Minggu, 10 Juni 2012

Amerika yang Konspiratif

Teori konspirasi “conspiracy theory” pada dasarnya adalah “sampah” atau “cerita bohong”, “drama” dan “sandiwara” belaka, itulah kenapa yang lebih dikenal umum adalah “teori” dan bukan “praktik” konspirasi. Sebagian orang kemudian mengidentifikasi teori konspirasi sebagai skenario, isu, rumor, gosip, ataupun fitnah. Adapun sebagian yang lain cenderung bersikap abu-abu dan menganggap bahwa konspirasi itu memang “ada” manakala bisa dibuktikan kebenarannya. Di Amerika, konspirasi dan pemikiran konspiratif itu justru memegang arti penting dalam perjalanan bangsa. Pemikiran konspiratif dikelola, ditumbuhsuburkan dan ditradisikan sedemikian rupa untuk kepentingan meraih kemerdekaan (1776) serta untuk mempertahankan kemerdekaan menuju Amerika yang lebih baik. Mengapa demikian? Singkatnya, melalui Pemikiran Konspiratif mereka bisa semacam menemukan “musuh bersama” (common enemy) untuk kemudian dilawan secara berjamaah (bersama-sama) pula. Dan untuk keperluan itu, mereka pun tidak tanggung-tanggung ketika harus membawa-bawa atau mengatasnamakan Tuhan dan Agama. Sejarah Pemikiran Konspiratif Amerika Pemikiran konspiratif tidaklah lahir di Amerika, karena kata konspirasi itu sendiri berasal dari bahasa latin conspirare yang berarti “bernafas (menghirup) bersama”. Di Amerika, konspirasi memiliki masa lalu yang mengakar kuat karena telah berlangsung sejak lama sekali sejak jaman nenek moyang. Ketakutan terhadap konspirasi begitu ditonjolkan oleh para leluhur hingga menjadi semacam mental dan semangat bersama dalam menempati dunia baru bernama Amerika. Mereka para kolonis mencurigai adanya konspirasi atau aliansi rahasia dan plot berbahaya dari para tetangga dan orang asing. Bahkan gelombang imigran tahap berikutnya tidak hanya memperkuat kepercayaan tradisional melainkan juga memperluas eksistensi kelompok konspirator. Hingga abad 20, orang Eropa menganggap sanak saudara Amerika identik dengan sejarah konspirasi masa lalu mereka. Hanya saja saat itu pemikiran konspiratif telah beradaptasi dan mengembangkan ciri-cirinya sendiri yang mencerminkan lingkungan Amerika. Dikatakan oleh Knight bahwa Amerika tidak akan mampu merdeka bila tidak meyakini Raja (Inggris) sebagai bagian dari konspirator dan tega melakukan konspirasi terselubung untuk mereka. Dalam rangka mengabadikan hubungan antara konspirasi dan kemerdekaan Amerika (independence day, 1776), Thomas Jefferson secara tersirat mencantumkan ‘konspirasi’ pada Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan) yaitu dengan menyebutkan bahwa rakyat berhak malakukan revolusi manakala atau ketika… “… when a long train of abuses and usurpations, pursuing invariably the same object, evinces a design to reduce them under absolute despotism“ “… ketika rangkaian panjang penyalahgunaan dan perebutan kekuasaan yang selalu mengejar objek yang sama membuktikan sebuah bentuk yang meringankan mereka di bawah despotisme absolut“ (Knight. ed, 2003: 2-3) Dalam rangka mendukung pemikiran konspiratif, mereka dengan sukarela menerjemahkan kitab suci untuk itu, dimana King George III disebut sebagai Anti-Kristus. “When God is about to turn the earth into a paradise, he does not begin his work there is some growth already, but in the wilderness” (Jonathan Edwards) “Ketika Tuhan hendak mengubah bumi menjadi surga, dia tidak memulai pekerjaannya sehingga semuanya ‘telah tumbuh’, tapi dalam hutan belantara.” “The stage is set, the destiny disclosed. It has come about by no plan of our conceiving, but by the hand of God who led us into this way. We cannot turn back” (Woodrow Wilson) “Panggung telah disiapkan, takdir telah terungkap. Semua telah datang tanpa rencana yang kita susun melainkan melalui tangan Tuhan yang mengarahkan kita pada jalan ini. Kita tidak dapat kembali lagi” Pasca merdeka di tahun 1780an dan 1790an, pemikiran konspiratif bukannya mereda. Perjuangan untuk mengendalikan Republik Baru diwarnai tuduhan konspirasi dan perlawanan sehingga marak pemberontakan-pemberontakan di Amerika. Kesuksesan revolusioner kemudian meningkatkan aspirasi pada tujuan Amerika serta menggugah keinginan konspirator baru untuk merusak pekerjaan di dalam dan luar rumah Republik tersebut. Di satu sisi, keragaman Amerika telah mampu memberikan energi pada dinamika nasional, tapi disisi lain keragaman ini memperdalam kecurigaan terhadap identitas asing dan mengikis “rasa” keamanan nasional (national security). Akhirnya, berkumandang bersama nilai-nilai inti Amerika lainnya, serta diisi dengan bahan bakar seperti etnik, rasial, dan perbedaan relijius, Pemikiran Konspiratif telah menjadi bagian dari “TRADISI AMERIKA” hingga kini. Nah, bagaimana dengan posisi Pemikiran Konspiratif di Indonesia?? Roko Patria jati

Artikel Terkait: