Minggu, 02 Februari 2014

Makar kepada Al Islam dari Semua Penjuru

HM Aru Syeif Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam


Yang hendak dikemukakan dalam artikel ringkas ini sebuah fakta yang kini mengisi kehidupan manusia sejagat raya, yakni munculnya pertentangan bahkan perang antarpuak, bangsa-negara, ideologi-agama. Fakta ini muncul dalam kehidupan manusia sepanjang bisa dicatat oleh sejarah.

Fenomena paling mengemuka --sejak kehadiran Islam-- semua puak, ideologi-agama yang satu sama lain selalu bertikai, namun tatkala berhadapan dengan Islam, semua puak, ideologi-agama akan bersatu-padu melawan Islam. Dan Islam pun menghadapi makar dari segala penjuru.


Catatan sejarah, sejak Islam lahir abad ke-7, pemeluk Islam segera meluas di seantero jagat, dengan dominan menguasai sebagian benua Eropa, dan Afrika, serta kawasan Hindhustan, Asia Tengah, bahkan China, juga dianut puak Melayu di Nusantara termasuk Indonesia.

Islam diketahui memberi pencerahan pemikiran di tiap-tiap dominasi suatu wilayah. Bangsa Frank (sebutan orang Islam terhadap bangsa-bangsa Eropa) tidak terkecuali mendapat inspirasi pencerahan pemikiran karena sentuhan dan kehadiran Islam. Diyakini lahirnya revolusi Prancis, Renaissance justru didorong oleh kehadiran Islam. Doktrin Kristiani yang dijalankan gereja menolak penemuan-penemuan para ilmuwan Yunani dalam berbagai bidang, sebaliknya justru mendapat apresiasi di dalam ajaran Islam. Orang Frank mendapat pencerahan dari Islam namun mereka tidak mau mengikuti ajaran Islam, kecuali yang tinggal di Spanyol, tapi kemudian dibasmi setelah Islam dikalahkan. Beberapa puak di kawasan Balkan juga menjadi kecuali dan menjadi penganut Islam sampai hari ini.

Kepeloporan Islam di benua Eropah justru dibalas oleh perasaan dendam orang-orang Frank terhadap Islam, sehingga mengobarkan Perang Salib pada tahun 1100-an yang diprakarsai tokoh-tokoh gereja, diantaranya Paus Urbanus yang bertahta di Vatikan. Syndrom Perang Salib sampai hari ini masih menguasai orang Barat, termasuk orang Frank yang kini bermukim dan bernama Amerika Serikat (AS). Adalah George Walker Bush Presiden AS yang kembali menyebut-nyebut Perang Salib (Crusade) tatkala membalas serangan-- yang dia umumkan-- dilakukan Osamah Bin Laden dengan menghancurkan Menara Kembar WTC September 2001, lalu AS segera menyerbu Afghanistan dan Saddam Husein (Irak).

Permusuhan terhadap Islam dan pengikutnya bukan hanya dilakukan orang Frank yang identik dengan Kristen itu. Tapi permusuhan juga dilancarkan pengikut agama dan ideologi lain, seperti Hindhu yang tercermin apa yang dilakukan di India dengan menindas umat Islam, peperangan tak henti-henti di Kashmir, juga penghancuran masjid Babri dengan dalih menjadi lokasi Kuil Dewa Rama; Orang Budha, tercermin penindasan orang Islam Rohingya di perbatasan Myanmar-Bangladesh, juga di Thailand Selatan. Hampir semua agama, ideologi dan semua “isme” dalam semua aliran, niscaya selalu bertabrakan melawan Islam. Namun seperti disebut di muka, walau berbagai aliran itu saling konfrontasi di antara mereka, namun tatkala berhadapan dengan Islam, mereka bersatu-padu melawan Islam. Mengapa demikian?

Inilah yang diyakini umat Islam, fenomena seperti itu sebuah keniscayaan belaka, karena Al Islam membawa missi Al Haq, sehingga dengan sendirinya dilawan anasir kebatilan dalam bentuk dan wadah apapun.

Catatan faktual bisa dibentangkan dalam skala mondial. Betapa amat sangat sengit permusuhan internal antar pemeluk Kristen, yakni pemeluk Katholik dan Protestan di Daratan Inggris Raya, sehingga memisahkan Inggris dan Irlandia, dan saling teror sepanjang abad, dengan korban jiwa ratusan ribu bahkan jutaan jiwa. Namun, tatkala menghadapi Islam dalam berbagai kepentingan, maka pemeluk Katholik dan Protestan pun--termasuk di Indonesia--bersatu-padu menghadapi Islam. Orang Frank di seluruh Eropa menutup mata ketika orang Serbia (sesama Kristen) membantai sangat kejam ratusan ribu jiwa rakyat Muslim Bosnia. Orang Amerika Serikat yang konon mengagungkan Hak Asasi Manusia (HAM) pun membiarkan saja pembantaian Muslim Bosnia pada 1992-1993, sampai terungkap adanya ladang pembantaian di Srebrenika, yang terdeteksi dari satellite, sedikitnya 50.000 Muslim Bosnia dibantai dan dikubur secara massal. AS pun dengan malu-malu ikut campur menghentikan kebiadaban Serbia itu.

Berlaku di Indonesia

Fenomena konspirasi semua golongan yang selalu menentang bahkan makar kepada Islam, berlaku di Indonesia dan tercermin di dalam tata kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan sekalipun. Mengapa bisa terjadi, bukankan jumlah rakyat Indonesia--kini 250-an juta jiwa--mayoritas mutlak 88% beragama Islam ? Barangkali fenomena di Indonesia ini sekadar mengekspresikan perasaan minority complex yang merasa terancam dari mayoritas. Karena itu sikap perlawanan gabungan itu selalu dilancarkan para penganut Kristen khususnya Protestan dan Katholik yang bergabung melawan Islam. Belakangan golongan lain ikut berkonspirasi menentang aspirasi Islam, misalnya golongan Aliran Kepercayaan atau Kebatinan. Di era reformasi sejak 1998, golongan dan agama lain pun berani unjuk gigi menentang, aspirasi Islam, misalnya Hindhu Bali khususnya setelah peristiwa peledakan Bom Bali I. Ethnis China yang minoritas--Khong Hu Cu-- pun mulai berani menentang kepentingan aspirasi Islam.

Perhatikan dengan cermat dalam berbagai kasus pembahasan Rancangan Undang-Undang di DPR yang berbau atau berkaitan dengan aspirasi Islam, maka gabungan berbagai aliran dan agama serta keyakinan itu pun memvorsir kekuatan menjadi satu melawan aspirasi Islam. Anehnya gabungan kekuatan melawan aspirasi Islam itu, kendatipun ihwalnya tidak mencederai atau merugikan kelompok bersangkutan. Pokoknya jika sesuatu itu sedang diperjuangkan oleh kelompok Islam maka harus dilawan habis-habisan. Apalagi jika sesuatu hal itu menyangkut dan mencederai bahkan merugikan kelompok yang bersangkutan, maka tindakan perlawan all-out pun segera dilancarkan.

Contohnya ketika RUU Pendidikan pertamakali dibahas di DPR pada 1989, fraksi PDI yang dimotori orang Kristen (Nico Haryanto), Katolik (Suko Waluyo) dengan gigih menolak RUU Pendidikan itu karena mencantumkan pasal yang mewajibkan bagi setiap sekolah umum harus menyediakan guru agama sesuai dengan agama peserta didik (siswa). Mereka menjerit menolaknya, karena sekolah-sekolah Kristen-Katholik--walau sekolah umum SD-SMP-SMA--tetapi mereka tidak menyediakan guru agama Islam sebaliknya walau murid-murid sekolah itu kebanyakan beragama Islam, tetap saja malah diajarkan pelajaran agama Nasrani. Itulah missi Kristenisasi mereka. Perdebatan di DPR itu dimenangkan kalangan Islam. Namun, di tingkat PP (Peraturan Pelaksanaan) di Kementerian Depdiknas, praktik sekolah-sekolah Kristen tidak mengajarkan pelajaran agama sesuai agama peserta didik itu tidak pernah dilarang apalagi mendapat sanksi.

Media massa cetak maupun elektronika TV ikut memenangkan opini yang tengah diperjuangkan gabungan golongan yang melawan aspirasi Islam itu. Hal ini bisa dimengerti, karena media massa itu dimiliki golongan-golongan anti Islam itu. Umat Islam tengah memperjuangkan pembubaran aliran sesat Ahmadiyah, juga Syiah, maka gabungan golongan anti Al Islam itu pun ramai-ramai menyokong Ahmadiyah dan Syiah.

Umat Islam di Bogor menentang pembangunan Gereja Yasmin, yang terang-terangan melanggar hukum positif, namun gabungan golongan itu pun ramai-ramai mendukung Gereja Yasmin bahkan menjadi propaganda anti Islam ke seluruh dunia. Yang paling mencolok niscaya aspirasi Islam tentang kewajiban Muslimah mengenakan jilbab--yang tidak merugikan golongan lain-- dan marak dikenakan para pelajar putri sejak 1980, maka gabungan menentang jilbab pun marak di negeri ini sejak 1980 hingga hari ini.

Penolakan jilbab dalam berbagai ekspresi dilakukan kendati dengan cara-cara yang sangat irrasional. Kasus terakhir kini berlaku di Bali, yang diketahui sebagai propinsi mayoritas memeluk Hindhu Bali. Jika Pemda di Bali belakangan pasca Bom Bali I+II menerapkan kebijakan diskriminatif terhadap pemeluk Islam saat beribadah di dalam masjid, misalnya tidak diizinkan memakai pengeras suara, hal ini, bisa dicari dalihnya sebagai mengganggu masyarakat di sekitar. Tapi menolak jilbab ? Sulit dipungkiri hal itu hakikatnya sebagai kebijakan anti aspirasi Islam.

Hal serupa pengumuman berbau politis oleh Kapolri Jendral (Pol) Sutarman sesaat setelah pelantikannya menjadi Kapolri, ia mengumumkan anggota Polwan ia ijinkan mengenakan jilbab. Esok harinya di layar TV terpampang sejumlah anggota Polwan dengan antusias memperkenalkan jilbabnya yang segera disambut simpati umat Islam secara meluas. Kapolri pun dipuji-puji sebagai aspiratif dan didukung umat Islam. Namun selang beberapa hari, Wakapolri Jendral (Pol) Oegroseno mengumumkan pembatalan pengumuman Kapolri, jilbab dilarang di lingkungnan Polwan karena belum ada Juklaknya. Betapa mudahnya mempermainkan aspirasi Islam dalam berbagai kepentingan.

Pemakaian jilbab bagi seorang Muslimah, hakikatnya merupakan jantung pelaksanaan ajaran Islam bagi seorang wanita. Keberadaan jilbab tentu saja vital, karena itu orang-orang anti Islam melecehkannya dengan tujuan “menyerang” Islam secara terang-terangan dan agresif. Inilah yang dilakukan orang-orang Barat di Jerman, Prancis dan sejumlah Negara di Eropa, termasuk di Amerika Serikat. Kenapa orang Hindhu Bali juga melakukan pelecehan vital ini ? Barangkali mereka sudah memperhitungkan “gangguan” mereka terhadap Islam paska Bom Bali I+II, dengan seenaknya bisa dilancarkan tanpa respons perlawanan dari orang Islam. Apakah orang Islam akan diam saja, hak-haknya diinjak-injak golongan lain ? Saatnya bertindak. Jika tidak perilaku anti Islam ini makin merajalela. Sesuatu yang sangat ironis di negeri Muslim : Indonesia![]

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar