Selasa, 12 April 2016

HIDUP INI TIDAK LEBIH DARI "PERJALANAN MIMPI"

Anda mungkin pernah mendengar selentingan bahwa hidup ini hanya sementara, bahwa hidup hanya persinggahan, hidup adalah singkat dan sebagainya. Lain halnya dengan para hukama (ahli himah), yang ilmunya sudah sangat luas memandang kehidupan, maka bagi mereka hidup di dunia ini tidak lebih dari sekedar perjalanan mimpi, mimpi yang bersifat sementara yang harus dijalani. Jiwa manusia sedang mengembara di alam dunia mimpi, mereka diberi kesempatan untuk mengambil perbekalan di dunia agar ketika terbangun dari mimpi panjangnya di alam akhirat nanti ia sudah siap dengan membawa berbagai kebutuhan yang diperlukan, karena sudah memiliki bekal yang cukup untuk membangun kehidupan abadi di kampung akhirat.

Sementara Perkataan para Hukama bicara tentang perjalan hidup anak manusia hanyalah mimpi; "Celakalah para budak-budak dunia yang mengejar keindahannya. Dunia laksana perjalanan mimpi; kejernihannya adala keruh, senangnya membahayakan, keselamatan merupakan tipuan, terangnya adalah kegelapan,...kenikmatan adalah penyesalan dan penemuannya merupakan ketiadaan. Dunia tidak akan mampu menyembuhkan dari segala kesulitan, maka lepaskanlah dia, jangan pandang keindahannya, sebab dia merupakan kenikmatan yang menyimpan siksa. Dan berbuatlah kamu demi perkampungan akherat, yaitu perkampungan yang terjamin tanpa ada kematian dan ketuaan.

Definisi Mimpin sendiri oleh para ahli diartikan dengan pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya selama tidur (kondisi badan non aktif),[1] terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep).

Bedanya perjalanan mimpi hidup manusia ini dibatasi oleh waktu (usia), bersifat sementara, bisa terbangun dari mimpi kapan saja yang Allah inginkan, boleh menggunakan berbagai fasilitas di dunia ini tetapi tidak boleh diambil/dimiliki, tidak ada satupun benda dunia yang bisa di bawa ke luar alam mimpi, kecuali yang sudah berbentuk amal kebaikan. Manusia bermimpi ia berjalan dimuka bumi seakan sedang berada dalam suatu tempat yang indah (dunia yang fana), sebagaimana layaknya mimpi, semua kejadian dalam mimpi terlihat sangat jelas dan nyata, tetapi kita tidak punya kuasa atas perjalanan waktu yang terus berjalan maju, setiap mimpi akan terekam dalam ingatan hingga kita terbangun nanti (di padang ma'syar). Semua tindakan itu harus dipertanggung jawabkan, jika selama perjalan mimpi itu kita banyak berbuat kebaikan maka ketika terbangun kita akan merasa senang sebaliknya jika selama perjalanan mimpi banyak melakukan dosa/maksiat, maka setelah terbangun dari mimpi kelak kita akan menyesalinya dan berharap itu tidak pernah terjadi.

Dalam perjalanan mimpi di dunia ini kita bisa merasakan berbagai kenikmatan; makanan enak, mengobrol, mengendarai kendaraan, dan menempati rumah bagus, tetapi semua itu hanya bersifat fatamorgana, tidak bisa dikuasai sepenuhnya, bisa hilang dan sirna kapan saja dan bisa berpindah tangan kepada siapa saja. Apa saja yang dilakukan memang terasa nikmat, namun semua kenikmatan itu tidak bisa digenggam dan tidak bisa dikuasai, kenikmatan itu tidak memberi kebaikan apapun bagi si pemimpi, selain makin membuat jauh untuk makin masuk kedalam lagi (lupa diri).

Lalu mengapa Allah selalu mengingatkan kita untuk menapaki jalan yang lurus dan yang diridhoi? karena kepada siapa saja yang sudah tersesat dalam mimpinya maka Allah berusaha menyadarkan mereka agar mereka tidak terperosok ke dalam lubang yang dalam, atau agar kita tidak tersesat terlalu jauh dalam kehancuran, karena semua ini hanyalah mimpi…."wahai manusia, sadarlah kalian," maka dari itu Allah selalu membimbing kita agar kita segera sadar akan kesalahan lalu cepat-cepat bertobat dan berbenah diri dan mempersiapkan perbekalan menuju alam akhirat. Sebagaimana firman ALlah berikut ini:

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

“(Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim), yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat “
(Al Fatihah:6-7).

Maka dari itu Allah amat membenci orang yang menyerah dengan hidupnya, yaitu orang-orang yang bunuh diri dengan sengaja mengakhiri hidupnya sebelum datang ketetapan atas dirinya. Karena mereka telah berputus asa dari rahmat Allah swt, mereka memaksakan diri bangun dari mimpi sementara keadaan mereka masih berlumuran dosa. Mereka tidak mau mendengarkan panggilan menuju jalan kebenaran dan ketakwaan, memilih jalan hawa nafsunya untuk mengakhiri hidup ini sebelum sempat bertobat dan mempersiapkan diri.

Ibnu Abbas ra. Pernah berkata; "Sungguh Allah menjadikan dunia menjadi tiga bagian; sebagian untuk orang mukmmin, sebagian untuk orang munafik, dan sebagian untuk orang kafir. Orang mukmin jelas digunakan untuk mempersiapkan bekal akhirat, orang munafik dipakai untuk berhias/mempercantik diri dan orang kafir dipakai untuk bersenang-senang."

Lihatlah apa yang dilakukan para pecinta dunia, mereka menjalani kehidupan mimpinya dengan terus membangun mimpi diatas mimpi. Tidak ada hari bagi mereka selain terus berlari mengejar mimpi-mimpi kosong. Semakin mereka berada dipuncak mimpi, pandangan mereka semakin kabur dan buram, tidak ada apapun yang mereka temukan di sana kecuali kehampaan dan kekosongan, mereka seakan tersadar bahwa mereka sedang menjalani sebuah perjalanan mimpi yang panjang. Lalu terhentak sejenak karena terbentur pada sesuatu yang amat keras. Lalu mereka akhirnya sadar bahwa semua yang mereka kerjakan hanya kesia-siaan.

Lihatlah apa yang dilakukan para pembenci dunia (orang mu'min dan sholeh), mereka menjalani kehidupan mimpinya ala kadarnya saja, mengambil untuk keperluan hidup secukupnya saja dan mempersiapkan diri mengumpulkan sebanyak-banyaknya perbekalan untuk dibawa ke alam akhirat. Tidak banyak yang mereka ambil di dunia ini, selain apa yang cukup untuk dimakan dan apa yang layak dipakai dibadan, tidak melebihi kadar kemampuannya. Mereka memilih menahan diri dan bersabar dalam kesempitan dan kemiskinan, mereka memilih menahan beratnya beban kekuasaan dan jabatan, serta memilih menjauh ditengah lautan manusia yang mabuk dunia (zuhud). Dan sesungguhnya hanya orang-orang yang sadar dengan perjalanan mimpinya untuk menuju alam akhirat saja yang akan selamat melewati masa-masa paling sulit peralihan alam mimpi menuju alam kahirat yaitu pedihnya kematian.

Diriwayatkan; "Dunia adalah tidur akherat adalah bangun; diantara keduanya ada kematian. Sementara kita semua saat ini sedang berada dalam mimpi-mimpi kosong. Barang siapa yang melihat berdasarkan hawa nafsunya tentu akan kebingungan ketika bangun kelak karena tidak menyangka bahwa alam akhirat itu nyata"

Semua orang harus dan wajib melewati kematian yang menyakitkan jika ingin menuju perkampungan akherat yang abadi, hanya saja sebelum menuju ke sana anda harus tahu benar password (kata kuncinya) ketika di tanya para malaikat di dalam alam kubur kelak, jika ternyata anda tidak bisa menjawab pasword dengan benar, maka malanglah nasib mulai dari dalam kubur hingga hari dibangkitkan tidak akan selamat. Tapi jika anda bisa menjawab password dengan benar, maka selamatlah anda menuju alam perkampungan akhirat. Maka dari itu apa yang membuat seseorang bisa menjawab password dengan benar di alam kubur kelak adalah selama hidup didunia pastikan anda sudah mengenal Allah swt, mengenal Nabi Muhammad saw, belajarlah dan amalkan semua aturan dan jauhi semua larangannya. Pastikan anda sudah memiliki cukup banyak perbekalan, lalu berserah dirilah kepada-Nya.

Saat ini kita sedang dalam perjalan mimpi yang melelahkan, tidak ada akhir dari semua ini kecuali kondisi dimana kita akan terbangun dan mendapati banyak kesalahan dan perbuatan yang pernah kita lakukan di dunia lalu tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi, karena kita tidak akan bisa mengulang kembali mimpi yang telah pergi. Maka dari itu wahai saudaraku, tahan diri kalian dari berbagai godaan sebagaimana yang sering terjadi dalam mimpi kita ketika terlelap, jauhkan sifat tamak dan serakah pada dunia, ambilah apa saja yang hak dan tinggalkan yang bukan hak (haram). Siapkan banyak perbekalan menuju alam akhirat (jangan ada yang tertinggal) menuju kampung akherat yang merupakan kehidupan kita yang paling nyata, kehidupan yang tidak ada keraguan didalamnya, disanalah kita semua akan kembali.

Sebagaimana istilah yang sering kalian sampaikan, :Hari ini dunia nyata dan akhirat hanya cerita dan Esok Akhirat nyata dan dunia yang jadi cerita. Ya seperti inilah hidup kita sesungguhnya.

Yahya bin Mu'adz menulis kata-kata hikmah; "Hendaklah pandanganmu ke dunia dipergunakan untuk mengambil pelajaran, kemauan usahamu sendiri merupakan keterpaksaan, dan kemauanmu mencari bekal akhirat adalah sesuatu yang harus dipercepat."

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar