Rabu, 15 Mei 2013

Pria yang telah Memenuhi Janjinya

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya) (Al Ahzaab: 23)

Kami menyebutnya Abu Misra, seorang mujahid yang berasal dari mesir. Berbagai front jihad sudah didatanginya dalam rangka memenuhi panggilan Robbnya, untuk menolong agama-Nya, menjaga syariat-Nya dari hamba-hamba yang zalim dari kaum fasik dan munafik yang menodai risalah-Nya, dari para pembangkang yang melampaui batas dan menentang perintah Rabbnya.


Saat umat islam di Bosnia terdzalimi dan dunia tiada peduli, maka ia datang sebagai seorang saudara dengan kewajiban membantu saudara yang tertindas dan terdzalimi, ketika bumi Afghanistan membara ia pun datang untuk membantu saudaranya yang teraniaya… Chechnya, Iraq, Libya dan negeri jihad lainnya dimana lapangan jihad terbuka disana, ia pun datang untuk melaksanakan kewajiban dan ketaatan kepada Rabbnya,berjihad meninggikan kalimat-Nya.

Dan kini, saat bumi Syam negeri yang diberkahi Allah dinodai oleh musuh-musuh-Nya, saat kehormatannya diinjak dengan tapak penuh dosa dan debu durhaka, saat Suriah menangis darah karena kebengisan rezim nushairiyyah, Abu Misra rahimahullah pun kembali memenuhi janji kepada Rabbnya ia datang untuk membantu saudara mukmin yang terluka.

Ahli Membuat Bom

Beliau rahimahullah adalah seorang dengan karakter mujahid ideal (tanpa mensucikan dirinya sedikitpun) rendah hati, tidak banyak diketahui orang, berakhlak mulia, bertutur kata santun, senantiasa menjaga adabnya kepada Rabbnya maupun kepada manusia. Tidak meninggalkan kewajiban kepada Allah sebagai tuntutan keimanan dan senantiasa menjauhi perkara yang membuat murka Rabbnya.

Abu Misra dikenal dikalangan mujahidin sebagai ahli dalam membuat bom, tentu dengan bekal militer yang dimiliki, pengalaman dilapangan puluhan tahun dan spesialisasi dalam membuat bahan-bahan peledak serta anugerah dari Allah membuatnya matang dalam mencipta bom dengan berbagai variannya. Beliau sangat mengenal betul bahan-bahan apa saja yang dapat dijadikan alat peledak, dan tahu bagaimana bahan tersebut dapat meledak atau tidak. Campuran apa saja yang dibutuhkan, persentase dari masing-masing bahan, sangat dihafalnya. Dan karena kemampuannya tersebut, beliau sering dimintai oleh ikhwan mujahidin dari berbagai Negara untuk mengajari mereka cara membuat bahan peledak.

Beberapa waktu lalu, saat teman-teman mujahidin Suriah sedang praktek cara membuat bom sebagaimana yang diajarkannya, beliau datang untuk memeriksanya. Dengan rasa tidak percaya dan heran beliau mengatakan bahwa apa yang teman-temannya campurkan dari bahan-bahan yang ada seharusnya menciptakan ledakan, tapi yang aneh saat itu tidak terjadi ledakan. “Wah, kami tidak tahu akhi. Kalo gitu silahkan antm perbaiki”, kata salah satu ikhwan. Beliau pun akhirnya turun untuk memastikan keanehan yang terjadi hingga tidak berapa lama kemudian, “Buummm” ledakan pun terdengar markas mujahidin tersebut.

Qadarullaah maa syaa’a fa’al (Jika Allah takdirkan satu hal maka pasti akan terjadi), Allah menghendaki Abu Misra untuk menghadap-Nya pertama kali. Dialah yang menjadikan campuran bahan peledak tadi ‘terdiam’ sampai kemudian menjadikannya sesuatu yang mematikan dalam jarak waktu beberapa saat saja. Abu Misra dan tiga ikhwan lainnya syahid (in sya Allah) dengan tubuh yang hancur lebur tercerai berai. Seolah ingin menunjukkan bahwa apa yang dilakukan hamba-Nya telah diridhai-Nya, Allah Ta’aala menyisakan tangan kanan Abu Misra dan dua ikhwan lainnya dengan kondisi bersih tanpa darah dan goresan luka (disaat anggota yang lain ditemukan dalam kondisi yang penuh darah) dan jemari yang menggenggam dengan jari telunjuk seperti seorang yang sedang tahiyyat dalam shalat. Seakan ingin menyampaikan Robbku hanyalah Allah Yang Esa.

Isyarat Kesyahidan

Seorang Syaikh pernah bercerita kepada kami, dan beliau adalah sosok mujahid yang semoga Allah jaga beliau dengan keistiqamahan. Beliau telah menghadapi berbagai kesulitan dalam meniti jalan jihad, separuh hidupnya dihabiskan didalam penjara rezim bashar la’natullah. Didalam penjara ini juga beliau banyak menemui tokoh-tokoh mujahidin Suriah yang salah satunya adalah penulis buku yang luar biasa yaitu Syaikh Abu Mushab Assuuri, dimana beliau pernah bersama menikmati dinginnya sel penjara berdua selama satu tahun.

Beliau menceritakan kepada kami bahwa dua hari sebelum kesyahidannya, Abu Misra datang ke Katibah kami (Syaikh adalah Qaid disalah satu Katibah Mujahidin), seharian kami menghabiskan waktu bersama. Dan Abu Misra berkata, “Syaikh, semalam ana bermimpi bahwa ana akan menemui kesyahidan disini (Suriah), in sya Allah.” Kemudian Syaikh bertanya, “Bagaimanakah rasanya saat antm mendapatkan kesyahidan, adakah rasa sakit itu?” beliau menjawab, “Ana tidak merasakan sakit itu karena demikian cepat, kecuali seperti sakitnya seseorang yang digigit seekor semut”. Maasya Allaah.

“Dan beliau telah menepati janjinya kepada Allah, setelah berpisah kami tidak lagi bertemu sampai kabar kesyahidannya setelah dua hari kedatangannya, dikamar ini.” Jelasnya.

Kita tidak tahu dimana kelak kita akan menemui sang maut dan kita juga tidak tahu apakah yang akan menimpa kita esok hari, maka seyogyanya kita persiapkan semuanya dalam rangka meniti jalan Allah dalam rangka mendapat ridha-Nya.



Abu Dzahir

Kontributor bumisyam.com di Suriah

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar