Jumat, 08 Maret 2013

Kaum Duafa

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin." (QS. 107 : 1-3).

Rasulullah SAW bersabda : "Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya pada Hari Kiamat." (HR. Muttafaq 'alaih).
Kemiskinan yang mendera masyarakat selama ini memunculkan banyak kaum dhuafa (kaum lemah) dan kaum mustadhafin (kaum tertindas), seperti kaum miskin, fakir, perempuan, orang yang terlilit hutang, anak yatim, dan lain-lain. Saat ini sangat banyak kejadian dalam kehidupan masyarakat yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan kita. Akibat krisis ekoomi yang berkepanjangan, yang belum ada ujungnya. Ayat Allah atas memgancam kita yang tidak memperhatikan kehidupan kaum dhuafa tersebut

Namun, tidak ditutup kemungkinan yang menjadi kaum mustadhafin adalah orang kaya. Islam yang memiliki konsep “ideologi pembebasan” sejatinya adalah agama yang ingin membela kaum-kaum tersebut. Ini terlihat dalam ajaran-ajaran yang diwahyukan kepada Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, baik dalam Al Qur’an maupun hadist. Rasulullah, dalam banyak hadist, bahkan semasa hidupnya sangat dekat dengan mereka. Beliau memilih hidup seperti mereka, seperti dengan hidup sederhana.

Dalam kepemimpinan Islam, profil Rosulullah yang begitu mencintai kaum dhuafa dan mustadhafin semakin kurang diteladani oleh para pemimpin Islam dewasa ini. kebangkitan Islam sekarang ini tidak akan menimbulkan pengaruh yang besar. Itu disebabkan karena hampir semua negara Islam tidak memiliki pemimpin yang efektif, pemimpin yang mampu menimbulkan gerakan pembaharuan sosial, khususnya mereka yang mau menjalankan perintah allah Subhanahu Wata'ala dengan mengikuti jejak Para Nabi Dan Rasul.

Kaum Du’afa : Adalah sebuah kelompok manusia yang dianggap lemah atau mereka yang TERTINDAS. adalah mereka yang tak bisa hijrah karena terhalang baik sosial maupun ekonomi fakir dan miskin tertekan keadaan bukan malas, mereka yang kurang tenaga (bukan karena malas), mereka yang kurang kemampuan aqalnya ( bukan karena malas ) dan atau mereka yang terbelakang pendidikannya. 'Al Faqir'

Kaum dhuafa’ pada dasarnya terlahir dari kekerasan dan kezaliman serta kesewenang wenangan dari golongan mereka sendiri, Kaum dhuafa’ terdiri dari orang-orang yang terlantar, fakir miskin, anak-anak yatim dan orang cacat. Kaum dhuafa’ ialah orang-orang yang menderita hidupnya secara sistemik. Para dhuafa’ setiap hari berjuang melawan kemiskinan. Kaum dhuafa’ korban dari kenaikan harga jasa dan barang-barang kebutuhan lainnya. Kaum dhuafa’ cerminan ketidakmampuan negara dalam memelihara mereka. Para dhuafa’ secara sendirian harus berjuang melawan sistem kapitalisme. Kaum dhuafa’ adalah orang-orang miskin yang ada di jalanan, di pinggiran dan di sudut-sudut lingkungan kumuh. Mereka bekerja sebagai pemulung, para pedagang asongan, pengemis jalanan, buruh bangunan dan abang becak. Mereka ini kelompok masyarakat yang mudah terkena penyakit menural, seperti demam berdarah, malaria, dan kusta, dan segudang kesengsaraan.

Jangankan mau untuk mengenal Sang Pencipta , bahkan mereka sendiri terkadang sulit untuk memikirkan diri mereka sendiri , dan berbagai permasalahan yang ada disekitar mereka. Lantas, apa yang harus dilakukan..?

Adalah kewajiban , tugas dan tanggung jawab bagi mereka yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu Wata'ala berupa kekayaan baik materi maupun non materi (ilmu dan atau kesehatan) untuk berjuang membantu dan bahu membahu berjuang dijalan Allah Subhanahu Wata'ala membebaskan mereka dari belenggu perbudakan , belenggu kesesatan dan belenggu ketidakmampuan. (al balad, al asyr , adz dzaariyaat, ali imraan dan ayat - ayat yang lain).

Upaya Meningkatkan Ekonomi Kaum Dhuaa’fa bisa dilakukan dengan berbagai cara termasuk memperhatikan pendidikan dan kesehatan , Menyantuni , Menolong dengan harta, tenaga, fikiran, yang pada dasarnya memang tugas dan tanggung jawab mereka yang mampu. Kalau kita bicara dalam konteks ukhuwah Islamiyah maka hal ini akan lebih bermakna. Ukhwah Islamiyah sendiri bisa didefinisikan sebagai rasa persaudaraan yang dilandasi persaman aqidah dan keyakinan.

Maka segala perbuatan sosial yang berkaitan dengan kemasyarakatan yang kita lakukan hendaklah mengutamakan saudara kita. Sehingga bisa diharapkan, kita menjadi ummat yang unggul baik secara aqidah, ekonomi, pertahanan dan lain sebagainya. Dari sinilah loyalitas kita terhadap ajaran agama menjadi tampak. Rasulullah SAW bersabda:
لاََيُؤْمِنُ أََحَدُكـُمْ حَتىَّ يُحِبَّ لأخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفسِه

Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu, sehingga dia mencintai Saudaranya sama seperti mencintai dirinya sendiri.

Hadits ini mengaitkan antara kesempurnaan iman dengan kecintaan terhadap sesama muslim. Bukan hanya sekedar ucapan cinta, tapi yang lebih utama adalah pembuktian rasa cinta itu dalam kehidupan. Misalnya dengan membantu meringankan beban hidup mereka secara fisik maupun non fisik. Karena cinta tanpa bukti tak lebih dari fatamorgana dan hiasan bibir semata. Kepedulian kepada sesama muslim ini menjadi barometer sejauh mana kesempurnaan iman seorang muslim. Semakin peduli dia terhadap saudaranya, sejauh itu pula kesempurnaan imannya.

Selayaknya kita merasakan suka dan duka bersama , Agama memberikan isyarat sangat jelas untuk mengeluarkan zakat fitrah kepada kaum dhuafa’. Zakat adalah perintah untuk mensucikan diri yang dibagikan kepada orang-orang yang lemah. Mereka merupakan orang-orang yang tertindas yang memerlukan pertolongan manusia yang lainnya. Membiarkan mereka dalam penderitaan, berarti menyia-nyiakan agama. Kehadiran agama Islam adalah untuk memberikan keselamatan kepada seluruh alam, terutama bagi orang miskin yang membutuhkan uluran tangan-tangan manusia yang lain.

Mereka seharusnya dilindungi hak-haknya karena terdzalimi oleh suatu bentuk ketidak-adilan sistem yang patriarkhal. Sistem dominasi yang melanggar hak-hak hidup orang lain, dan menyembunyikan hak - hak orang lain yang ada pada diri mereka. Miskin pengetahuan dan kesempatan melakukan perubahan, Miskin pendidikan yang mampu merubah keadaan hidupnya yang akibatnya, hidup mereka secara turun temurun berada dalam lingkaran kemiskinan. Sementara itu orang-orang yang memiliki kekuasaan, sebagian menjadi sangat serakah dan tidak memberikan kesempatan yang sama. Akar persolan dari lingkaran setan sistem patriarkhal. Sistem doominasi jahiliyyah yang mana saat kini telah kita temukan dan banyak dipakai kembali.

Ciri manusia sosial menurut Islam ialah kepentingan pribadinya diletakkan dalam kerangka kesadaran akan kewajibannya sebagai makhluk sosial. Kesetiakawanan dan cinta kasih inilah yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya, guna untuk membantu mereka yang telah banyak jauh dari aturan agama dan mengenal sang pencipta terjebak dalam lingkaran perbudakan dan kembali merasakan hidup didalam zaman kegelapan.

"Sebaik-baik kamu ialah orang yang banyak manfaatnya (kebaikannya) kepada orang lain."

Walllahu A'lam

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar