Senin, 10 Oktober 2011

Intel CIA dan NYPD Menghantui Muslim Amerika (4/4)

Hidayatullah.com--Setelah peristiwa serangan 11 September 2001 atas komplek gedung World Trade Center di New York, secara sepihak dan tanpa bukti kaum Muslim dipersalahkan sebagai pelaku kejahatan itu. Di seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat, sorotan tajam penuh kecurigaan dan kebencian ditujukan atas Muslim secara terus menerus. Aktivitas intelijen yang memata-matai kaum Muslim, meski operasi itu selalu disangkal, terasa di mana-mana. Dan kini, salah satu operasi rahasia tersebut terungkap.

Associated Press pada Rabu 24/8/2011 menurunkan laporan tentang kegiatan intelijen Kepolisian New York dan CIA yang memata-matai seluruh aktivitas keseharian komunitas Muslim Amerika. Simak laporan tersebut yang disajikan oleh hidayatullah.com dalam empat bagian.

Operasi intelijen NYPD tidak terbatas pada kota New York saja, sebagaimana terungkap dalam operasi di New Jersey.

Kepolisian berhasil menempatkan petugasnya sebagai federal marshal, sehingga mereka bisa bertugas lintas negara bagian. Namun seringkali, tidak ada yuridiksi yang jelas sama sekali.

Pasukan penyamaran Cohen, yang diberi nama Special Service Unit, beroperasi di negara bagian seperti New Jersey, Pennsylvania dan Massachussets. Mereka tidak bisa melakukan penahanan, kecuali jika sesuatu terjadi -- seperti misalnya penembakan atau kecelakaan kendaraan. Namun, NYPD sudah memikirkan resikonya, begitu kata seorang mantan pejabat polisi.

Dengan dukungan dari Komisioner Polisi Ray Kelly, Cohen menerapkan kebijakannya sendiri. Yaitu, apapun yang potensial mengancam New York, maka hal itu menjadi urusan NYPD, tidak peduli di mana pun terjadinya.

Keagresifan NYPD itu tidak jarang menimbulkan benturan dengan polisi lokal, dan seringkali dengan FBI.

FBI tidak suka cara kerja Cohen dan menilai operasi yang dilakukannya menerobos tanggungjawab FBI.

Misalnya saja, suatu kali para petugas yang menyamar diberhentikan polisi di Massachussets. Ketika itu mereka melakukan pengintaian atas sebuah rumah.

Di lain waktu, NYPD menimbulkan kekhawatiran karena melakukan aksi intelijen yang berhubungan dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang seharusnya menjadi wilayah kerja FBI.

Associated Press tidak menceritakan lebih rinci operasi FBI dan NYPD tersebut, karena berhubungan dengan kontraintelijen luar negeri.

Mueller dan Kelly mengatakan bahwa lembaga mereka menjalin kerjasama yang erat, dan laporan yang menyebutkan bahwa mereka bersaing adalah tidak benar dan dibesar-besarkan. Mereka juga menyatakan bahwa operasi NYPD di luar negara bagian mencapai sukses.

Sebagai contoh dalam kasus yang ditangani oleh seorang petugas polisi keturunan Mesir, yang menyamar di New Jersey. Ia berhasil mengungkap kasus Muhamed Mahmood Alessa dan Carlos Eduardo Almonte. Keduanya ditangkap di Bandara John F Kennedy tahun lalu, saat akan terbang ke Somalia untuk bergabung dengan Al Shabab. Keduanya mengaku bersalah melakukan konspirasi.

Tidak hanya ke negara bagian lain, Cohen juga mengirimkan anak buahnya melakukan operasi di luar negeri. Ia menempatkan anak buahnya di 11 kota di luar negeri.

Jika seorang bomber meledakkan bom di Yerusalem, maka petugas NYPD langsung menuju tempat kejadian, kata Dzikansky. Pria ini pernah bertugas di Israel dan menulis buku yang akan diterbitkan berjudul "Terrorist Suicide Bombings: Attack Interdiction, Mitigation, and Response."

"Saya berada di sana untuk menjawab pertanyaan New York," kata Dzikansky. "Mengapa tempat ini (yang menjadi sasaran)? Apakah ada sesuatu yang unik yang telah dilakukan oleh pelaku bom? Apakah ada pemberitahuan awal? Apakah ada kelalaian dalam keamanan?"

Semua informasi intelijen itu -- yang didapat dari para raker, petugas yang menyamar, penghubung luar negeri dan informan -- dikirim ke sebuah tim analisa yang disewa dari berbagai universitas ternama di AS. Para analis akan menandai tren dan merangkumnya berdasarkan topik. Misalnya, aktivitas Hizbullah di New York dan ancaman dari teroris-teroris Asia Selatan.

Tim analis itu juga menangani topik-topik yang diperdebatkan, termasuk merancang laporan analitis tentang setiap masjid yang terletak dalam radius 100 mil dari dari New York. Informasi tentang masjid-masjid tu didapat dari para perayap masjid, petugas yang menyamar dan informasi dari masyarakat.

Tim analis itu kemudian memetakan ratusan masjid, apakah masjid tertentu terkait dengan Al Qaidah, Hizbullah atau kelompok lainnya.

Bagi Cohen, hanya satu cara untuk mengukur kesuksesan, yaitu "Mereka belum menyerang kita," katanya dalam disposisi yang disampaikan tahun 2005. Cohen mengatakan, apa yang buruk bagi teroris adalah baik untuk NYPD.

***

Meskipun CIA dilarang mengumpulkan informasi intelijen di dalam negeri, dinding yang membatasi operasi domestik dan luar negeri semakin keropos.

Informasi intelijen yang diperoleh NYPD, di mana Sanchez -- sebagai agen CIA -- yang mengawasinya, seringkali disampaikan ke CIA dalam pembicaraan-pembicaraan informal dan lewat saluran-saluran tidak resmi.

Dengan disengaja, NYPD semakin terlihat seperti CIA yang beroperasi di dalam negeri.

"Itu seperti memulai CIA pasca 9/11," kata Cohen dalam buku tentang NYPD "Protecting the City" yang terbit tahun 2009.

Tugas Sanchez di New York berakhir tahun 2004, tapi ia mendapat izin cuti dari CIA, lalu menjadi deputinya Cohen, kata para mantan pejabat polisi.

Meskipun penugasan Sanchez direstui CIA, sebagian pejabat CIA di New York menilai, kehadiran seorang agen senior seperti Sanchez di kota itu, jelas-jelas merupakan penyusupan.

Oleh karena itu Tom Higgins, kepala dinas CIA di New York, menghubungi markas besarnya. Higgins mengeluhkan Sanchez, yang dinilainya "mengenakan dua topi" -- kadang-kadang menjadi agen CIA dan kadang-kadang menjadi petugas polisi New York.

CIA akhirnya memaksa Sanchez untuk memilih, tetap menjadi agen intelijen CIA atau bergabung dengan NYPD.

Sanchez menolak menceritakan tentang hal itu kepada Associated Press. Tapi diketahui bahwa pada akhirnya ia memilih NYPD. Sanchez pensiun tahu lalu dan sekarang menjadi seorang konsultan di Timur Tengah.

Bulan Juli lalu, CIA bahkan mempererat hubungannya dengan NYPD. Dinas intelijen itu mengirimkan salah satu agennya yang paling berpengalaman, mantan kepala dinas CIA di dua negara Timur Tengah. Orang itu ditugaskan di kantor kepolisian sebagai asisten khusus Cohen, dengan gaji berasal dari kas CIA.

Sebagian pejabat dan mantan pejabat AS melihat hal itu sebagai keganjilan. Namun, kerjasama itu dianggap sebagai bentuk kolaborasi baru pasca 9/11.

Para pejabat tidak mau mengungkap nama orang tersebut, karena dianggap membahayakan keamanan negara.

Mereka hanya menjelaskan, misinya seperti menjalani selibasi. Dia adalah agen senior yang memiliki jabatan dalam manajemen. Tapi, sejumlah pejabat mengatakan bahwa orang itu dikirim ke kepolisian untuk mendapatkan pengalaman kerja manajerial.

Di NYPD, orang itu bertugas melakukan penyamaran di jajaran pejabat tinggi di divisi intelijen. Para pejabat bersikukuh bahwa orang itu tidak terlibat dengan operasi pengumpulan informasi intelijen di lapangan.

***

NYPD dalam sepuluh tahun terakhir tidak terlalu mendapat sorotan tajam, terkait misi intelijen yang dilakukannya, yang menarget lingkungan tempat tinggal etnis tertentu dan bekerjasama dengan CIA lewat cara yang tidak biasa.

Dewan Kota New York sebagai pengawasnya, belum menanyai NYPD tentang operasi yang dijalankan divisi intelijennya.

Sementara menurut sejumlah mantan pejabat NYPD, anggota dewan sepertinya juga tidak bertanya lebih lanjut.

"Ray Kelly memberikan pengarahan singkat kepada saya secara pribadi tentang hal-hal yang tidak boleh diungkapkan ke publik," kata anggota Dewan Kota Peter Vallone.

"Kami membicarakannya secara tertutup, tentang bagaimana cara mereka menyelidiki kelompok tertentu yang dicurigai memiliki simpatisan teroris atau tersangka teroris," kata Vallone.

Petugas pemeriksa dari Dewan Kota telah mengaudit beberapa komponen NYPD sejak 9/11, kecuali unit intelijen, yang tahun lalu saja memiliki anggaran USD62 juta.

Pemerintah federal juga tidak terlalu menyorot tajam NYPD -- yang merupakan dinas kepolisian terbesar di AS -- tentang penggunaan anggaran besar dari pemerintah federal.

Pejabat Keamanan Dalam Negeri memang memeriksa dana yang diterima NYPD, tapi tidak untuk program-program rahasia tersebut.

Misalnya, dalam laporan Inspektur Jenderal Keamanan Dalam Negeri bulan Januari lalu, ditemukan bahwa NYPD melanggar peraturan kontrak negara bagian dan federal antara tahun 2006 dan 2008. Pada tahun itu mereka melakukan pembelian peralatan tanpa melalui proses tender. NYPD berdalih, tender terbuka akan mengungkap informasi sensitif kepada teroris. Tapi pada saat yang sama, NYPD tidak pernah mendapatkan persetujuan dari pemerintah negara bagian atau federal atas peraturan yang mereka buat sendiri itu, kata inspektur jenderal.

Di Capitol Hill, di mana FBI sering mendapatkan kecaman jika ketahuan melanggar hak-hak warga sipil dalam operasinya, NYPD tidak pernah dikecam atas apa yang dilakukannya.

Tahun 2007, Sanchez bersaksi di depan Komite Keamanan Dalam Negeri Senat AS. Di sana, ia ditanya bagaimana NYPD mengetahui lokasi-lokasi radikalisasi.

Dia menjawab, kuncinya adalah dengan melihat aktivitas-aktivitas yang tidak berbahaya -- termasuk aktivitas yang dilindungi oleh Amandemen Pertama -- sebagai aktivitas yang potensial memunculkan terorisme.

Mendapat jawaban seperti itu, komite tidak menanyainya lebih lanjut.

Departemen Kehakiman memiliki otoritas untuk menyelidiki pelanggaran hak-hak sipil. Departemen mengeluarkan peraturan pada tahun 2003, yang menentang racial profiling, termasuk melarang para petugas menghentikan kendaraan hanya berdasarkan ras seseorang.

Tapi, peraturan itu hanya berlaku bagi pemerintah federal dan tidak berlaku untuk penyelidikan kasus terorisme.

Departemen Kehakiman tidak akan memeriksa polisi atas pelanggaran hak sipil yang dilakukannya, jika hal itu terjadi saat polisi sedang menangani kasus yang berkaitan dengan keamanan negara.

"Salah satu tanda kejayaan divisi intelijen lebih dari 10 terakhir ini adalah bahwa tidak hanya mereka begitu agresif dan canggih, tetapi juga berjalan semau mereka," kata Dunn, seorang pengacara pembela hak kebebasan sipil.

"Tidak ada pemeriksaan. Tidak ada pengawasan," ujar Dunn.

NYPD disebut-sebut sebagai model polisi era pasca 9/11. Tapi, sepertinya model itu hanya cocok buat New York saja. Sebabnya, tidak ada kota selain Big Apple -- julukan untuk New York -- yang tingkat kriminalitasnya serendah kota itu, punya anggaran untuk polisi sebesar USD4,5 milyar, dan memiliki 34.000 personel polisi. Dan tentu saja tidak ada kepolisian lain yang memiliki hubungan erat dengan CIA, seerat polisi New York.

Mungkin yang paling penting, tidak ada kota lain yang mengalami 9/11 seperti yang dialami New York. Tidak ada kota lain yang kehilangan 3.000 nyawa dalam satu pagi.

Satu dekade telah berlalu. Polisi mengatakan bahwa warga New York masih berharap NYPD akan melakukan apa saja untuk mencegah serangan lain terjadi. Dan NYPD merangkul harapan itu.

Sebagaimana dikatakan Sanchez saat bersaksi di Capitol Hill; "Kami telah diberikan toleransi oleh masyarakat dan kemewahan untuk bertindak agresif dalam menangani masalah (terorisme-red) ini."*

Artikel Terkait: