Senin, 01 Desember 2014

SEBAB TURUNNYA PENYAKIT DEGENARATIF

Belakangan ini ada banyak orang yang mengeluh sakit, mulai dari sakit ringan hingga penyakit berat. Mereka mengeluhkan rasa sakit yang datang tiba-tiba tanpa mereka sadari penyakit itu sudah berkembang biak dalam dirinya sejak lama. Penyakit-penyakit kelas berat yang dimaksud disini adalah kangker, tumor, stroke, darah tinggi, jantung, lupus, ginjal, dibetes mellitus, prostat dan lain sebagainya. Para ahli menyebutnya ini penyakit degenerative, yaitu penyakit yang menyerang orang-orang yang memasuki usia senja atau tua. Penyakit yang diakibatkan penurunnya berbagai fungsi organ tubuh. Kenyataannya di lapangan ternyata penyakit ini tidak hanya menjangkit pada orang dewasa bahkan juga menyerang generasi muda dan bahkan anak-anak. Banyak anak-anak yang berusia belia harus melaksanakan kemoterapi, cuci darah dan terapi-terapi lainnya akibat mereka mengidap penyakit ini.

Dan parahnya lagi kategori penyakit ini belum ada obatnya, artinya belum bisa menyembuhkan total penyakit tersebut dalam kurun waktu tertentu. Jika tidak segera diobati, maka penyakit ini akan menyebar ke organ lain dan merenggut nyawa si penderita. Pada beberapa kasus ada beberapa orang yang bisa lolos dari cengkraman maut penyakit ini, tetapi itupun harus dilakukan dengan pengobatan medis yang serius dan perubahan total gaya hidup dan pola makan dan pola pikir secara berkelanjutan.

Lalu mengapa allah memberikan cobaan berupa penyakit mengerikan ini. Mengapa allah menimpakan suatu penyakit kepada suatu kaum? Apa yang menjadi factor pendorong dan penyebab sehingga penyakit ini bisa menghampiri siapa saja dan kapan saja?


 D
    
     
     
     
     

Tapi dibalik semua itu ada satu hal yang menjadi penyebab mengapa allah menurunkan penyakit-penyakit tersebut. Salah satunya adalah karena adanya ketidakseimbangan pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani.
Sebelum membahas kedua jenis kebutuhan tersebut maka berikut akan dijelaskan kebutuhan jasmani dan rohani yang dimaksud disini adalah kebutuhan makanan untuk memenuhi kebutuhan badan, dan kebutuhan ruhani yang berbentuk amalan-amalan sholeh untuk menambah keimanan.

Menurut Imam Ghazali dalam bukunya “Ajaibul Qalbi al-Awwal min Rubu’ al-Mukhlikat” hati memiliki dua pengertian.

Pertama, segumpal daging yang berbentuk bulat panjang yang terletak di dada sebelah kiri, yang memiliki fungsi-fungsi tertentu. Di dalamnya terdapat rongga yang berisi darah hitam. Ini adalah sumber ruh atau nyawa.

Kedua, yaitu sesuatu yang halus (lathifah), bersifat ketuhanan (rabbaniyyah) dan ruhaniyah, yang berkaitan dengan hati secara fisik tadi Lathifah (yang halus) itu adalah hakikat diri manusia. Ia mampu menangkap pengetahuan tentang Allah dan hal-hal spiritual lainnya, yang tidak mungkin dicapai dengan akal pikiran semata. Hati ruhaniah merupakan satu-satunya perangkat yang jika ia hidup pasti akan menjadikan indera fisik lainnya, benar dalam melihat makna realitas dan kebenaran, sehingga akan muncul sifat sholeh, santun, ramah, pemaaf, dan suka membantu orang lain.



QS. Al Hijr (15) : 29
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
Maksud dari ketidak seimbangan disini adalah bahwa manusia terlalu banyak memperhatikan kebutuhan hati jasmaniah jika dibanding kebutuhan hati ruhaniah. Manusia selalu membuat perutnya kenyang dengan berbagai bahan makanan yang membuat kerja hati jasmaniah menjadi berat dan semakin lama makin sulit mencerna bahan makanan yang masuk sehingga terjadi kerusakan. Sementara kebutuhan hati rohaniahnya terbengkalai atau dengan kata lain kebanyakan orang kurang memperhatikan kebutuhan hati rohaniah, karena ketika perut sudah penuh maka ia menjadi berat dan malas untuk beribadah.  Hati ruhaniah adalah rumahnya Allah. Hati yang halus, yang merasa, mengerti, mengetahui.
Hati Ruhaniah ini merupakan tempat tumbuhnya iman dan tempat mengenal diri.

Itulah sebabnya para sufi berkata:

قَلْبُ الْمُؤْمِنِيْنَ بَيْتُ اللهُ
 “Hati orang mukmin itu adalah rumah Allah”.
 
ASAL MULA PENYAKIT




Banyak pakar kesehatan juga membenarkan bahwa salah satu penyebab timbulnya penyakit berbahaya ini adalah akibat buruknya pola makan. Orang cenderung makan apa saja yang disukai dan dikehendaki dimana saja dan kapan saja. Padahal tubuh fisik manusia yang tersusun dari unsure metarial duniawi yaitu tanah air, api dan angin merupakan unsure alam yang bersifat rentan dan mudah rusak, terkontaminasi dengan unsure lain yang sifatnya keras dan tajam. Jika tubuh fisik ini ditambah lagi dengan unsure tercemar zat polutif, zak kimia atau zat radikal bebas kedalamnya dalam jumlah berlebih maka ia akan sangat mudah menjadi sakit akibat hati jasmaniah nya tidak mampu lagi mengolah makanan menjadi energi. Hati jasmani yang tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya pada akhirnya akan mempengaruhi system kerja hati ruhaniah.


Akibat banyak makan bisa mengakibatkan kerasnya hati ruhaniah dan sirna nya cahaya hikmah, sementara kenyang hanya membuat hati makin jauh dari allah. Banyak makan bisa mengakibatkan hati ruhaniah menjadi kotor dan lemah. Apa penyebabnya? Definisi hati ruhaniah yang kotor disini adalah, ketika seseorang mengkonsumsi makanan dalam jumlah berlebih maka perut akan menghasilkan banyak uap. Perut letaknya dibawah hati ruhaniah, ibarat belanga/panci yang penuh dengan air mendidih, yang mana asapnya naik dan mengotori hati. Semakin banyak asap yang keluar, maka hati akan semakin hitam. Disamping hati sudah menjadi kotor, maka hati ini juga akan menjadi lemah, menjadi malas berpikir, malas melakukan kebaikan, masalah beribadah dan malas mendekatkan diri. Semakin dibiarkan kebiasaan mengikuti hawa nafsu ini maka mulailah hati menjadi keras, tidak mau mendengarkan nasehat, hati menjadi sulit dikendalikan, dan hati menjadi mudah tersesat dan pada akhirnya hati menjadi semakin sulit menerima cahaya hikmah allah. 

Dalam keadaan hati yang sudah rusak inilah menjadi media utama bagi masuknya syetan. Ketika hati sudah menjadi kotor, keras dan lemah imannya maka syetan akan dengan sangat mudah mengacaukan dan membelokkannya. Syetan akan sekuat tenaga menutupi hati manusia dari menerima nuur illahi. Dengan tujuan agar manusia tidak mudah kembali lagi ke jalan yang benar. Cara syetan menutupi hati manusia adalah dengan menghidupkan hawa nafsu tercela dan membawa ke arah maksiat. Membenarkan semua tindakan buruk dan menjanjikan angan-angan serta sebuah kesenangan yang bersifat jangka pendek.

Perut yang kenyang dapat mendorong kekuatan nafsu, padahal nafsu pedangnya syetan. Diriwayatkan: Sesungguhnya iblis muncul di di hadapan Yahya as dan Iblis membawa berbagai alat pengait. Yahya as pun bertanya, "Wahai iblis, ini pengait untuk apa!" Semua ini adalah kesenangan hawa nafsu, dan aku bisa menguasai anak cucu Adam dengan cara itu". "Apakah disana termasuk aku!" tanya yahya as. Kata Iblis, "Kadang-kadang kamu terlalu kenyang, sehingga aku rasuki rasa berat untuk shalat dan dzikir." Demi Allah, aku wajib tidak lagi memenuhi perutku dengan makanan selama-lamanya, kata Yahya as.

Sebuah contoh amat nyata tentang buruknya perilaku menuruti hawa nafsu memang pernah terjadi pada nenek moyang kita Nabi Adam dan Siti Hawa ketika mereka berada di surga. Keduanya dengan sadar memakan buah terlarang akibat telah termakan bujuk rayu syetan yang menipu dan melenakan. Padahal allah telah dengan jelas memberi perintah larangan memakan buah tersebut. Tetapi nabi Adam memilih mengikuti langkah-langkah syetan dan menuruti hawa nafsunya, maka nabi Adam dalam kesesatan. Pesan utama yang ingin disampaikan dari peristiwa itu adalah sangat besarnya kerugian manusia yang selalu mengikuti hawa nafsu, buah terlarang yang disebutkan itu sebenarnya hanyalah symbol. Sebuah symbol pembatas yang amat jelas, bahwa manusia tidak boleh melewati batas yang sudah ditetapkan, dan jika ia melewatinya maka allah sudah tidak berkuasa lagi atas dirinya, yang berkuasa atas orang itu adalah syetan dan bangsanya. Itulah sebabnya setiap manusia dilarang melampaui batas, apalagi itu yang berkaitan dengan hawa nafsu. Sebagaimana firman allah firman allah surat al Baqaarah:190

….dan janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Atau Surat Al An’am ayat 119
….Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. atau berikut surah (Shaad :26) yang bermaksud:

..... dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, kerana ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”

Imam Al Gazali juga pernah berpesan, ketahuilah bahwa semua manusia memiliki nafsu (keinginan sebagai tabiat) untuk berbuat jahat. Dan ia merupakan musuhmu yang pertama dari tentara iblis. Karena kekuatan syetan terletak pada hawa nafsumu. Ciri khas nafsu adalah ketika ia merasa senang, lalai, malas dan santai. Dan semua ajakannya bersifat bathil. Andaikan engkau mau menuruti perintahnya, lambat laun engkau akan menjadi rusak, engkau pasti hanyut ke sana dan sulit untuk menolak keinginannya. Dan tidak ada Dzat yang lebih mengetahui kecuali yang menciptakan-Nya sendiri. Maka bertaqwalah kepada allah.


PENYAKIT DALAM PENYAKIT

Demikianlah pentingnya untuk menjaga kesucian hati dari bujukan hawa nafsu. Disamping adanya fakta bahwa yang menjadi penyebab kotornya hati manusia itu adalah disebabkan sudah bersarangnya berbagai penyakit yang ada padanya, sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah:

فِى قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ
“Di dalam hati mereka ada penyakit”. (Q.S. 2 Al-Baqarah: 10)

Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin terdapat 6666 ayat Al-Qur’an dan 6666 urat di dalam tubuh manusia, demikian halnya dengan hati manusia, ada 6666 penyakit di dalam hati manusia. Dan jika manusia tidak pandai menjaga hatinya, maka syetan akan menghidupkan hawa nafsu tercela maka timbulah penyakit hati yang amat berbahaya, diantaranya cinta dunia, loba, tamak, rakus, pemarah, dengki, dendam, hasad, munafiq, ria, ujub, takabbur dan lain sebagainya. Dan jika manusia sudah masuk dalam perangkapnya tersebut namun masih tidak mau mensucikan hatinya dari penyakit-penyakit berbahaya ini, maka allah menambahkan lagi penyakitnya.

فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا
“Lalu ditambah Allah penyakitnya”. (Q.S. 2 Al-Baqarah: 10)

Maka dari itu timbullah berbagai penyakit baru yang belum pernah dikenal di jaman sebelumnya, yaitu penyakit-penyakit yang sulit diobati kecuali dengan ijin allah. Penyakit-penyakit ini sulit dideteksi kehadirannya, sulit dideteksi penjalarannya dan sulit disembuhkan dengan obat-obatan medis yang ada. Mengapa demikian? Karena semua ini bermula dari hati, hati yang rusak dan kotor seharusnya sudah dibersihkan dari sejak waktu lampau, tapi dibiarkan mengeras dan membatu, maka penanganannya pun menjadi sulit. Ibaratnya hati itu sudah menjadi kerak yang menempel dan sulit dibersihkan.

Kaitan penyakit keras hati dengan timbulnya penyakit degenerative contohnya sebagai berikut. Seseorang yang terjangkit penyakit darah tinggi misalnya, ia ialah orang mempunyai sifat yang mudah marah, emosian, sakit hati, mudah tersinggung, suka balas dendam dan suka membenci orang lain tanpa sebab. Penyakit hati seperti ini ditumbuhkan oleh syetan dengan cara membuat orang tersebut menggemari makan-makanan berkolesterol tinggi, misalnya yang daging merah, daging kambing, jeroan, ikan asin dan segala jenis makanan yang dapat membuat seseorang mudah naik tekanan darahnya, mudah memicu kerja jantung dan akhirnya membuat ia kehilangan kendali. Kondisi ini tidak disadari sudah menjadi kebiasaan yang pada akhirnya juga menjadi kebutuhan yang tidak bisa dikendalikan dan hingga pada akhirnya ketika sudah pada tahap berlebihan, maka timbullah penyakit yang sudah tidak bisa diatasi lagi, meski orang itu sudah menghilangkan kebiasaan tersebut. Allah sudah menetapkan penyakit itu bersarang dalam tubuhnya, dan hanya allah saja yang dapat menyembuhkannya. Hati ini sudah hitam dan gelap dari menerima rahmat allah, karena ia sudah dikendalikan emosi dan hawa nafsunya. Maka dari itu satu-satunya pembersih yang paling ampuh adalah alat pembersih milik allah. Apa itu pembersih yang paling mujarab untuk membersIhkan hati yang sudah kotor seperti ini?

Dan mengingat Allah merupakan satu-satunya cara untuk membersihkan hati sebagaimana Hadis Nabi:

لِكُلِّ شَيْءٍ صَقَلَةٌ وَصَقَلَةُ الْقَلْبُ ذِكْرُاللهُ
“Segala sesuatu ada alat pembersihnya dan alat pembersih hati yaitu mengingat Allah”.
Berikut cara mensucikan hati sebagaimana firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّ
“Beruntunglah orang yang mensucikan hatinya dan mengingat Tuhan-Nya, maka didirikannya sembanhyang”. (Q.S. 87 Al-A’la: 14-15)



Shalat yang dapat mensucikan hati itu yang seperti apa? Yaitu shalat yang khusuk. Berkomunikasilah dengan allah dalam hati ketika mendirikan shalat. Sambungkan kembali hubungan dengan allah yang pernah rusak, akibat shalat yang tidak khusuk dimasa lalu. Hati yang sudah terjangkit penyakit keras hati amat sulit membuatnya khusuk. Memang dimasa lalu sering mendirikan shalat, hanya saja shalatnya kurang khusuk atau tergesa-gesa.

Didalam shalatnya tidak pernah menghadirkan allah, didalam shalatnya yang hadir adalah urusan-urusan dunia dan sikap panjang angan-angan. Shalat yang tidak khusuk bisa mengakibatkan tidak masukkan nur illahi ke dalam hati, karena hatinya tertutup kotoran. Tubuhnya memang melakukan gerakan shalat dan bibirnya melafadzkan alunan ayat-ayat tetapi hatinya tidak ada di dalam jasad, melainkan melayang-layang di udara. Ini yang disebut shalat tidak khusuk, jiwa dan raga tidak bersatu ketika menghadap sang Ilahi. Maka dari itu, hati dan jiwanya menjadi hampa setelah mendirikan shalat, hatinya tidak mendapat ketenangan dan sikap keras hatinya masih saja bersarang dalam dirinya dan membuat ia masih saja mudah marah, emosi tanpa sebab mengejar-ngejar dunia dengan tidak pikir panjang. Meski ia mendirikan shalat, tetapi pikirannya masih saja hanya tertuju pada kesenangan dunia, tertuju pada angan-angan kosong. Tidak ada sikap ikhlas, pasrah, menerima kenentuan-Nya dan tawadhu. Ia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya dalam situasi shalat sekalipun. Ini yang dimaksud tidak khusuk.

Lalu bagaimana agar mencapai shalat khusuk yang terhubunga langsung dengan Allah swt? Lakukan gerakan shalat seperti biasa, namun lafazdkan bacaan shalat dalam hati dengan iklas dan khidmat.

Diriwayatkan: Sesungguhnya Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa AS. katakanlah kepada umatmu yang durhaka:
"Janganlah kalian mengingat AKU. Sesungguhnya AKU mengikuti bagaimana ingatanmu kepada-KU, maka dzikirlah kepada-KU sampai anggota badanmu bergetar. Ciptakan kekhusukan dan ketenangan dalam dzikirmu kepada-KU. Ketika engkau dzikir, letakkan lidahmu dibelakang hatimu, dan bila engkau berdiri menghadap-KU, maka berdirilah seperti berdirinya hamba yang hina dan berbisiklah dengan hati yang takut dan lisan yang benar".

Artinya apa? Artinya jika ingin khusuk maka sebaiknya bacaan shalat dilafadzkan dalam hati, dengan demikian maka mata akan menjadi buta akibat fungsi penglihatan akan berpusat pada mata hati yang menyaksikan tulisan ayat-ayat suci al quran, lalu telinga akan menjadi tuli karena fungsi pendengaran akan berpusat pada merdunya alunan ayat-ayat suci dan hati akan menjadi tenang karena fungsi penglihatan dan penglihatan telah bersatu melafazdkan ayat-ayat allah. Ketika hati mendefinisikan ayat-ayat itu, misalnya ketika menyebut kata bismillah, yang artinya “dengan menyebut nama allah yang maha pengasih lagi maha penyayang,” hati yang mampu merasa akan memahami maksud dari kalimat itu maka ia akan menjadi tenang, dampak dari ketenangannya itu adalah seketika cahaya illahi akan masuk ke dalam relung-relung hatinya, maka ia akan langsung tersambung dengan allah kala itu. Nuur illahi yang masuk inilah yang mengakibatkan tidak bisa masuknya bisikan-bisikan syetan ketika shalat. Nuur illahi ini yang mengakibatkan datangnya pertolongan allah dari segala macam penyakit dan membuat hatinya lunak den lembut. Coba saja anda peragakan sendiri, mampukah anda merasakan perbedaan yang didapat dengan ketika melafadzkan dibibir.

Jika dilafazdkan di bibir, maka syetan akan sibuk membuat mata kita mengingat-ingat urusan dunia, mengingat pekerjaan yang belum diselesaikan, mengingat ini dan itu. Telinga kita sibuk mendengarkan suara kaki berjalan, suara berisik yang ada disekeliling, suara bisikan-bisikan halus yang membuat kita ingin mensegerakan shalat karena harus melakukan sesuatu. Sementara hati kita entah berada dimana, melayang-layang dan mondar-mandir memperhatikan gerakan shalat dengan sedikit keterpaksaan dan rasa was-was tidak diterima. Disinilah tempat kerugian terbesar umat muslim kelak di hari akhir, menyia-nyiakan shalat. Allah mengecam keras orang-orang yang tidak khusuk dalam shalatnya, dan ganjaran berat yang sepadang adalah neraka jahanam. Sesuai firman-Nya berikut ini:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari bangsa jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi ) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raf:179)

Dan itulah sebabnya pada sebagian orang yang sudah kotor hatinya allah menimpakan penyakit-penyakit berat tersebut, mengapa? Dalam rangka mensegerakan tobat dan segera mensucikan hati. Orang yang menderita penyakit-penyakit ini sebelum menemui ajalnya, maka mereka diwajibkan untuk mensucikan hatinya terlebih dahulu dan menyatakan diri bertobat dari segala kesalahan. Dengan kerendahan hati mengakui dirinya telah berdosa dan melakukan kesalahan di masa lalu, dan jika orang tersebut sudah mampu mensucikan hatinya, membuat hatinya bersih kembali barulah kemudian allah akan menerima tobatnya dan memerima ia di akhirat kelak dalam keadaan suci. Karena hakikatnya hati ruhaniah yang merupakah kepunyaan Allah ini adalah suci dari hadast kecil sekalipun dan ketika ia berpulang ke pangkuan-Nya maka harus sudah dalam keadaan suci kembali. Sesuai firman dan hadist berikut ini.

Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa yang shalat 2 raka'at dengan menghadapkan hati dan badannya kepada Allah, maka keluarlah dosa-dosanya sebagaimana (bersihnya) hari dimana ia dilahirkan oleh ibunya".

Selain dengan mendirikan shalat yang khusuk, maka disarankan juga untuk banyak-banyak berdzikir menggemakan asma allah, lalu mengurangi makan dan banyak berpuasa. Perut yang lapar dapat membuat hati terbuka dan masuk cahaya allah dengan sempurna.

Dengan melakukan berbagai ibadah khusuk, maka ini akan berdampak pada sistem imun. Beberapa riset sudah membuktikan bahwa pada sebagian orang yang rutin melakukan ibadah dan meditasi dengan fokus, maka serta merta sistem imun nya akan kembali tumbuh dan bekerja melawan rasa sakit dan mengusir berbagai sumber penyakit dalam tubuh, mengusir kuman, bakteri dan virus yang bersarang didalamnya. Ketika seseorang mengikhlaskan diri mereka terhadap pencipta, maka tubuh juga berusaha memperbaiki diri dan menjauh dari sifat negatif sehingga timbul ion-ion positif yang mendorong sistem kekebalan tubuh menjadi lebih kuat dan bekerja membasmi penyakit.

Itulah sebabnya ada baiknya mengatasi penyakit ini juga disertai dengan mengubah gaya hidup. karena dengan niat hati yang tulus meminta pertolongan kepada Allah swt agar menyebuhkan hati yang sudah terlanjur rusak dan kotor sangat penting. Sesungguhnya penyakit ini datangnya akibat kesalahan kita membiarkan hati kotor tidak ada cara lain selain banyak-banyak mendekatkan diri, memohon pertolongannya agar diampuni dan mendapat ridho allah di akhir hayat kelak. Semoga allah memberkati. amin.



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar