Jumat, 26 Februari 2016

PRODUK BARU PERANG GENERASI 4

KORUPSI, LGBT, TERORIS, NARKOBA, ALIRAN SESAT, PROSTITUSI ONLINE, VIRUS ZIKA dan lain-lain
semua itu adalah Produk Baru Perang Generasi ke-4, mereka menyebutnya perang proxy, ini sedang dikembangkan dan disebarluakan di negeri ini dengan tujuan untuk menguasai Negeri ini.

Fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia adalah bagian dari proxy war atau perang proksi untuk menguasai suatu bangsa tanpa perlu mengirim pasukan militer. Demikian dikatakan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat berbicara di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (23/2/2016).

Ia menjelaskan, perang proksi itu menakutkan lantaran musuh tidak diketahui. Kalau melawan militer negara lain, musuh mudah dideteksi dan bisa dilawan. "Kalau perang proksi, tahu-tahu musuh sudah menguasai bangsa ini. Kalau bom atom atau nuklir ditaruh di Jakarta, Jakarta hancur, di Semarang tak hancur. Tapi, kalau perang proxy semua hancur. Itu bahaya," paparnya.

Semua jenis perang proxy ini sedang diujicoba di Negara ini dalam rangka menguasai pikiran anak-anak bangsa, agar mau menuruti apa saja yang mereka inginkan. Perang akhir jaman yang mereka rancang adalah perang dimana mereka tidak perlu repot-repot mengirim banyak pasukan ke medan perang dan menumpahkan banyak darah, tetapi cukup dengan mengendalikan alam bawah sadar masyarakat dengan berbagai ideologi dan gaya hidup hedonis sehingga bisa dikendalikan dari jarak jauh.

Setelah sekian tahun lamanya mereka sudah berhasil menguasai hampir seluruh sumber daya alam kita (Freeport di papua dsb), kini mereka juga menginginkan kepala kita. Mereka akan berusaha sebisa mungkin menghancurkan bangsa ini dengan cara mencuci otak kita dengan berbagai motif dan ideology sesat yang mereka ciptakan sehingga perlahan-lahan kita akan menanggalkan akidah kita dan beralih memeluk agama baru yang belakangan ini juga ramai dibicarakan di media yaitu agama Gafatar.

Bangsa ini kini sudah Tenggelam setengah badan, setengah badan itu adalah kini sudah sampai sebatas perut, yaitu dimana kini mereka sudah berhasil menguasai seluruh kebutuhan sandang dan pangan kita, sehingga kini kita kesulitan memenuhi kebutuhan pokok kita karena mereka yang mengendalikan pasar komoditi.

Dan kini mereka sedang berusaha menggempur akidah kita dengan berbagai macam kedok terorisme dan ajaran aliran sesat yang dibiarkan tumbuh subur disekitar kita, sedikitnya bertujuan agar kita berkelahi dan berbenturan sesame muslim lalu terciptalah permusuhan dan bibit kebencian antar umat (tapi untungnya itu tidak terjadi). Mereka bukan hanya ingin isi perut bumi negeri ini, mereka juga inginkan kepala kita dan akhirnya mereka bisa menguasai negeri ini secara keseluruhan (total) dari sabang sampai merauke dan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Beberapa waktu lalu pemerintah rebut-ribut meminta agar merevisi Undang-undang Anti Terorisme, tapi akhirnya batal dilakukan karena belum dibutuhkan dan yang sekarang sedang ramai dibicarakan adalah merevisi Undang-undang KPK, pemerintah ngotot ingin dirubahnya pasal-pasal dalam undang-undang KPK yang menurut beberapa pakar berpendapat bahwa itu bertujuan melemahkan kerja KPK, karena disinyalir dengan revisi UU KPK ini akan memudahkan badan intelegen luar akan masuk dan mengendalikan sistem pemerintahan kita, lalu gencarnya kampanye Anti Narkoba yang digembor-gemborkan media sebenarnya mengandung makna ganda, disamping mereka berlakon sedang berperang melawan pelaku Narkoba mereka juga mengkampanyekan Slogan Narkoba itu ke masyarakat, padahal hingga kini tidak ada tindakan nyata pemerintah ingin memerangi Narkoba, hanya slogan-slogan saja. Dan sebagainya berbagai aksi berlebihan yang dilakukan pemerintah sebenarnya mengandung arti ganda (propaganda), disamping melawan mereka juga menyuburkan praktek tersebut dimasyarakat.

Lalu bagaimana caranya masyarakat mensikapi situasi menyengsarakan ini? Adakah jalan keluarnya, sampai kapan kita akan dibuat sibuk dan lelah dengan berbagai bentuk intimidasi seperti ini. Setiap hari kita diminta sabar dan tidak perpancing dengan segala bentuk propaganda, tetapi lihatlah apa yang terjadi dibelakang dan di grass root sana, bagaimana dengan nasib rakyat kecil yang tidak tahu menahu dengan hal ini? Bagaimana caranya mereka mempertahankan diri dan bisa membuat diri mereka bisa bertahan hidup dalam perang seperti ini?

Ini adalah bentuk perang menghancurkan jiwa, menggerogoti ketenangan jiwa kita perlahan-lahan menjadi lemah dan akhirnya menyerah, kondisi ini memaksa kita untuk selalu waspada dengan berbagai bentuk kekejian media yang selalu membuat berita miring dan kekacauan dimana-mana. Salam persaudaraan, semoga hari-hari anda bisa membawa pada jalan keselamatan dunia akhirat. amin

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar