Senin, 15 Mei 2017

MALAIKAT TAK BERSAYAP DI BUMI ITU DI PANGGIL "IBU"

Benar sekali, malaikat yang di utus Tuhan kebumi untuk melindungi kita selama di dunia itu tidak lain adalah ibu/mama. Mereka adalah wujud nyata keberadaan malaikat yang suci hatinya dan mulia jiwanya di dunia ini, tak perlu anda susah payah mencari, karena mereka akan selalu ada di sisi kita.
Sebagian orang kadang tidak mengerti, mengapa Allah swt memerintahkan untuk menghormati kedua orang tua. Mengapa peran orang tua sangat penting dan perintah kepada semua umat manusia untuk selalu menyayangi keduanya, tanpa kecuali dan tidak peduli apapun alasannya. Hubungan antara anak dan orang tua ini memang unik dan terpendam sebuah khasanah bahwa hubungan anak dan orang tua sangat penting dan tidak bisa digantikan dengan apapun. Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tidak pernah mengenal kata lelah. Seorang ibu akan tetap menyayangi anak-anaknya apapun dan bagaimanapun keadaan anaknya. Seorang ibu tidak akan meninggalkan anaknya walau bagaimanapun kondisi sulit yang harus hadapi. Kondisi ini mengundang Tanya, mengapa bisa seperti itu dan apa sebenarnya yang terkandung dari ikatan itu.

Al-Qur'an sendiri telah memerintahkan, "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dengan dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu,"
(QS. Luqman: 14).

Kondisi yang marak terjadi belakangan ini, dimana ada banyak anak yang menggugat orang tuanya ke pengadilan, karena alasan materi, anak yang membunuh orang tuanya, mengapa hal seperti itu bisa terjadi dan fenomena macam apa yang mendasari tindakan anak seperti itu. Sudah hilangkah nilai-nilai keluarga dimasyarakat atau sebatas fenomena sesaat. Tapi sekali lagi, apapun kesalahan yang dilakukan orang tua dan dianggap salah dimata sang anak, maka kesalahan itu semata-mata berlandaskan rasa kasih sayang orang tua kepada anak. Orang tua punya alasan yang dilandasi kasih sayang yang amat besar kepada anaknya, rasa khawatir dan cemas utamanya menjadi alasan mereka. Dan memang, cara pandang orang tua terhadap anak pasti berbeda, apalagi jika orang tua tersebut sangat mencintai anaknya, maka anak tidak akan memahami nilai kasih sayang yang ingin disampaikan orang tua.

Padahal, Allah sendiri telah menjadikan jiwa seorang ibu mengilhami sifat-sifat malaikat ketika mereka memiliki anak dan keturunan. Bagaimanapun keras kehidupan yang dijalani seorang wanita dimasa lalu, ketika mereka mengandung dan berjuang demi melahirkan anak dari rahimnya, kedalam jiwa sang ibu Allah merahmatinya cinta dan kasih sayang yang amat besar. Dirasukinya jiwa sang ibu menerima kekuatan rasa belas kasih, cinta dan sayang yang amat kuat kedalam hatinya sehingga kelak ia akan bisa menerima dan mau berkorban segala jiwa dan raga untuk kelangsungan hidup anak-anaknya, sebagaimana yang dilakukan para malaikat, setiap jerih upayanya dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Seorang ibu akan bertindak layaknya malaikat yang akan rela mengorbankan segalanya untuk menjaga dan memastikan sang anak tumbuh kembang menjadi anak yang baik, sehat, cerdas, sholeh dan sebagainya. Semua itu adalah bagian dari rahmat dan kasih sayang Allah kepada mahluk yang dinamakan Ibu. Allah swt menginlhamkan rasa kasih sayang sangat besar kepada seorang ibu sebagai bentuk cerminan rasa kasih sayang Allah swt kepada mahluk kecil yang sedang dikandungnya. Berikut ini cuplikan pembicaraan Tuhan kepada calon janin di dalam perut sang ibu, anda mungkin sudah pernah mendengar kisah ini;

Suatu hari sang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Namun, sebelum ditiupkan kerahim ibu, roh bayi tersebut bertanya kepada Allah SWT:
Bayi: "Ya Allah, malaikat bilang bahwa Engkau besok akan mengirim aku ke dunia ya? Apa itu benar?”
Allah SWT: "Iya benar"
Bayi: "Tapi Allah, aku tidak tahu bagaimana cara hidup di sana? aku begitu kecil dan lemah?”
Allah SWT: "Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Ia yang akan menjaga dan mengasihimu"
Bayi: "Tetapi di Surga ini aku sudah bahagia, apa yang kulakukan bernyanyi dan tertawa ini cukup bagiku untuk merasa bahagia.”
Picture Allah SWT: "Kamu tenang saja, Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangatatan cintanya dan lebih berbahagia.”
Bayi: "Lalu apa yang dapat kulakukan saat aku ingin berbicara kepadamu?''
Allah SWT: "Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdo’a."
Bayi: "Aku mendengar kalau di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi saya?"
Allah SWT: “Malaikatmu akan melindungi dengan taruhan jiwanya sekalipun."
Bayi: " Tapi aku kan bersedih karena tak dapat melihat Engkau lagi?"
Allah SWT: "Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang aku dan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaku walaupun sesungguhnya aku selalu berada disisimu."
Saat itu Surga begitu tenangnya dan suara bumit dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya Bayi: “Ya Allah jika aku harus pergi sekarang bisakah engkau memberitahuku siapakah nama malaikat dirumah baruku nanti?”
Allah SWT: "Kamu dapat memanggil nama malaikat itu…IBU


Begitulah kenyataan yang sebenarnya, bahwa seorang wanita akan berubah menjadi malaikat tak bersayap yang bahkan kebaikannya bisa mengalahkan malaikat sekalipun, demi mencapai tingkat tertinggi peradaban manusia.

IBU CERMINAN KASIH SAYANG ILLAHI


Dan sesungguhnya sifat dan sikap seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya inilah juga tercermin dari bagaimana cara Allah swt menyayangi umat-Nya. Allah swt juga akan mencintai umatnya sebagaimana layaknya seorang ibu menyayangi anaknya. Hubungan antara Tuhan dengan umat-nya tidak perlu dikaitkan dengan adanya hubungan darah dan genetika, karena sesungguhnya tidak ada jarak antara sang Pencipta dengan mahluk ciptaan-Nya. Allah swt juga bisa mencintai dan menunjukkan rasa sayang kepada mahluk-Nya sebagaimana besarnya kasih sayang seorang ibu kepada anak-Nya. Allah swt juga akan bersikap sebagaimana yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya. Allah swt juga akan berusaha melindungi mahluk-Nya dengan cara-Nya; melindunginya dari kejahatan, menjaganya dari gangguan, menjauhkannya dari ancaman, dan membimbingnya kepada kebaikan. Semua itu dilandaskan pada keridhoaan orang tua yang menginginkan hal baik berlaku kepada anaknya.

KASIH SAYANG TANPA BATAS

Ketika Allah sudah menyayangi mahluk-nya; maka apapun akan dilakukan untuk membuat mahluk kecintaannya itu tidak terluka, tidak tersakiti, tidak merasakan gangguan dan tekanan melalui pancaran kasih sayang orang tua. Sebagaimana ungkapan cinta seorang ibu kepada anaknya, Allah swt juga memiliki rasa cinta dan sayang yang sama dengan yang dimiliki seorang ibu. Allah swt juga akan memberikan apapun yang diinginkan mahluk-Nya, akan mengabulkan segala permintaannya, akan memenuhi semua kebutuhannya, semua itu semata-mata karena rasa sayang Allah swt yang amat sangat kepada mahluk-Nya yang mau menjaga kedua orang tuanya.

Sebagian orang mungkin tidak mengerti bahwa allah swt juga suka diperlakukan istimewa oleh mahluk-Nya. Ketika seorang anak manusia memiliki rasa ketergantungan yang amat kuat kepada Tuhannya, si fulan tidak pernah meninggalkan Tuhannya, menjalankan perintah dan menjauhi larangannya dengan tulus iklas, segala urusan diserahkan kepada illahi, selalu bersyukur dengan pemberian yang sedikit, tidak pernah mengeluh, tidak suka menuntut, menjaga kedua orang tuanya dengan baik, dan tidak pernah mencari penolong lain selain-Nya, selalu berusaha sekuat tenaga dalam hidup dan pasrah kepada ketentuan-Nya. Ketika seorang hamba menunjukkan sikap yang selalu sabar dan tawakal kepada-Nya, maka semakin Allah swt mencintainya. Allah juga akan memberikan banyak signal dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang dapat dimaknai bahwa peringatan itu adalah sebagai bagian dari pertanda Allah yang selalu ada di dekatnya. Bahwa Allah swt sangat mencintai dan menyayanginya, maka Allah akan memberikan signal-signal khusus agar hamba-Nya tidak terlalu larut dalam kesedihan dan terlalu jauh dari jangkauan-Nya. Dengan menghadirkan berbagai peristiwa menakjubkan dan diluar nalar dan kemampuan manusia. Allah selalu menunjukkan kebesaran kuasa-Nya kepada hamba-Nya dengan cara membuat hamba-Nya semakin yakin bahwa Allah swt adalah dekat dan akan selalu bersamanya. Itulah gambaran kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Maukah kalian aku tunjukkan dosa yang paling besar di antara dosa - dosa besar?" Beliau mengulang pertanyaan ini hingga tiga kali. Para sahabat menjawab, "Ya, kami mau wahai Rasulullah." Rasulullah berkata, "Jangan kalian sekutukan Allah dan janganlah berbuat durhaka terhadap orang tua kalian."

ANAK GUGAT ORANG TUA KE PENGADILAN


Adapun banyaknya kasus anak yang mengugat orang tuanya di pengadilan, atau anak yang membunuh orang tua, maka itu adalah salah satu bentuk telah hilangnya rasa percaya anak kepada orang tua mereka, yang disebabkan karena banyak faktor. Salah satunya adalah keserakahan terhadap dunia, si anak sudah digelapkan mata hatinya oleh keindahan dunia, sehingga apa yang dilihatnya tidaklah pernah cukup dan apapun usaha yang dilakukannya tidak pernah bisa memuaskannya, maka ia menganggap orang tuanya yang lemah bisa dijadikan sasaran pelampiasan, karena tahu orang tuanya tidak akan menolak, orang tua pasti akan menuruti apa saja yang diinginkannya.

Pola asuh yang terlalu memanjakan anak semasa kecil, membuat anak merasa besar kepala dan bisa meminta apa saja yang diinginkan, karena sang ibu sangat menyayanginya dan pasti akan memberikan apapun keinginannya. Pola asuh ini terbawa terus hingga dewasa, dan tetap dengan pola yang sama seakan mereka sedang merengek dibelikan sesuatu, tetapi karena orang tua yang sudah renta dan tidak bisa lagi memenuhi permintaannya, maka si anak menganggap orang tua mereka sudah tidak sayang lagi kepada mereka, maka dengan cara melayangkan sebuah gugatan dianggap akan bisa menyedot perhatian public dan membuat opini bahwa orang tuanya telah berlaku tidak adil kepada mereka. Ini adalah salah satu bentuk upaya mencari perhatian dan simpati public untuk membenarkan tindakan mereka.

Padahal apa yang dilakukannya itu sesungguhnya akan segera mendatangkan murka Allah swt, ketika orang tua sudah merasa hatinya terguncang dan terpojok, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, lalu mereka memilih mengadukannya kepada Allah swt, maka seketika doa itu akan didengar oleh Sang Khalik, dan akhirnya dikabulkan Allah swt tanpa menunggu tenggat waktu.

Peristiwa ini pernah sama-sama kita saksikan terjadi dalam sejarah yaitu legenda Malin Kundang, peristiwa sejarah di Sumatera Barat itu menjadi saksi nyata telah terjadinya tindak durhaka anak kepada orang tua, dimana ketika orang tua sudah tidak merasa ikhlas telah mengandung 9 bulan dan telah menyusui anaknya dari air susunya, air mata telah jatuh ke bumi, maka seketika langit terbelah lalu kilat menyambar si anak Malin Kundang, seketika ia berubah menjadi sebongkah batu dalam keadaan sedang membungkukkan badan sebagai bentuk permintaan maaf anak kepada ibunya namun semua itu sudah terlambat. Permohonan maaf itu tidak sempat menghalangi kemarahan langit dan bumi, Sumpah telah terucap dan langit telah runtuh. Ini bukan sekedar legenda penghantar tidur, karena bukti keberadaan batu Malin Kundang itu memang ada.


Inilah sebabnya mengapa dalam banyak firman-Nya Allah selalu berpesan bahwa murkanya Allah adalah murkanya orang tua. Ridho-Nya Allah swt adalah ridhonya orang tua (HR al-Hakim). Ketika orang tua merasakan dirinya tersakiti, terpojok dan terguncang jiwanya, akibat ulah anak yang selama ini disayanginya membuat hatinya hancur berkeping-keping, bersedih dan terluka, akhirnya ia merasa telah menyesal melahirkan anak yang sudah dibesarkannya. Lalu dalam hatinya ia mengucapkan kalimat amarah dengan sangat kerasnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Karena bagaimanapun, semarah-marahnya orang tua, maka itu tidak akan sampai ia masukkan kedalam lubuk hati terdalam, tetapi jika kemarahan itu sudah sampai merasuk kedalam jiwanya, maka segala ungkapan jiwa dan perasaannya itu langsung terhubung dengan Sang Khalik sebagai pemberi rahmat dan kasih sayang. Dan cerminan kemarahan sang ibu juga bisa menjadi awal kemarahan Tuhan.

Allah swt sebagai sang pemberi cinta dan kasih sayangpun, tidak akan tega melihat kesedihan yang diderita sang ibu, melihat sang ibu meratap dan menangis tersedu-sedu menghadapi tingkah laku anaknya yang tega ingin menjebloskan dirinya ke penjara. Padahal selama hidupnya, seluruh jiwa dan raganya dikorbankan untuk kelangsungan hidup anaknya. Tetapi apa yang diterimanya sungguh amat menyakitkan. Dalam hal ini, siapapun yang mendengar keluh kesah dan tangisan si ibu, pasti tidak akan kuasa ingin segera menurunkan balasan bagi sang anak durhaka itu. Dan bagi Allah bukan hal sulit untuk segera menimpakan petaka pada anak yang telah mengakibatkan hati seorang ibu tersakiti. Seorang ibu yang terluka hatinya, ini sama artinya ia telah menyerahkan kembali segala kuasa kasih sayang yang pernah dititipkan Sang Khalik.

Seorang ibu sudah tidak sanggup lagi memikul beban tanggung jawab sebagai perantara pemberi kasih sayang kepada mahluk-Nya, beban itu dikembalikan lagi kepada sang pemberi kasih, yaitu Allah swt. Dan ketika seorang ibu meminta ditegakkannya keadilan atas segala hal yang telah dideritanya, tidak ada hal lain selain Allah swt akan mensegerakan turunnya azab. Karena si anak dianggap tidak bisa memahami ada kuasa Allah atas dirinya di tangan ibunya. Bertindak semena-mena kepada ibunya, maka sang anak dianggap telah melampui batas kesanggupan ibu menahan sakit dan penderitaan, yang seharusnya hal itu sama sekali tidak terjadi. Rasa sakit itu tidak sanggup lagi ditahan sebagai mahluk biasa, maka kesakitannya itu seketika akan menggetarkan langit dan bumi. Atau tindakan itu sama saja manusia telah menyakiti mahluk-Nya yang paling mulia di hadapan Allah yaitu malaikat-Nya.

Dan itulah sebabnya ada pepatah lama mengatakan, bahwa Syurga itu ada di telapak kaki ibu. Dimana nasib seorang anak dihari akhir akan ditentukan dari pengabdian anak kepada orang yang bernama ibu. Jika seorang ibu merasa ridho dengan anak, maka ini akan menjadi pertanda baik dimana ia akan bisa mencium baunya syurga. Tetapi jika sang anak telah melukai hati ibunya dan sang ibu tidak merasa ikhlas dengan apa yang sudah diperbuat anak terhadap dirinya, maka jangan mengharap syurga akan menjadi miliknya.

Dalam salah satu hadist menyebutkan, "Keridhaan Allah terkait dengan keridhaan kedua orang tua dan murka Allah terkait pada murka kedua orang tua." (HR al-Hakim).

Maka dari itu, jika anda masih berada di dekat sang ibu, jadikanlah ia sebagai jalan untuk menggapai surga-Nya. Baik surge di dunia dan surge di akhirat. Jadikanlah beliau bagian hidup anda yang tidak akan pernah bisa tergantikan keutamaannya. Karena walau anda mencuci kaki ibu setiap hari, atau memberikannya harta berlimpah selama hidupnya, tetapi jika sekali saja anda pernah membuat ibu anda menangis, bisa jadi tangisannya itu belum bisa menghapus kesedihannya dan si hari akhir kelak itu akan menjadi penghalang anda memasuki syurga-Nya. Pastikan betul selama hidupnya bahwa ia tidak pernah menaruh kesal kepada anda, selesaikan semua masalah sekecil apapun, kita semua hanya manusia biasa yang kadang suka menyakiti orang yang kita anggap lemah. Kita kadang suka mencari pembenaran atas kehendak pribadi dengan cara mencari kambing hitam atas hal buruk yang sedang menimpa diri kita, dan itu sangat mudah dilampiaskan kepada orang yang paling dekat dengan kita yaitu ibu.

Kadang tidak sadar timbul rasa marah tetapi tidak bisa diungkapkan karena ada rasa bersalah dan menganggap sebuah masalah hubungan antara anak dan orang tua bersifat sepele atau menganggap konflik antara anak dan orang tua bisa selesai semudah membalikkan telapak tangan, padahal justru konflik antara kedua pihak ini yang paling sulit dan rumit diurai di pengadilan akhirat kelak. Sedikit saja ada perasaan kecewa terbesit di hati ibu, bisa menjadi batu ganjalan seorang anak masuk syurga walaupun selama hidupnya ia rajin beribadah dan selalu berbuat baik dengan sesama. Nasib seorang anak benar-benar ada di tangan ibunya dalam hal keikhlasan ibu memberikan kasih sayang dan dalam hal anak mengabdi kepada orang tua.

Cobalah sekali waktu anda pandangi wajah orang tua anda dengan penuh kasih, tataplah matanya dengan kelembutan, rasakan pancaran kasihnya yang mengelilingi jiwanya, dapatkah anda merasakan getaran kasih dan sayang yang amat dalam dari dalam lubuk hatinya. Untuk mengetahui seberapa besar rasa sayang orang tua anda, maka tataplah bola mata anak-anak anda dengan kesejukan, apa yang anda rasakan maka seperti itulah rasa sayang orang tua anda kepada anda. Rasa apapun yang timbul dari orang yang bernama orang tua kepada anaknya maka seperti itulah wujud sayang Allah kepada kita. karena itulah cermin kehidupan. Apa-apa yang terjadi pada diri anda maka itu juga yang dirasakan oleh orang tua dan akan dirasakan oleh anak-anak anda kelak. Bagaimana anda memperlakukan orang tua anda hari ini, maka itulah juga yang akan anda rasakan manakala anak anda dewasa nanti. Anak anda yang akan mencontoh setiap tindak tanduk anda dan sebagaimana yang dirasakan orang tua anda saat ini, anda juga akan menerima perlakukan yang sama dari anak-anak anda.

"Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berhak menerima baktiku?" Nabi SAW pun menjawab, "Ibumu." Sahabat Rasul bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi, ya Rasulullah?" Nabi Menjawab, "Ibumu." "Kemudian siapa lagi, ya Rasulullah?" Nabi menjawab, "Ibumu." Kemudian siapa lagi, ya Rasulullah?" Nabi menjawab, "Ayahmu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka dari itu jika memang kita ingin diperlakukan baik oleh anak-anak kita kelak, mulailah dengan diri sendiri berbuat baik kepada orang tua saat ini. Anak anda adalah pantulan cermin kehidupan anda yang juga akan melakukan hal sama kepada anda kelak. Itulah hikmah sebenarnya mengapa Allah meminta kita untuk mencintai orang tua terutama ibu, karena ditangan ibulah kita dicetak menjadi manusia yang lebih baik dari dirinya sendiri dan ditangan seorang ibulah Allah swt meletakkan kuasa kasih sayang-Nya agar ikatan anak dan orang tua selalu harmonis dan abadi.


Artikel Terkait: