Kamis, 27 Desember 2012

Penglihatan adalah Senjata Utama Iblis


Pernahkah anda bertanya mengapa kelompok penyembah setan menggunakan lambang mata (mata satu)sebagai simbol mereka? Karena mata atau Penglihatan adalah senjata utama iblis untuk menyesatkan manusia, mata memegang peranan amat penting dalam mematikan hati manusia.

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”. (An-Nur : 30 dan 31).

Ibnu Qayyim Al-Jau-ziyyah berkata: “Pandangan mata adalah asal dari seluruh petaka yang menimpa seorang insan. Dari pandangan mata melahirkan lintasan di hati. Lintasan di hati melahirkan pikiran, kemudian timbul syahwat. Dari syahwat lahir keinginan kuat yang akan menjadi kemantapan yang kokoh, dari sini pasti akan terjadi perbuatan di mana tidak ada seorang pun yang dapat mencegah dan menahannya. Karena itulah dinyatakan: “Bersabar menahan pandangan itu lebih mudah daripada bersabar menanggung kepedihan setelahnya.”



Seorang penyair berkata:

Setiap kejadian berawal dari pandangan
dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang dianggap kecil
Berapa banyak pandangan mata itu mencapai ke hati pemiliknya
seperti menancapnya anak panah di antara busur dan tali busurnya
Selama seorang hamba membolak-balikkan pandangannya menatap manusia,
dia berdiri di atas bahaya
(Pandangan adalah) kesenangan yang membinasakannya, hunjaman yang memudharatkan.
Maka tidak ada ucapan selamat datang terhadap kesenangan yang justru mendatangkan bahaya. (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 234)



Namun bila kita bisa menggunakan mata untuk melakukan ketaatan kepada Allah maka kita akan mendapatkan balasan yang sangat besar. Sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari di mana tiada naungan kecuali naungannya, di antaranya beliau menyebutkan:

“Dan seseorang yang berdzikir kepada Allah sendirian kemudian berlinang air matanya”. (HR Bukhari).

Bukan hanya dengan air mata, mata yang terjaga di saat perang di jalan Allah SWT pun mampu menjadi jaminan seseorang terhindar dari siksa neraka. Sabda Rasulullah SAW, “Tiga mata yang tidak akan melihat siksa neraka, yaitu mata yang terjaga saat perang di jalan Allah, mata yang menangis karena Allah dan mata yang terpelihara dari larangan Allah”. (HR At-Thabrani).

Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda, “Tiga mata tidak akan melihat api neraka, yaitu mata yang tercungkil ketika perang di jalan Allah, mata yang meronda di jalan Allah dan mata yang menangis karena Allah”. (HR Hakim).

Allah memerintahkan kita untuk menjaga pandangan kita dari hal-hal yang di haramkanNya. Allah berfirman:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. AN Nuur, 30-31)

“Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dia akan mendapatkannya, tidak mustahil. Maka zinanya mata dengan memandang (yang haram) dan zinanya lisan dengan berbicara, sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan. Sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Al-Bukhari)

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar