Hadits Nabi saw tentang kondisi manusia; "Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya, tentang masa mudanya, digunakan untuk apa, tentang hartanya, dari mana diperoleh dan kemana dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengan ilmunya itu." (HR. Tirmidzi).

Senin, 22 Mei 2017

PESAN DIBALIK "AGAMA WARISAN" AFI

Jika kita ingin memahami apa sebenarnya yang ingin disampaikan Afi dalam tulisan singkatnya bertajuk "agama warisan" yang belakangan ini viral di media sosial. (terlepas dari polemik tulisan itu ternyata plagiasi tulisan orang lain) penulis hanyalah satu dari ribuan orang yang bisa merasakan kegelisan masyarakat lain ketika belakangan ini didengungkan semangat persatuan dalam perbedaan. Penulis hanyalah satu dari ribuan orang yang hanya bisa menuliskan kegelisahannya itu dilaman pribadinya, tanpa mengeharap imbalan/pujian ia mencurahkan apa yang dirasakannya sekedar untuk menumpahkan isi pikiran dan hatinya yang kalut dengan carut-marut kondisi bangsa saat ini.

Inilh fenomena kecerdasan anak milenial, mereka adalah anak-anak yang punya indera sangat tajam dan peka dengan kondisi sosial, mereka bisa mengeluarkan isi hatinya tanpa perlu menodongkan senjata dan tanpa perlu turun ke jalan tetapi berani menujukkan fakta yang menohok beberapa pihak tentang sudut pandangnya, yang mana tidak semua orang setuju dengannya. Tujuan Afi sangat mulia, yaitu ingin menyadarkan kita akan besarnya arti persatuan dan keberagaman, tidak sebatas apa yang ditulis dikitab suci, tetapi itu adalah stempel yang melekat pada diri kita jika kita masih tetap ingin hidup di negeri ini. Lalu apa inti pesan Afi dalam tulisannya tersebut...

Adapun pesan besar yang ingin di sampaikan Afi adalah Bahwa akan menjadi elok jika penduduk muslim masyortas di negeri ini mau merubah cara pandang dan pola pikirnya tentang perbedaan. Diantaranya;
1. Meski menjadi penduduk muslim terbesar, bukan berarti harus memaksakan keyakinan kepada kaum minoritas dengan dalih persatuan.
2. Menghormati perbedaan bukan berarti dengan cara menunjukkan kekuatan massa dan mengendalikan kekuasaan agar tujuan tercapai.
3. Orang islam yang ada di akhir jaman ini kini diberikan tantangan terbesar, yaitu mampukah mereka mengedepankan moral dan akhlakul kharimah, bahwa muslim juga bisa menerima perbedaan tanpa syarat, mengedepankan ukhuah demi perdamaian dunia.
4. Bahwa muslim bisa menghargai keputusan orang lain yang ingin memeluk agama berbeda karena apa yang dipercaya dan di yakininya memang sejak lahir sudah berbeda.
5. Bahwa bagi siapa saja yang tetap berpegang teguh pada keyakinannya yang berbeda dari pendudukan kebanyakan, mereka tidak akan pernah merasakan adanya tekanan dalam menjalankan ibadah ataupun paksaan dalam bentuk apapun.
6. Bahwa pribadi muslim yang paling dibutuhkan saat ini, adalah muslim yang lebih banyak merefleksikan perbaikan diri (intropeksi) dibanding sibuk mencari perbedaan (kekurangan) orang lain, mengutamakan mencari jalan keluar denga musyawarah untuk kepentingan bersama.

Bagaimana caranya agar seorang muslim bisa bertindak dan berperilaku seperti diatas? maka ia harusnya mengamalkan betul apa yang disampaikan sang Khalik dalam firman-Nya;


"Lakum Diinukum wa Liya Diin yang artinya; Untukmu agamamu dan untukku agamaku."
(QS. AL Kafirun:6)"


Rasululah saw pun sudah mengajarkan kita untuk menghormati apapun pilihan setiap orang, tanpa perlu kita ikut campur mempengaruhi ideologi mereka, kita sudah diajarkan untuk bisa menerima perbedaan dengan cara sepenuhnya berserah dan berpasrah diri bahwa satu-satunya dzat yang berhak atas hidayah-Nya hanyalah Allah swt semata. Manusia sama sekali tidak boleh ikut campur dalam hal itu, dan kita selalu saja diingatkan untuk lebih banyak memperbaiki diri (intropeksi) dan meningkatkan iman, bukan mengurusi iman orang lain. Segala bentuk perbedaan dipandang sebagai sebuah khasanah keindahan dan keberagaman yang bisa saling melengkapi.

Satu hal yang harus sama-sama kita cam kan dalam-dalam, bahwa setiap manusia adalah pemimpin, dan pemimpin adalah pemberi peringatan, hanya sebatas pemberi peringatan menuju kebaikan. Semenatra jika dalam kehidupan nyata ada sekelompok orang yang sudah diberikan pemahaman tentang kebenaran dan pilihannya tetap pada pendiriannya berseberangan dengan kebenaran (keyakinan berbeda), maka kita harus kembalikan semua itu kepada Sang pemilik hidup. Apapapun keputusan yang mereka diambil, maka itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing jiwa. Karena Ia pastinya sadar betul dengan segala konsekuensi dari keputusannya itu. Biarkanlah kebenaran hukum di alam akhir itu menjadi milik Tuhan semata. Tugas kita adalah menjalankan saja apa yang diperintahkan dan dilarang sesuai ketentuan-Nya.

Bagi siapa saja yang mengecam tulisan Afi tersebut, maka sebenarnya mereka inilah sekelompok orang yang suka memaksakan kehendak dan tidak mau menghormati perbedaan. Bahwa setiap manusia diciptakan berbeda (warna kulit, ukuran dan bentuk), bahwa setiap orang punya cara pandang yang berbeda, dan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihan. Kelompok ini adalah orang yang merasa diri mereka paling benar dan paling suci dibanding yang lain, dan orang-orang seperti inilah yang pikirannya sempit. Memandang kebenaran hanya dari disisi mereka sendiri, padahal kebenaran hanya datang dari Sang Maha Pencipta. Sang pemilik kebenaranlah yang berhak menentukan mana yang baik dan mana yang tidak. Hanya Tuhan yang Maha mengetahui apa yang ada dalam hati dan jiwa setiap insan. Sementara kebenaran disisi manusia bukan dijadikan alat untuk membenarkan tindakan kekerasan dan kesewenangan terhadap umat lain.

Maka dari itu, dimasa depan, jadilah kita manusia yang lapang dan luas pandangan. Melihat dengan kacamata dunia, bukan dengan kacamata kuda. Lihatlah bahwa dunia ini semakin tua dan semakin membutuhkan sentuhan kelembutan untuk tetap menjaganya stabil dan bukan menggunakan sentuhan kekerasan dan kebencian. Dunia ini akan makin cepat punah jika diisi oleh orang-orang yang kecil pikirannya, semakin sempit cara berpikir, maka semakin sempit dunia ini. Tetapi jika kita berpikir semakin luas, maka meskipun dunia ini sempit, hidup kita akan semakin luas dan berwarna.

Berikut cuplikan tulisan bertajuk "Agama Warisan" Afi Paradisa:

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata, Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka, Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman". Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya". Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa. Tapi tidak, kan? Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama. Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.

Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan. Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan. Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.


Entri yang Diunggulkan

MENJUAL AGAMA PADA PENGUASA DISIFATI ANJING DALAM AL QURAN

Pemimpin/Ulama adalah cermin dari umat atau rakyat yang dipimpinnya. Definisi Ulama (wikipedia) adalah pemuka agama atau pemimpin agama ...

Popular Post