Senin, 25 Maret 2013

Genosida Bosnia vs Holocaust

Oleh: Asiandi *

Bosnia harus menelan kekecewaannya setelah Pengadilan Tertinggi PBB yang bermarkas di Den Haag, Belanda, hari Senin (26/2) memutuskan Serbia tidak bertanggungjawab atas pembantaian 8.000 pria dan anak-anak Muslim Bosnia (Kompas, 27/2/2007).

Pengadilan telah membatalkan tuntutan Bosnia kepada Serbia agar bertanggungjawab atas genosida (pembunuhan massal) atas Muslim Bosnia di kota Srebrenica selama perang yang berlangsung 1992-1995. Tiga belas hakim Pengadilan Internasional tentang Keadilan (International Court of Justice/ICJ) telah memupuskan harapan Muslim Bosnia untuk mendapatkan kompensasi miliaran dollar AS dari Serbia.

Ke mana kah lagi keadilan akan dicari setelah Pengadilan Internasional pun ternyata gagal mengeksekusi perlakuan biadab Serbia atas Muslim Bosnia? Adakah di balik ini semua “konspirasi” Internasional yang telah memutarbalikkan fakta?

Konspirasi keadilan

“The justice (the power) tends to corrupt”, keadilan cenderung korup (diselewengkan). Plesetan adagium terkenal dari Lord Acton tersebut pantas kiranya ditonjokkan atas keputusan ICJ yang tidak adil bagi Muslim Bosnia. Timbangan keadilan menjadi berat sebelah. Serbia terbebaskan dari tuntutan hanya karena dianggap semata-mata sekedar “gagal mencegah genosida” dan bukannya harus “bertanggungjawab atas genosida”. Keadilan memang cenderung diselewengkan.

Lalu salahkah jika kita menuding ada “konspirasi” Internasional atas ketidakadilan keputusan ICJ? Tentu saja menuding adanya “konspirasi” Internasional adalah sah-sah saja dialamatkan kepada keputusan ICJ yang jauh dari keadilan ini. Berpikir seperti ini tidaklah terlalu konyol dan mengada-ada.

Dalam pandangan Peter Knight (Conspiracy Culture, 2000) konpirasi bukan lagi sekedar paranoidnya penduduk dunia ketiga, namun “konspirasi” adalah juga mimpi-mimpi dan igauan masyarakat Amerika sebagai masyarakat maju. Menurutnya konspirasi telah menjadi lingua franca dari masyarakat Amerika pada umumnya sejak 1960.

Knight berpandangan pula bahwa wajah dan retorika konspirasi tidak lagi berkonotasi paranoid temporer melainkan adalah citra dan retorika yang bergerak dalam budaya tingkat tinggi dan populer. Keputusan ICJ yang telah melepaskan Serbia dari jerat-jerat tangungjawabnya bagi keadilan atas genosida Muslim Bosnia adalah satu fakta nyata. Sehingga wajarlah jika masyarakat dunia kini bersepakat mengatakan bahwa kepastian telah berubah menjadi keraguan dan konspirasi telah menjadi asumsi dasar pada era yang telah belajar tidak percaya kepada segala sesuatu dan semua orang sebagaimana disimpulkan Knight.

Holocaust

Penolakan Pengadilan Internasional menetapkan adanya genosida atas Muslim Bosnia oleh Serbia sangat beda jauh dengan nasib skandal holocaust. Holocaust adalah pembantaian massal dan keji terhadap kaum Yahudi oleh NAZI Jerman di bawah Adolf Hitler pada PD II.

Holocaust kini telah menjadi sesuatu yang sakral bagi masyarakat Barat. Oleh karena itu menolak holocaust—sebagaimana ditunjukkan oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad--dapat dipandang sebagai sikap tidak bermoral dan anti-Semit yang patut mendapat ganjaran.

Smith Alhadar, penasihat pada The Society for Middle East Study (ISMES), menguraikan beberapa contoh betapa menolak fakta holocaust sama artinya dengan memposisikan diri dalam kesulitan. Germar Rodef, ahli kimia asal Jerman, harus mengakhiri hidupnya karena menulis buku “Dissection Holocaust” (Pembedahan Holocaust).

Prof. Robber Fridson harus diadili karena telah melakukan wawancara dengan TV Iran mengenai holocaust yang berbeda dengan pendapat utama di Barat. Rinva Dalster diminta merevisi penyamaan holocaust dengan Air Terjun Niagara, dan akhirnya bunuh diri karena tekanan kaum Yahudi.

Pada peristiwa holocaust ini diindikasikan orang Yahudi yang dihabisi adalah sejumlah enam juta orang. Oleh karena itu, Smith Alhadar berpendapat bahwa mempertanyakan holocaust, terutama jumlah orang Yahudi yang dibantai, adalah hal yang wajar, mengingat terdapat hal-hal yang mengganggu akal sehat.

Alhadar melukiskan hal ini dengan merujuk pada buku The Diary of Anne Frank yang mengindikasikan bahwa ukuran Auschwitz, kamp Jerman tempat pembantaian sangat kecil, dengan hanya 11.000 orang (kebanyakan bahkan bukan orang Yahudi). Menurut perhitungan aritmetika sederhana Alhadar, Jerman harus memiliki ratusan kamp agar mampu menghabisi 137 orang per jam. Padahal, lanjutnya, menurut buku Douglas Reed berjudul “Behind The Scene and The Controversy of Zion”, bahkan hanya 850.000 tentara dan sipil yang terbunuh oleh mesin perang Jerman dan Jepang sekaligus selama PD II. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan klaim enam juta orang korban holocaust.

Akhirnya, jika Yahudi mampu menjadikan holocaust sebagai komoditas yang menghasilkan kompensasi miliaran dollar AS, melalui apa yang disebut oleh Norman G. Finkelstein (The Holocaust Industry, 2000) sebagai korupsi memori dan sejarah oleh industri Holocaust untuk tujuan perolehan uang dengan cara-cara paksa dan penuh kebohongan, tidak demikian halnya dengan genosida Muslim Bosnia.

Genosida Muslim Bosnia hanya akan menjadi bukti sejarah yang membusuk di tengah-tengah matinya kedilan. The justice tends to corrupt?.***

* Penulis adalah Staf Pengajar Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jawa Tengah

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar