Minggu, 05 Februari 2017

PIHAK ASING SIBUK MENGADU DOMBA ELEMEN BANGSA

KOMPAS.com —Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan tidak benar bila ada anggota Komando Strategi Angkatan Darat yang memukuli Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab pada Selasa (22/11/2016) malam.

Gatot mengatakan, begitu membaca kabar tersebut melalui aplikasi WhatsApp, ia memerintahkan intelijen untuk mencari kebenaran informasi tersebut.

Setelah ditelusuri, Gatot menyatakan kabar berantai tersebut tidak benar alias hoax. Dia menegaskan bahwa kabar tersebut berasal dari luar Indonesia.

"Ternyata hoax tersebut asalnya dari Australia dan Amerika," kata Gatot saat ditemui seusai Seminar Nasional Peningkatan Ketahanan Bangsa untuk Menjaga Keutuhan NKRI di Universitas Padjadjaran, Kota Bandung, Rabu (23/11/2016).

Gatot menambahkan, banyak pihak yang berupaya mengganggu kondusivitas keamanan di Indonesia untuk tujuan tertentu.

"Semakin nyata bahwa tangan-tangan luar ikut bermain," kata dia.

Gatot meminta semua warga Indonesia bersama-sama menjaga negara dan mematuhi aturan. "Jangan sok-sokan jadi pahlawan," kata Gatot.

Sebelumnya, santer terdengar berita Hoax lainnya bahwa Panglima TNI akan mengkudeta Istana dan mengambil alih pemerintahan Joko Widodo. Atau beredarnya berita ada upaya penggantian Panglima TNI Gatot Nurmantyo dikalangan TNI. Setelah ditelusuri, ternyata semua berita ini hoax dan tidak mengandung unsur kebenaran. Ternyata ada kepentingan asing yang bermain disana, ada pihak Australia dan Amerika yang sedang bermain dibelakang ini semua. Inti dari semua berita hoax ini adalah pihak asing merasa gerah dan geram terhadap tindak tanduk Panglima TNI kita ini, mereka nampaknya merasa terganggu dengan sikap yang ditunjukkan Panglima TNI.

Entah itu disebabkan karena sang panglima orang yang punya integritas dan jiwa nasionalis tinggi, atau karena panglima kita ini orang yang tidak mau diajak kerjasama. Kerjasama dalam hal menggerogoti potensi bangsa. Pihak asing ini membuat berita kosong bukan sekedar main tebak jari. Apa yang mereka lakukan ini terbukti sudah mampu memecah belah banyak pihak sebelumnya, mulai dari isu politik hingga agama. Semuanya misi itu telah berhasil memprovokasi semua elemen bangsa hingga akhirnya tercerai berai dan berujung pada isu kudeta dan pengambil alihan kekuasan oleh negara-negara sekutu. Walau akhirnya semua berita hoax itu bisa ditepis.

Mungkin cara-cara seperti ini dianggap cukup berhasil diterapkan diberbagai negara-negara mayoritas muslim lainnya seperti Sudan, irak, Suriah yang saat ini sedang pecah perang di Allepo, kuwait dan sebagainya. Cara-cara menghembuskan isu berbau makar dan pengambil alihan kekuasaan dianggap bisa memicu ketegangan di masyarakat yang pada akhirnya bisa membuat gonjang ganjing makin meluas. Pihak asing ini sama sekali tidak mau melewati kesempatan emas ketika ada satu moment berharga terjadi di negeri ini, mereka masuk dengan segumpal cara dan upaya memperkeruh suasana.

Lalu, kenapa Australia selalu menjadi dalang yang berada di balik semua ini? Singapura juga tidak ada bedanya, kedua negara ini sering nampak ikut campur urusan dalam negeri negara kita walau itu hanya sepintas. Dua negara maju ini punya kepentingan apa atas indonesia? mungkin benar jika itu semata-mata karena di dekat Singapura ada Blok Mahakam dan di dekat Australia ada Blok Masela, keduanya memiliki sumber daya gas alam dan minyak bumi sangat besar. Jika kedua negara ini memang menginginkan kekacauan terjadi di negara ini dan akhirnya mereka bisa mengambil alih kedua sumber daya energi tersebut, maka mereka harus bekerja keras mengacaukan stabilitas negara ini dengan berbagai cara.

Kita sebagai warga negara yang menjadi penghuni dan pemilik negeri ini, bagaimanapun caranya berusaha agar tidak mudah terprovokasi pihak-pihak tersebut yang sengaja ingin mengambil keuntungan dari kelengahan kita mengawasi dan menjaga negeri ini. Bukan senjata tajam dan senjata pemusnah masal yang harus kita siapkan dalam rangka menghadapi tekanan global saat ini, yang paling dibutuhkan adalah kemampuan mengendalikan diri dan mengedepankan persatuan dalam keberagaman yang makin kompleks ke depannya.

Masalah stabilitas dan keamanan negara bukan sekedar wewenang pihak keamanan (TNI dan Polri), seluruh warga negara juga harus ikut andil menjaga keamanan dan ketenangan kehidupan bermasyarakat. Tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terintimidasi dan tercerai berai hanya karena pemberitaan miring yang tidak jelas asal usul dan tujuannya. Pihak asing sedang menunggu moment berharga untuk bisa mengacaukan keamaan dalam negeri sehingga ketika masyarakat dan pihak keamanan lengah, mereka bisa mencuri sebagian sumber daya kita atau mereka bisa menyelundupkan berbagai barang terlarang seperti narkoba atau pengungsi ilegal ke wilayah perbatasan yang tidak dijaga ketat oleh aparat.


Sebagaimana peristiwa yang terjadi baru-baru ini, pembunuhan berencana terhadap saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong Nam di Bandara Kuala Lumpur Malaysia. Salah satu pelaku yang terlibat didalamnya tercantum seorang TKI asal Serang Banten bernama Siti Aisyah yang diduga menjadi kaki tangan kelompok tertentu untuk memfitnah keterlibatan Indonesia dalam upaya pembunuhan pewaris tahta negara komunis tersebut. Jika hal ini dibiarkan saja maka bisa menimbulkan ketegangan antara negara asia, dan bisa memicu konflik. Siapa yang tidak tahu Korea Utara adalah salah satu negara dengan kekuatan militer paling ditakuti banyak negara-negara dunia, bahkan termasuk amerika, tidak ada satupun negara yang mau berurusan dengan Korea Utara, bahkan negara tetangganya sendiri Korea Selatan yang hingga kini masih berkonflik juga sangat berhati-hati. Adanya upaya pihak asing ingin melibatkan Indonesia dalam tragedi berdarah ini bisa jadi merupakan upaya intelegen asing juga ingin mengacaukan keamanan dalam negeri Indonesia. Karena pihak Malaysia dinyatakan tidak kooperatif dalam melakukan penyelidikan. Kondisi seperti inilah yang sedang mereka tunggu dan berusaha ciptakan, agar tercipta instabilitas dan konflik antar negara asia terutama .




Artikel Terkait: