Senin, 15 September 2014

Ilmuwan Jerman Buktikan Ada Hidup Setelah Mati

Sekelompok psikologis dan dokter dari Technische Universit├Ąt of Berlin telah mengumumkan akhir Agustus lalu bahwa mereka telah membuktikan dengan eksperimentasi klinis adanya suatu bentuk kehidupan setelah kematian.

Pengumuman ini didasarkan atas kesimpulan sebuah studi prosedur medis yang menelusuri “fenomena ambang maut” (near-death experiences/NDE). Prosedur tersebut memungkinkan untuk membangkitkan kembali orang yang telah mati secara klinis selama hampir 20 menit.
Proses kontroversial yang dilakukan kepada 944 sukarelawan selama empat tahun terakhir ini mendayagunakan kombinasi obat-obatan termasuk epinephrine dan dimethyltryptamine, yang memungkinkan tubuh bertahan dalam proses mati klinis dan pembangkitan kembali tanpa adanya kerusakan somatik.

Tubuh tersebut kemudian dikondisikan dalam keadaan koma sementara melalui bahan kimia khusus yang harus difilter menggunakan ozon dari darah selama proses pembangkitan kembali 18 menit kemudian.

Durasi ambang maut yang relatif lama ini dimungkinkan baru-baru ini dengan perkembangan alat pacu jantung terkini, AutoPulse. Peralatan ini telah dipakai beberapa tahun terakhir untuk menyelamatkan kembali orang yang telah meninggal selama 40 menit hingga satu jam.

Fenomena ambang maut telah diyakini dalam berbagai jurnal medis bersifat halusinatif dan tidak nyata. Namun, Dr. Ackermann dan timnya menilai fenomena ini adalah bukti keberadaan kehidupan setelah kematian, serta adanya dualisme antara jasad dan ruh.

Sekumpulan ilmuwan yang dipimpin Dr. Berthold Ackermann, telah mensupervisi eksperimen ini dan telah mengumpulkan kesaksian para subjek. Meskipun terdapat sedikit variasi antar individu, semua subjek masih memiliki memori selama mereka dalam kondisi mati secara klinis. Sebagian besar mereka menggambarkan beberapa pengalaman yang serupa.

Ingatan yang paling umum adalah adanya perasaan terpisah dari tubuh, rasa melayang, kedamaian penuh, munculnya rasa aman, kehangatan, perasaan melebur total, dan hadirnya cahaya yang amat benderang.

Ilmuwan-ilmuwan ini sadar bahwa banyak dari kesimpulan mereka dapat menimbulkan kegemparan. Seperti bahwa keyakinan relijius dari banyak subjek tidak mempengaruhi peristiwa dan pengalaman yang mereka rasakan dan mereka ceritakan pada akhir eksperimen. Para sukarelawan itu berasal dari berbagai latar belakang kepercayaan, seperti Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, bahkan atheis.

“Saya tahu bahwa hasil ini dapat mengganggu kepercayaan relijius banyak orang” tutur Mr Ackermann dalam laman worldnewsdailyreport.com.

“Namun di sisi lain, kita telah menjawab satu dari banyak pertanyaan terdalam dalam sejarah manusia, jadi saya harap mereka yang tersinggung dapat memaafkan kami. Ya, ada hidup setelah mati, dan sepertinya hal itu terjadi pada kita semua tanpa terkecuali.”
(muslimdaily)

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar