Jumat, 06 Mei 2016

SIKSA BERLIPAT BAGI USTAD/USTADZAH MABUK DUNIA

Beberapa waktu belakangan ini kita disibukkan dengan pemberitaan ustad dan ustazah muda di berbagai media, tentang bagaimana kiprahnya menyandang gelar sebagai pendakwah yang mengundang kontroversi karena dianggap tidak bisa berlaku sebagaimana pemuka agama yang baik dan bisa memberi tauladan.

Disinyalir para ustadz/ah ini menggunakan ketenarannya untuk mencari kesenangan dunia atau bahkan memanfaatkan kedudukannya di masyarakat untuk meraup keuntungan demi memuluskan berbagai rencana mereka dengan cara memanfaatkan pengaruhnya sehingga mereka bisa menggalang banyak dana untuk dijadikan alasan untuk membangun sekolah bertema agama, majlis taklim, masjid dan sebagainya.

Singkat kata, para pendakwah ini menggunakan dalih agama untuk membenarkan ambisinya mendirikan fasilitas bertema agama keperluan bekal akhirat mereka. Siapa sajakah? Ada ustad yang terkenal dengan ajaran "matematika Sedekah" dengan terang-terangan menjual produk jasa keuangan kepada pengikutnya (Paytrend) sejenis multilevel marketing untuk menjembatani para pemberi sedekah. Atau Ustadzah berinisial OSD (Oki Setyana Dewi) yang belakangan ini heboh mendapat boikot dr 3000 orang atas status Ustadzah yang disandangnya, dan diberitakan kerap memasang tarif tinggi pada tiap kesempatan, dan meminta pelayanan fasilitas mewah (bintang 5) jika ingin memanggilnya berceramah, dengan dalih dalam ranggka menghimpun dana untuk membangun sekolah penghafal Al Quran dan beberapa ambisi pribadi lainnya. Dan beberapa ustad/zah lain yang belum di ekspos media. Ini sangat memprihatinkan kita sebagai umat muslim tentuya.

Apa yang melanda para ustad muda ini? Itu karena mereka sudah terlena dalam ketenaran, kepopuleran, disanjung dan di puja para pengikutnya dan terlena pada kenikmatan berbagai fasilitas duniawi. Yang mana mereka sendiri hanyalah manusia biasa yang sama dengan orang pada umumnya, punya ambisi dan keinginan, bedanya, mereka memiliki kelebihan ilmu dan mereka diberi kepercayaan oleh manusia untuk tampil di muka umum untuk memberi pencerahan kepada yang awam. Bedanya lagi, mereka tidak bisa menahan diri ketika ketika dunia menghadap dirinya.

Tahukah anda bahwa kebanyakan ustadz/ulama tidak mau/menghindar membaca bab ini karena mereka tau tidak bisa mencicipi kenikmatan dunia, atau mereka sudah merasa dipuncak keimanan maka mereka beranggapan mereka tidak akan mendapat siksa api neraka karena usahanya, tetapi itu salah besar. Karena Allah juga sudah menyediakan siksa bagi mereka yang berkhianat. Sebagian Hukama memberi gelar khusus kepada para ustad/zah jenis ini, yaitu para Ulama Dunia. Karena mereka mengerti konsekuensi besar atas sandangan gelar tersebut tapi mereka tutup mata dan telinga dan menjadi gelap mata.

Lalu apa yang dimaksud dari kata "Ulama Dunia" yaitu ulama yang menyebarkan ilmunya kepada umat untuk mengejar-ngejar keindahan dunia, sebagai jembatan untuk memperoleh kemuliaan dan kedudukan di hadapan para memimpin dunia.

Nabi saw. bersabda: "Kelak di akhir jaman, ada orang bodoh tekun beribadah dan para alim-ulama yang menyimpang."

Nabi saw. juga bersabda: "Janganlah kamu belajar ilmu dengan tujuan berbangga diri dihadapan para ulama, untuk mendebat kepada orang-orang bodoh dan untuk menarik simpati dari manusia. Barang siapa melakukan hal tersebut, maka nerakalah tempat kembalinya."

Nabi saw juga bersabda: "Barang siapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuk atas dirinya, maka tidak semakin dekat dia kepada Allah tapi semakin jauh."

Semua ini menunjukkan betapa bahayanya suatu ilmu berada di tangan yang salah. Kadang kala, orang alim justru mengajukan diri mereka ke dalam kehancuran; hancur selamanya atau beruntung selamanya. Dan sungguh, orang yang terjun ke dalam ilmu akan sulit keselamatannya kalau dia tidak betul-betul beruntung.

Umar. ra berkata: "Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan diantara semua masalah yang ku khawatirkan menimpa umat ini adalah semakin banyaknya orang munafik yang pandai(alim ulama). Mereka bertanya: " Bagaimana bisa seorang munafik bisa alim!"

Umar ra. menjawab: "Alim dan pandai lidahnya, tapi hati dan amalnya amat bodoh."

Hasan ra. berkata: "Janganlah kamu mengumpulkan ilmu dari ulama dan menimba mutiara hikmah dari para hukama, namun jalanmu seperti jalannya orang-orang bodoh dalam hal beramal."

Fudlail bin Iyyad berkata: "Sungguh aku merasa kasian terhadap tiga macam orang" :
1). Orang bangsawan yang menjadi rendah
2). Orang kaya yang jatuh miskin
3). Orang alim yang dipermainkan manusia.

Kata Hasan: "Siksa seorang ulama dunia adalah hati yang mati. Dan hati yang mati disebabkan mencari dunia dengan perbuatan yang bersifat ukhrawiyah."

Nabi saw. bersabda: "Sesungguhnya ada orang alim yang disiksa dengan suatu siksaan, dan para penghuni neraka akan mengelilinginya karena terlalu beratnya siksa."

Maksud orang alim tersebut adalah orang alim yang menyimpang (dari kealimannya). Usamah bin Ziad ra. berkata: "Aku mendengar rasulullah bersabda: " Pada hari kiamat akan didatangkan orang-orang alim, kemudian di lempar ke neraka sampai usus-ususnya terburai keluar laksana seekor keledai berputar membawa panggilingan."
Para penghuni neraka berkumpul dan bertanya: "Mengapa kamu seperti ini!" Dia menjawab: "AKu memerintahkan kebaikan tapi aku sendiri tidak melaksanakannya."

Sungguh siksa bagi ulama dunia akan dilipatgandakan karena besarnya maksiat mereka, karena sesungguhnya mereka mengerti, namun mereka menampik semua kebenaran itu. Maka dari itu Allah Swt berfirman dalam Al Quran:

"Sesungguhnya orang-orang munafik berada dalam tingkat neraka paling bawah...." (QS. An Nisa:145)

Firman-Nya yang lain:
"Maka ketika datang kepada mereka apa yang mereka mengerti, lalu mereka mengingkari, maka laknat Allah buat orang-orang yang ingkar." (QS. Al Baqarah:89)

Firman Allah Swt mengenai kisah Bal'am Baa'urak:
"Dan bacakanlah kepada mereka suatu kabar mengenai orang-orang yang sudah Kami berikan ayat-ayat kepadanya, kemudian dia membuangnya sampai dia diikuti syetan, maka dia termasuk orang-orang yang sesat." (QS. Al Araf:175)

Sampai Dia berfirman:
"Maka dia laksana seekor anjing, jika engkau menghalau, dia akan menjulurkan lidahnya..." (QS. Al Araf :176)

Demikianlah nasib orang alim yang lacut (menyimpang), Sebab Ba'lam telah diberi Kitab oleh Allah, namun ia lebih senang mengikuti hawa nafsunya, lantas ia pun diumpamakan anjing. Artinya, di diberi hikmah atau tidak diberikan, lidahnya tetap menjulur keluar mengikuti kesenangan hawa nafsu.

Maka dari itu Nabi saw bersabda: "Sebaik-baiknya manusia adalah orang mukmin yang alim, yang bila dibutuhkan bisa memberi manfaat, bila tidak dibutuhkan, maka ia bisa mencukupi dirinya."


Catatan: "Memang tidak semua ustad memiliki prilaku seperti diatas, dimasa lalu kita pernah punya Alm. Ustad Jefry Al Bukhori yang kini sudah tenang di sisi Allah, semasa hidupnya walau ia sedang berada di puncak kejayaan dan dunia sedang menghadap dirinya, namun dia tidak silau dan terlena, sebaliknya beliau hanya memilih menjual pakaian Koko yang dirancangnya sendiri di pasar Tanah Abang, atau menciptakan lagu2 Nasyid yang indah, perilakunya tetap rendah hati dan sederhana, mungkin inilah sebabnya Beliau dipanggil lebih dahulu, agar tidak terjangkit penyakit mabuk dunia. Semoga Arwahnya tenang di alam sana."
Mengapa para ustadz yang ada sekarang tidak bisa bersikap seperti Alm. Uje? mengapa mereka memilih menghamba kepada manusia dan kesenangan dunia? Maka dari itu teman, berhati-hatilah kita jika ingin mendapat gelar ustadz/ah, pelajarilah ilmu sebaik-baiknya, karena siksa bagi para ustadz/ulama amat berat di akhirat. Dan berhati-hatilah jika ingin mengikuti ilmu pendakwah, karena jika kita tidak tahu apa yang ada dalam hatinya (motif utama yg bukan krn Allah), maka kelak kita juga akan ikut disiksa bersamanya.

Sangat besar hikmah yang dikandung dari peristiwa ini, yaitu ke depannya akan menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak lagi sembarangan dan asal-asalan dalam memilih pemimpin/pemuka agama, lihatlah bagaimana cara mereka memperlakukan dirinya, apakah mereka memang bersungguh-sungguh ingin berbakti kepada Allah atau ada unsur lain yang menyelimutinya. Sayang sekali jika akhirnya kita tidak bisa memilih siapa orang yang pantas menjadi imam kita, sementara kita mengerti beratnya konsekuensi itu juga akan menjadi tanggung jawab kita nantinya.



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar