Minggu, 07 April 2013

Zalim, Sumber Kebangkrutan di Hari Kiamat!

AL-DZAHABI radhiyallahu anhu menuturkan dalam kitabnya Al-Kaba’ir, seperti dikutip oleh Dr. Abdul Aziz Al-Fauzan dalam bukunya Fiqih Sosial (Terj). “Aku telah melihat seorang lelaki yang tangannya terpotong mulai bagian pundaknya dan dia menyeru, “Barangsiapa yang melihatku, maka janganlah pernah menganiaya seorang pun.”

Aku pun mendekatinya dan bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku, bagaimana ceritanya hal ini bisa terjadi?” Dia berkata, “Kisah yang aneh. Dahulu aku adalah orang yang sering berbuat zalim. Pada suatu hari, aku melihat seorang nelayan yang mendapatkan ikan yang sangat besar dan aku pun tertarik akan ikan tersebut.

Kemudian aku datang kepadanya dan berkata, “Berikanlah ikan itu kepadaku!” Dia menjawab, “Aku tidak akan memberikannya kepadamu, aku akan menjualnya untuk makan keluargaku”.
Kemudian aku memukulnya dan mengambil ikan tersebut secara paksa, lalu aku pergi. Ketika aku berjalan membawa ikan rampasan, ikan itu menggigit ibu jari tanganku dengan gigitan yang sangat kuat. Ketika aku sampai ke rumah, aku lemparkan ikan itu.

Ibu jariku terasa sangat sakit sampai aku tidak dapat tidur, tanganku pun menjadi bengkak. Ketika tiba waktu pagi, aku pergi kepada seorang dokter. Kemudian ia berkata, “Racun gigitan ini mulai merambat, potonglah telapak tanganmu”.

Aku pun memotongnya. Tetapi rasa sakit masih terus menjalar bahkan semakin kuat, hingga akhirnya ku potong sampai siku. Tetapi tetap saja, rasa sakit itu makin menjadi. Kemudian orang-orang bertanya, “Apa yang menyebabkanmu mengalami hal ini?” Lalu aku ceritakan kisah ikan tadi.

Mereka berkata kepadaku, “Seandainya engkau meminta maaf kepada orang yang punya ikan ketika rasa sakit pertama menimpamu dan meminta keikhlasannya, niscara engkau tidak akan memotong satu bagian pun dari anggota tubuhmu. Pergilah sekarang kepadanya danmintalah keikhlasannya sebelum sakit itu menjalar ke seluruh tubuhmu.

Akun mencarinya dan bertemu. Aku langsung tersungkur di kakinya, menciumnya lalu menangis dan aku katakan padanya, “Wahai tuan, demi Allah, ampunilah diriku”. Kemudian aku bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendoakan buruk atasku akibat ikan yang telah aku ambil?”

Dia menjawab, “Ya aku berdoa, Ya Allah, dia telah menganiayaku dengan kekuatannya, maka tunjukkanlah kekuasaan-Mu dalam hal itu”. Lalu aku berkata, “Wahai tuan, Allah telah menunjukkan kekuasaan-Nya terhadap diriku dan aku bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Imam Al-Maraghi menjelaskan bahwa al-Zalim adalah perbuatan yang menyimpang dari jalan yang wajib ditempuh untuk mencari kebenaran. Sementara itu dalam Mu’jam dikatakan bahwa yang dimaksud dengan al-Zalim adalah perbuatan yang melampaui batas atau meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. (Lihat Ensiklopedia Makna al-Qur’an Syarah Alfaazhul Qur’an Karya M. Dhuha Abdul Jabbar & N. Burhanudin).

Selain itu al-Zalim juga bermakna kegelapan. Seperti yang Allah firmankan dalam al-Qur’an;
قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِـي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِـي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 258).

Orang yang zalim dalam ayat tersebut adalah orang yang tidak mau menggunakan dalil-dalil yang bisa mengantarkan dirinya tunduk mengetahui kebenaran dan tidak mau menerima hidayah.

Artinya orang itu berada dalam kegelapan iman, sehingga tidak bisa melihat kekuasaan Allah Ta’ala. Apalagi, menaati segala aturan atau hukum yang telah Allah tetapkan.

“Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 229).

Merugikan

Sebagaimana arti dari zalim itu sendiri yang tentu sangat merugikan dan merusak kehidupan, serta sangat dimurkai oleh Allah Ta’la, maka balasan kezaliman pun tidak main-main. Bahkan Allah mengintai siapa saja yang berbuat zalim.

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَؤُلَاء سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُم بِمُعْجِزِينَ

“Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.” (QS. Az Zumar [39]: 51).

Orang yang zalim itu tidak bisa lari dari siksa yang pedih dan di akhirat mereka akan disiksa di dalam neraka. “Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih” (QS. 3: 31). Kemudian, “Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim” (QS. 3: 151).

Mengenai siapa orang yang suka berbuat zalim Allah Subhanahu Wata’ala juga menjelaskan bahwa mereka adalah orang yang dalam hidupnya cinta kepada dunia, bangga bermewah-mewah dan gemar melakukan dosa.

وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مَا أُتْرِفُواْ فِيهِ وَكَانُواْ مُجْرِمِينَ

“Dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS: Huud [11]: 116).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang penghuni surga?” Para sahabat menjawab, “Tentu”. Beliau bersabda, “Yaitu setiap orang yang lemah dan direndahkan oleh orang lain. Tetapi seandainya mereka bersumpah demi Allah, pasti sumpahnya dikabulkan oleh-Nya. Dan maukah kalian aku beritahu tentang penghuni neraka? Yakni setiap orang yang sombong, kasar dan suka bermegah-megahan.” (HR: Bukhari).

Bahaya Zalim pada sesama

Secara umum, perbuatan zalim terbagi dalam tiga kategori. 1) Syirik, mensekutukan Allah (QS. 31: 13). Zalim ini adalah zalim yang tidak akan diampuni sama sekali. 2) Zalim seorang manusia kepada dirinya sendiri dengan melakukan maksiat kepada Allah. Zalim ini tidak menjadi beban bagi Allah. 3) Zalim seorang manusia kepada sesama manusia. Zalim ini yang tidak akan dibiarkan Allah Subhanahu Wata’ala.

Kezaliman ketiga atau kezaliman terhadap sesama merupakan kezaliman yang lebih berat dari sebelumnya, paling banyak dosanya, serta memiliki akibat yang paling buruk.

Seseorang tidak akan bisa lari darinya dan tidak bisa terhindar dari bahaya dan dosanya hanya dengan sekedar berhenti dan menyesali kezaliman yang diperbuatnya. Kecuali orang yang terzalimi atau dizalimi memberikan maaf secara ikhlas kemudian yang menzalimi segera mengembalikan hak-hak yang terzalimi.

Dr. Abdul Aziz Al-Fauzan mengutip pernyataan Ulama terdahulu, Sufyan Tsauri berkata, “Bertemu Allah dengan 70 dosa yang engkau lakukan atas Allah, akan lebih ringan daripada bertemu dengan-Nya dengan membawa satu dosa yang engkau lakukan atas orang lain”.
Sementara itu, masih dalam buku yang sama, Abu Bakar Al-Warraq berkata, “Perkara yang banyak menyebabkan terlepasnya iman dalam hati adalah berlaku zalim terhadap sesama manusia”.

Zalimnya seseorang terhadap orang lain tidak terbatas pada beberapa perilaku saja. Setiap perilaku yang mengganggu kepentingan orang lain atau lalai dalam memberikan hak-hak mereka, maka perilaku itu disebut zalim, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Berikut beberapa di antaranya.

Islam sangat mencegah terjadinya kezaliman itu dengan memberikan balasan yang sangat berat kepada para pelakunya.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melihat ke dalam rumah satu kaum tanpa izin mereka, maka dihalalkan bagi mereka untuk mencongkel matanya.” (HR: Bukhari).

Kemudian Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak menyukainya, maka Allah akan menusuk telinganya dengan peluru yang meleleh pada hari kiamat.” (HR: Bukhari).

Riwayat yang lain juga menyebutkan bahwa, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menzalimi sejengkal tanah, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh bumi.” (HR. Bukhari).

Jadi, kezaliman bukan perkara ringan. Perbuatan itu akan sangat memberatkan pelakunya baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Jika dia ahli ibadah, maka ia akan bangkrut di hari kiamat karena harus merelakan seluruh pahalanya untuk orang yang dizalimi. Kemudian dosa orang yang dizalimi dibebankan kepada sang pelaku kezaliman. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari berbuat kezaliman. Amin.*/Imam Nawawi
Rep: Imam Nawawi
Red: Cholis Akbar

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar