Senin, 14 Januari 2013

Sejarah Di Balik 1 Hari = 24 Jam dan Kalender Masehi


Tahun 2013 Masehi mulai dimasuki, syukurlah tanpa kendala dan tanpa melalui kiamat yang diramalkan suku Maya. Waktu terus berjalan dan tidak ada satu orang pun mampu menghentikan waktu, karena waktu memang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Sulit dibayangkan bagaimana kehidupan tanpa patokan waktu yang jelas. Bila sedang banyak pekerjaan, tentu kita berharap satu hari berjalan lebih dari 24 jam, tapi bila sedang tidak banyak pekerjaan rasanya waktu berjalan lambat, dari menit ke menit berikutnya terasa sewindu. Siapa sih yang membuat satu hari hanya 24 jam, kenapa tidak lebih menjadi 36 jam misalnya ??? Satu minggu juga kenapa 7 hari dan satu bulan itu 28, 29, 30 atau 31 hari ???


Setelah membaca sejarah kalender …. wooooowww ternyata, memang panjang sekali perjalanan sejarah kalender atau perwaktuan itu. Penentuan waktu ternyata hasil asimilasi pengaruh berbagai bangsa dan berbagai zaman. Bukan kita saja yang hidup di zaman modern, yang merasakan betapa besarnya arti waktu tapi sudah sejak zaman batu, orang membutuhkan patokan waktu, terutama untuk memulai pertanian atau aktifitas kehidupan di zaman itu. Konon stone henge dekat Salisbury di desa Wiltshire Inggris yang dibangun 5000 tahun y.l., diperkirakan oleh beberapa ahli sejarah patokan waktu manusia pada zamannya.
13576328541846550720
Stone Henge (dok. http://www.english-heritage.org.uk)

Bagaimana dengan penentuan satu minggu itu terdiri dari 7 hari, satu hari itu 24 jam kemudian satu jam itu 60 menit ??? Bila kita tengok ke belakang penentuan ini memiliki sejarah panjang. Konon bisa ditelusuri balik sampai ke zaman Mesir kuno dan Mesopotamia, owww zaman baheula banget ….
Sejarah Pembagian Hari dalam 24 Jam
Konon bangsa Mesir kuno, sudah dari dulu membagi malam misalnya berdasarkan kerja 12 bintang, bagi mereka bila bintang tertentu memperlihatkan diri, maka tahulah mereka bahwa satu jam telah berlalu. Maka kemudian, walaupun di siang hari bintang-bintang tidak terlihat, namun orang-orang Mesir kuno ini memutuskan untuk membagi siang hari juga menjadi 12 bagian. Kemudian bagaimana dari satu jam menjadi 60 menit, konon dipengaruhi oleh kebesaran peradaban tinggi bangsa Babilonia, yang memperhitungkan angka selalu dalam 60.
Sejarah Pembagian Satu Minggu dalam 7 Hari
Demikian juga dengan pembagian satu minggu menjadi 7 hari dan asal namanya, dikabarkan berasal dari bangsa Babilonia, yang mengurut hari berdasarkan nama-nama dewa planet, yang terlihat yakni matahari, bulan, saturnus, yupiter, mars, venus dan merkurius.
Kemudian di zaman antik, nama-nama ini diambil alih oleh bangsa Yunani dan Romawi bahkan juga oleh India (bahasa Sansekerta) dan Jepang. Berbeda dari bahasa Itali, Perancis dan Spanyol yang masih setia mempertahankan nama-nama hari seperti ketika diambil alih dari bangsa Babilonia, bahasa Jerman dan bahasa Indonesia tidak mempertahankan nama-nama itu. Dalam bahasa Indonesia selain untuk Minggu dan Sabtu, Senin sampai Jumat berasal dari bahasa Arab.
Kata Senin dari Isnain berarti dua, kata Selasa berarti tsalasah yang artinya tiga, kata Rabu berarti ar rab’ah artinya empat, kata Kamis atau khamis berarti lima dan kata Jumat diambil dari Jumu’ah yang berarti ramai. Sedangkan Minggu, dalam bahasa Melayu lama, kata ini dieja sebagai Dominggu. Baru sekitar akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, kata ini dieja sebagai Minggu. Sedang Sabtu konon diambil dari bahasa Ibrani, sabbat yang berarti “dia berhenti”.
Tidak ada petunjuk apakah 7 hari dalam seminggu pernah terputus pemakaiannya atau berubah karena adanya reformasi perkalenderan, bila demikian halnya berarti siklus hari dalam seminggu ini tidak berubah sejak zaman nabi Musa (kurang lebih 1300 sebelum Masehi).
Sejarah Pembagian Hari dalam Setahun
Sekarang bagaimana dengan tahun ?? Satu tahun terdiri dari 52 minggu. Kalender yang banyak berlaku sekarang ini adalah kalender dengan sistem gregorianis. Sistem kalender ini menurut asal muasalnya ada 4 jenis :

berdasarkan perhitungan jalannya matahari, misalnya kalender Gregorianis dll

berdasarkan perjalanan bulan, misalnya kalender Islam dan untuk perhitungan paskah dll

berdasarkan matahari dan bulan, misalnya kalender yahudi, kalender Cina dll

berdasarkan sistem lain, misalnya siklus Tzolkin dari kalender Maya, kalender Pawukon atau Wuku di Bali, kalender Wetonan dll


Sistem Gregorianis yang berdasarkan jalannya matahari ini menggantikan kalender Yulianis dan Romawi. Kalender Romawi ini terdiri dari 10 bulan saja dan bulan pertamanya adalah bulan Maret, karena Mars adalah dewa paling penting di zaman Romawi, karena itu tidak heran September bulan sembilan berasal dari bahasa Latin atau bahasa Itali sette yang artinya 7, Oktober dari kata delapan dalam bahasa Itali otto dan November dari kata sembilan, bahasa Itali nove. Namun ketika kalender ini digunakan ….. musim dingin akhirnya jatuh di musim gugur, karena itu pada tahun 46 sebelum Masehi terjadi kekacauan waktu sehingga Yulius Cesar mereformasi kalender yang kemudian dikenal dengan nama kalender Yulianis dan dipakai selama hampir 1600 tahun kemudian.
Kalender Yulianis lalu akhirnya digantikan juga oleh Kalender Gregorianis yang berlaku sampai sekarang karena tahun matahari lebih pendek 11 menit dan 14 detik setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan dalam waktu 128 tahun, satu tahun menjadi berkurang satu hari dan tahun 1580 setelah hampir 1600 tahun digunakan, menjadi berkurang 10 hari. Untuk itu, perhitungan hari Paskah menjadi masalah, singkat kata Paus Gregor XIII akhirnya memberlakukan Kalender Gregorianis dengan menambahkan setiap 4 tahun sekali, 1 hari di bulan Februari, yang kita kenal sekarang dengan tahun kabisat. (ACJP)


Referensi
http://www.english-heritage.org.uk/
http://rcswww.urz.tu-dresden.de/~goessing/geschichte_kalender.htm
http://de.wikipedia.org/wiki/Kalendersysteme
Cahaya H

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar