Selasa, 21 Februari 2017

ANGKA 23% GOLPUT ANCAM PILKADA DKI II

Kita dibuat bingung dengan hasil pilkada DKI baru-baru ini, perolehan suara kubu Ahok termasuk tinggi untuk ukuran orang yang sudah melecehkan agama. Tetap berada di posisi teratas, Ahok memimpin di angka 43% sementara saingannya Anies-Sandi hanya terpaut sedikit 40%. Angka ini Sangat mengherankan, meski sudah berstatus terdakwa atas dakwaan penistaan Agama, Ahok masih tetap menjadi pilihan mayoritas warga jakarta. Kondisi ini sangat mencengankan dan sekaligus mengherankan banyak pihak.

Karena menurut rilis data KPU, jumlah orang yang golput juga tinggi. Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI sudah menuntaskan real count Pilkada DKI Jakarta 2017. Sebanyak 5.563.418 atau 77,1 persen dari total pemilih 7.218.272 orang menggunakan hak suaranya. Sisanya, 1.654.854 pemilih atau sekitar 22,9 persen tidak menggunakan hak pilihnya alias golput. Jumlah warga sebanyak ini 23% dengan sengaja tidak menggunakan hak pilihnya, merupakan sebuah pertanyaan besar, apa alasan mereka tidak mau mengggunakan Hak pilihnya. Padahal berbagai ormas islam seperti PBNU, Muhamadyah dan MUI juga sudah sangat jelas sikap keagamaannya terhadap kasus Ahok. Pada saat pemungutan suara juga ada banyak warga yang tidak bisa menggunakan hak pilihnya karena kehabisan surat suara.

Pasca pemungutan suara juga terjadi saling tuding perebutan suara yang oleh kedua kubu Ahok dan Anies yang mengklaim mendapat limpahan suara dari pasangan Agus-Silvi, padahal suara Agus-Silvi hanya berkisar 17%,(936.376 suara) sementara suara orang yang golput jauh lebih besar 23% (1.657.435 suara) ini dibiarkan saja. Ada apa gerangan? mengapa banyak masyarakat yang tidak ambil bagian dalam pesta demokrasi lima tahunan ini. Ini adalah moment langka dan seharusnya bisa dijadikan jalan untuk melakukan perubahan.

Disamsumsikan jika total suara yang diperoleh kubu AHok kebanyakan berasal dari dukungan partai politik gemuk yang siap memenangkan AHok jadi gubernur DKI, diantaranya; PDI-P, Golkar, Nasdem dan Hanura. Serta sejumlah anggota dewan di parlemen, ditambah dengan pendukung yang seetnis dan seagama, komunitas teman ahok, pendukung fanatik dan sebagainya. Jumlah itu memang sangat wajar diperoleh ahok, karena suara itu murni memang orang-orang yang tanpa kompromi masih menginginkan ahok menjabat. Nah masalahnya, sekian banyaknya orang yang memilih golput ini juga akan menjadi persoalan besar jika hingga pencoblosan di putaran kedua nanti mereka masih tetap tidak mau menggunakan hak pilihnya. Suara mereka bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan politik. point inilah yang akan kami bahas kali ini, bagaimana caranya agar orang-orang yang sebelumnya golput agar mau berpartisipasi dalam pilkada nanti, untuk mengurangi potensi kecurangan dan manipulasi data.

PENDUKUNG FANATIK AHOK

Selain para pendukung setia AHok diatas, ada juga sekelompok orang yang selalu tampil dibarisan depan, sekumpulan ibu-ibu berkerudung/hijab membawa spanduk terang-terangan menyatakan diri mereka memberi dukungan pada petahana Ahok-Djarot. Baik itu mereka tunjukkan di posko pemenangan, mereka juga kerap tampil disaat sidang Ahok di depan pengadilan. Mereka datang lalu mengelu-elukan dan memuji-muji sang idola dengan bangganya menyatakan diri memberi dukungan dan suaranya untuk pasangan ini. Memang benar itu adalah hak masing-masing orang, tapi apakah harussejelas itu mereka menampakkan diri sebagai bagian dari kelompok yang sudah menistakan agama mereka sendiri. Berikut data hasil pooling 2 lembaga survey tentang peran pemilih muslim;

Merujuk pada data survei, jelas sekali dukungan umat Islam ke Ahok sangat kuat. Berdasarkan data Lingkaran Survei Indonesia (LSI), 27,7 persen pemilih Islam memilih Ahok. Sedangkan Anies hanya dipilih 22,8 persen dan Agus cuma 20,6 persen pemilih muslim. Masih ada 28,9 persen pemilih muslim yang belum mengambil keputusan. Data Populi juga mirip. Ahok didukung pemilih muslim. Ia meraih 42,5 persen. Sedangkan Anies dan Agus masing-masing kebagian 25,3 persen dan 16,8 persen.

Data ini sangat mengherankan dan memalukan umat muslim secara umum, mereka tahu Ahok membuat kesalahan, tetapi bersikap seolah-olah Ahok itu orang suci yang bisa dimaafkan dan diberi kesempatan. Padahal sikap ahok yang anti islam ini sudah berlangsung sejak lama, dalam beberapa kesempatan ahok selalu menggunakan isu agama untuk mendorong elektabilitas dirinya. Nah, jika ini adalah kali pertama, mungkin boleh saja kita berharap ia tidak akan mengulangi kesalahan lagi, tetapi ini sudah jadi kebiasaan, maka tidak menutup kemungkinan kelak ahok akan melakukan kesalahan lagi.

Apakah alasannya semata-mata karena mereka sudah merasa puas dengan hasil kerja sang petahana, sampai harus menolak perintah agama (sangat jelas disebutkan dalam surat Al Maidah 51 (yang dinistakan ahok) yaitu larangan memilih calon dari kalangan non muslim). Mereka tidak pedulikan itu, lalu tetap pada pendiriannya memilih pemimpin nonmuslim, karena alasan materi dan duniawi. Apakah eksistensi Ahok jauh lebih penting dari perintah Allah swt. Kondisi ini sangat jelas tergambar pada jiwa warga jakarta yang memegang KTP DKI, walau mereka menjadi dilematis dalam memilih pemimpin, kebanyakan mereka memilih Ahok karena alasan logis dan materialis, yaitu menginginkan perubahan dan perbaikan yang sangat nyata. Dan menurut mereka hal itu hanya bisa dicapai oleh seorang Ahok.

Kita semua muslim juga memahami jika faktanya memang ada orang nonmuslim bisa membawa perbaikan, ada juga calon dari kalangan non muslim yang berakhlak baik dan jujur, tetapi jika calon non muslim itu berlaku tidak adil dan suka menghina agama orang mayoritas yang dipimpinnya, akhlaknya buruk, apakah dia masih layak dijadikan pemimpin? Islam tidak melarang seorang non muslim memimpin, tetapi tentulah harus dengan cara yang baik dan saling menghormati keyakinan orang lain.

GOLONGAN GOLPUT MANIA

Selain para pendukung setia AHok diatas, ada juga sekelompok orang yang selalu tampil dibarisan depan, sekumpulan ibu-ibu berkerudung/hijab membawa spanduk terang-terangan menyatakan diri mereka memberi dukungan pada petahana Ahok-Djarot. Baik itu mereka tunjukkan di posko pemenangan, mereka juga kerap tampil disaat sidang Ahok di depan pengadilan. Mereka datang lalu mengelu-elukan dan memuji-muji sang idola dengan bangga. Memang benar itu adalah hak masing-masing orang, tapi apakah harus sejelas itu mereka menampakkan diri sebagai bagian dari kelompok yang sudah menistakan agama mereka sendiri. Berikut data hasil pooling 2 lembaga survey tentang peran pemilih muslim;

Merujuk pada data survei, jelas sekali dukungan umat Islam ke Ahok sangat kuat. Berdasarkan data Lingkaran Survei Indonesia (LSI), 27,7 persen pemilih Islam memilih Ahok. Sedangkan Anies hanya dipilih 22,8 persen dan Agus cuma 20,6 persen pemilih muslim. Masih ada 28,9 persen pemilih muslim yang belum mengambil keputusan. Data Populi juga mirip. Ahok didukung pemilih muslim. Ia meraih 42,5 persen. Sedangkan Anies dan Agus masing-masing kebagian 25,3 persen dan 16,8 persen.

Data ini sangat mengherankan dan memalukan umat muslim secara umum, mereka tahu Ahok membuat kesalahan, tetapi bersikap seolah-olah Ahok itu orang suci yang bisa dimaafkan dan diberi kesempatan. Padahal sikap ahok yang anti islam ini sudah berlangsung sejak lama, dalam beberapa kesempatan ahok selalu menggunakan isu agama untuk mendorong elektabilitas dirinya. Nah, jika ini adalah kali pertama, mungkin boleh saja kita berharap ia tidak akan mengulangi kesalahan lagi, tetapi ini sudah jadi kebiasaan, maka tidak menutup kemungkinan kelak ahok akan melakukan kesalahan lagi.

Apakah alasannya semata-mata karena mereka sudah merasa puas dengan hasil kerja sang petahana, sampai harus menolak perintah agama (sangat jelas disebutkan dalam surat Al Maidah 51 (yang dinistakan ahok) yaitu larangan memilih calon dari kalangan non muslim). Mereka tidak pedulikan itu, lalu tetap pada pendiriannya memilih pemimpin nonmuslim, karena alasan materi dan duniawi. Apakah eksistensi petahana jauh lebih penting dari perintah Allah swt.

Kondisi ini sangat jelas tergambar pada jiwa warga jakarta yang memegang KTP DKI, walau mereka menjadi dilematis dalam memilih pemimpin, kebanyakan mereka memilih Ahok karena alasan logis dan materialis, yaitu menginginkan perubahan dan perbaikan yang sangat nyata. Dan menurut mereka hal itu hanya bisa dicapai oleh seorang Ahok. Kita semua muslim juga memahami jika faktanya memang ada orang nonmuslim bisa membawa perbaikan, ada juga calon dari kalangan non muslim yang berakhlak baik dan jujur, tetapi jika calon non muslim itu berlaku tidak adil dan suka menghina agama orang mayoritas yang dipimpinnya, akhlaknya buruk, apakah dia masih layak dijadikan pemimpin? Islam tidak melarang seorang non muslim memimpin, tetapi tentulah harus dengan cara yang baik dan saling menghormati keyakinan orang lain.

MENJUAL AGAMA DEMI KEMAJUAN, MAKA TUNGGULAH DATANGNYA KETENTUAN-NYA


Bagi para pendukung ahok yang muslim, apakah mereka tidak mengerti bahwa ketika umat muslim salah dalam memilih pemimpin, hal itu bisa mendatangkan murka Allah. Bukan sekedar banjir dan air bah yang menggulung, bahkan seluruh hasil kerja sang petahana bisa berubah jadi air dalam sekejap mata. Karena jika Allah tidak ridho umat muslim di wilayah penduduk terpadat DKI ini dipimpin oleh seorang anti islam. Ketika umat muslim sudah tahu suatu tetapi mereka tetap bersikeras memilih pemimpin itu karena alasan materi, maka tunggulah datangnya azab. Semua hasil pembangunan yang diupayakan petahana akan hilang tergerus banjir , dan bahkan rumah-rumah penduduk juga akan hanyut terbawa air. Hal seperti itu hanyalah perkara sepele bagi Allah swt.

Kondisi banjir ini sudah dirasakan warga Jakarta pertanggal 21 februari lalu, hujan semalaman yang mengguyur jabodetabek membuat jakarta lumpuh, ada banyak genangan air dimana-mana, mobil2 hanyut, rumah warga yang terendam. Bisa jadi ini adalah sebuah peringatan kepada warga jakarta yang beberapa lalu telah memilih, maka banjir yang didatangkan Allah belum ada apa-apanya jika dibanding dahsyatnya bencana besar sudah dijanjikan. Ini adalah peringatan awal yang harusnya bisa menjadi pembelajaran, bahwa persoalan memilih pemimpin bukan sekedar pilih-pilih buah manggis, ini memiliki konsekuensi panjang dan berdampak luas.

Sebaiknya kita jangan mencoba menafikan apa-apa yang sudah menjadi ketentuan-Nya, karena kita sudah pasti tidak akan sanggup menahan beratnya siksa. Berikut bentuk teguran dan ancaman Allah bagi siapa saja yang meragukan kebenaran-Nya:

ANCAMAN PERTAMA, Allah akan menghentikan memberikan pertolongan-Nya kepada kita. Ini dijelaskan oleh Allah dalam surat Ali Imran ayat 28 berikut;

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin/pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka (maksudnya, jika keadaan kaum muslimin masih minoritas). Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran (3):28)

ANCAMAN KEDUA; Jika kita salah memilih pemimpin, hal itu akan menjadi alasan bagi Allah untuk segera menurunkan azab-Nya yang sangat dahsyat. musibah tsunami, gempa bumi, banjir, longsor, luapan lumpur sebagian isi perut bumi yang terjadi di Porong dan Sidoarjo, angin putting beliung, kecelakaan-kecelakaan pesawat, kapal tenggelam, wabah penyakit dan lain-lainnya, yang terus berulang dan silih berganti. Allah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya di bawah ini.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir (=> komunis, yahudi, nasrani, kaum munafik) menjadi wali (pemimpinmu) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”
(QS. An-Nisa’ [4]: 144)

ANCAMAN KETIGA, Jika kita salah memilih pemimpin, yakni akan menjadi alasan bagi Allah untuk mengalahkan dan menghinakan kita sebagai suatu kaum atau bangsa yang di dalamnya terdapat banyak kaum muslimin. yakni kehidupan bangsa yang menjadi hina, karena merajalelanya kasus korupsi, kasus suap, perzinahan, narkoba, kejahatan pembajakan hak cipta dan kejahatan intelektual dan penyelewengan lainnya.

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil (menjadikan) orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan hanya kepunyaan Allah.” (QS.An-Nisa’ [4]: 138-139)

Golongan Putih (GOLPUT)

Bagi umat muslim yang memilih golput, tahukah anda bahwa anda harusnya bisa menentukan sikap politik dengan cara yang baik melalui pemilu langsung. Walau dalam hati anda kecewa pada penguasa, aspirasi anda tidak bisa disalurkan, ada banyak kekecewaan, setidaknya berbuatlah untuk kebaikan agama anda.

Jadikanlah agama sebagai alasan bagi anda untuk melawan tirani penguasa. Jika dengan penuh kesadaran anda mau bergegas menyampaikan hak pilih anda karena anda ingin memenangkan agama Allah swt, maka usaha anda ini akan dihitung sebagai pahala orang yang berjihad yaitu Syahid. Yaitu orang yang berjuang di jalan Allah swt dengan landasan keimanan. Besar ganjaran bagi orang islam yang mati berjuang di medan perang, termasuk orang-orang yang berperang menegakkan agama Allah dengan jalan damai. Jadikan moment ini bagian dari jalan syahid yang akan dicatatkan oleh malaikat sebagai catatan amal yang kelak akan menyelamatkan kita dari siksa api neraka. Berikut penjelasan Firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu : Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah kamu merasa berat dan ingin tinggal ditempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Taubah: 38-39)

PENYAKIT KAUM TERSESAT DAN WABAH KEMUNAFIKAN


Dan tahukah anda bahwa sangat jelasnya sikap saudara kita yang menampakkan diri mereka mendukung Ahok ini sangat amat disayangkan, karena sesungguhnya mereka sudah masuk dalam golongan orang munafik. Yaitu golongan orang yang sangat dibenci Allah, golongan orang yang berdusta dan menolak perintah dan ajaran agama. Mereka mengerti dan mengetahui perintah agama tetapi mereka berpaling dan menolak perintah itu untuk kepentingan dirinya pribadi atau golongan/kelompok. Apa bukti nyatanya bahwa orang-orang ini masuk dalam golongan munafik? Bagaimanapun semua orang islam yang mendirikan shalat lima waktu tetapi mereka tetap mendukung Ahok, maka ia sudah masuk dalam golongan munafik.

Perhatian inti bacaan shalat yang dibaca orang-orang munafik ini dalam sehari- semalam mereka melafazkan perjanjian dan sumpah yang sangat terang, menyatakan diri mereka bersaksi dan bersumpah bahwa mereka hanya akan tunduk dan patuh pada perintah Allah dan rasul-Nya, tetapi pada kenyataannya mereka berkhianat.

Doa Iftittah, dibaca diawal permulaan Shalat;
artinya:"....Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, karena itu aku rela diperintah dan aku ini adalah seorang muslim.

Surat Al Fatihah:4 ;
artinya; "....Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan."

Bacaan Tasyahud awal:
artinya:.....Ya Allah, aku bersumpah dan berjanji bahwa tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, aku bersumpah dan berjanji bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan Engkau."

Bacaan Duduk antara dua sujud:
artinya;...."Ya Allah, ampunilah dosaku, belas kasihinilah aku dan cukupkanlah segala kekuranganku dan angkatlah derajatku dan berilah rezeki kepadaku, dan berilah aku petunjuk dan berilah aku kesejahteraan dan berilah ampunan kepadaku.

Sangat jelas sekali, dalam sehari orang-orang ini sudah berulang-ulang mengucapkan ikrar dan janji kepada Allah akan mematuhi segala perintah dan menjauhi larangannya dan hanya meminta pertolongan kepada Allah bukan kepada yang lain termasuk AHok, tetapi pada pelaksanaannya orang-orang ini berkhianat/berdusta. Mereka secara jelas dan tanpa rasa malu menampakkan diri memilih Ahok menjadi pemimpinnya untuk mengharap kesejahteraan dan kemakmuran. Seperti inilah sikap para orang-orang munafik dan tanpa sadar mereka sudah keluar dari islam, karena apa yang diucapkan tidak sesuai dengan perbuatan yang ditampilkan. Orang-orang ini termasuk orang yang merugi dan kelak di hari akhir mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal.

Beberapa ulama dan Al quran juga sudah menjelaskan bahwa tempat yang paling pantas bagi kaum munafik adalah keraknya neraka, yaitu orang-orang itu akan diletakkan di lapisan paling bawah neraka, dengan bentuk siksaan yang belum pernah diperkirakan dan tidak pernah ada yang tahu jenis siksaan keras seperti apa yang akan diberikan Allah kepada mereka.

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka." (QS. An Nisa’:145)

"(waktu itu) sudah sangat jelas,yakni(siksa) Allah yang belum pernah mereka perkirakan".
(QS.Az Zumar:47)

DILEMA DITENGAH MASYARAKAT

Dalam hal ini kita juga memahami, pada sebagian warga jakarta yang sudah merasakan perubahan, mereka mengalami situasi dilema dalam dirinya, untuk lebih memilih mengikuti perintah agama atau mengikuti keinginan pribadi. Yang pada sebagian orang beranggapan bahwa calon lain selain Ahok masih diragukan kemampuannya dalam memimpin Jakarta. Ada banyak warga jakarta yang akhirnya memilih Ahok dengan alasan jauh lebih mampu memberikan perubahan. Calon lain yang masih baru dianggap akan membutuhkan waktu yang lama dalam memenuhi pencapaian karena mereka harus melakukan banyak penyesuaian.

Tapi harusnya sebagai seorang muslim yang baik, kita harus selalu memegang teguh satu prinsip hidup, yaitu satu kata satu perbuatan. Jangan sampai ada dualisme dalam diri yang akhirnya mengakibatkan kita dimasukkan dalam golongan kaum munafik. Jangan sampai umat muslim tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah, karena ada garis pembatas yang amat jelas diantara keduanya. Sebagaimana kandungan firman-Nya berikut ini:

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu bangsa, maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang bijaksana, dan dijadikan ulama-ulama mereka yang menangani hukum dan peradilan. Juga Allah jadikan harta benda di tangan orang-orang yang dermawan. Tetapi jika Allah menghendaki kehancuran bagi suatu negeri, maka Dia jadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah. Dijadikannya orang-orang yang dungu (fasik) yang menangani hukum dan peradilan, dan harta benda berada di tangan orang-orang yang bakhil”
(HR. Ad-Dailami)

Maka dari itu, mulai dari sekarang mulailah kita membiasakan diri untuk tidak terlalu banyak mengharapkan datangnya perubahan dan perbaikan dari manusia (pemimpin), tetapi banyak-banyaklah kita berupaya memperbaiki iman dan akidah kita sendiri, banyak-banyaklah kita memperbaiki diri sehingga dengan upaya kita itu bisa mendatangkan rahmat dan ridho-Nya sehingga Allah berkenan dan dengan kuasa-Nya Allah akan mendatangkan perubahan dan perbaikan dengan cara-Nya dan dengan kuasa-Nya. Perubahan yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia pada umumnya.

Ada banyak contoh nyata yang sudah terbukti kebenarannya, negara-negara maju di timur tengah dengan kekayaan alam melimpah dan rakyatnya hidup sejahtera, seperti Uni Emirat Arab, Quwait, Turki, Qatar, Sudan, Oman, Bahrain dan lain-lain adalah contoh negara-negara mayoritas muslim yang sudah melewati tahapan demokrasi ini dengan baik. Semua itu terjadi semata-mata karena telah turunnya rahmat Allah swt kepada mereka. Dan kini mereka sudah menjadikan Seluruh kebaikan dan kemakmuran yang paling utama adalah yang datangnya dari Allah jauh lebih utama dibanding kemakmuran yang didatangkan oleh manusia. Manusia punya keterbatasan sementara Allah Maha berkuasa atas segala sesuatu.

Salah satu bukti nyata telah turunnya rahmat Allah adalah akan terjadi beberapa waktu dekat ini yaitu akan datangnya seorang Raja dari Saudi Arabia yaitu King Salman Abdulah bin Abdul Aziz yang akan mengunjungi Indonesia bersama 1.500 anggota kerajaan dan seluruh jajaran pangerannya. Bukankan ini sebuah petunjuk dan bagian rahmat Allah swt, yaitu mendatangkan pertolongan dari seorang seorang raja yang didaerah kepemimpinannya berdiri rumah suci Allah sebagai kiblatnya seluruh umat muslim dunia, bukankah ini sesuatu yang mukzijat.

Maka dari itu, Kepada seluruh umat muslim (termasuk yang sudah golput) kami menganjurkan untuk berjuang (datang ke TPS), menangkahlah pesta demokrasi ini untuk memenangkan agama Allah, bukan untuk memenangkan kelompok tertentu. Lakukanlah perjuangan ini semata-mata karena mengharap ridho Allah. Serahkah seluruh urusan kepada-Nya. Yang harus dilakukan berikutnya adalah yakin pada janji Allah, bahwa dengan perjuangan anda ini akan membawa umat kepada kemenangan, karena sebuah keyakinan akan memudahkan datangnya pertolongan Allah dan menolak datangnya musibah/bala. Sebagaimana isi friman-Nya berikut ini:

"Jika Allah menolong kamu, maka tidak orang ada yang bisa mengalahkanmu; jika Allah membiarkanmu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah yang dapat menolongmu (selain) Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal."
(QS. Ali Imran:160)



Artikel Terkait: