Jumat, 21 Oktober 2011

Kiai Buta ''Penjaga'' Kitabullah

Hidayatullah.com— Matahari membakar panas ketika hidayatullah.com menyusuri Jalan Leuwiliang siang hari itu. Angin sejuk Bogor seakan tiada artinya. Hampir dua jam sudah perjalanan kami tempuh dari Depok dengan sepeda motor, alamat yang kami tuju belum jua sampai.

“Jalan masuk sebelah kanan setelah Pasar Leuwiliang,” jelas suara di seberang ponsel yang penulis hubungi.

Namun hingga ratusan meter melewati pasar itu, tak ada simpang tiga kami temui. Sebelum kembali ke arah semula, telpon saya berdering, dari Fathun Qarib, salah seorang yang akan kami temui.

Setelah menanyakan posisi kami, dia kemudian mengarahkan kami untuk balik arah. Kami akhirnya berjumpa, tak jauh dari Terminal Leuwiliang.

Saya bergegas menuju Bojong Abuya, lokasi pesantren yang akan kami kunjungi. Jalan yang kami lalui melewati kampung dan persawahan. Sekira lima kilometer mengikuti Fathun yang juga mengendarai roda dua bersama seorang lelaki paruh baya di belakangnya, barulah kami sampai ke tempat tujuan.

Ustad Tunanetra

Mungkin tidak cukup banyak orang yang mengenal ma’had ini. Namanya Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Manba’ul Furqan, sebuah lembaga pendidikan dengan lokasi hanya seluas 8000 meter persegi, kurang dari satu hektar, yang fokus mendidik santrinya menjadi para penghafal al-Qur’an.

Di ponpes ini tidak ada pembelajaran lain selain tahfidzul qur’an. Tak ada pendidikan formal, bahkan tahun ajaran pun tidak dikenal.

Kegiatan santri lebih banyak diisi dengan membaca dan menghafal al-Qur’an. Ahad (16/10/2011) siang itu ketika menyambangi tempat ini, tepat azan dhuhur akan segera berkumandang.

Selepas adzan, ada jeda waktu beberapa menit sebelum iqomah. Jeda waktu itu selain untuk sholat sunnah qobliyah, juga dimanfaatkan para santri untuk muroja’ah (mengulang-ulang hafalan).

Salah seorang santri, bahkan membaca ayat suci al-Qur’an yang dikeraskan ke luar masjid melalui loudspeaker. Santri lainnya membaca sendiri-sendiri.

Usai sholat dhuhur yang diimami Ustadz Abdullah Ma’shum Al Hafidz, kiai sekaligus pimpinan pondok, kembali dilakukan muroja’ah. Kali ini secara bersama-sama dipimpin langsung sang kiai yang dipanggil “ustadz” oleh santri-santrinya itu.

Sistem muroja’ah-nya terbilang unik. Sang kiai melafalkan sebuah ayat, dimulai dari satu lembar pada 10 juz pertama al-Qur’an. Selesai satu lembar, langsung loncat ke satu lembar di di 10 juz kedua, begitu pula kemudian ke 10 juz terakhir. Sebagai gambaran, jika yang pertama dibaca adalah lembar pertama pada juz 1, yang berikutnya adalah lembar pertama pada juz 11, lalu kemudian lembar awal di juz 21. Demikian seterusnya berlangsung hingga tuntas satu al-Qur’an. Muroja’ah seperti ini dilakukan tiap usai sholat wajib lima waktu. Total setiap hari pengulangan hafalan sebanyak satu setengah juz al-Qur’an.

Yang menarik dalam muroja’ah ini, tiap kali Ustadz Ma’shum memulai bacaan pada setiap lembarnya, para santri tidak langsung bisa mengikutinya karena masih harus mencari terlebih dahulu halaman yang dimaksud.

Sementara itu, sang kiai tersebut tidak melihat al-Qur’an. Bukan apa-apa, selain karena hafal letak halaman ayat demi ayat, pimpinan pondok ini adalah seorang tunanetra.

Ustadz yang hafal 30 juz al-Qur’an ini menderita buta bawaan sejak lahir. Penglihatannya agak sedikit membaik setelah melakukan operasi mata saat berusia 15 tahun (1967). Meski ketika melihat al-Qur’an harus sedekat mungkin, hafidz kelahiran Demak, 7 Januari 1952 itu kini sudah mampu berjalan sendiri tanpa dituntun.

Salah satu letak keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepada pimpinan pondok tersebut ialah mampu menyimak bacaan empat santrinya yang menyetor hafalan sekaligus dalam waktu bersamaan.

Seperti yang penulis saksikan pada sore itu. Usai ashar adalah jadwal setoran hafalan. Setelah muroja’ah rutin, para santri duduk di sudut-sudut masjid. Empat orang kemudian maju ke sisi meja yang diletakkan di depan kiainya. Masing-masing santri yang akan menyetorkan hafalan ini membawa lembar kontrol hafalan berupa kertas hijau muda.

Keempat orang tersebut bukan bergantian menghafalkan ayat demi ayat di depan sang ustadz, melainkan langsung secara bersamaan. Ustadz Ma’shum sendiri bukannya asal menyimak bacaan para santrinya, justru dia benar-benar mendengarkannya secara seksama.

Dengan penglihatan yang tidak normal, pendengarannya seperti begitu tajam. Sekali-kali tangannya memukul pelan meja pertanda ada muridnya yang salah baca, sekali-kali kepala mengangguk pelan.

Jumlah setoran santrinya bervariasi, tidak ditentukan. Ada yang dua-tiga halaman, ada pula yang sampai satu juz, sebagaimana yang dituturkan Fathun Qarib yang juga kawan sekampung penulis di Balikpapan, Kalimantan Timur. Beberapa menit kemudian, keempat santri tadi undur diri dan digantikan hafidz lainnya yang sudah menunggu.

Terlahir sebagai orang buta bukan penghalang bagi pimpinan ke-6 PPTQ Manba’ul Furqan untuk menuntut ilmu. Baginya, motivasi terpenting dalam menghafal al-Qur’an adalah mengharapkan ridho Allah SWT.

“Kalau nggak begitu, salah!. Dengan kalamullah nanti akan mulia,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Pesan Guru

Ustadz Ma’shum sempat mengenyam pendidikan Sekolah Dasar namun hanya berlangsung sekira setengah tahun. Dia berhenti sekolah karena sering diganggu teman-temannya. Ma’shum juga ngaji di pesantren Salafiah tingkat dasar untuk anak-anak antara tahun 1961-1962. Selang sepuluh tahun kemudian dia baru mulai menghafal al-Qur’an di Pesantren Miftahul Huda, Demak (1972 -1975).

Cara dia “menjaga” ayat demi ayat dengan lisan bil lisan, mendengarkan orang lain membaca al-Qur’an, mengikutinya dan mengulang-ulangnya terus. Menurut Ustadz, menghafal kitab suci seperti berkomunikasi dengan al-Qur’an, terus dikenali ayat demi ayat.

Selesai menghafal, Ma’shum muda mengabdikan dirinya selama setahun (1976), membimbing santri tahfidz (penghafal) pemula di pondok yang sama. Selepas pengabdian, Ma’shum keliling ke beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura.

Tujuannya menyetor sekaligus memperkuat hafalannya kepada para kiai hafidz terkenal di Pasuruan, Krapyak, Wonosobo, Kudus, Semarang dan Pekalongan (1977-1982). Nantilah pada tahun 1984 dia baru mulai merantau sendiri ke Jawa Barat setelah mendapat pesan dari salah satu gurunya untuk berjalan ke arah barat. Dalam perjalanannya, Ustadz Ma’shum saat itu minta kepada orangtuanya, Sarmin Thoyyib dan Sulasih untuk tidak menanggung biayanya.

Anak keempat dari delapan bersaudara itu memiliki tiga putra dan satu putri dari hasil pernikahannya selama 25 tahun dengan Muyati (46), wanita Sunda asal Leuwiliang. Memimpin PPTQ Manba’ul Furqan sejak 1990 lalu sebagai pemangku amanah keenam.

Meski ditapuk sebagai “kiai” pesantren, tapi dia tetap bersahaja. Cara berpakaiannya biasa saja. Dia hanya berharap dengan adanya pondok ini bisa melahirkan penghafal al-Qur’an yang bisa bersaing.

“Ke depannya pengen punya alumni yang berkualitas, tersebar di mana saja,” harapnya.

Meskipun menurutnya selama ini tidak ada perhatian dari pemerintah, tapi Ustadz Ma’shum tetap optimis ponpesnya akan tetap eksis.

Biasanya keluarga besar pesantren ini yang membantu memberi sumbangan. Untuk makan, 30 santrinya diberi kebebasan untuk makan di mana. Ada yang ke warung yang letaknya puluhan meter, ada pula yang masak sendiri. Menurut salah seorang santri, pihak pondok hanya bisa menyediakan beras dan peralatan masak.

Di Ma’had yang didirikan oleh KH. Sholeh Iskandar pada 1988 itu sendiri, terhitung mulai tahun 1992 sudah mengadakan wisuda santri sebanyak 18 kali. Untuk diwisuda pun, santri cukup melapor kepada pimpinan. Beberapa waktu sebelum wisuda, para wisudawan akan di-sima’ (didengarkan) hafalannya oleh para santri.

Saat ini, pesantren yang setengah wilayahnya dimanfaatkan sebagai areal sawah dan perkebunan itu sedang berusaha memperluas wilayahnya dengan meluncurkan program “Wakaf Berjama’ah Pembebasan Tanah“.

Sebuah gedung siang itu terlihat sedang dalam proses pembangunan. Beberapa bangunan pondok termasuk masjid utamanya yang penulis lihat perlu perbaikan. Bagi siapa saja yang berminat untuk turut berpartisipasi dalam proyek amal sholeh ini, bisa mengunjungi langsung ponpes tersebut atau menghubungi salah satu panitia atas nama Sugeng di nomor kontak 08567864203.

Menurut Fathun, santri berjenggot lebat yang merangkap sebagai “asisten” kiai, PPTQ Manba’ul Furqan diresmikan oleh Moh. Natsir. Pada sebuah prasasti yang terpampang di dinding luar masjid pondok ini, tercantum tanda tangan dalam bahasa Arab atas nama Tokoh Nasional kemerdekaan Indonesia tersebut.

Meski hanya beberapa jam silaturrahim di tempat ini, penulis serasa ingin bertahan lama. Kawasannya yang tenang meski berbaur dengan masyarakat, hamparan sawahnya, para santrinya yang lebih sering terlihat membawa al-Qur’an dan kiainya yang buta tapi hafal al-Qur’an.

Pondok ini, selain serasa menenangkan lahir dan batin, juga begitu memotivasi penulis dan Imam Muhammad, kawan yang menemani saya ke ma’had tersebut untuk terus dekat dengan al-Qur’an. Terus berjuang Ustadz!*


Untuk melihat foto-fotonya, klik ke album galleri hidayatullah.com.


Artikel Terkait: