Jumat, 25 Desember 2015

EVI DA2 DISENGGOL, KARENA TIDAK MENYANYI LAGU MELAYU...? LAGI

Kekecewaan kembali terjadi di ajang pencarian penyanyi dangdut tingkat Asia yang disiarkan stasiun televisi Indosiar tadi malam, Evi Masamba atau Evi DA 2 yang sudah dikenal publik memiliki suara emas nan merdu, terpaksa harus merelakan tersenggol dan keluar dari 5 besar, karena alasan sepele yang dikemukakan salah satu juri dari Malaysia yaitu Pak Ngah bahwa itu karena Evi tidak pernah membawakan lagu bergenre melayu. Untuk kedua kalinya, atas alasannya ini Pak Ngah selaku juri hanya memberikan nilai 80, sementara nilai yang diberikan juri lainnya rata-rata 90, dan semua juri pun mengakui keindahan suara evi tidak diragukan lagi. lalu ada apa gerangan? apakah sudah pantas evi keluar disebabkan alasan tersebut? apakah penilaian ini layak dipertanggung jawabkan? mengingat kepiauaian evi selama ini membawakan lagu-lagu dangdut dengan sangat baik? hanya karena alasan evi tidak menyanyikan lagu melayu apakah sudah sepantasnya evi keluar dari ajang ini?

Dan juga apa yang dikemukakan Pak Ngah bahwa seorang Evi memang hanya layak untuk menjadi penyanyi berskala Indonesia bukan Asia? kalimat ini sungguh benar-benar sangat disayangkan, mengapa? karena sepertinya Pak Ngah ini kurang memahami tujuan utama diselenggarakannya acara ini, bahwa Tajuk Utama acara ini adalah DANGDUT AKADEMI ASIA, yang mana ini artinya bahwa yang dicari adalah penyanyi Dangdut untuk mempromosikan musik dangdut kepada semua masyarakat di negara-negara Asia, bukan bagian dari promosi lagu melayu. Memang kalau peserta ingin membawa lagu melayu, maka tentu saja itu tidak masalah, tetapi porsi lagu melayu bukan poin yang menentukan tentunya. Dan jika Pak NGah ingin mempromosikan lagu Melayu, maka Malaysia harus membuat acara sendiri yang tujuannya untuk mengangkat lagu-lagu melayu di kancah Asia semisal Akademi Melayu Asia.


Maka barulah di sana jurinya wajib menilai kemampuan menyanyikan lagu melayu. Disitu barulah boleh pak Ngah menuntut penyanyi membawakan lagu melayu, yang porsi penilaiannya lebih besar. Nah ini kan ajang pencarian penyanyi dangdut, kenapa pak Ngah ngotot Evi harus bisa bawa lagu melayu, yang akhirnya nilai Evi jatuh terjun bebas. Dan seakan-akan sengaja ingin mengangkat nilai pesertanya, si Fitri yang anak baru kemaren belajar dangdut nilainya sama tinggi dengan Danang yang sudah profesional. Orang bodoh aja tahu, penilaian ini cma omong kosong.


Dan yang menjadi pertanyaan masyarakat saat ini adalah, apakah dalam point penilaian penyanyi memang diwajibkan untuk membawakan lagu melayu atau genre lainnya, sehingga jika tidak, maka ini akan mengakibatkan dia di diskualiifikasi. Harusnya ketentuan itu jelas bagi peserta, jadi jangan sampai peserta seperti masuk dalam perangkap tak bertuan. Sementara di setiap penampilan, peserta diminta untuk memperhatikan teknik vokal, improvisasi dan penghayatan pada lagu saja, tetapi setelah masuk sesi penilaian ternyata ada lagu wajib yang harus dikuasai. Ya...seharusnya kalau memang yang dicari penyanyi berbakat, pastilah yang dinilai paling utama adalah kualitas suaranya, dan ciri khas dari suara si penyanyi, yang mana kepada siapapun suara itu berbunyi, maka orang dapat mengenali siapa penyanyinya tanpa harus melihat wajah si penyanyi.

Rasanya Pak Ngah ini memang dia entah punya kepentingan apa dibalik ini, tapi sungguh amat sangat disayangnya cara ia memberi nilai kepada Evi sungguh sangat menyecewakan. Kenapa? Karena sebagaimana diawal sudah disebutkan bahwa acara yang diselenggerakan di Jakarta alias di Indonesia ini adalah untuk membawa harum musik dangdut (lagu khasnya Indonesia) ke kancah internasional skala Asia, sementara itu para peserta yang mengikuti acara ini dari negara lain selain Indonesia masih berada dalam taraf belajar (pemula), bahkan mereka sama sekali tidak memamahi apa itu teknik dan irama dangdut. Mereka cuma mengetahui sedikit tentang musik dangdut, dan akhirnya setelah mengikuti ajang ini barulah mereka memahami apa itu cengkok dan nada-nada khusus yang ada dalam musik dangdut dan mulai sedikit-sedikit bisa membawakannya dengan benar.

Dalam hal ini, perilaku ini Pak Ngah ini sungguh sangat menyakitkan bangsa Indonesia, karena dia sudah mencederai tujuan utama kompetisi ini, yaitu mencari penyanyi dangdut berbakat skala asia agar bisa diterima masyarakat Asia, dengan mengatakan bahwa Evi tidak bisa menyanyi lagu melayu. Lho kok bisa? Sementara Evi adalah pemenang Dangdut Akademi 2 yang seluruh masyarakat Indonesia tahu betul ia menguasai musik dangdut termasuk lagu melayu tentunya.

Saya bicara ini, bukan ingin berkata bahwa Evi harus menjadi pemenang, disini kita bicara sedang mencari penyanyi dengan kualitas terbaik dengan cara sportif (tidak menggunakan kekuatas sms pemirsa) tetapi penilaian juri yang objektif. Jika kriteria penyanyi terbaik seperti itu yang dicari, apakah menurut anda, Evi tidak layak masuk kriteria penyanyi dangdut berbakat? Dalam hal penilaian, kita semua mengandalkan nilai sportifitas juri dalam menilai kriteria baik dan bagus. Maka dari itu, jangan lagi kita mencederai nilai kompetisi sportif yang baru dibangun ini di masyarakat ini. Hargailah juga usaha masyarakat yang ingin ikut serta menjadi saksi lahirnya seorang Diva skala Asia untuk tampil menjadi penyanyi Dangdut berkemampuan internasional. Semangat sportifitas ini harusnya dijaga dengan baik oleh semua pihak.

Jika tidak maka publik akan kecewa. Mengapa publik kecewa? masyarakat berharap adalah ajang kompetisi paling jujur dan murni dilahirkan karena betul-betul sipenyanyi memiliki kemampuan maksimal, bukan Diva yang lahir karena jumlah SMS (text) atau juga bukan karena tindak kecurangan yang dilakukan secara sengaja dan terang-terangan di depan mata.

Jika maksud tindakan culas tersebut adalah dengan tujuan untuk membuat Malaysia menjadi salah satu pemenang, sekaligus mengangkat musik melayu melalui pesertanya, maka pihak penyelenggara yang akan dirugikan.

Penyelenggara acara ini dipermalukan, karena dianggap tidak bisa mencari penyanyi dangdut untuk skala Asia sesuai ekspektasi masyarakat Asia? Apa opini dan pendapat anda? Saya pribadi menganggap hasil keputusan dewan juri sangat tidak sportif. Karena itu berarti sudah membuat tujuan pencarian penyanyi dangdut berbakat ini menjadi gagal total. Bukan penyanyi dangdut lagi yang dicari ini ajang ini, tetapi penyanyi yang bisa menyanyi banyak genre musik. Hal ini sangat amat disayangkan, dan sebaiknya kompetisi ini tidak dilanjutkan lagi jika masih tidak punya flatform yang jelas tentang jenis penyanyi apa yang hendak di cari. Dan sebaiknya juga pihak penyelenggara tidak kembali menggunakan juri Pak Ngah sebagai pihak penilai. Akibat tindakannya tersebut sudah membuat kacau seluruh acara (karena terjadi banyak fitnah dan pencemaran nama baik).

Pihak Indosiar juga harusnya tegas memberikan arahan kepada para juri, bahwa ini adalah kontes penyanyi dangdut, bukan penyanyi melayu, POP atau R n B. Dan pihak pemberi sponsor juga harusnya bisa menghitung kerugian nama baik yang di pasangnya di acara ini, pada akhirnya acara ini meninggalkan kesan buruk di mata masyarakat saja. Nilai investasi sponsor juga akan cedera dengan kasus ini karena dianggap tidak mampu menghasilkan pemenang dengan tingkat spotifitas tinggi.

Dan para penyanyi dangdut senior Indonesia/komentator juga harusnya keberatan dengan keputusan ini, ini bukan hasil akhir yang diharapkan. Bagaimana mungkin masyarakat dipaksa untuk menerima saja hasil pilihan juri sementara pada akhirnya yang akan menjadi penikmat musik mereka adalah masyarakat Asia pada umumnya masih menganggap ajang ini penuh dengan aksi manipulasi dan kecurangan.

Disamping itu, kita semua tahu bahwa genre musik melayu tidak terlalu populer di telinga masyarakat Indonesia yang notabene penduduknya dua ratusan juta orang, jauh dengan jumlah penduduk Asia secara keseluruhan. Hanya beberapa lagu melayu saja yang bisa diterima di sini, selebihnya tidak ada yang kenal. Sementara di malaysia, hampir semua artisnya mengetahui lagu dangdut dan mereka hafal, ini artinya musik dangdut lebih bisa diterima daripada musik melayu itu sendiri.

Well...sekali lagi kita harus menghadapi sikap Malaysia yang mengecewakan, dan nampaknya dalam berbagai hal, kita selalu harus mengingatkan kepada mereka bahwa genre musik dangdut berbeda dengan musik melayu. Bahwa Batik Jawa tidak sama dengan Batik Melayu dan sebagainya. Bahwa kita pun pernah punya sejarah buruk tentang kompetisi sepak bola dengan Malaysia dan sebagainya. Apakah kali ini kita kembali lagi akan mengalah dengan sikap dan tindakan mereka yang semena-mena di negeri orang? Kita kembali lagi harus membiarkan mereka menginjak-injak harga diri kita di negeri kita sendiri seperti ini. Lalu apa pendapat anda, sudah sepantasnya Pak Ngah itu meminta maaf atas tindakan cerobohnya itu, lihat lah beberapa waktu belakangan ini, pendukung setiap peserta baku hantam di sosial media tanpa bisa didamaikan dan di tengahi, lalu apa yang akan kita hasilkan nantinya? Tidak ada, karena Akhir ajang kompetisi ini hanya menghasilkan kekecewaan dan sakit hati semata.






















Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar