Rabu, 17 April 2013

Bahaya Berbuat Aniaya pada kaum Duafa

Sebagai hamba-hamba Allah yang selalu hidup berdampingan di dunia ini, kita diajak untuk senantiasa menjaga niat, lidah, dan perbuatan lainnya. Sebab, di antara semua itu tak tertutup kemungkinan ada yang bersifat menzalimi atau menganiaya orang lain. Bila menganiaya, azabnya yang begitu dahsyat bukan hanya di dunia ini, tetapi juga di akhirat kelak.

Lebih-lebih lagi, doa orang-orang teraniaya dimudahkan terkabul. Dan tak tertutup kemungkinan, di antara sekian banyak yang berdoa, ada orang-orang taat dan bersih hatinya sehingga cepat dikabulkan doanya. Bayangkan bila yang teraniaya adalah orang-orang yang tak bersalah dalam jumlah banyak, mulai dari se kampung, se kabupaten atau bahkan se negara. Hal ini berkemungkinan dilakukan, terutama oleh orang-orang yang terlibat dalam mengurus urusan umat dan seseorang yang sengaja merusak kebutuhan orang banyak.


Karena menyayangi umatnya dari terkena azab berat, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengajak siapapun untuk menghindari diri atau segera membersihkan diri dari perbuatan aniaya sebelum meninggalkan dunia ini. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) dari orang itu, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika dia punya amal salih, maka akan diambil menurut penganiayaannya. Dan jika tidak mempunyai kebaikan, maka diambil dari kejahatan orang yang dianiaya itu untuk ditanggungkan kepadanya” (HR. Imam Bukhari & Imam Muslim)


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar