diri kita jika kita masih tetap ingin hidup di negeri ini. Lalu apa inti pesan Afi dalam tulisannya tersebut...

Adapun pesan besar yang ingin di sampaikan Afi adalah Bahwa akan menjadi elok jika penduduk muslim masyortas di negeri ini mau merubah cara pandang dan pola pikirnya tentang perbedaan. Diantaranya;
1. Meski menjadi penduduk muslim terbesar, bukan berarti harus memaksakan keyakinan kepada kaum minoritas dengan dalih persatuan.
2. Menghormati perbedaan bukan berarti dengan cara menunjukkan kekuatan massa dan mengendalikan kekuasaan agar tujuan tercapai.
3. Orang islam yang ada di akhir jaman ini kini diberikan tantangan terbesar, yaitu mampukah mereka mengedepankan moral dan akhlakul kharimah, bahwa muslim juga bisa menerima perbedaan tanpa syarat, mengedepankan ukhuah demi perdamaian dunia.
4. Bahwa muslim bisa menghargai keputusan orang lain yang ingin memeluk agama berbeda karena apa yang dipercaya dan di yakininya memang sejak lahir sudah berbeda.
5. Bahwa bagi siapa saja yang tetap berpegang teguh pada keyakinannya yang berbeda dari pendudukan kebanyakan, mereka tidak akan pernah merasakan adanya tekanan dalam menjalankan ibadah ataupun paksaan dalam bentuk apapun.
6. Bahwa pribadi muslim yang paling dibutuhkan saat ini, adalah muslim yang lebih banyak merefleksikan perbaikan diri (intropeksi) dibanding sibuk mencari perbedaan (kekurangan) orang lain, mengutamakan mencari jalan keluar denga musyawarah untuk kepentingan bersama.

Bagaimana caranya agar seorang muslim bisa bertindak dan berperilaku seperti diatas? maka ia harusnya mengamalkan betul apa yang disampaikan sang Khalik dalam firman-Nya;


"Lakum Diinukum wa Liya Diin yang artinya; Untukmu agamamu dan untukku agamaku."
(QS. AL Kafirun:6)"


Rasululah saw pun sudah mengajarkan kita untuk menghormati apapun pilihan setiap orang, tanpa perlu kita ikut campur mempengaruhi ideologi mereka, kita sudah diajarkan untuk bisa menerima perbedaan dengan cara sepenuhnya berserah dan berpasrah diri bahwa satu-satunya dzat yang berhak atas hidayah-Nya hanyalah Allah swt semata. Manusia sama sekali tidak boleh ikut campur dalam hal itu, dan kita selalu saja diingatkan untuk lebih banyak memperbaiki diri (intropeksi) dan meningkatkan iman, bukan mengurusi iman orang lain. Segala bentuk perbedaan dipandang sebagai sebuah khasanah keindahan dan keberagaman yang bisa saling melengkapi.

Satu hal yang harus sama-sama kita cam kan dalam-dalam, bahwa setiap manusia adalah pemimpin, dan pemimpin adalah pemberi peringatan, hanya sebatas pemberi peringatan menuju kebaikan. Semenatra jika dalam kehidupan nyata ada sekelompok orang yang sudah diberikan pemahaman tentang kebenaran dan pilihannya tetap pada pendiriannya berseberangan dengan kebenaran (keyakinan berbeda), maka kita harus kembalikan semua itu kepada Sang pemilik hidup. Apapapun keputusan yang mereka diambil, maka itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing jiwa. Karena Ia pastinya sadar betul dengan segala konsekuensi dari keputusannya itu. Biarkanlah kebenaran hukum di alam akhir itu menjadi milik Tuhan semata. Tugas kita adalah menjalankan saja apa yang diperintahkan dan dilarang sesuai ketentuan-Nya.

Bagi siapa saja yang mengecam tulisan Afi tersebut, maka sebenarnya mereka inilah sekelompok orang yang suka memaksakan kehendak dan tidak mau menghormati perbedaan. Bahwa setiap manusia diciptakan berbeda (warna kulit, ukuran dan bentuk), bahwa setiap orang punya cara pandang yang berbeda, dan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihan. Kelompok ini adalah orang yang merasa diri mereka paling benar dan paling suci dibanding yang lain, dan orang-orang seperti inilah yang pikirannya sempit. Memandang kebenaran hanya dari disisi mereka sendiri, padahal kebenaran hanya datang dari Sang Maha Pencipta. Sang pemilik kebenaranlah yang berhak menentukan mana yang baik dan mana yang tidak. Hanya Tuhan yang Maha mengetahui apa yang ada dalam hati dan jiwa setiap insan. Sementara kebenaran disisi manusia bukan dijadikan alat untuk membenarkan tindakan kekerasan dan kesewenangan terhadap umat lain.

Maka dari itu, dimasa depan, jadilah kita manusia yang lapang dan luas pandangan. Melihat dengan kacamata dunia, bukan dengan kacamata kuda. Lihatlah bahwa dunia ini semakin tua dan semakin membutuhkan sentuhan kelembutan untuk tetap menjaganya stabil dan bukan menggunakan sentuhan kekerasan dan kebencian. Dunia ini akan makin cepat punah jika diisi oleh orang-orang yang kecil pikirannya, semakin sempit cara berpikir, maka semakin sempit dunia ini. Tetapi jika kita berpikir semakin luas, maka meskipun dunia ini sempit, hidup kita akan semakin luas dan berwarna.

Berikut cuplikan tulisan bertajuk "Agama Warisan" Afi Paradisa:

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata, Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka, Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman". Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya". Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa. Tapi tidak, kan? Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama. Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.

Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan. Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan. Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.



Read More..

Senin, 15 Mei 2017

MALAIKAT TAK BERSAYAP DI BUMI ITU DI PANGGIL "IBU"

Benar sekali, malaikat yang di utus Tuhan kebumi untuk melindungi kita selama di dunia itu tidak lain adalah ibu/mama. Mereka adalah wujud nyata keberadaan malaikat yang suci hatinya dan mulia jiwanya di dunia ini, tak perlu anda susah payah mencari, karena mereka akan selalu ada di sisi kita.
Sebagian orang kadang tidak mengerti, mengapa Allah swt memerintahkan untuk menghormati kedua orang tua. Mengapa peran orang tua sangat penting dan perintah kepada semua umat manusia untuk selalu menyayangi keduanya, tanpa kecuali dan tidak peduli apapun alasannya. Hubungan antara anak dan orang tua ini memang unik dan terpendam sebuah khasanah bahwa hubungan anak dan orang tua sangat penting dan tidak bisa digantikan dengan apapun. Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tidak pernah mengenal kata lelah. Seorang ibu akan tetap menyayangi anak-anaknya apapun dan bagaimanapun keadaan anaknya. Seorang ibu tidak akan meninggalkan anaknya walau bagaimanapun kondisi sulit yang harus hadapi. Kondisi ini mengundang Tanya, mengapa bisa seperti itu dan apa sebenarnya yang terkandung dari ikatan itu.

Al-Qur'an sendiri telah memerintahkan, "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dengan dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu,"
(QS. Luqman: 14).

Kondisi yang marak terjadi belakangan ini, dimana ada banyak anak yang menggugat orang tuanya ke pengadilan, karena alasan materi, anak yang membunuh orang tuanya, mengapa hal seperti itu bisa terjadi dan fenomena macam apa yang mendasari tindakan anak seperti itu. Sudah hilangkah nilai-nilai keluarga dimasyarakat atau sebatas fenomena sesaat. Tapi sekali lagi, apapun kesalahan yang dilakukan orang tua dan dianggap salah dimata sang anak, maka kesalahan itu semata-mata berlandaskan rasa kasih sayang orang tua kepada anak. Orang tua punya alasan yang dilandasi kasih sayang yang amat besar kepada anaknya, rasa khawatir dan cemas utamanya menjadi alasan mereka. Dan memang, cara pandang orang tua terhadap anak pasti berbeda, apalagi jika orang tua tersebut sangat mencintai anaknya, maka anak tidak akan memahami nilai kasih sayang yang ingin disampaikan orang tua.

Padahal, Allah sendiri telah menjadikan jiwa seorang ibu mengilhami sifat-sifat malaikat ketika mereka memiliki anak dan keturunan. Bagaimanapun keras kehidupan yang dijalani seorang wanita dimasa lalu, ketika mereka mengandung dan berjuang demi melahirkan anak dari rahimnya, kedalam jiwa sang ibu Allah merahmatinya cinta dan kasih sayang yang amat besar. Dirasukinya jiwa sang ibu menerima kekuatan rasa belas kasih, cinta dan sayang yang amat kuat kedalam hatinya sehingga kelak ia akan bisa menerima dan mau berkorban segala jiwa dan raga untuk kelangsungan hidup anak-anaknya, sebagaimana yang dilakukan para malaikat, setiap jerih upayanya dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Seorang ibu akan bertindak layaknya malaikat yang akan rela mengorbankan segalanya untuk menjaga dan memastikan sang anak tumbuh kembang menjadi anak yang baik, sehat, cerdas, sholeh dan sebagainya. Semua itu adalah bagian dari rahmat dan kasih sayang Allah kepada mahluk yang dinamakan Ibu. Allah swt menginlhamkan rasa kasih sayang sangat besar kepada seorang ibu sebagai bentuk cerminan rasa kasih sayang Allah swt kepada mahluk kecil yang sedang dikandungnya. Berikut ini cuplikan pembicaraan Tuhan kepada calon janin di dalam perut sang ibu, anda mungkin sudah pernah mendengar kisah ini;

Suatu hari sang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Namun, sebelum ditiupkan kerahim ibu, roh bayi tersebut bertanya kepada Allah SWT:
Bayi: "Ya Allah, malaikat bilang bahwa Engkau besok akan mengirim aku ke dunia ya? Apa itu benar?”
Allah SWT: "Iya benar"
Bayi: "Tapi Allah, aku tidak tahu bagaimana cara hidup di sana? aku begitu kecil dan lemah?”
Allah SWT: "Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Ia yang akan menjaga dan mengasihimu"
Bayi: "Tetapi di Surga ini aku sudah bahagia, apa yang kulakukan bernyanyi dan tertawa ini cukup bagiku untuk merasa bahagia.”
Picture Allah SWT: "Kamu tenang saja, Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangatatan cintanya dan lebih berbahagia.”
Bayi: "Lalu apa yang dapat kulakukan saat aku ingin berbicara kepadamu?''
Allah SWT: "Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdo’a."
Bayi: "Aku mendengar kalau di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi saya?"
Allah SWT: “Malaikatmu akan melindungi dengan taruhan jiwanya sekalipun."
Bayi: " Tapi aku kan bersedih karena tak dapat melihat Engkau lagi?"
Allah SWT: "Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang aku dan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaku walaupun sesungguhnya aku selalu berada disisimu."
Saat itu Surga begitu tenangnya dan suara bumit dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya Bayi: “Ya Allah jika aku harus pergi sekarang bisakah engkau memberitahuku siapakah nama malaikat dirumah baruku nanti?”
Allah SWT: "Kamu dapat memanggil nama malaikat itu…IBU


Begitulah kenyataan yang sebenarnya, bahwa seorang wanita akan berubah menjadi malaikat tak bersayap yang bahkan kebaikannya bisa mengalahkan malaikat sekalipun, demi mencapai tingkat tertinggi peradaban manusia.

IBU CERMINAN KASIH SAYANG ILLAHI


Dan sesungguhnya sifat dan sikap seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya inilah juga tercermin dari bagaimana cara Allah swt menyayangi umat-Nya. Allah swt juga akan mencintai umatnya sebagaimana layaknya seorang ibu menyayangi anaknya. Hubungan antara Tuhan dengan umat-nya tidak perlu dikaitkan dengan adanya hubungan darah dan genetika, karena sesungguhnya tidak ada jarak antara sang Pencipta dengan mahluk ciptaan-Nya. Allah swt juga bisa mencintai dan menunjukkan rasa sayang kepada mahluk-Nya sebagaimana besarnya kasih sayang seorang ibu kepada anak-Nya. Allah swt juga akan bersikap sebagaimana yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya. Allah swt juga akan berusaha melindungi mahluk-Nya dengan cara-Nya; melindunginya dari kejahatan, menjaganya dari gangguan, menjauhkannya dari ancaman, dan membimbingnya kepada kebaikan. Semua itu dilandaskan pada keridhoaan orang tua yang menginginkan hal baik berlaku kepada anaknya.

KASIH SAYANG TANPA BATAS

Ketika Allah sudah menyayangi mahluk-nya; maka apapun akan dilakukan untuk membuat mahluk kecintaannya itu tidak terluka, tidak tersakiti, tidak merasakan gangguan dan tekanan melalui pancaran kasih sayang orang tua. Sebagaimana ungkapan cinta seorang ibu kepada anaknya, Allah swt juga memiliki rasa cinta dan sayang yang sama dengan yang dimiliki seorang ibu. Allah swt juga akan memberikan apapun yang diinginkan mahluk-Nya, akan mengabulkan segala permintaannya, akan memenuhi semua kebutuhannya, semua itu semata-mata karena rasa sayang Allah swt yang amat sangat kepada mahluk-Nya yang mau menjaga kedua orang tuanya.

Sebagian orang mungkin tidak mengerti bahwa allah swt juga suka diperlakukan istimewa oleh mahluk-Nya. Ketika seorang anak manusia memiliki rasa ketergantungan yang amat kuat kepada Tuhannya, si fulan tidak pernah meninggalkan Tuhannya, menjalankan perintah dan menjauhi larangannya dengan tulus iklas, segala urusan diserahkan kepada illahi, selalu bersyukur dengan pemberian yang sedikit, tidak pernah mengeluh, tidak suka menuntut, menjaga kedua orang tuanya dengan baik, dan tidak pernah mencari penolong lain selain-Nya, selalu berusaha sekuat tenaga dalam hidup dan pasrah kepada ketentuan-Nya. Ketika seorang hamba menunjukkan sikap yang selalu sabar dan tawakal kepada-Nya, maka semakin Allah swt mencintainya. Allah juga akan memberikan banyak signal dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang dapat dimaknai bahwa peringatan itu adalah sebagai bagian dari pertanda Allah yang selalu ada di dekatnya. Bahwa Allah swt sangat mencintai dan menyayanginya, maka Allah akan memberikan signal-signal khusus agar hamba-Nya tidak terlalu larut dalam kesedihan dan terlalu jauh dari jangkauan-Nya. Dengan menghadirkan berbagai peristiwa menakjubkan dan diluar nalar dan kemampuan manusia. Allah selalu menunjukkan kebesaran kuasa-Nya kepada hamba-Nya dengan cara membuat hamba-Nya semakin yakin bahwa Allah swt adalah dekat dan akan selalu bersamanya. Itulah gambaran kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Maukah kalian aku tunjukkan dosa yang paling besar di antara dosa - dosa besar?" Beliau mengulang pertanyaan ini hingga tiga kali. Para sahabat menjawab, "Ya, kami mau wahai Rasulullah." Rasulullah berkata, "Jangan kalian sekutukan Allah dan janganlah berbuat durhaka terhadap orang tua kalian."

ANAK GUGAT ORANG TUA KE PENGADILAN


Adapun banyaknya kasus anak yang mengugat orang tuanya di pengadilan, atau anak yang membunuh orang tua, maka itu adalah salah satu bentuk telah hilangnya rasa percaya anak kepada orang tua mereka, yang disebabkan karena banyak faktor. Salah satunya adalah keserakahan terhadap dunia, si anak sudah digelapkan mata hatinya oleh keindahan dunia, sehingga apa yang dilihatnya tidaklah pernah cukup dan apapun usaha yang dilakukannya tidak pernah bisa memuaskannya, maka ia menganggap orang tuanya yang lemah bisa dijadikan sasaran pelampiasan, karena tahu orang tuanya tidak akan menolak, orang tua pasti akan menuruti apa saja yang diinginkannya.

Pola asuh yang terlalu memanjakan anak semasa kecil, membuat anak merasa besar kepala dan bisa meminta apa saja yang diinginkan, karena sang ibu sangat menyayanginya dan pasti akan memberikan apapun keinginannya. Pola asuh ini terbawa terus hingga dewasa, dan tetap dengan pola yang sama seakan mereka sedang merengek dibelikan sesuatu, tetapi karena orang tua yang sudah renta dan tidak bisa lagi memenuhi permintaannya, maka si anak menganggap orang tua mereka sudah tidak sayang lagi kepada mereka, maka dengan cara melayangkan sebuah gugatan dianggap akan bisa menyedot perhatian public dan membuat opini bahwa orang tuanya telah berlaku tidak adil kepada mereka. Ini adalah salah satu bentuk upaya mencari perhatian dan simpati public untuk membenarkan tindakan mereka.

Padahal apa yang dilakukannya itu sesungguhnya akan segera mendatangkan murka Allah swt, ketika orang tua sudah merasa hatinya terguncang dan terpojok, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, lalu mereka memilih mengadukannya kepada Allah swt, maka seketika doa itu akan didengar oleh Sang Khalik, dan akhirnya dikabulkan Allah swt tanpa menunggu tenggat waktu.

Peristiwa ini pernah sama-sama kita saksikan terjadi dalam sejarah yaitu legenda Malin Kundang, peristiwa sejarah di Sumatera Barat itu menjadi saksi nyata telah terjadinya tindak durhaka anak kepada orang tua, dimana ketika orang tua sudah tidak merasa ikhlas telah mengandung 9 bulan dan telah menyusui anaknya dari air susunya, air mata telah jatuh ke bumi, maka seketika langit terbelah lalu kilat menyambar si anak Malin Kundang, seketika ia berubah menjadi sebongkah batu dalam keadaan sedang membungkukkan badan sebagai bentuk permintaan maaf anak kepada ibunya namun semua itu sudah terlambat. Permohonan maaf itu tidak sempat menghalangi kemarahan langit dan bumi, Sumpah telah terucap dan langit telah runtuh. Ini bukan sekedar legenda penghantar tidur, karena bukti keberadaan batu Malin Kundang itu memang ada.


Inilah sebabnya mengapa dalam banyak firman-Nya Allah selalu berpesan bahwa murkanya Allah adalah murkanya orang tua. Ridho-Nya Allah swt adalah ridhonya orang tua (HR al-Hakim). Ketika orang tua merasakan dirinya tersakiti, terpojok dan terguncang jiwanya, akibat ulah anak yang selama ini disayanginya membuat hatinya hancur berkeping-keping, bersedih dan terluka, akhirnya ia merasa telah menyesal melahirkan anak yang sudah dibesarkannya. Lalu dalam hatinya ia mengucapkan kalimat amarah dengan sangat kerasnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Karena bagaimanapun, semarah-marahnya orang tua, maka itu tidak akan sampai ia masukkan kedalam lubuk hati terdalam, tetapi jika kemarahan itu sudah sampai merasuk kedalam jiwanya, maka segala ungkapan jiwa dan perasaannya itu langsung terhubung dengan Sang Khalik sebagai pemberi rahmat dan kasih sayang. Dan cerminan kemarahan sang ibu juga bisa menjadi awal kemarahan Tuhan.

Allah swt sebagai sang pemberi cinta dan kasih sayangpun, tidak akan tega melihat kesedihan yang diderita sang ibu, melihat sang ibu meratap dan menangis tersedu-sedu menghadapi tingkah laku anaknya yang tega ingin menjebloskan dirinya ke penjara. Padahal selama hidupnya, seluruh jiwa dan raganya dikorbankan untuk kelangsungan hidup anaknya. Tetapi apa yang diterimanya sungguh amat menyakitkan. Dalam hal ini, siapapun yang mendengar keluh kesah dan tangisan si ibu, pasti tidak akan kuasa ingin segera menurunkan balasan bagi sang anak durhaka itu. Dan bagi Allah bukan hal sulit untuk segera menimpakan petaka pada anak yang telah mengakibatkan hati seorang ibu tersakiti. Seorang ibu yang terluka hatinya, ini sama artinya ia telah menyerahkan kembali segala kuasa kasih sayang yang pernah dititipkan Sang Khalik.

Seorang ibu sudah tidak sanggup lagi memikul beban tanggung jawab sebagai perantara pemberi kasih sayang kepada mahluk-Nya, beban itu dikembalikan lagi kepada sang pemberi kasih, yaitu Allah swt. Dan ketika seorang ibu meminta ditegakkannya keadilan atas segala hal yang telah dideritanya, tidak ada hal lain selain Allah swt akan mensegerakan turunnya azab. Karena si anak dianggap tidak bisa memahami ada kuasa Allah atas dirinya di tangan ibunya. Bertindak semena-mena kepada ibunya, maka sang anak dianggap telah melampui batas kesanggupan ibu menahan sakit dan penderitaan, yang seharusnya hal itu sama sekali tidak terjadi. Rasa sakit itu tidak sanggup lagi ditahan sebagai mahluk biasa, maka kesakitannya itu seketika akan menggetarkan langit dan bumi. Atau tindakan itu sama saja manusia telah menyakiti mahluk-Nya yang paling mulia di hadapan Allah yaitu malaikat-Nya.

Dan itulah sebabnya ada pepatah lama mengatakan, bahwa Syurga itu ada di telapak kaki ibu. Dimana nasib seorang anak dihari akhir akan ditentukan dari pengabdian anak kepada orang yang bernama ibu. Jika seorang ibu merasa ridho dengan anak, maka ini akan menjadi pertanda baik dimana ia akan bisa mencium baunya syurga. Tetapi jika sang anak telah melukai hati ibunya dan sang ibu tidak merasa ikhlas dengan apa yang sudah diperbuat anak terhadap dirinya, maka jangan mengharap syurga akan menjadi miliknya.

Dalam salah satu hadist menyebutkan, "Keridhaan Allah terkait dengan keridhaan kedua orang tua dan murka Allah terkait pada murka kedua orang tua." (HR al-Hakim).

Maka dari itu, jika anda masih berada di dekat sang ibu, jadikanlah ia sebagai jalan untuk menggapai surga-Nya. Baik surge di dunia dan surge di akhirat. Jadikanlah beliau bagian hidup anda yang tidak akan pernah bisa tergantikan keutamaannya. Karena walau anda mencuci kaki ibu setiap hari, atau memberikannya harta berlimpah selama hidupnya, tetapi jika sekali saja anda pernah membuat ibu anda menangis, bisa jadi tangisannya itu belum bisa menghapus kesedihannya dan si hari akhir kelak itu akan menjadi penghalang anda memasuki syurga-Nya. Pastikan betul selama hidupnya bahwa ia tidak pernah menaruh kesal kepada anda, selesaikan semua masalah sekecil apapun, kita semua hanya manusia biasa yang kadang suka menyakiti orang yang kita anggap lemah. Kita kadang suka mencari pembenaran atas kehendak pribadi dengan cara mencari kambing hitam atas hal buruk yang sedang menimpa diri kita, dan itu sangat mudah dilampiaskan kepada orang yang paling dekat dengan kita yaitu ibu.

Kadang tidak sadar timbul rasa marah tetapi tidak bisa diungkapkan karena ada rasa bersalah dan menganggap sebuah masalah hubungan antara anak dan orang tua bersifat sepele atau menganggap konflik antara anak dan orang tua bisa selesai semudah membalikkan telapak tangan, padahal justru konflik antara kedua pihak ini yang paling sulit dan rumit diurai di pengadilan akhirat kelak. Sedikit saja ada perasaan kecewa terbesit di hati ibu, bisa menjadi batu ganjalan seorang anak masuk syurga walaupun selama hidupnya ia rajin beribadah dan selalu berbuat baik dengan sesama. Nasib seorang anak benar-benar ada di tangan ibunya dalam hal keikhlasan ibu memberikan kasih sayang dan dalam hal anak mengabdi kepada orang tua.

Cobalah sekali waktu anda pandangi wajah orang tua anda dengan penuh kasih, tataplah matanya dengan kelembutan, rasakan pancaran kasihnya yang mengelilingi jiwanya, dapatkah anda merasakan getaran kasih dan sayang yang amat dalam dari dalam lubuk hatinya. Untuk mengetahui seberapa besar rasa sayang orang tua anda, maka tataplah bola mata anak-anak anda dengan kesejukan, apa yang anda rasakan maka seperti itulah rasa sayang orang tua anda kepada anda. Rasa apapun yang timbul dari orang yang bernama orang tua kepada anaknya maka seperti itulah wujud sayang Allah kepada kita. karena itulah cermin kehidupan. Apa-apa yang terjadi pada diri anda maka itu juga yang dirasakan oleh orang tua dan akan dirasakan oleh anak-anak anda kelak. Bagaimana anda memperlakukan orang tua anda hari ini, maka itulah juga yang akan anda rasakan manakala anak anda dewasa nanti. Anak anda yang akan mencontoh setiap tindak tanduk anda dan sebagaimana yang dirasakan orang tua anda saat ini, anda juga akan menerima perlakukan yang sama dari anak-anak anda.

"Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berhak menerima baktiku?" Nabi SAW pun menjawab, "Ibumu." Sahabat Rasul bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi, ya Rasulullah?" Nabi Menjawab, "Ibumu." "Kemudian siapa lagi, ya Rasulullah?" Nabi menjawab, "Ibumu." Kemudian siapa lagi, ya Rasulullah?" Nabi menjawab, "Ayahmu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka dari itu jika memang kita ingin diperlakukan baik oleh anak-anak kita kelak, mulailah dengan diri sendiri berbuat baik kepada orang tua saat ini. Anak anda adalah pantulan cermin kehidupan anda yang juga akan melakukan hal sama kepada anda kelak. Itulah hikmah sebenarnya mengapa Allah meminta kita untuk mencintai orang tua terutama ibu, karena ditangan ibulah kita dicetak menjadi manusia yang lebih baik dari dirinya sendiri dan ditangan seorang ibulah Allah swt meletakkan kuasa kasih sayang-Nya agar ikatan anak dan orang tua selalu harmonis dan abadi.


Read More..

Minggu, 14 Mei 2017

Peneliti Temukan Bakteri Usus yang Bisa Picu Stroke



REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah penelitian berhasil menemukan hubungan kondisi usus dengan penyakit di otak. Para peneliti meyakini, penyebab kelainan pembuluh darah di otak berkaitan dengan koloni bakteri di perut.

Malformasi ini dapat menyebabkan stroke yang dikenal dengan istilah Malformasi Kavernosa Serebral (CCM). Hal ini pun tidak memberikan pasien banyak pilihan. Jika operasi tidak bisa dilakukan, pasien harus masuk dalam perawatan paliatif.

Akan tetapi, dengan mengetahui penyebab kelainan ini bisa mewujudkan upaya perawatan yang bisa mencegah sebelum penyakit itu terjadi. Dikutip dari Science Alert sebuah tim yang dipimpin oleh peneliti dari University of Pennsylvania mengkaji tikus hasil rekayasa genetika yang cenderung mengembangkan lesi vaskular di otak mereka.

Kajian sebelumnya menunjukkan, kondisi yang diwariskan dapat disebabkan oleh mutasi yang menghancurkan gen tertentu. Gen ini biasanya akan menekan sinyal utama yang mempengaruhi pertumbuhan sel otak yang membentuk dinding pembuluh darah.

Penemuan ini memberikan cara untuk mengidentifikasi mereka yang berisiko mengembangkan CCM. Saat ini memang belum ada obat yang bisa menggantikan peran gen yang hilang. Penelitian ini pun diharapkan bisa menjadi pijakan untuk melakukan lompatan jauh ke depan.

Read More..

Kamis, 11 Mei 2017

PENDUKUNG AHOK HANYA "GEROMBOLAN LEBAY", DICUEKIN AJA PA HAKIM!

Hampir semua media mainstream (pendukung Ahok) memberitakan bagaimana sedihnya para pendukung AHok yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Hakim memutuskan AHok bersalah dan wajib di ganjar hukuman penjara 2 tahun. Para pendukung ini datang dari berbagai kalangan yang menganggap hukuman itu tidak pantas diberikan kepada ahok yang selama ini yang sudah banyak berkontribusi terhadap kota jakarta. Tanpa memperhatikan akibat kegaduhan yang ditimbulkan kasus ahok ini, para pendukung ini hanya memandang kebenaran secara sepihak, lalu bertingkah melampaui batas alias berlebihan. Dan lihatlah apa yang dilakukan para pendukung ahok ini, mereka bersikap seolah-olah korban dan memohon belas kasihan dengan berbagai aksi menarik perhatian publik; karangan bunga, lilin, tangkai bunga dsb.

Tidak bisa menjadi manusia yang siap menerima kenyataan bahwa di muka hukum AHok memang terbukti bersalah dan harus diberikan sanksi dan hukuman yang setimpal sesuai kegaduhan yang ditimbulkannya sudah membuat bangsa ini kehilangan banyak energi, berbulan-bulan kita hanya sibuk memperhatikan kasus satu orang ini, padahal ini hanya permasalahan satu orang dan sengaja dibesar-besarkan, seakan-akan bangsa ini tidak ada permasalahan lain selain masalah AHok ini. Orang tidak lagi memperhatikan mega kasus E-KTP, pembubaran HTI, kasus penyiraman Air keras penyidik KPK NOvel BAswedan dan sebagainya. Semua itu adalah kasus-kasus besar yang harusnya bisa kita kawal hingga tuntas. Tapi faktanya kita di buat lupa bahwa bangsa ini sangat besar dan masih ada banyak masalah lain yang harusnya bisa menjadi pusat perhatian kita, semua itu tenggelam karena kasus satu orang ini.

Dalam situasi ini kami menyebut perilaku pendukung AHok ini "LEBAY", kenapa lebay, karena itu sesuai dengan cerminan tingkah laku pendukung yang berlebihan dan melampaui batas. Menurut kamus wikipedia, Definisi Lebay adalah...Lebay/Alay merupakan sekelompok minoritas yang mempunyai karakterisitik unik di mana penampilan dan bahasa yang mereka gunakan terkadang menyilaukan mata dan menyakitkan telinga bagi mayoritas yang tidak terbiasa bersosialisasi dengannya. "Alay" merupakan singkatan dari "anak layangan"atau "anak lebay".[1] Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan.[2] Selain itu, alay merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan (lebay) dan selalu berusaha menarik perhatian.

Sikap para pendukung yang berlebihan sengaja dilakukan dalam rangka menarik perhatian orang banyak agar timbul simpati dan keraguan terhadap sistem peradilan dan hukum negara. Kondisi ini amat sangat disayangkan, jika kita kembali lagi harus mengkounter kasus ini dari awal. Bahwa segala macam tuntutan pendukung untuk membebaskan Ahok justru akan menimbulkan masalah baru dimasyarakat. Sudah pasti akan ada lebih banyak orang yang akan menolak keinginan tersebut dan akan menjegal berbagai upaya itu, lalu terjadilah benturan besar. Apakah hal seperti itu yang kita inginkan. Jangan hanya karena "nila setitik rusak susu sebelanga", harusnya semua orang ingat dengan pepatah tua ini. Atau ada juga pepatah barat berkata, "jika tidak ada keadaan darurat, sebaiknya jangan pernah sengaja diciptakan."

Maka dari itu berpikirlah dahulu sebelum bertindak, jangan hanya karena kesalahan satu orang satu negara harus berhadap-hadapan. Ikuti saja aturan hukumnya, toh tim kuasa AHok juga sudah mengajukan banding. Nanti jika disetujui hakim, kemungkinan hukuman AHok akan berkurang menjadi satu tahun, dan jika selama setahun ia berkelakuan baik, bisa saja ia sudah keluar dari penjaran dalam waktu enam bulan. Apa salahnya bagi AHok menerima hukuman hanya setengah tahun dari yang seharusnya 5 tahun, itukan sama sekali tidak akan membunuh AHok. Hukuman itu diberikan untuk memberikan efek jera, agar Ahok tidak mengulangi kesalahannya lagi dan ini untuk memberinya pelajaran berharga dimasa-masa berikutnya. Setelah masa hukumannya, siapa tahu nanti ia akan kembali menjabat dan bekerja kembali. Sebagaimana kasus yang pernah menimpa Ariel Peterpan kala itu, di saat itu juga para pendukung Ariel melakukan hal yang sama, tetapi Ariel tetap harus melalui masa tahanannya selama 4 tahun, tidak ada masalah, dan justru karir Ariel makin cemerlang dan Ariel kembali dengan pribadi yang matang. Disitukan ada hikmah yang bisa diambil oleh semua orang, membawa kebaikan bagi semua.

Hal-hal seperti itu kan harusnya bisa mengerti dan tidak perlu dibesar-besarkan oleh gerombolan lebay, yang dalam orasinya selalu membawa-bawa masalah disintegrasi bangsa. Seakan-akan tindakan hakim ini akan mengancam perpecahan di masyarakat. Dangkal sekali cara berpikir masyarakat seperti itu, justru orang-orang ini yang sebenarnya tidak punya rasa cinta tanah air, hanya karena kesalahan seorang, buru-buru membunyikan genderang perang. Orang-orang seperti ini yang justru berbahaya bagi bangsa, mereka mengatasnamakan kepentingan bangsa untuk menyelamatkan satu orang dengan cara memecah belah. Lah, apakah ahok ini bisa mempersatukan bangsa ini lagi, jika geromblan lebay itu sudah berhasil memecah belah bangsa ini?

Tolonglah jangan gegabah dalam berbicara dan bertindak, kita sebagai warga yang baik harusnya memberikan dukungan kepada pemerintahan, bukannya malah ingin mengadudomba antar masyarakat. Sudah cukup semua masalah ini diselesaikan dengan cara hukum sebagaimana yang diinginkan semua pihak di awal. Kan kita semua sudah sepakat bahwa ini akan diselesaikan secara hukum/pengadilan dan sudah diputuskan hasilnya, maka semua pihak harusnya berbesar hati apapun hasilnya. Maka disitulah tegaknya panglima hukum, jika hasil ini masih tidak puas kan masih bisa ditempuh jalur banding, semua sudah ada mekanismenya. Bukan dengan cara menghujat rezim Jokowi lebih buruk dari rezim SBY dsb, tindakan itu sama dengan menginjak-injak sistem hukum negara ini.

Dan sesungguhnya moment2 krusial seperti ini yang paling ditunggu dunia internasional untuk masuk dan mengobrak-abrik bangsa ini. Inilah pintu masuk paling cepat menghancurkan bangsa ini, perpecahan antar masyarakat. Tidak membutuhkan senjata dan pasukan tentara, dalam sekejap bangsa ini akan membakar dirinya sendiri dengan kebencian dan perpecahan, sudah ada banyak contohnya bung. Indonesia ini bukan Jakarta, tetapi Jakarta ini hanya salah satu kota dari puluhan kota lain yang juga punya masalah dan harus segera diselesaikan. Jangan bersikap berlebihan dan suka mengadu domba, jika kita tidak mau berakhir sebagai bangsa yang hancur di tanah sendiri.


Read More..

Rabu, 03 Mei 2017

"MEMBERI MAAF" LEBIH MULIA DI SISI ALLAH SWT

JIKA MASIH ADA...
Jika masih bisa kita memberi maaf, maka berikanlah maaf itu kepada siapa saja yang sudah mengaku melakukan kesalahan dan kekhilafan, karena sesungguhnya manusia memang tidak pernah luput dari salah. Bahkan kita sendiripun kadang melakukan kesalahan baik sengaja ataupun tidak sengaja kepada Allah swt, tetapi ALlah swt selalu membukakan pintu maaf-Nya sebagai bentuk kasih sayang-Nya dan memberi peringatan kepada kita agar tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Sebagaimana firman_nya berikut ini:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” - (QS. Al-Imran: 133-134)

Maka dari itu, kedudukan orang yang mau memberi maaf kepada orang lain adalah mulia di hadapan ALlah swt, karena Allah swt yang Maha Tinggi saja mau memaafkan hamba-Nya, apalah lagi kita yang hanya manusia biasa. Ambilah pelajaran berharga itu untuk dijadikan bekal bagi kita untuk lebih meningkatkan iman dan taqwa, janganlah kita menuruti kehendak hawa nafsu dan mengikuti langkah-langkah syetan karena itu adalah bagian dari pertanda orang yang bodoh dan tersesat. Berikut seruan firman-Nya:

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” - (QS. Al-A'raf : 199)

Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa.” - (QS. An-Nisa : 149)


UJIAN KESABARAN


Semua peristiwa ini adalah bagian dari cobaan kita, dengan adanya kejadian ini bisa membuat mata kita terbuka dan kita jadi lebih mengerti bahwa semua ini merupakan bagian dari cobaan atas kesabaran kita. Tidak ada satupun umat yang tidak diberikan cobaan terkait keimanannya, cobaan kemampuan memberi maaf juga bagian dari perintah Allah swt agar manusia mau mengambil hikmah, walaupun itu mungkin sangat sulit dilakukan, tetapi seperti itulah cara Allah ingin menaikkan derajat manusia, dimana manusia tidak pernah sama dengan binatang yang suka membalas dendam, dan melampias kan amarahnya sesuka hati, melainkan manusia beriman dan berakhlak mulia adalah mahluk yang bisa memberi maaf kepada sesama.

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” - (QS. Al-Baqarah : 263)

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” - (QS. Asy-Syura : 43)

HADIAH KELULUSAN UJIAN

Atas usaha kita ini semoga Allah juga membukakan pintu maaf-Nya kepada kita semua, dengan memberikan rahmat dan karunia yang tidak putus-putus dan tidak ada habisnya. Ujian dan cobaan diberikan untuk membuat kita semakin dewasa dan kuat menghadapi berbagai tantangan ke depan. Masih ada banyak persoalan yang akan datang nanti dan kita harus selalu siap menghadapinya dengan penuh kesabaran.

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” - (QS. Hud : 3)

Maka cukuplah sudah semua ini, menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, ada baiknya kita bersegera membersihkan diri dari berbagai penyakit hati; iri, dengki hasud dan amarah.

Bersegeralah mensucikan diri, membersihkan hati dari perasaan dendam dan amarah, jika tidak, semua itu akan menghalangi kita dari nikmat dan rahmat-Nya. Jangan kita menghabiskan waktu dan energi untuk hal-hal yang bisa menghalangi kita dari nikmatnya ibadah kepada-Nya. Lets Move on wan... kepada yang lebih diridhoi. Mari kita mulai mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang suci, dan berharaplah datang-Nya rahmat-Nya dengan segenap hati. Semoga Allah mengampuni semua dosa dan kesalahan kita.

Pepatah lama pernah berkata: "Ada banyak pemberani di suatu negeri, tetapi tidak ada banyak pemberi maaf di saat ini." Maksudnya, Jumlah orang yang berani dan berjiwa kesatria mungkin ada banyak, tetapi tidak banyak di antara mereka adalah orang yang mudah memberi maaf dan mau mengampuni lawannya. Padahal orang yang mau memberi maaf kedudukannya jauh lebih tinggi dan mulia, karena kerelan dan kepasrahannya diserahkan seutuhnya kepada sang Khalik, bukan kepada kekuatan fisik manusia.

"Hanya orang-orang yang berhati besar dan sudah menggapai derajat tinggi yang bisa melakukan hal ini, yaitu memberi maaf kepada musuhnya. Sementara yang belum adalah orang-orang yang masih dalam tahap mencari jati diri dan hanya rasulullah saw yang paling mulia akhlaknya."

Read More..