Senin, 11 Maret 2013

Ramadhan, Fathu Makkah dan “Kemenangan Islam”

MENJELANG datangnya bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan keberkahan, lewat serangkaian peristiwa yang tidak bisa kita pisah-pisahkan satu per satu. Dunia Arab --yang notabene-- menjadi poros dunia Islam mulai mengalami pergolakan. Satu per satu rezim tiranik yang memenjarakan kebebasan di sana mulai berjatuhan. Mesir, Libya, Yaman, Tunisia, bahkan hingga Suriah (yang masih terus berdarah) sedang bergolak.
Orang-orang di berbagai media menyebut fenomena ini dengan istilah “Arabic Spring” atau Arab yang didera angin sejuk ‘musim semi’, di tengah kegersangan yang selama ini melanda. Tentu saja musim semi yang dimaksud bukan dalam arti sebenarnya.

Sebagai ilustrasi, dulu para aktivis Al Ikhwan al Muslimun di Mesir begitu sering keluar masuk penjara, hampir selalu disudutkan oleh rezim militeristik dari mulai Naser, Sadat hingga Mubarak. Betapa kebebasan masyarakat seolah tercerabut dari akarnya. Kini angin sejuk itu menghampiri, Mubarak jatuh dan Mesir punya jagoan baru, Dr. Mohammed Mursy, aktivis Ikhwan. Harapan yang begitu besar tertuju kepada sosok Mursy. Ini seolah juga menjadi trigger bagi negara-negara Arab lainnya untuk bisa melakukan perubahan.

Terlepas dari konspirasi dan kepentingan barat, agaknya kita harus kembali berkaca ke belakang. Dua belas tahun lalu, tepatnya di tanggal 9 September, kaum muslimin betul-betul dikejutkan, terlebih setelah Presiden Amerika Serikat saat itu menyerukan agenda besar dunia, “perang terhadap terorisme”. Tentu kita sadar betul bahwa apa yang dimaksud “terorisme” dalam kata-kata itu adalah merujuk kepada Islam, orang Islam dan segala apa pun yang ada sangkut pautnya dengan Islam.

Barat, dengan AS sebagai perwakilannya mulai menunjukkan sikapnya dengan slogan dan embel-embel “terorisme”, setelah sebelumnya di tahun 80an dan 90an begitu malu-malu menyatakan sikap. Keterkejutan kaum muslimin terhadap peristiwa 9/11 mulanya memberikan kesan bahwa Islam akan menjadi “objek” bagi Barat dan sekutunya, minimal sebuah pencitraan negatif. Akan tetapi, fakta di lapangan menunjukkan perubahan signifikan selepas 9/11. Populasi kaum Muslimin jauh lebih meningkat, bahkan di negara-negara Eropa yang notabene minoritas, Islam menuai benihnya. Orang-orang mulai bertanya-tanya dan semakin penasaran, “Apa itu Islam? Siapa orang-orang ini?”

Tanpa harus membuat propaganda dan pemasaran besar-besaran, Dakwah Islamiyah tersebar dengan sendirinya. Kata-kata “terorisme” membuat gatal orang-orang Barat, dan tentu saja, para pencari kebenaran dengan sendirinya akan menemukan Islam.

Ramadhan, Bulan Keberkahan

Dalam sejarahnya, Ramadhan hampir selalu menjadi bulan di mana terjadi peristiwa-peristiwa penting di dalamnya. Rasulullah saw. menerima wahyu untuk pertama kali, mengalami perang-perang besar, dan peristiwa “Fathu Makkah” terjadi di bulan Ramadhan.

Peristiwa Fathu Makkah adalah sebuah peristiwa dimana akhirnya Nabi saw. dan para sahabat berhasil menguasai Makkah, berhala dihancurkan, dan Ka’bah disucikan dari berhala. Bagaimana bisa terjadi peristiwa Fathu Makkah ini?

Bermula dari Hudaibiyah, di mana terjadilah sebuah perjanjian antara dua kekuatan, kaum Muslimin di satu pihak dan kaum Quraisy di pihak lain. Perjanjian ini terjadi manakala satu rombongan yang dipimpin langsung oleh Nabi saw. hendak melaksanakan haji di baitullah. Namun, pihak Quraisy melihatnya sebagai sebuah ancaman, “Apa kata kabilah-kabilah lain?” mungkin begitu pikir mereka. Pikiran ini wajar muncul, sebab setelah Nabi saw. dan beberapa ratus sahabat hijrah dari Makkah menuju Yatsrib (Madinah), antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy hampir selalu terjadi peperangan yang tak terelakkan. Islam dengan basis Madinah dan Quraisy dengan basis Makkah.

Jika orang-orang dari Madinah, yang notabene adalah rival dari Kafir Quraisy datang ke Makkah dengan seenaknya, maka apa tanggapan orang-orang nanti? Untuk itulah, pemuka-pemuka Quraisy dengan segala daya upaya menyusun sebuah strategi, yaitu mengikat kaum Muslimin dalam suatu perjanjian. Dan terjadilah perjanjian Hudaibiyah.

Gerbang Fathu Makkah

Isi perjanjian Hudaibiyah antara lain: Pertama, gencatan senjata selama sepuluh tahun. Kedua, orang Islam dibenarkan memasuki Makkah pada tahun berikutnya, tinggal di sana selama tiga hari saja dengan hanya membawa sebilah senjata. Ketiga, bekerja sama dalam perkara yang membawa kepada kebaikan. Keempat, orang Quraisy yang lari ke pihak Islam harus dikembalikan ke Makkah. Kelima, orang Islam yang lari ke Makkah tidak dikembalikan ke Madinah, dan keenam, kedua belah pihak boleh membangun kerja sama dengan kabilah lain tapi tidak boleh membantu dalam hal peperangan.

Para sahabat pun geger menanggapi isi perjanjian itu. Isinya memang terlihat mendiskreditkan Islam, sampai-sampai seorang Umar pun berang tak karuan. Tapi, di sinilah letak pelajarannya, visi Rasulullah saw. jauh ke depan, ia bukan hanya melihat kepentingannya di masa sekarang. Dengan adanya perjanjian ini, wilayah Madinah pun akan steril dari musuh-musuh Islam (Quraisy yang mencoba merusak dan Yahudi yang khianat).

Sementara dakwah Islamiyah pun juga akan berkembang dengan adanya pihak Islam yang masuk ke Makkah, dan inilah pintu gerbang terjadinya Fathu Makkah.

Selang waktu yang dibutuhkan Nabi selepas Hudaibiyah hingga Fathu Makkah adalah tiga tahun. Selama tiga tahun inilah kaum Muslimin betul-betul menitikberatkan kegiatannya pada dakwah dan membuka jalinan kerja sama dengan negara-negara luar Arab. Sampai kemudian akhirnya di peristiwa Fathu Makkah, berbondong-bondong orang memasuki Islam, dan Islam terus berekspansi seolah tanpa henti.

Kemenangan Islam


Ekspansi yang juga sama dirasakan umat Islam dunia hari ini agak mirip dengen peristiwa selepas peristiwa 9/11.

Peristiwa ini seolah menjadi bom waktu bagi kebangkitan Islam secara universal di dunia. Belasan tahun sudah berlalu, dan kini Arabic Spring sudah menunjukkan geliatnya. Tinggal menunggu waktu saja bagi dunia untuk merasakan kembali kejayaan Islam dan keberkahannya.

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم
لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاء اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُؤُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَلِكَ فَتْحاً قَرِيباً

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.” (QS: 48:26-27)

Kita diingatkan oleh al-Qur’an bahwa proses lahirnya kemenangan muncul manakala orang-orang kafir telah menanamkan dalam kesombongan jahiliyah dalam hati mereka. Cukuplah ketenangan dan kalimat takwa yang dipegang oleh kaum Muslimin, sehingga Allah pun akhirnya membenarkan mimpi Nabi saw. untuk memasuki Masjidil Haram.

Begitu pula cerminannya hari ini, di tengah kesombongan musuh-musuh Islam, jika kita berpegang teguh pada kalimat takwa, tidak terpancing segala macam provokasi dan konspirasi, insya Allah kemenangan Islam akan semakin nyata dan dibenarkan oleh Allah azza wa jalla.

Masih banyak pekerjaan rumah bagi kita umat Islam untuk diselesaikan. Masih terjadi kasus-kasus kekerasan terhadap umat Islam di banyak tempat. Masih banyak yang harus dibenahi terutama di negeri sendiri, Indonesia. Mudah-mudahan bulan Ramadhan betul-betul menjadi sarana evaluasi bagi kita semua dan menjadi ladang amal perbaikan bagi diri, bangsa dan dunia.*/Iman Adipurnama, sedang melanjutkan studi S2 di Taipei. Penulis adalah peminat topik keislaman

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar