Senin, 09 September 2013

Cara Orang Mesir Kuno Bersatu dengan Dewa Setelah Mati

KOMPAS.com - Kaum elit bangsa Mesir ternyata melakukan penguburan dengan berlapis-lapis peti mati, tepatnya delapan peti mati. Di mana satu peti mati ditempatkan di dalam peti mati yang lain.

Penggambarannya mirip dengan boneka khas Rusia, Matryoshka, di mana terdapat boneka lebih kecil setiap kali Anda membukanya. Hanya saja orang Mesir menerapkan praktik peti mati berlapis dengan tujuan memastikan adanya transformasi dari si jenazah menuju alam dewa.

Demikian disampaikan ahli ilmu mengenai Mesir, Anders Bettum, seperti dilansir Senin (26/8). "Semua orang sudah tahu mengenai praktik mumifikasi orang Mesir pada mereka yang mati. Tapi yang tidak diketahui banyak pihak adalah mereka menempatkan mumi itu dalam lapis demi lapis peti mati," kata Bettum dari Department of Culture Studies and Oriental Languages, University of Oslo, Norwegia.

Anak dari Raja Tutankhamun (1334-24 SM) misalnya, yang dikubur ke dalam delapan peti mati. Sementara bagi pria dan wanita yang masuk ke jajaran elit juga adalah hal biasa mengubur mereka dalam tiga atau empat peti mati.

Peti mati berlapis ini, tambah Bettum, memegang peran penting dalam proses jenazah menuju dewa leluhurnya: pada Osiris (Dewa Kematian) dan Amun-Ra (Dewa Matahari dan pencipta para dewa). Komponen pembentuk tiap peti mati ini, mulai dari pelapis mumi hingga bagian dalam dan luar, mencerminkan cara pandang bangsa Mesir pada dunia.

Dekorasinya, bentuk dan pemilihan bahan, menandakan dua mitos mengenai Osiris dan Amun-Ra. Pada peti bagian luar, jenazah digambarkan sebagai Osiris dengan tubuh yang dimumikan, wig bergaris biru, dan wajah khidmat.

Peti kemudian dicat kuning dan dipernis, musti berkilau layaknya emas. "Bangsa Mesir yang sangat kaya menggunakan daun emas pada peti matinya," kata Bettum.

Ditemukan juga bahwa pada bagian peti terdalam, jenazah dikenakan pakaian terbaik layaknya masih hidup. Tujuannya agar saat jenazah bersatu secara mistik dengan dewa-dewanya, ia juga bisa kembali ke dirinya yang dulu saat masih berjiwa. (Zika Zakiya/National Geographic Indonesia)
Editor : Yunanto Wiji Utomo

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar