Selasa, 31 Maret 2015

LEE KUAN YEW, SANG MAESTRO AL JASSASAH DARI ASIA

Beberapa waktu lalu public disibukkan lagi dengan berita kematian seorang mantan perdana menteri SIngapura yaitu Lee Kwan Yew, seorang mantan pemimpin Negara kecil nan maju telah wafat dalam usianya yang ke 91 tahun setelah 30 tahun lamanya berkuasa. Ada hal yang menarik disana, terlihat sebuah pemandangan aneh tapi nyata dimana ketika jasad sang mantan presiden ini disemayamkan, lantas berdatangan seluruh kepada Negara diseluruh belahan dunia untuk mengucapkan bela sungkawa (turut berduka cita). Coba saja ya anda bayangkan, luas Negara Singapuran yang tidak ada 1 persennya dari luas Indonesia dan tidak memiliki kekayaan alam sama sekali, bisa sangat dihormati dan bahkan ditakuti oleh Negara-negara besar disekelilingnya. Dan lebih lucunya lagi, siapapun tahu bahwa Lee Kwan Yew adalah seorang pengikut Israel atau lebih tepatnya adalah konsep negaranya adalah buatan bangsa Israel yang notabene dalam berbagai kebijakannya selalu bertentangan dengan kepentingan mayoritas umat muslim disekitarnya. Tapi semua orang melihat dia bagaikan dewa, dan sayangnya sebagian muslim menyebut tokoh yang satu ini adalah sang Al Jassasah dari timur, tahukah anda siapa itu Al Jassasah? berikut uraiannya.

Lalu mengapa kita harus menghormati kematian seorang pengikut Israel yang loyal dan selama ini telah banyak merongrong Negara kita (Indonesia). Jika alasan mereka membangun berbagai pusat fasilitas militer adalah karena takut mendapat serangan dari Indonesia, Malaysia dan Brunaei, tapi bagaimana mungkin pasukan perang yang mereka siapkan seolah-olah ingin menjadi pihak yang mengajak perang Negara-negara disekitarnya. Nampaknya peran yang mereka ambil dalam berbagai bidang sudah melampaui batas toleransi yang sudah disepakati bersama di wilayah Asia. Bercermin pada hal itu, maka ada baiknya kita mempelajari motif dan dasar alas an mereka membangun pangkalan perang sekuat itu (disebutkan melebihi kekuatan perang Amerika Serkat) di pusat konsentrasi umat muslim Asia Tenggara.

Dalam duka sang mantan perdana menteri kita melihat pemimpin Negara adikuasa datang berbondong-bondong ke SIngapura untuk menghadiri upacara pemakamannya dengan sangat khidmat. Mungkin jika saja Singapura bukan Negara sekutunya tidak akan semegah ini upacara dilakukan, dan pemberitaan tidak akan seramai ini. mungkin Negara sekelas Amerika dan Negara Eropa lainnya tidak akan datang melayat. Tapi lihatlah faktanya Singapura sangat dihormati karena dianggap sangat berjasa bagi ekonomi Negara barat. Hmm…berjasa dalam hal apa? Ikut mengeruk kekayaan alam milik tetangganya yang lebih kaya atau apa. Dan memang saat ini Singapura diakui sebagai salah satu Negara maju di dunia yang perkembangan ekonominya paling pesat. Meski Negara-negara disekelilingnya memiliki luas daratan lebih besar, namun keadaan ekonomi Indonesia ternyata lebih buruk dan bahkan terkesan berbagai regulasi banyak dikendalikan dari Negara liliput ini.

Indonesia dan Negara tetangga lainnya tidak berkutik dengan kemampuan militer Singapura yang katanya sangat canggih dan mutakhir persenjataannya karena semua proyek militernya adalah hasil kerja keras Israel secara keseluruhan. Sungguh sebuah fakta yang ironis, secara hitungan kasat mata, bagaimana mungkin Negara kecil yang jumlah penduduknya tidak lebih dari 5 juta orang bisa menguasai sebagian besar wilayah Asia yang penduduknya berjumlah ratusan juta orang. Dan parahnya lagi politik luar negeri Singapura juga banyak mempengaruhi kebijakan-kebijakan politik dalam negeri Indonesia yang kebanyakan adalah merugikan bangsa kita. Maka dari itu, ada baiknya kita mempelajari si SInga yang satu ini agar kita memahami dimana letak positif dan negatifnya peran Negara yang satu ini bagi perkembangan masa depan Asia.


Singapura adalah salah satu wilayah pangkalan perang Israel di Asia. Ia berperan dalam rangka menjaga keamanan dan mengawasi berbagai pergerakan militer disekitarnya. Singapura adalah superpower di Asean. Negeri ini mirip Israel di Timur Tengah, yang pernah memaksa seluruh tetangganya bertekuk lutut dan kehilangan sebagian wilayahnya hanya dalam hitungan hari.

Negeri kecil dengan kekuatan militer raksasa, itulah Singapura. Sebuah kenyataan yang membuat perusahaan-perusahaan multinasional menjadikan negara kota ini pusat kendali operasi di Asia Tenggara. Mereka juga membangun industri strategis, di antaranya kilang-kilang minyak raksasa yang sukses memaksa Indonesia menjadi ‘kecanduan’ impor BBM dari sana.

Bila, suatu saat kelak, Singapura bergaya seperti Israel, mecaplok tanah tetangganya – Pulau Batam misalnya- dengan alasan keamanan atau sejarah, Indonesia pasti tak berdaya seperti bangsa Palestina. Tak hanya lantaran mesin perangnya ketinggalan zaman, tapi juga karena pemasok BBM-nya adalah Singapura.

Sebagaimana diungkapkan dalam "From Third World to First: The Singapore Story 1965-2000," karya mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, pembangunan militer Singapura tidak hanya meniru Israel. Angkatan perang Singapura, menurut buku terbitan 2000 ini, dibangun dan dibentuk oleh Israel. Sedangkan landasan pemikirannya, sebagai diungkapkan dalam berbagai kesempatan oleh Menteri Pertahanan Singapura, Ng Eng He, adalah kalau Singapura makin kuat, makin sedikit pula pihak yang berani memusuhi.

Posisi Singapura memang mirip Israel karena dijepit oleh dua negara yang jauh lebih besar dan berpenduduk mayoritas Islam, yaitu Malaysia di Utara dan Indonesia di Selatan. Selain itu, Singapura juga harus selalu siap tempur menghadapi segala kemungkinan terkait sengketa wilaya di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan. Sengketa ini yang dikhawatirkan bisa memicu perang terbuka ini melibatkan Filipina, Vietnam, Malaysia, Cina, Indonesia, dan Jepang.

Betapa kuatnya angkatan perang Singapura tampak jelas dari belanja peralatan tempurnya. International Peace Institue yang bermarkas di Stockholm mencatat, dalam periode 2008-2012, Singapura menjadi importir senjata terbesar kelima di dunia. Sungguh luar biasa mengingat populasinya hanya 5,3 juta, dan anggaran militernya mencapai 20% dari total anggaran belanja pemerintah.

Tahun 2013, Singapura mengalokasikan US$12 miliar untuk anggaran pertahanan. Bandingkan dengan Malaysia yang hanya sekitar $5 milliar, dan Indonesia dengan US$7,5 milliar. Tak cuma itu. Mesin-mesin perang Singapura juga lebih berkualitas, lantaran memiliki tingkat akurasi lebih tinggi, lebih cepat, dan lebih mematikan. Selain itu, serdadunya juga lebih terlatih.

Singapura juga satu-satunya negara Asia Tenggara yang tidak membeli mesin perang dari Rusia dan Cina. Ini karena para pemasok utamanya, yaitu Amerika Serikat dan sekutu dekatnya, mengizinkan Singapura memiliki mesin perang sesuai spesifikasi mereka. Inilah mengapa Singapura memiliki skuadron tempur, armada perang, roket, dan peluru kendali yang jauh lebih canggih ketimbang para tetangga terdekatnya.

Kenyataan itulah yang menjadi penyebab kenapa Indonesia dan Malaysia menghamburkan banyak uang untuk memborong mesin perang dari Rusia dan Cina. Salah satu pengeluaran terbesar oleh kedua negara ini adalah untuk belanja pesawat tempur Mig dan Sukhoi dari Rusia. Tak jelas apakah kedua negara ini benar-benar diizinkan melengkapi kedua jenis pesawat tempur canggih tersebut dengan sistem persenjataan standar Rusia.

Lebih dari itu, Singapura juga telah mengikat kerjasama militer dengan Amerika melalui US-Singapore Strategic Framework Agreement (USSFA). Perjanjian ini mengizinkan angkatan perang Amerika memakai pelabuhan angkatan laut dan lapangan udara militer Singapura sebagai basis operasi.


Sejak saat itu berbagai kerjasama dalam jumlah besar tak hanya dalam bidang militer dan pertahanan, tapi juga ekonomi dan politik telah terjadi antara Israel dang Singapura. Dan tentu saja, pada tataran ekonomi dan politik, kekuatan Israel di Singapura telah pula merangsek negara-negara Muslim seperti Malaysia, Brunei dan Indonesia.
Tahun 2000 lalu, Israel, Singapura yang difasilitasi oleh Amerika Serikat meneken kontrak kerjasama dalam bidang satelit mata-mata senilai satu milyar dolar Amerika. Bisa jadi, tak sejengkal pun wilayah, khususnya area-area Muslim di Asia Tenggara lolos dari perhatian Israel.

Atas nasihat Israel pula kini Singapura punya interest yang kuat dalam perdagangan dan kerjasama yang dibentuknya untuk empat hal. Empat hal tersebut adalah di bidang Komando, Kontrol, Komunikasi dan Intelijen. Dan kini, lewat doktrin ini pula Singapura tak melepaskan kesempatan emas untuk membeli Indosat dari Indonesia dan juga perusahaan telekomunikasi Thailand.

Akankah Singapura dengan Israel di belakangnya kelak menjadi ancaman bagi negara-negara Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina dan Thailand yang notabene bisa disebut representasi negara Muslim? Jika kelak terbukti Singapura adalah ancaman, sesungguhnya tak mengherankan, sebab kini banyak signal dan indikasi yang menunjukkan hal tersebut.

Jika kita memperhatikan uraian di atas maka kita akan teringat kembali dengan sebuah kisah yang dikisahkan Tamim ad Dari,,tentang peran binatang Al Jasassah disebut sebagai mahluk yang selalu mengintai/ mengintip dan memberikan laporan kondisi dan keadaan bumi kepada Sang Dajjal. Adakah ini sebuah kondisi nyata seperti yang sudah kita saksikan dengan mata dan kepala sendiri bahwa Singapura adalah pulau yang ditempati binatang Al Jasassah untuk mengintai dan memata-matai kegiatan umat muslim disekitarnya untuk diinformasikan kepada Dajjal. Berikut uraian kisahnya;

Waktu itu Tamim ad Dari berkelana dengan kapalnya bersama dengan 30 teman-temannya dari kabilah Lakham dan Judzam,...tapi kemudian kapal mereka terombang-ambing badai selama satu bulan hingga terdamparlah mereka ke pulau asing ditengah lautan tempat terbenamnya matahari (mungkin maksud mereka pulau itu ada di sebelah Barat). Lalu mereka duduk (istirahat) di suatu tempat yang terletak sangat dekat dengan kapal. Setelah itu mereka masuk kedalam pulau tersebut lalu mereka bertemu dengan seekor binatang yang berbulu lebat sehingga mereka tidak dapat memperkirakan mana ekornya dan mana kepalanya karena tertutup oleh bulunya yang terlalu banyak.

Mereka berkata,”Celaka, dari jenis apakah kamu ini.” Ia menjawab,”Saya adalah al Jassasah. Mereka bertanya,”Apakah al jassasah itu? (tanpa menjawab) ia berkata,”Wahai orang-orang pergilah kalian kepada seorang laki-laki yang berada di biara itu. Sesungguhnya ia sangat ingin mendengarkan berita-berita dari kalian!” Tamim ad Dari berkata,”Katika ia telah menjelaskan kepada kami tentang laki-laki itu, kami pun terkejut karena kami mengira bahwa ia adalah setan. Lalu kami segera berangkat sehingga kami memasuki biara tersebut, di sana terdapat seorang manusia yang paling besar (yang pernah kami lihat) dalam keadaan terikat sangat kuat. Kedua tangannya terikat ke pundaknya serta antara dua lutut dan kedua mata kakinya terbelenggu dengan besi.

Kami berkata,”Celaka, siapakah kamu ini?’ ia menjawab,”Takdir telah menentukan bahwa kalian akan menyampaikan kabar- kabar kepadaku, maka kabarkanlah kepadaku siapakah kalian ini?’ Mereka menjawab,”Kami adalah orang-orang Arab yang berlayar dengan sebuah kapal, tiba-tiba kami menghadapi sebuah laut yang berguncang lalu kami terombang-ambing di tengah laut selama satu bulan dan teradamparlah kami di pulau ini.

Ia (laki-laki besar yang terikat itu) berkata,”Beritakanlah kepada saya tentang pohon- pohon korma yang ada didaerah Baisan?” Kami berkata,”Apa yang ingin kamu ketahui tentangnya?” Ia berkata,”Saya menanyakan apakah pohon-pohon korma itu berbuah?’ Kami menjawab,’Ya.’ Ia berkata,’Adapun pohon-pohon korma itu maka ia (sebentar lagi) hampir saja tidak akan berbuah lagi.’ Kemudian ia berkata lagi,”Beritakanlah kepadaku tentang danau Tiberia.’ Mereka berkata,”Apa yang ingin kamu ketahui tentangnya? Ia bertanya,”Apakah ia tetap berair?’ kami menjawab,’Ya.’ Ia berkata,’adapun airnya, maka ia (sebentar lagi) hampir saja akan habis.’ Kemudian ia berkata lagi,’Beritakanlah kepada saya tentang mata air Zugar.’ Mereka menjawab,’Apa yang ingin kamu ketahui tentangnya?’ Ia bertanya,”Apakah di sana masih ada air dan penduduk di sana masih bertani dengan menggunakan air dari mata air Zugar itu?’ Kami menjawab,’benar, ia berair banyak dan penduduknya bertani dari mata air itu.’ Lalu ia berkata lagi,’Beritakanlah kepadaku tentang nabi yang ummi, apa sajakah yang sudah ia perbuat?’ Mereka menjawab,’Dia telah keluar dari Mekah menuju Madinah.’ Lalu ia bertanya,’Apakah ia diperangi oleh orang-orang Arab?’ kami menjawab,’Ya.’ Ia bertanya,’Apakah yang ia lakukan terhadap mereka?’ Maka kami memberitahukan kepadanya bahwa ia (Nabi) itu telah menundukkan orang- orang Arab yang bersama dengannya dan mereka menaatinya.’ Lalu ia berkata,’Apakah itu semua telah terjadi?’ kami menjawab,’Ya.’

Ia berkata, ’Sesungguhnya adalah lebih baik bagi mereka untuk menaatinya dan sungguh aku akan mengatakan kepada kalian tentang diriku. Aku adalah Al Masihuddajal dan sesungguhnya aku hampir saja diizinkan untuk keluar. Maka aku akan keluar dan berjalan di muka bumi dan tidak ada satu pun kampung (negeri) kecuali aku memasukinya dalam waktu 40 malam selain Mekah dan Thaibah, kedua negeri itu terlarang bagiku. Setiap kali aku ingin memasuki salah satu dari negeri itu maka aku dihadang oleh malaikat yang ditangannya ada pedang berkilau dan sangat tajam untuk menghambatku dari kedua negeri tersebut. Dan disetiap celahnya terdapat malaikat yang menjaganya.


Al Jasassah disebut sebagai mahluk yang selalu mengintai/ mengintip. Tujuannya adalah dia akan melaporkan hasil intaiannya kepada Dajjal. Sementara ada juga yang mengatakan bahwa posisi Dajjal berada di dalam air, yang kemudian lewat keahliannya dia mengintai perilaku manusia lewat tempatnya itu. Ibnu Manzhur mengatakan bahwa al jassasah berada disuatu pulau ditengah laut memata-matai sambil mencari berita yang akan diberikan kepada dajjal.. sebagaimana disebutkan didalam hadits Tamim ad Dari, yang mengatakan,”Saya adalah al jassasah” yaitu binatang yang dilihat disuatu pulau ditengah laut. Dan dinamakan dengan nama itu dikarenakan biantang itu mencari berbagai berita untuk diberikan kepada dajjal.

Dari uraian diatas, dapatkah ini mengasosiasikan perwujudan Al jassasah itu dengan mantan perdana menteri Lee Kwan Yew yang saat ini sudah wafat, dan sesungguhnya ini adalah berita gembira bagi kaum muslim dunia, karena sang pengintai yang bekerja kepada sang Dajjal telah tiada. Dan ini adalah sebabnya menjadi bagian kehilangan besar di sisi bangsa Israel dan sekutunya, mereka sangat khawatir tidak ada lagi informan handal seperti Lee Kwan Yew.

Dari sini bisa kita tarik kesimpulan bahwa Alasan Israel menempatkan pasukan milternya di Singapura adalah bukan dalam rangka ingin mengajak perang atau ingin menaklukkan negara tetangga, karena dihitung dari segi apapun Singapur tidak akan mampu menandingi kekuatan militer negara-negara yang ada disekitarnya (apalagi jika negara muslim asia bersatu; Indonesia, Malaysia, Brunei dan Thailand). Tujuan Israel menggembor-gemborkan kekuatan perang mereka kepada publik adalah sekedar untuk menakut-nakuti negara tetangga agar kita tidak memperhatikan kegiatan mereka memata-matai kegiatan mayoritas muslim di Asia. Agar kita tidak mencurigai mereka sedang mengawasi dan memata-matai kita. Beberapa alasan sederhana lain mengapa mereka ingin menakut-nakuti kita dengan alasan kekuatan militer adalah:

1. Israel ingin mengawasi pergerakan islam di Asia, jangan sampai Islam di Asia berkembang pesat dan membuat penyebaran islam semakin luas ke wilayah lain yang bukan muslim;

2. Israel ingin agar masyarakat muslim terus terusan sibuk dengan masalah kemiskinan, kehancuran ekonomi dan gonjang-ganjiing politik yang sengaja dihembuskan oleh para pemimpin thagut.

3. Israel ingin agar masyarakat muslim Asia tidak ikut serta turun ke medan perang untuk melakukan jihad di Timur tengah untuk membela saudara-saudaranya yang sedang berperang;

4. Israel ingin menguasai seluruh sumber daya alam yang ada di Asia tanpa disadari oleh pemiliknya sehingga mereka bisa lebih leluasa lagi berkuasa dan menancapkan pengaruhnya;

5. Israel ingin memecah belah antar negara muslim di Asia dengan menghembuskan doktrin Syiah sehingga tidak akan terjalin hubungan kuat antar negara asia mayoritas muslim;

6. Israel hendak melemahkan semangat patriotisme dan nasionalisme para pemuda muslim agar mereka tidak memiliki keinginan berjuang membela negara dan agamanya melalui berbagai penetrasi budaya dan gaya hidup serta pendidikan dengan pola pikir yang lemah.


Semua itu dilakukan tidak lain adalah dalam rangka melemahkan dan menghilangkan segala sumber daya yang ada dalam sebuah kesatuan negara; mulai dari aparatur pemerintahan, peraturan perundangan, sumber daya alam, sumber daya manusia dan lain-lain. Bisa anda bayangkan bagaimana sebuah negara kecil bisa memiliki pengaruh yang amat besar, sementara negara itu tidak menyadarinya.

Dan saat ini adalah kesempatan emas bagi negara-negara muslim Asia untuk membenahi diri. Sangatlah tidak bijak jika kita sudah mengetahui kenyataan tapi kita tidak mau membela diri kita dari sikap mereka yang selalu menginjak-injak harga diri kita. Janganlah lagi kita mengkhawatirkan hal yang tidak sepatutnya kita takuti, sesuatu yang tidak memiliki nilai manfaat bagi negara dan agama kita, meributkan aliran dan mashab, mempersoalkan radikalisme, mengkhawatirkan ISIS, sementara persoalan besar ada dihadapan, bagaikan peribahasa; semut di seberang pulau nampak tapi gajah didepan mata tak terlihat. Atau bahkan mungkin selama ini kita sudah membiarkan diri kita terbelenggu oleh kaki tangan Dajjal dan kita hanya diam saja, sudah sepatutnya kita mengoreksi diri dan membuat garis batas yang jelas dengan siapa saja yang bekerja sama dengan dajjal dan ingin menguasai negara dan diri kita, dan bahwasanya Allah swt tidak diam dan sudah mencurahkan segenap laut, daratan luas dan berlimpah isi alamnya ini adalah untuk membuat kita hidup mulia, bukan untuk menjadi bangsa yang hina.

Untuk mengetahui bagaimana sejarah terbentuknya SIngapura dapat anda baca dalam link artikel berikut ini.

SEJARAH BERDIRINYA SINGAPURA; KONGSI LEE KWAN YEW DAN ISRAEL DI AWAL PENDIRIAN SINGPURA

Singapura menjadi negeri yang seringkali memicu langkah provokasi. Pembangunan jambatan baru yang disusul bergelegarnya pesawat terbang tanpa pilot, mengingatkan sejarah hitam bagaimana negeri ini terbentuk. Apa yang hendak dibangun negara duplikat Israel tersebut?

Tahun 1960-an, tampaknya menjadi tahun-tahun yang penting di Asia Tenggara. Di Indonesia, pada tahun 1965, gejolak pemberontakan PKI terjadi. Di Malaysia sendiri, tahun 1969, terjadi kerusuhan rasial yang cukup tajam terukir dalam sejarah. Bahkan sebelumnya, pada periode tahun ini pula Singapura terpisah dari wilayah Malaysia.


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar