Senin, 22 Agustus 2016

PEREMPUAN SUPER DI ERA MODERN MASIH SEBATAS WACANA

Beberapa waktu lalu kita memperingati hari kemerdekan, dan setiap tahun kita juga memperingati Hari Kartini, sebagai wujud penghormatan kita kepada jasa para pahlawan pejuang emansipasi yaitu RA. Kartini. Pejuang emansipasi perempuan yang dikenal sangat gigih memperjuangkan hak-hak perempuan. Dalam kaitan nilai kemerdekaan dengan semangat emansipasi ini, adakah perempuan sudah mendapatkan kemerdekaaan yang sesungguhnya? Ataukah ternyata hingga kini mereka masih dijajah dalam bentuk penjajahan berkedok modernisasi.

Namun jika merujuk para makna kata emansipasi, Apa itu emansipasi? Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia Emansipasi ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak diberi hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu. Sudah faham betulkah masyarakat kita tentang inti semangat emansipasi ini? Bahwa misi utama emansipasi ini sebenarnya bukanlah untuk membuat kebanyakan perempuan menjadi mangsa para pelaku kejahatan sebagai bagian dari sisi kesetaraan yang mereka maksudkan. Lalu bagaimana sikap dan tanggapan kaum pria yang seakan-akan mendapatkan tantangan untuk bisa bersaing dengan kaum wanita. Apa reaksi mereka?

Faktanya ada banyak kaum pria ketika berhadapan dengan perempuan dalam suatu situasi mereka mendorong perempuan untuk menggunakan hak emansipasinya (kesetaraan) jika ingin mendapatkan perlakukan yang sama (tempat duduk di angkutan umum misalnya). Yang pada akhirnya, bukannya mendapat perlakukan yang baik, sebaliknya jadi terkesan memojokkan dan melecehkan, karena akhirnya perempuan yang mendapat keistimewaan. Atas nama emansipasi ini justru perempuan menjadi sasaran kesewenangan kaum adam yang menganggap perempuan tidak seharusnya menuntut perlakukan yang sama jika pada faktanya mereka tidak mampu melakukan hal serupa. Banyak diantara kaum laki-laki yang menganggap aneh tuntutan kaum perempuan ini, terlalu tidak mungkin dalam hal apapun, karena perempuan punya banyak kelemahan dan kekurangan fisik. Dimata sebagian pria, tuntutan ini dianggap terlalu mengada-ada dan berlebihan.

Ada kesan, justru ketika perempuan mengatakan peran mereka dilandasi atas nama emansipasi, perlakuan yang
mereka terima justru sikap nyinyir dan meremehkan. Karena seakan-akan perempuan hanya berusaha bersembunyi dibalik slogan emansipasi demi mendapatkan banyak fasilitas lebih baik atas dasar kelemahannya itu. Lalu apa yang salah dengan semua ini? Nampaknya kita semua sudah salah mendefinisikan makna emansipasi yang di maksud Ibu Kita Kartini, nampaknya ada doktrin yang salah di mengerti tentang apa sebenarnya makna emansipasi. Terutama bagi kebanyakan kaum pria. Yang pada akhirnya mereka sedikit terpaksa menerima doktrin tersebut walau memang dalam pelaksanaannya terkesan dipaksakan. Diantara sekian banyak kesalahfahaman penjabaran makna emansipasi ini bahkan menjadikan perempuan pihak yang paling banyak dirugikan.

Perempuan sendiri tidak bisa menentukan batasan apa yang seharusnya menjadi lingkup wilayah mereka ketika harus berhadapan dengan kekuatan fisik, kekuasaan, politik dan kriminalitas. Perempuan kerap menjadi umpan dan sasaran empuk yang dikorbankan demi mencapai tujuan segelintir orang. Dari sekian banyak persoalan yang berhubungan dengan perempuan, sebagian besar diantaranya perempuan hanya dijadikan sample/calon korban yang tidak berdaya, dan sebagian lainnya menjadi pelaku kejahatan yang ingin menampakkan kekuatan/kekejaman mereka. Atas nama emansipasi, mari kita hitung bersama point-point berikut ini, disisi mana perempuan diberdayakan sebagaimana seharusnya mahluk Tuhan yang paling indah, point mana yang menunjukkan peran mereka tidak ada beda dengan benda mati.

1. mari kita hitung ada berapa banyak TKI yang sudah dikirim ke luar negeri untuk mencari pekerjaan dengan alasan ekonomi sehingga mereka terpaksa meninggalkan keluarga di kampung demi sesuap nasi, pada beberapa kasus mereka menerima perlakuan tidak adil bahkan perbuatan biadab dari majikan. dan pemerintah hanya menghitung income atas pemasukan negara dari hasil keringat mereka lalu mereka diberi gelar para kartini devisa? apakah seperti ini layak disebut emansipasi?

2. mari kita hitung berapa banyak buruh perempuan yang dipekerjakan dipabrik-pabrik dengan standar upah rendah dan sama sekali tidak memperhatikan standar keselamatan yang mengutamakan kepentingan perempuan, ada banyak hak yang dilanggar dan itupun juga terpaksa mereka lakukan karena alasan ekonomi. Apakah itu layak disebut emansipasi?

3. mari kita hitung ada berapa banyak pekerja sektor informal yang berkeliaran di pinggir-pinggir jalan dan menjajakan barang dagangannya menjadi pedagang kaki lima, pekerjaan informal inipun terpaksa mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Apa ini wujud emansipasi sebenarnya?

4. mari kita hitung ada berapa banyak perempuan muda cantik terpaksa menjadi pekerja seks komersial yaitu pekerjaan mereka adalah melayani laki-laki hidung belang, karena mereka tidak punya keterampilan dan keahlian, dan sebagainya sekali lagi karena alasan ekonomi, apa ini yang dimaksud emansipasi?

5. mari kita hitung berapa banyak kaum perempuan muda yang bekerja di kantoran dan gedung-gedung bertingkat, berangkat pagi pulang malam dan di tengan perjalanan mereka mendapatkan perlakukan tidak senonoh oleh oknum-oknum di berbagai moda transportasi umum, sekali lagi ini dilakukan atas nama tuntutan ekonomi. Apakah ini yang dimaksud pejuang emansipasi?

6. mari kita hitung ada berapa banyak perempuan yang menjadi menjadi sentra ekploitasi dunia hiburan dan entertainment, mereka merelakan dirinya menjadi pusat perhatian dan pusat kejahatan seksual karena kecantikan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomis segelintir orang, sekali lagi itu dikarenakan dorongan ekonomi dengan imbalan menggiurkan. Apakah ini yang dimaksud emansipasi?

7. mari kita hitung berapa persen sektor pekerjaan yang seharusnya banyak diisi kaum perempuan seperti; pendidikan, kesehatan, kesenian, keterampilan dan sebagainya namun didalamnya pun mereka tetap harus bersaing dengan kaum lak-laki yang juga mendominasi bidang ini. Apa ini yang disebut emansipasi?

8. mari kita hitung ada berapa banyak kaum perempuan yang terpaksa menjalani pekerjaan pria misalnya menjadi supir, buruh bangunan, kuli angkut, olahragawan, tentara, termasuk juga pelaku kejahatan dan sebagainya. Apa ini yang diperlukan untuk menunjang semangat emansipasi?

9. mari kita hitung ada berapa banyak perempuan yang bekerja di sektor pemerintahan daerah dan pusat, yang mana sebenarnya waktu mereka harusnya lebih banyak dipakai untuk mendidik anak-anak di rumah, namun terhalang keadaan karena kesibukan di kantor yang tidak mengenal waktu senggang. Ujungnya, urusan anak-anak dan keluarga diserahkan kepada asisten rumah tangga yang pengetahuannya tidak seberapa (standar SLTP).

10. mari kita hitung ada berapa banyak perempuan yang meninggal dunia di tempatnya bekerja, meninggal akibat kekerasan di jalan, kekerasan dalam rumah tangga, akibat kekerasan seksual dan sebagainya, entah itu disebabkan kesengajaan atau tidak sengaja mengakibatkan mereka harus kehilangan nyawa, lalu negara pun tidak melihat jasa yang mereka sumbangkan dan menganggapnya kecelakaan biasa.

11. Atas nama emansipasi, mari kita hitung ada berapa banyak anak-anak kita yang menjadi korban kekerasan seksual, korban kekerasan dalam rumah tangga akibat orang tuanya berpisah, korban pembunuhan berencana, sasaran empuk berbagai aksi kejahatan yang mana semua itu dimulai dari ketiadaan perhatian orang tua yang sibuk bekerja dan mereka lebih mementingkan karier dibanding keutuhan rumah tangga dan keselamatan anak-anaknya. APa ini tujuan emansipasi?

Dan ada banyak lagi, yang mana ujung dari semua ini akhirnya adalah pendidikan anak jadi terbengkalai dan sudah anda hitung ada berapa banyak kerugian perempuan akibat mereka terpaksa meninggalkan rumah dan anak-anaknya di kemudian hari kelak? Anak-anak kitalah yang menjadi korban paling besar menanggung dampak semua ini, yaitu dimana mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tidak menghormati orang tuanya termasuk orang lain, karena semasa kecilnya ia diasuh oleh orang yang dibayar dan bukan oleh orang tuanya sendiri yang memberikan nilai-nilai moral ketulusan. Anak-anak dengan pola asuh mengekang dan membatasi gerak mereka akan menghasilkan tumbuh kembang generasi yang kaku dan keras menghadapi kehidupan, mereka adalah jiwa-jiwa yang pamrih.

Pertanyaan besarnya adalah? dimana nilai kemuliaan wanita dalam lingkup emansipasi wanita di 11 point atas? jika anda bisa melihatnya dengan mata hati yang jelas, justru wanita disana tidak ada bedanya dengan budak? emansipasi dalam bentuk baru perbudakan manusia yang mana manusianya sendiri tidak menyadari diri mereka sedang dieksploitasi, hak-haknya di pasung dan diborgol oleh Hak asasi Manusia (HAM) yang menganggap mereka sebagai para pahlawan devisa bagi sang penguasa padahal sesungguhnya mereka tidak lebih dari budak yang diberi label emansipasi modern. Sadarkah anda akan hal itu?

Apakah semua poin diatas anda sebut semangat kesetaraan gender? Apakah anda tidak melihat besarnya sisi buruk yang dihasilkan, Apakah anda tidak merasakan bahwa sebagian besar dari perempuan hanya dijadikan sapi perah penguasa untuk menggerakkan roda ekonomi diberbagai sektor. Perempuan di negeri ini hanya dijadikan alat untuk membanjiri jumlah tenaga kerja sehingga investor mau masuk dan ongkos/upah buruh bisa ditekan. Bukan dalam rangka untuk mensejahterakan, namun untuk mengambil keuntungan dari sisi negatif emansipasi yang mana perempuan di negeri ini mau dan bersedia dijadikan buruh murah.

Lalu apa yang terjadi? Generasi muda kita hancur, baik secara moral dan mental. Kenapa? karena pola didik di rumah yang salah (diasuh oleh asisten rumah tangga atau bahkan oleh media sosial dan gadgetnya), dan kebiasan apa yang dilakukan orang tuanya kelak juga akan diwariskan kepada anak-anaknya dan seterusnya, hingga benar-benar hancurlah generasi kita ke depannya. Sebagaimana yang terjadi di sekeliling kita belakangan ini, ada orang tua memukul guru, ada anak-anak mengeroyok petugas sekolah, ada guru berkelahi dengan wari murid dan sebagainya. Semua pelaku saling baku hantam atas nama kepentingan masing-masing semakin mendominasi.

Bandingkan jika saja perempuan tidak banyak menghabiskan waktunya diluar rumah, bekerja di rumah (usaha kecil menengah) atau bekerja di bidang tertentu saja yang sesuai bidang-bidang pekerjaan yang memang membutuhkan banyak keahlian tangan seorang wanita, misalnya di rumah sakit, klinik, apotik, sekolah, pelatihan dan pusat seni dan budaya, tentulah jiwa mereka juga tidak akan terganggu karena tidak akan menjadi sasaran kekerasan. Mereka juga akan tetap menjadi wanita yang bisa memberikan kontribusi kepada negara namun juga tidak mengesampingkan perannya sebagai pendidik di rumah. Bagaimanapun perempuan adalah mahluk Tuhan yang paling indah dan mereka diciptakan bukan sekedar untuk menjadi penghilang dahaga nafsu birahi para penikmat seks, mereka punya peran membangun generasi cerdas di masa depan.

Jika kita ingin bicara soal kesetaraan gender, maka perempuan harusnya bisa menentukan dibidang apa ia semestinya berkarya dan dengan siapa seharusnya ia berhadapan, bukan dengan laki-laki perkasa yang berkuasa di bidang yang seharusnya banyak digeluti perempuan. Perempuan harusnya bisa berkarya maksimal dibidang yang paling kondusif bagi ke-genderan mereka, bukan di bidang yang digeluti kebanyakan laki-laki berotot dan bukan harus ikut bersaing dengan kebanyakan laki-laki di medan perang, karena jika demikian maka kita akan menemukan ketidaksetaraan. Karena bagaimanapun kondisi fisik pria memang berbeda dengan wanita, tidak akan pernah sama sampai kapanpun. Bahkan Tuhanpun menciptakan manusia dengan memberikan perbedaan yang amat jelas antara laki-laki dan perempuan, baik secara fungsi dan manfaat, seharusnya manusia bisa merasakan bahwa tujuan Tuhan memberikan batas perbedaan itu adalah agar keduanya bisa saling melengkapi satu sama lain, bukan untuk bercampur baur seperti yang terjadi saat ini.

Ingatlah wahai saudara/iku, nilai-nilai emansipasi yang dimaksud ibu kita kartini adalah semua wanita boleh bersekolah dan menentukan pilihan namun tentulah yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Semua wanita indonesia boleh bekerja namun tentulah harus yang sesuai dengan keahlian dan keterampilannya. Semua wanita indonesia boleh berkarier namun tentulah sesuai dengan kodratnya yang mengayomi dan melindungi keluarga dan masyarakat. Tidak ada yang salah dengan nilai-nilai luhur emansipasi yang dimaksudkan sang ibu pertiwi, namun kita sendiri yang salah mendefinisikannya secara berlebihan dan melampaui batasan yang sudah kita semua sepakati.

Selama ini kita menganggap emansipasi adalah kita harus duduk sama-sama, bisa bertarung bersama kaum pria, masuk ke dalam ring tinju dan berhadapan dengan berbagai macam lawan laki-laki dan perempuan berbagai tipe lalu dipaksa memenangkan pertandingan hingga babak akhir, tanpa ampun. Padahal sesungguhnya tidak, perempuan tetaplah harus ditempatkan di tempat yang layak, mulia, dan terhormat, diberikan kemudahan dan kenyamanan sehingga mereka bisa berkembang sesuai nilai-nilai emansipasi itu sendiri. Tetap harus ada batasan yang membedakan perlakukan antara pria dan wanita dalam berbagai bidang, dan dalam berbagai hal wanita seharusnya yang mendapat prioritas terbaik dalam hal pelayanan publik dan jasa.

Cara pandang masyarakat kita yang selama ini selalu menuntut kesetaraan hak semata, karena definisi kesetaraan dimaksud adalah kesetaraan peran dalam hal saling bekerja sama dalam membangun generasi cerdas dan tangguh di masa depan. Baik laki-laki dan perempuan punya peran masing-masing dan harus ada kerjasama dengan baik.
Dalam kehidupan bermasyarakat Perempuan tetaplah harus mendapatkan perlakuan yang baik, dihormati dan dimuliakan dalam berbagai sisi kehidupan. Perempuan haruslah mendapatkan perlakukan istimewa dan lebih terhormat dalam hal apapun, karena perempuan adalah mahluk Tuhan yang istimewa dan mereka adalah para tokoh pembentuk generasi emas di masa depan, jasa mereka sangat besar bagi bangsa ini dan semua keberhasilan suatu negara berada di tangan para wanitanya.

Ajaran Islam secara khusus mengajarkan bagi setiap orang untuk bisa memuliakan wanita dalam berbagai hal, Islam sangat menghormati dan mengagungkan peran kaum perempuan. Sungguh agama Islam sangat menghargai dan memuliakan kaum perempuan dengan menetapkan hukum-hukum syariat yang khusus bagi mereka, serta menjelaskan hak dan kewajiban mereka dalam Islam. Semua itu bertujuan untuk menjaga dan melindungi kehormatan dan kemuliaan mereka.[2]

Syaikh Shâlih al-Fauzân hafidzahullâh berkata: “Wanita Muslimah memiliki kedudukan yang agung dalam Islam, sehingga banyak tugas mulia yang disandarkan kepadanya. Oleh karena itu, Nabi selalu menyampaikan nasehat-nasehat yang khusus bagi kaum wanita[3] , seperti khutbah yang beliau sampaikan di Arafah (ketika haji wada’).[4] Ini semua menunjukkan wajibnya memberikan perhatian kepada kaum wanita di setiap waktu….[5]

Di antara bentuk penghargaan Islam terhadap kaum perempuan adalah dengan menyamakan mereka dengan kaum laki-laki dalam mayoritas hukum-hukum syariat, dalam kewajiban bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla , menyempurnakan keimanan, dalam pahala dan siksaan, serta keumuman anjuran dan larangan dalam Islam.[6]

Jika saja kita semua sepakat bahwa dalam kehidupan bermasyarakat kita semua memandang perlu menghormati dan memuliakan perempuan dan ibu untuk kita jadikan tauladan, menghargai mereka dan mengutamakan peran serta mereka. Kaum laki-laki mau sukarela menjadi pemimpin dan pelindung bagi kebanyakan kaum perempuan, semua dilakukan dalam rangka mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan. Dengan sikap seperti ini, tentu saja berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan bisa ditekan, kejahatan yang menjadikan perempuan sasaran akan berkurang, tindak penyimpangan orientasi seksual bisa dihindari dan kerja aparatur penegak hukum akan jadi lebih ringan. Karena timbul kesadaran bagi kaum pria untuk berperan menjadi pemimpin dan tameng serta pelindung bagi perempuan, anak-anak, manula, disable dan sebagainya.

Peran laki-laki yang bertindak sebagai pembela kaum lemah akan sangat dibutuhkan bagi seluruh manusia tidak terkecuali bagi mahluk Allah swt lainnya. Timbul kesadaran di masyarakat kita bahwa kaum laki-laki sudah menaungi kaum perempuan dan membantu dalam berbagai keadaan, dengan kondisi seperti ini tentu saja kaum laki-laki tidak lagi memandang perempuan sebelah mata, justru akan menjadikan keadaan yang kondusif bagi seluruh lapisan masyarakat karena tahu mereka sama-sama berperan membangun bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik tentunya.


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar