Kamis, 15 September 2011

Intel CIA dan NYPD Menghantui Muslim Amerika (3/4)

Hidayatullah.com--Setelah peristiwa serangan 11 September 2001 atas komplek gedung World Trade Center di New York, secara sepihak dan tanpa bukti kaum Muslim dipersalahkan sebagai pelaku kejahatan itu. Di seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat, sorotan tajam penuh kecurigaan dan kebencian ditujukan atas Muslim secara terus menerus. Aktivitas intelijen yang memata-matai kaum Muslim, meski operasi itu selalu disangkal, terasa di mana-mana. Dan kini, salah satu operasi rahasia tersebut terungkap.

Associated Press pada Rabu 24/8/2011 menurunkan laporan tentang kegiatan intelijen Kepolisian New York dan CIA yang memata-matai seluruh aktivitas keseharian komunitas Muslim Amerika. Simak laporan tersebut yang disajikan oleh hidayatullah.com dalam empat bagian.

engan kewengannya yang baru, Cohen menciptakan kesatuan rahasia yang kemudian akan menyusup ke dalam lingkungan masyarakat Muslim, begitu menurut beberapa pejabat dan mantan pejabat yang terlibat langsung dalam program itu.

NYPD membagi kota ke dalam lebih dari selusin zona dan menerjunkan petugas-petugas yang menyamar untuk memonitor mereka, mencari potensi masalah.

Di CIA, salah satu masalah terbesar yang selalu dihadapi Amerika Serikat adalah agen intelijen mereka dibanjiri oleh orang kulit putih, dengan tindak-tanduk yang sangat kentara Amerika-nya. Berbeda dengan NYPD, karena kepolisian di New York itu memiliki anggota yang berasal dari berbagai etnis.

Dengan menggunakan data sensus, kantor kepolisian mencocokkan petugas yang menyamar dengan komunitas etnis tempat tugasnya. Petugas polisi Amerika keturunan Pakistan ditugaskan ke lingkungan etnis Pakistan, keturunan Palestina fokus di komunitas Palestina. Begitu seterusnya. Mereka diperintahkan untuk berbaur. Mereka ikut kongkow-kongkow di bar-bar hookah, di kafe, sambil mengamati keadaan lingkungan itu secara diam-diam.

Kesatuan rahasia, yang kini telah terungkap keberadaannya itu, kemudian menjadi dikenal di NYPD sebagai Unit Demografi, kata para mantan pejabat di sana.

"Ini bukan masalah profiling. Ini tentang tempat di mana masalah akan muncul," kata Mordecai Dzikansky, seorang pensiunan pejabat intelijen NYPD yang mengaku mengetahui adanya Unit Demografi tersebut.

"Dan syukur pada Tuhan, kami punya kemampuan. Kami punya kemampuan berbahasa dan petugas dari (berbagai) etnis. Itu senjata rahasia kami."

Para petugas yang diterjunkan tidak bekerja di luar markas kepolisian. Mereka melimpahkan informasi intelijen yang dimilikinya ke polisi yang menangani, yang tahu identitas mereka.

Cohen mengatakan, ia ingin agar pasukannya tersebut "mengeruk batubara, mencari tempat hot spot (titik api)," kata para mantan pejabat.

Para petugas yang melakukan penyamaran itu kemudian dikenal sebagai para raker, 'tukang sapu / garu' yang mengumpulkan informasi.

Titik api yang dicari itu bisa berupa toko alat dan bahan kecantikan yang menjual bahan-bahan kimia yang dapat digunakan untuk membuat bom. Atau sebuah hawala, jasa pengiriman uang ke seluruh dunia dengan dokumentasi yang minim.

Petugas yang menyamar mengunjungi warung-warung internet dan melihat browsing history dari sebuah komputer, kata seorang mantan petugas yang terlibat dalam operasi itu. Jika ditemukan bahwa komputer tersebut pernah dipakai untuk mengakses website-website radikal, maka warung internet itu bisa dimasukkan sebagai titik api, tempat sumber masalah.

Toko buku milik etnis tertentu tidak lepas dari daftar periksa. Jika seorang raker melihat ada seorang pelanggan toko yang mencari buku radikal, maka ia berusaha untuk dapat berbicara dengan pemilik toko. Tujannya, tidak lain untuk mencari lebih banyak informasi. Toko buku itu, atau bahkan pemilik dan pelanggannya bisa jadi bahan pengintaian lebih lanjut.

Jika bos sebuah rumah makan kelihatan gembira dengan kabar kematian yang menimpa pasukan Amerika, maka pemilik beserta rumah makannya dapat dimasukkan dalam daftar titik api.

Tujuan dari aktivitas di atas adalah untuk membuat "peta manusia dari sebuah kota," kata seorang petugas penegak hukum.

Program itu meniru program yang dilaksanakan oleh pemerintah Zionis Israel di wilayah Tepi Barat, Palestina, kata seorang mantan pejabat polisi.

Memetakan tindak kejahatan adalah sebuah strategi yang sukses diterapkan di banyak negara bagian. Memetakan perampokan dan penembakan adalah satu hal. Sementara memetakan lingkungan masyarakat tertentu adalah hal yang berbeda. Yang terakhir ini, dianggap pemerintah federal sebagai racial profiling.

(Racial Profiling adalah menjadikan satu ciri etnis tertentu sebagai alasan untuk menindak seseorang secara hukum. Contoh kasus, polisi langsung menciduk seorang berwajah Arab yang membawa tas hitam dengan wajah gugup di sebuah bandara. Hal itu dilakukan polisi dengan dalih mencegah terulangnya terorisme di bandara.-red)

Jurubicara NYPD Paul Browne mengatakan bahwa Unit Demografi itu tidak ada. Dia bilang, NYPD punya Zone Assessment Unit yang bertugas mencari lokasi-lokasi yang potensial menarik teroris.

Browne mengatakan bahwa petugas yang menyamar hanya menjalankan perintah atasan dan mereka tidak nongkrong di lingkungan masyarakat tertentu.

"Kami akan mendatangi sebuah lokasi, baik apakah itu sebuah masjid atau toko buku, jika ada surat perintahnya," kata Browne.

Keterangan Browne itu berbeda dengan cerita para pejabat dan mantan pejabat polisi serta bertentangan dengan kesaksian seorang petugas polisi yang menyamar di tahun 2006 dalam kasus Shahawar Matin Siraj. Siraj didakwa menrencanakan serangan di jalur kereta api bawah tanah New York. Polisi yang menyamar itu mengaku bahwa ia diperintahkan untuk tinggal di kawasan Brooklyn dan bertindak sebagai "kamera berjalan" bagi polisi.

"Saya disuruh berperilaku seperti warga sipil -- nongkrong di lingkungan itu, mengumpulkan informasi," kata polisi yang berdarah Bangladesh tersebut, saat bersaksi dengan menggunakan nama samaran.

Keterangan polisi itu memberikan sedikit gambaran tentang program penyusupan NYPD ke dalam lingkungan tempat tinggal etnis tertentu.

Para pejabat polisi menilai, penyusupan mereka ke dalam lingkungan Muslim dapat diterima, karena teroris melancarkan serangan 9/11. Mereka mengatakan, hal itu tidak bertentangan dengan peraturan daerah tahun 2004 yang melarang NYPD menggunakan agama atau etnis tertentu "sebagai faktor determinan untuk mengambil tindakan hukum".

"Itu bukan profiling," kata Cutter. "Itu seperti pasca kasus penembakan. Anda pergi 20 blok jauhnya lalu menanyai orang-orang, atau menuju ke lingkungan di mana peristiwa itu terjadi?" dalih Cutter dengan nada tanya.

Tahun 2007, Los Angeles Police Departemen (LAPD) pernah dikritik karena berencana melakukan program serupa.

Polisi Los Angeles mengumumkan hendak melakukan pemetaan di lingkungan Muslim dan mencari kantung-kantung radikalisasi di tempat tinggal sekitar 500.000 Muslim. Akibat kritikan yang bertubi-tubi, Kepala LAPD Willian Bratton akhirnya membuang rencana itu.

"Kebanyakan orang ini datang dari negara di mana polisi adalah terorisnya," kata Bratton dalam sebuah konferensi pers, seperti dikutip Los Angeles Daily News. "Kami tidak melakukan hal seperti itu di sini. Kami tidak ingin menyebarkan ketakutan," katanya.

Di New York, kata sejumlah pejabat dan mantan pejabat polisi, pelajaran yang bisa diambil dari kontroversi itu adalah bahwa program semacam itu harus dilakukan secara rahasia.

Sejumlah pihak di NYPD, termasuk para pengacara, secara pribadi telah menyampaikan keprihatinannya atas cara pengumpulan informasi itu dan bagaimana cara polisi menggunakan informasi tersebut. Demikian menurut beberapa pejabat dan mantan pejabat polisi.

Mereka khawatir, karena sepertinya polisi membuat berkas dokumen atas orang-orang tak berdosa. Sementara kekhawatiran lain adalah, jika ada kasus terkait penyusupan itu yang masuk ke pengadilan, maka program rahasia tersebut bisa terbongkar.

Itulah kenapa, kata para mantan pejabat di NYPD, polisi secara rutin menghancurkan dokumen-dokumen yang bicara tentang raker.

Saat Cohen maju ke pengadilan untuk meminta wewenang lebih dalam menyelidiki terorisme, dia berjanji akan mematuhi peraturan FBI. Namun, FBI dilarang undang-undang menggunakan petugas yang menyamar kecuali ada bukti bahwa suatu tindak kejahatan telah terjadi. Artinya, program pengumpulan informasi dengan menerjunkan para raker itu melanggar pedoman FBI.

NYPD tidak mengizinkan Cohen untuk bersuara saat Associated Press (AP) meminta komentarnya. Dalam wawancara berbagai topik sebelumnya dengan AP, Komisioner Polisi Ray Kelly mengatakan bahwa unit intelijen tidak melanggar hak-hak sipil warga negara.

"Kami melakukan apa yang kami yakini untuk melindungi kota ini," kata Kelly.

"Kami mempunyai banyak, banyak pengacara yang kami tugaskan. Kami sangat waspada dengan kebebasan warga negara. Dan kami tahu bahwa akan selalu ada ketegangan antara polisi dan kelompok-kelompok yang disebut pembela kebasan warga negara terkait tugas yang kami lakukan."

Salah satu kasus mencuat setelah anak buah Cohen menyusup ke kelompok-kelompok antiperang sebelum 2004 Republican National Convention di New York. Tuntutan hukum atas program penyusupan itu hingga kini masih disidangkan.

Menurut dokumen pengadilan, selama konvensi berlangsung, polisi menanyai orang-orang yang ditangkap dengan sejumlah daftar pertanyaan. Di antaranya, "Apa kelompok politik Anda?" "Apakah Anda punya aktivitas politik?" dan "Apakah Anda benci George W. Bush?"

"Itu tidak lain adalah operasi pengintaian domestik (dalam negeri)," kata Christopher Dunn, seorang pengacara New York Civil Liberties Union yang terlibat dalam penuntutan hukum.

***

Petugas yang menyamar seperti para raker itu memang sangat berharga. Tapi yang paling didambakan Cohen dan Sanchez adalah informan.

NYPD mendedikasikan sebuah unit untuk mengurus informan, namanya Terrorist Interdiction Unit. Menurut mantan dan pejabat aktif, Sanchez yang menangani dan mengajari mereka.

Selama bertahun-tahun, detektif menggunakan informan yang dikenal sebagai 'mosque crawler' penyusup masjid untuk memonitor ceramah di masjid-masjid dan melaporkan apa yang disampaikan. Begitu menurut mantan dan pejabat aktif yang terlibat langsung dalam program informan tersebut.

Jika agen FBI yang melakukan hal itu, maka berarti melanggar Privacy Act, yang melarang agen pemerintah federal mengumpulkan informasi intelijen dari aktivitas yang dijamin Amandemen Pertama.

FBI punya cara sendiri menempatkan informan di dalam masjid, tapi tidak seperti program NYPD yang diceritakan kepada AP. FBI harus terlebih dulu punya bukti adanya tindak kejahatan, sebelum menempatkan informan di dalam masjid.

Menurut Valerie Caprioni dari penasehat umum FBI, yang tidak mau mendiskusikan program informan NYPD, informan FBI di masjid tidak bisa begitu saja mengorek-ngorek informasi di masjid. Karena operasi semacam itu, katanya, menyangkut masalah kebebasan sipil.

"Jika Anda mengirimkan seorang informan ke masjid saat tidak terdapat bukti adanya kesalahan, itu adalah tindakan beresiko tinggi," kata Caprioni. "Anda melanggar inti hak-hak konstitusional, tentang kebebasan beragama."

Itulah mengapa, para pejabat senior FBI di New York memerintahkan anak buah mereka untuk tidak menerima laporan apapun dari 'mosque crawler' perayap masjid NYPD, kata dua orang pensiunan agen FBI.

Tidak jelas apakah kepolisian masih menggunakan perayap masjid. Para pejabat polisi mengatakan, begitu warga Muslim mengetahui apa yang terjadi, perayap masjid menjadi perayap kafe, menyebar ke tempat-tempat nongkrong kelompok etnis di seluruh penjuru kota.

"Orang punya khayalan hebat," kata Browne, jurubicara NYPD. "Tidak ada itu yang namanya perayap masjid," katanya menyangkal keberadaan intel yang menyusup ke masjid-masjid.

Namun, informan kunci dalam sebuah kasus teror di kereta bawah tanah yang berhasil digagalkan, Osama Eldawoody, mengatakan bahwa ia menghadiri ratusan kali shalat jamaah dan mengumpulkan informasi dari orang-orang, bahkan dari orang yang tidak menunjukkan tanda-tanda radikalisasi.

Detektif-detektif NYPD merekrut penjaga toko dan penduduk yang banyak omong untuk menjadi "benih" informan, yang memberikan informasi terbaru kepada polisi tentang apa yang terjadi di lingkungan etnis tertentu, kata seorang pejabat yang terlibat dalam program informan tersebut.

NYPD juga punya daftar nama informan yang dapat "diarahkan" untuk melakukan suatu tugas. Sebagai contoh, jika seorang raker mengidentifikasi sebuah toko buku sebagai hot spot, polisi akan menerjunkan seorang informan untuk mengumpulkan informasi, jauh sebelum adanya bukti konkret bahwa terjadi tindak kriminal di sana.

Untuk mencari informan yang cocok, polisi menciptakan apa yang disebut 'debriefing program' program wawancara.

Ketika seseorang yang ditahan polisi kelihatannya berguna bagi unit intelijen -- baik itu karena ia mengatakan sesuatu yang mencurigakan atau semata-mata karena ia seorang pemuda keturunan Timur Tengah -- maka akan dipisahkan untuk ditanyai lebih lanjut. Para pejabat intelijen tidak peduli dengan tuduhan yang akan dikenai atas orang itu, yang mereka inginkan dari tahanan itu semata-mata informasi tentang lingkungan tempat tinggalnya. Intinya, intelijen kepolisian ingin memanfaatkan tahanan itu sebagai informan.

Di penjara-penjara polisi juga menerapkan hal yang sama. Polisi menawarkan kondisi yang lebih baik di dalam sel, menawarkan bantuan atau uang, jika narapidana Muslim mau bekerja untuk polisi.

Dulu di awal divisi intelijen itu ada, polisi meminta pengelola taksi memberikan laporan tentang semua sopir taksi keturunan Pakistan yang ada di kota. Polisi mencari-cari kalau ada yang menggunakan izin atau surat-surat palsu. Kemudian orang itu akan ditekan, agar mau bekerjasama dengan polisi. Begitu kata sejumlah pejabat yang pernah terlibat dalam program wawancara itu.

Strategi menjaring informan semacam itu ditolak di kota lain.

Polisi Boston misalnya. Mereka pernah meminta daftar semua sopir taksi keturunan Somalia yang ada di daerah Cambridge, kata Kepala Kepolisian Cambridge Robert Haas. Tapi Haas menolak. Katanya, tanpa alasan yang khusus, pencarian bakal informan semacam itu tidak pantas dilakukan.

"Akibatnya mengerikan bagi hubungan antara polisi setempat dengan kelompok-kelompok etnis tersebut, jika hal itu terjadi, kata Haas.

Bagi Cohen, divisi informan sangat penting, sehingga ia meminta bekas teman-temannya agar melatih detektif Steve Pinkall di pusat pelatihan CIA di Farm.

Pinkal yang punya latar belakang marinir, diberikan tugas yang tidak biasa di markas CIA, kata para pejabat polisi. Dia diikutkan pelatihan operasi rahasia bersama calon mata-mata CIA, lalu dikembalikan ke New York untuk melakukan investigasi.

"Menurut kami menguntungkan bagi personel NYPD untuk dilatih melakukan operasi rahasia," kata Browne.

Ide pelatihan tersebut menyulitkan sejumlah pejabat FBI, yang melihat apa yang dilakukan NYPD dan CIA mengaburkan batas antara pekerjaan polisi dengan mata-mata, di mana petugas yang menyamar seringkali melanggar hukum negara asing.

Tindakan itu akhirnya diketahui Direktur FBI Robert Muller, kata dua mantan pejabat FBI. Tapi pelatihannya sudah terlanjur terjadi, dan Muller tidak mengungkapkan hal itu.*

Artikel Terkait: