Senin, 25 Februari 2013

Bolehkah Kita Bersikap "Galau" ?

Mengapa sebagian besar orang sekarang ini mulai mudah merasa bosan/galau? Mengapa mereka merasa seolah-olah terjebak dalam sebuah rutinitas membosankan yang harus dijalankan layaknya sebuah drama bersambung tanpa akhir. Setiap hari melakukan hal yang sama dan terus-menerus harus dijalani tanpa mengenal lelah dan banyak bertanya. Sebagian orang menganggap semua aktivitasnya sangat rutin dilakukan adalah sebuah hal bodoh. Mengapa manusia memiliki rasa seperti itu? Dan mengapa manusia juga kurang bisa mengatasinya dengan tenang. Mengapa perilaku bosan itu seakan-akan hanya bisa diobati dengan cara berbelanja, shopping dan mengeluarkan sejumlah uang. Misalnya pergi ke mall, salon atau spa, barulah orang itu merasakan rasa bosannya pergi jauh? apakah memang sebegitu kronisnya perilaku kita, menganggap kebahagiaan itu hanya ada pada uang dan materi?

Pada dasarnya manusia memang adalah mahluk yang paling mudah terserang virus bosan, dan memang manusia bukanlah mahluk yang mudah merasa puas dan selalu menginginkan perubahan. Ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa kehidupan harus dihadapi dengan keishlasan dan sabar, maka hal itu dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Penyakit seperti ini biasanya menyerang para wanita muda berkeluarga, anak remaja dan bahkan paruh baya. Mereka memandang kehidupan ini sangat sempit, monoton, dan datar. Tidak ada sesuatu yang bikin hidupnya gregetan dan berwarna, hidup dijalani ya itu-itu saja. Bukan sekedar merasa bosan yang amat sangat, tetapi juga mulai menjangkit menjadi sumpek, tidak kerasan di rumah, dan gelisah.

Apakah ini karena ada semacam virus yang menjangkiti masyarakat kota pada umumnya, semacam virus tertentu yang mengakibatkan orang mudah memutuskan bahwa hidupnya membosankan. Dan memang pada kenyataannya sekarang gaya hidup kita pun sudah berubah, menjadi makin indivualistis dan konsumtif. Kedua virus ini ternyata berperan besar dalam mengakibatkan seseorang mudah terserang penyakit bosan, karena memang pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial yang senang berinteraksi dan berkumpul. Ketika kita dipaksa untuk hidup sendiri, melakukan dan memutuskan semua sendiri maka nampaknya itu justru melahirkan perasaan egois. Ketika kita dipaksa untuk menggantikan perasaan senang dan bahagia dalam bentuk benda/materi, maka kita menjadi keras kepala.
Kecenderungan hidup manusia pada saat ini adalah segala sesuatu diukur dengan uang dan materi, padahal keduanya sama sekali tidak bisa membeli kebahagiaan. Uang selayaknya dijadikan sebagai alat transaksi jual beli, bukan alat membeli segalanya. Hal inilah yang menjadikan rancu, nilai kebahagian sesungguhnya dengan kebahagiaan semu sangatlah tipis bedanya, sehingga kita menjadi sulit membedakan apa keinginan kita atas kekurangan kebutuhan jiwa yang sedang kita alami, makanya semua jadi berujung pada rasa bosan dan jenuh. Bosan di rumah, bosan dengan pasangan, bosan dengan rutinitas dan sebagainya dijadikan alasan untuk membenarkan perilaku seseorang yang sedang merasa galau (bahasa keren anak muda sekarang).

Nampaknya hakikatnya seorang manusia tidaklah berlaku seperti itu, seharusnya setiap manusia mau berbagi tanpa pamrih dan tidak ada keinginan mendapatkan imbalan. Hakikatnya manusia harus banyak bersosialisasi dan banyak berbuat kebaikan kepada sesama, disanalah terdapat segelontor kebahagiaan. Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika ketika kita merasa dibutuhkan orang lain, ketika kita bisa membantu kesusahan orang lain, kita bisa menjadi bagian hidup orang lain. Kebahagian itu tidak lagi berbentuk materi, tetapi ia sudah berubah menjadi ketenangan jiwa.

Hendaknya perilaku seorang muslim hidup bersahaja, bagaimana pun hidup harus dijalani dengan ikslas dan penuh keyakinan kepada Sang Khalik. Karena pada dasarnya sifat ragu-ragu adalah bagian dari sifat iblis yang suka berada di area abu-abu (antara ya dan tidak). Manusia dengan perilaku seperti ini harusnya banyak-banyak intropeksi diri, banyak-banyak beristigfar dan mengingat Allah. Karena hanya pada jiwa yang tenanglah semuanya kembali. Jadikanlah itu ujian dari Allah agar bisa menaikkan derajat kita disisi-Nya. Dan Allah sendiri telah menyampaikan dalam kalam-Nya yang mulia:

"Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (AL BAQARAH: ayat 155)

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."
(AL BAQARAH: ayat 214)


Al-Qur’an telah melukiskan dengan indah tentang akar dari semua permasalahan galau ini yaitu kita telah jauh dari Allah SWT dan bahkan kita mungkin telah melupakan Allah disetiap langkah kehidupan kita. Makanya wajar bila kita tersesat, bingung terhadap diri kita sendiri, tidak tau hendak melangkah kemana, ragu-ragu dengan setiap tindakan kita karena kita telah melupakan sandaran terkuat kita dalam menjalani kehidupan ini, yakni nya Allah Yang Maha Kuat tempat bersandar segala makhluk.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yg lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang yg fasik”
(Alhasyr : 19)



ar

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar