Kamis, 27 November 2014

MENUJU JIWA YANG TENANG DAN DI RIDHOI

Makna sederhana dari kata ketenangan jiwa adalah kondisi dimana jiwa itu sudah berada pada tahap ketenangan sejati, rasa lapang, tidak ada tekanan, menerima kenyataan, berpasrah diri pada Sang Khalik, bisa merasakan manisnya iman, bisa mengendalikan diri dan hawa nafsu, jauh dari kebencian, tenteram dan hati menjadi luas dan lepas.

Manusia yang sudah bisa mencapai tahap ketenangan jiwa ini adalah manusia yang memahami hakikat kehidupan, sudah mengertia apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Dan umumnya manusia akan menjadi lebih tenang jika ia sudah berada di dekat Penciptanya, jika manusia sudah mengenal dan meyakini bahwa ada kekuatan amat besar di alam ini yang melampaui kekuatan apapun dan hanya DIA yang maha berkuasa atas dirinya dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Dan itulah hakikat diciptakannya jiwa ini bagi seluruh mahluk, jiwa itu akan selalu mencari kebenaran hakiki tentang sosok Penciptanya dan jiwa akan merasa tenang jika sudah menemukan dan menjadikan Sang pencipta sebagai sandaran utama hidupnya. Kemanapun jiwa itu pergi dan sembunyi maka jiwa akan selalu berupaya mencari kebenaran hakiki, karena itulah hakikat diciptakannya jiwa.

"Yaitu orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah swt". QS. Ar Rad :28)

Lalu seperti apa sebenarnya wujud dan kiprah sosok jiwa yang tenang dalam diri manusia sebenarnya.

HAKIKAT JIWA, AN NAFS DAN KALBU

Ada baiknya kita mengetahui dulu siapa sosok Jiwa yang menghuni raga kita ini. Jiwa atau Nafs dan biasa orang menyebutnya Soul juga memiliki sisi ghaib yang sama sekali tidak bisa kita definisikan dengan sempurna. Siapa sosok jiwa yang dimaksud dan dimana letak dan penempatannya? An Nafs atau Jiwa adalah yang memiliki bentuk atau wujud atau susuk yang belum tergambarkan, yang diciptakan dari unsur alam yaitu min sulaatin min thiin (ekstrak/saripati alam), maka dari itu sosok jiwa adalah wujud yang mudah berdaptasi dengan alam kehidupan dunia (membutuhkan asupan energi yang berasal dari alam), sedangkan Roh bukan tercipta dari unsur alam ataupun dari unsur yang sama dengan Malaikat mahupun Jin, ia adalah jisim yang hingga sekarang masih merupakan bagian dari rahasia Allah swt.

Semua berawal ketika jiwa ini disumpah untuk meyakini keberadaan Tuhan yang Esa, maka memang ia mengakui dan tidak menyanggah hal tersebut. Bahwa ada kekuatan yang berkuasa atas dirinya dan ia sudah mengakui dan ia mau menjadi saksi di hari akhir kelak. Jiwa ini adalah sosok yang merasa, berkehendak, memahami, dan menerima. Ia bisa membedakan dan bisa mengerti sebuah perintah dari Tuhannya. Jiwa ini sangat memahami bahwa ia sangat bergantung pada penciptanya, bawa ia akan selalu membutuhkan pertolongan Sang Pencipta. Sehingga jelaslah, bahwa setiap jiwa manusia ketika dilahirkan ke dunia ini ia sudah memahami hakikat ketuhanan. Dan Ia dilahirkan sudah dalam kondisi mengenal konsep penciptaan. berikut firman Allah swt dalam surah (Al Araaf:172) yang bermaksud:

“Dan Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman : ”Bukakankan Aku ini Tuhanmu”, mereka menjawab :”Bahkan engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”. Kami lakukan demikaian agar di hari akhirat kelak kamu tidak mengatakan: sesunggunya kami adalah oran-orang lalai terhadap keesaaaan Mu.

Itulah sebabnya setiap Jiwa manusia pasti akan senantiasa mencari tahu keberadaan Tuhan meski ilmu mereka sangat minim, meski mereka berusaha menjauhinya, mereka tidak pernah berhenti untuk mempercayai bahwa ada kekuatan yang Maha dahsyat di dunia ini. Jiwa tidak akan merasa tenang sampai pada tahap ia mengetahui siapa sosok yang yang harus disembah dan diagungkan. Karena diawal mereka sudah terikat janji dan sumpah untuk selalu hanya mengabdi kepada-Nya.

Hakikat kebutuhan beragama sudah ada sejak manusia lahir ke bumi ini. Mulai dari jaman nabi Adam hingga datanglah kemajuan baru dengan lahirnya Nabi Muhammad saw yang membawa risalah kebenaran dengan Kitab suci Al Quran. Meski selama perjalanannya memang ada sebagian ajaran yang menyimpang dan tidak sesuai akidah, namun itu akhirnya bisa dikembalikan pada kebenaran. Didalam al quran sudah terangkum dan tersusun jelas ajaran-ajaran dari nabi sebelumnya, mulai dari Kitab Taurat, Jabur dan Injil menjadi sebuah kitab yang sempurna. Dan semuanya memiliki masa berproses dengan waktu yang cukup panjang.

“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat allah, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. QS. Ali Imran:164.

Pilihan Jalan Ketaqwaan dan Kefasikan

Dan ketika proses penciptaan jiwa hampir mencapai kesempurnaan, maka turun ayat berikut ini, yang menyatakan bahwa pada setiap jiwa diilhamkan pilihan kepada jalan ketaqwaan atau kefasikan dalam menempuh bahtera kehidupan. Setiap jiwa akan mengetahui mana yang dimaksud dengan kebenaran dan mana yang dimaksud dengan kesalahan. Dan jiwa juga diberi pemahaman bahwa jika ia mau mensucikan diri (jiwa)nya maka ia akan menjadi lebih baik, sedangkan jika ia merusak jiwa tersebut maka ia akan menjadi kotor.

Surah Asy Syams (91:7-9) . Firmanya yang bermaksud:
Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah ilhamkan kepada nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang yang mengotorinya.

Ini artinya bahwa setiap jiwa juga sudah diberikan pengetahuan tentang konsep ketuhanan yang benar, juga diberikan pemahaman tentang hakikat memilih jalan yang lurus dan jalan keburukan, juga dilengkapi dengan kemampuan mengenal dan belajar melalui banyak hal.

Setiap jiwa diperbolehkan menentukan pilihannya masing-masing. Sepenuhnya itu tergantung pada kebutuhan masing-masing jiwa. Setiap jiwa akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dan setiap keputusan sudah diambil dengan penuh kesadaran, sudah melewati tahap pencarian, pembelajaran, sudah di pikirkan dan difahami dan dikaji . Tidak ada lagi alas an bagi setiap jiwa untuk menghindar dan menyanggah semua kenyataan ini bahwa manusia adalah mahluk yang tidak bersyukur jika ia tidak memahami hakikat kemanusiaannya yang sempurna ini.

“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang dikerjakannya.” Quran At takwir :14

Dengan demikian, jelaslah bahwa setiap jiwa akan bertanggung jawab pada diri mereka masing-masing dihari akhir kelak. Setiap jiwa akan dimintakan pertanggungjawabannya atas semua perbuatan yang pernah dilakukan di dunia. Tidak ada yang dapat menyelamatkan setiap jiwa dari kehancuran dan siksa api neraka, selain amal ibadahnya selama di dunia.

CARA KERJA JIWA DAN HATI

Jadi secara harfiah, sesungguhnya jiwa manusia ketika diciptakan adalah suci dan bersih, termasuk unsure ruh yang ada didalamnya. Setiap orang diberi fitrah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala berupa kesucian (jiwa yang lurus). Ia akan mengawali kehidupannya dengan fitrah suci ini. Manusia adalah mahluk allah yang paling sempurna komposisinya, meski ia hanya terbuat dari segenggam tanah dan setetes air mani, namun manusia adalah karya ciptaan allah yang terbaik yang pernah ada. Sebagaimana sabda Rasulullah yang bermaksud:

"Sesungguhnya kami ciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpang) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami jadikan dia mahluk yang (berbentuk) lain. Maha SUci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS. Al-Mu'min [23]:12-14)

Maka dari itu beruntungkah orang yang mensucikan hatinya dan rugilah orang yang mengotori hatinya.

JIWA YANG TERSESAT

Untuk menjawab mengapa ada jiwa yang tersesat dan ada yang menuju jalan yang lurus? Dalam hal ini kita akan kembali lagi dibawa kepada sejarah masa lalu yang berkaitan dengan awal penciptaan Nabi Adam as. Dimana ketika Allah menghukum bangsa Iblis untuk keluar dari surge akibat membangkang perintah-Nya untuk tunduk dan sujud kepada Adam, maka Iblis membuat sumpah bahwa ia akan menyesatkan dan menjerumuskan manusia dan keturunannya.

Allah swt. berfirman :
قال فبعزتك لأغوينهم اجمعين الا عبادك منهم المخلصين
Artinya : Iblis bersumpah ”Demi sifat keagunganMu Tuhan, niscaya aku pasti akan membujuk anak cucu Adam semua. Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas (dalam beramal)”.
 

Itulah sumpah Iblis. Ia dan seluruh tentaranya akan berusaha sekuat tenaga mereka demi menjerumuskan anak cucu Nabi Adam as. Ke jalan yang sesat.  

Dalam surat Al a’rof ayat 16-17 juga di sebutkan:
قال فبما اغويتني لاءقعدن لهم صراطك المستقيم ثم لاءتينهم من بين ايديهم ومن خلفهم وعن ايمانهم وعن شمائلهم ولاتجد اكثرهم شاكرين

Artinya : ”Iblis menjawab karena Engkau (Allah) telah menghukum saya tersesat maka saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapat kebanyakan mereka bersyukur ( taat)”.

Assyeh Nashr menafsiri ayat di atas bahwa iblis akan menghalang-halangi upaya anak cucu Adam dari menjalakan semua aturan-aturan yang telah di sahkan oleh Allah, dan iblis akan menyesatkan mereka dengan berbagai bentuk rayuan-rayuanya, iblis mendatangi mereka untuk membujuk dalam berbagai bentuk:

1. Iblis menggoda manusia supaya mereka melupakan Akhirat sehingga mereka dalam kebimbangan (berada di tepi)

2. Iblis merayu manusia dengan berbagai perhiasan dunia sehingga mereka akan jatuh hati pada dunia dan melupakan Akhirat.

3. Iblis akan menyesatkan manusia dari arah agama dan keataatan artinya manusia di pengaruhi oleh iblis dalam menjalankan ibadahnya supaya mereka tidak ikhlas, malas-malas dalam beramal dan supaya ujub atau membanggakan diri dll

4. Iblis akan menggoda manusia untuk selalu berbuat maksiat dan mungkar.

Maulana Assyeh Amin Al-Kurdhi menyebutkan tentang kaitannya dengan ayat ini bahwa sewaktu allah swt memberi kelonggaran waktu pada iblis bisa hidup sampai kiamat iblis lalu berkata:
وعزتك لااخرج من قلب ابن ادم مادام فيه الروح

“Demi sifat kemulyaan-MU tuhan aku tidak akan keluar ( untuk mengganggu ) dari hatinya anak cucu adam selagi mereka masih mempunyai ruh” lalu allah berfirman:
لا امنعهم التوبة مادامت ارواحهم في اجسادهم

“Demi sifat kemulyaanku aku tidak akan menolak tobat mereka selagi ruh masih berada di jasad mereka”

Iblis berkata lagi, لاغوينهم اجمعينniscaya aku pasti akan membujuk mereka semua”
allah berfirman lagi لاكقرن عنهم سيئاتهم 
“pasti aku akan menghapus semua kejelekan-kejelekan mereka”
Iblis berkata lagi:
لااتينهم من ايديهم ومن خلفهم وعن ايمانهم وعن شمائلهم
Aku pasti akan mendatangi mereka dari arah depan mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan mereka, dan dari kiri mereka”
setelah mendengar itu semua hati malaikat menjadi tipis(kasihan)terhadap manusia, kemudian allah berfirman:
انه بقي للانسان جهة الفوق والتحت فاذا رفع يديه باالدعاء على سبيل الحضوع اووضع وجهه على الارض على سبيل الخشوع غفرت له الذنوب ولا ابالى
Artinya “Sesungguhnya masih ada cara bagi manusia yaitu arah atas dan bawah, apabila manusia mau mengangkat ke dua tangan untuk berdoa dengan penuh ketundukan atau meletakkan wajahnya pada bumi ( sujud ) dengan penuh khusu’ maka aku akan mengampuni dosa-dosanya secara pasti”
 
Dalam sanubari setiap Bani Adam itu selalu di temani oleh dua teman yaitu :Malaikat


CARA KERJA SYETAN MENYESATKAN MANUSIA


Syetan dengan sedaya upaya akan menutupi hati manusia dari menerima nur illahi. Karena sesuai kodratnya setiap manusia mempunyai jiwa yang suci, didalam jiwa ada tiga sifat yang menyertainya; mutmainah, lawammah dan amara bi’su. Dalam perjalanan hidup manusia tersebut, mulai dari kanak-kanak hingga dewasa, mana diantara ketiga sifat jiwanya itu yang mendominasi. Mana diantara ketiga sifat itu yang menjadi pemimpin atas dirinya, jika ia mampu menghalau usaha syetan yang ingin menyesatkannya, semoga saja ia selamat dari bujuk rayu. Sedangkan jika ia tidak bisa mengendalikan hawa nafsu dalam dirinya, maka kemungkinan ia akan mengikuti langkah-langkah syetan.

"...dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (QS. As Shaad:26)

Syaitan akan senantias menutupi hati manusia adalah dengan cara menghidupkan hawa nafsu tercela (nafs lawammah) dan membawanya ke arah maksiat serta kegelapan. Syetan akan membimbingnya ke jalan kefasikan, sebagaimana sudah ditetapkan bagi manusia memang mengenal adanya jalan kemungkaran. Manusia yang sudah masuk ke dalam perangkap syetan dan membiarkan jiwanya menjadi kotor dan tercemar lama kelamaan dalam dirinya berjangkit berbagai penyakit hati seperti: dengki, iri, ujub, congkak, riya, sombong dan sebagainya. Jika jiwa sudah mengetahui dan sadar bahwa tindakannya itu salah dan ia membiarkan dirinya dalam perbuatan dosa dan tidak berusaha memperbaiki diri dan bertobat. Lalu allah membiarkan dirinya tersesat sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya surah (Jaastsiyah:23) yang bermaksud:

“Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mata pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Maka mengapa kamu tidak mengambil iktibarnya.”

Kesimpulan dari penjabaran di atas adalah bahwa hakikat menuju jiwa yang tenang adalah ketika seorang manusia mengenal dirinya dan mengenal juga Pencipta-Nya, maka dengan serta merta ia juga akan memahami dan mengetahui arah tujuan hidupnya. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang dapat mengenali tugas dan kewajiban, bisa membedakan mana jalan kebenaran dan mana jalan kefasikan, bisa mengendalikan diri terutama hawa nafsunya, bisa mengenali kebutuhan jiwanya sendiri serta bisa menjadikan diri terutama jiwanya bernilai manfaat bagi orang lain. Jiwa yang tenang adalah hakikat ketenangan sejati dari dalam hati dan bisa membuat seseorang memiliki keteguhan hati dalam menentukan sikap dan bertindak menetukan jalan hidupnya sendiri menuju cahaya kebenaran illahi. Sebagaimana firman Allah tentang hati yang tenang berikut ini:

"hai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi di ridhoi. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaku, masuklah ke dalam syurgaku". QS Al Fajr; 27-30.


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar