Jumat, 21 Juni 2013

Jangan Jadikan Dunia sebagai Standar Kebahagiaan

Hidayatullah.com Oleh: Herman Anas

SAAT ini kebanyakan umat Islam sudah berbedah jauh dari cita-cita umat terdahulu. Kebahagiaan saat ini bukan lagi saat membela agama Islam atau bertujuan keridhaan Allah. Tetapi bahagianya saat mendapatkan banyaknya harta dan tahta yang diinginkan. Harta sudah menjadi standar kebahagiaan Muslim, meskipun mereka tidak menyampaikan atau menuliskan cita-citanya diatas kertas. Cukup jelas buktinya dengan melihat kecenderungannya yang sangat tinggi pada dunia. Dengan berbagai alasan yang seakan-akan kebaikan, dia kejar dunia.

“Kalau saya kaya, saya bisa beribadah dengan tenang dan bisa menunaikan ibadah haji sebagai rukun Islam. Saya bisa membahagiakan orangtua dan bisa banyak bersedekah.”

Padahal sudah banyak sekali contoh bahwa hal tersebut adalah amal angan-angan yang belum tentu dia lakukan pada saat kaya nanti.

Ibarat kisah Tsa’labah yang bercita-cita ingin kaya dan minta di doakan kepada Rasulullah. Di dalam pikirannya, “Ketika kaya nanti ingin lebih rajin beribadah.” Padahal Allah sudah menakar kemampuan seseorang dengan firmannya, “Allah tidak membani kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya”.

Justru pada saat dikabulkan doa Rasulullah karena memang doa seorang rasul maqbul, Tsa’labah bukanlah tambah taat, tapi justru lupa ibadah kepada Allah karena sibuk mengurusi kambing yang semakin banyak hingga merasa sempit madinah dan pergi ke suatu lembah.

Zaman sekarang, kejadian ini juga banyak dijumpai dengan berbagai macam fakta yang berbeda tapi pada intinya sama yakni menjadikan dunia sebagai tujuan dan standar kebahagiaan. Banyak sekali anak-anak kaum Muslimin mulai kecil sudah diarahkan cita-citanya jadi pilot, dokter, guru dll. Tapi tidak pernah cita-cita mereka dikaitkan dengan agama (sekulerisme). Hingga pilot, dokter dan guru sudah menjadi tujuan terakhir.

Padahal Rasul bersabdaانما الاعمال بالنيات pekerjaan (aktifitas) tergantung pada niatnya (tujuan).

وعن رسول الله صلى الله عليه وسلم : كم من عمل يتصور بصورة اعمال الد نيا ويصير بحسن النية من اعمال الاخرة . وكم من عمل يتصور بصورة اعمال الاخرة ثم يصير من اعمال الد نيا بسوء النية

Dari Nabi: “Banyak amal perbuatan yang berbentuk amal dunia lalu menjadi amal akherat, sebab niat yang bagus. Dan banyak juga amal perbuatan yang kelihatannya amal akhirat namun karena niat yang buruk maka menjadi amal dunia.”

Mereka tidak tau tujuan yang lebih tinggi dan menjadikan bernilai akan aktifitasnya. Menjadi pilot, dokter dan guru sama sekali tidak ada nilai di sisi Allah kalau tidak ada niat karena Allah atau untuk kemuliaan Islam dan kaum mulimin. Aktifitas tersebut hanyalah aktifitas dunia belaka, tak ubahnya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang non Muslim. Karena sekali lagi, dalam Islam tidak dinilai dari banyak prestasi yang didapat. Tapi, prestasi tersebut harus berlandaskan keimanan, tidak melanggar syara’ dan tujuan yang benar.

Kemuliaan seorang Muslim dinilai dari taqwanya (keterikatannya terhdap hukum syara’) bukan yang lain. Sehingga siapapun bisa mulia tanpa memandang kaya-miskin, tanpa memandang level profesi dan tanpa memandang nasab asalkan dia terikat dalam setiap aktifitasnya terhadap hukum syara’ (melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan). Si miskin dia bisa sabar dan taat dengan kemiskinannya sedangkan si kaya dia bisa syukur dan taat dengan kekayaannya. SemuaNya bernilai pahala di sisi Allah. Kadar ketaqwaannyalah yang membedakan di antara keduanya.

Sebanyak apapun prestasi yang diraih jika tidak berdasarkan iman, melanggar syara’ dan tujuan salah, maka di sisi Allah tiada nilai. Setinggi apapun prestasi orang non Muslim (orang kafir) maka tiada nilai di sisi Allah. Setinggi apapun prestasi Muslim jika melanggar syara’ dan salah tujuan, maka juga tidak mempunyai nilai di sisi Allah.

Sehingga hari-hari kaum Muslimin senantiasa dikelilingi kemuliaan saat dia terikat dengan hukum syara’. Mulai dari hal kecil hingga yang besar. Dia Makan tidak hanya sekedar makan, tapi untuk menguatkan ibadah, menguatkan shalat, belajar, membantu orangtua dan bekerja untuk menafkahi istri. Membeli baju, tidak untuk gaya-gayaan atau pamer karena sama sekali tidak ada nilai di sisi Allah, tapi untuk menutupi auratnya sehingga tiada kerugiaan dia bekerja dan membelanjakan hartanya karena semua demi tunduk kepada Allah.

Menuntut ilmu dalam rangka memenuhi perintah Allah atau sebagaimana dalam kitab Ta’lim dalam rangka ikhlas mengharap ridho Alloh, mensyukuri terhadap nikmat akal, mencari kebahagiaan di akhirat, menghidupkan agama, menghilangkan kebodohan, dan melestarikan Islam. Sehingga aktifitas menuntut ilmunya bernilai pahala di sisi Allah. Keluarnya keringat dan capeknya dinilai pahala di sisi Allah dan termasuk orang dimudahkan jalannya ke surge oleh Allah sebagaimana dalam hadits. Boleh menuntut ilmu dengan tujuan untuk mendapatkan kedudukan di masyarakat yang dengannya digunakan dalam rangka amar makruf nahi munkar, menjalankan kebenaran dan menegakkan agama Allah. Begitupun juga orang bekerja, jika hanya untuk menumpuk-numpuk kekayaan tiada nilai di sisi Allah. Hanya mendapatkan rasa capek dan tumpukan uang.

Saat ada yang mengancam terhadap untuk merusak Islam dan kaum Muslimin maka mereka berada digarda terdepan untuk membelanya apapun konsekuesinya sekalipun harta, keluarga, jiwa dan raganya. Sehingga para sahabat justru senang di medan perang dan ingin mati syahid.

Di zaman tabi’in Khalifah Umar bin Abdul Aziz sibuk membukukan hadits demi menjaga dari kepentingan dan pemalsuan hadits. Semangat ini tidak akan diperoleh bagi yang tujuan hidupnya dunia dan standar kebahagiaannya ketika mendapatkan tumpukan-tumpukan dunia.

Bisa dipastikan orang yang mempunyai tujuan dunia tersebut jika hidup di zaman para sahabat maka akan menjadi orang munafik yang takut untuk berjuang untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Dunia yakni harta, tahta dan keluarga mereka tinggalkan ketika ada perintah hijrah dari Allah. Karena bagi mereka dunia diletakkan di tangan tidak sampai masuk ke hati.

Tentu saat ini, perjuangan untuk kemuliaan Islam bisa saja berbeda dengan yang dulu. Karena kebanyakan negeri-negeri kaum Muslimin mengalami kemunduran berfikir yang sangat jauh dari Islam. Mereka diserang pemikirannya agar jauh dari Islam, bahkan kaum Muslimin sendiri tanpa sadar sudah menyerang agamanya sendiri. Mereka diserang pemikiran dengan sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) kapitalisme. Sehingga tolak ukurnya, kesenangan dan kesuksesannya mendapatkan tumpukan materi tanpa peduli agama mebolehkan atau melarangnya. Inilah yang terjadi juga pada kaum Muslimin dulu pada saat Perang Uhud. Mereka tidak tunduk kepada perintah Rasulullah dan menginginkan dunia (harta) yakni rampasan perang. Sepatutnya bagi umat Islam untuk mengokohkan keimanan dan menjadikan akhirat sebagai tujuan di atas segala-galanya. Dunia yang sementara jangan sampai menjadi penyakit dirinya. Sehingga apapun profesinya umat bisa melakukan perang pemikiran terhadap para musuh-musuh kaum Muslimin demi kemuliaan Islam dan kaum Muslimin.

Kesimpulannya, orang beriman yang berjuang (cita-cita) untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslimin dalam hidupnya, tapi tidak terikat dengan hukum syara’ melaksanakan perintah Allah dan rasulNya (taqwa) dalam aktifitasnya (tujuan hidup, hobi, profesi dll) serta cinta dunia, maka tak ubahnya hanya mengulang kegagalan-kegagalan perang Uhud di masa modern.*

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep Madura dan Ketua Tim Litbang Takmir Masjid Al-Hikmah dan Lembaga Dakwah Kampus Universitas Jember
Rep:
Administrator
Editor: Cholis Akbar

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar