Jumat, 26 Oktober 2012

Mulyo Wibisono: Institusi “Intelijen” Pelihara “Teroris” Demi Dollar AS

JAKARTA Keberadaan teroris di Indonesia sengaja dipelihara institusi tertentu untuk mendapatkan proyek dari Amerika Serikat (AS). “Teroris itu sengaja dipelihara institusi tertentu yang mempunyai kemampuan intelijen. Institusi ini mendapatkan keuntungan dengan adanya teroris karena mendapatkan kucuran dana dari AS,” kata Mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis (BAIS) Laksamana Pertama TNI (Purn) Mulyo Wibisono kepada itoday (6/9/2012). Menurut Mulyo, kemunculan teroris disengaja dengan memprovokasi untuk melakukan kegiatan teror. “Dalam intelijen ini penyusupan, itu hal yang biasa. Sebetulnya aparat sudah tahu, tetapi dibiarkan saja. Dan pelaku teroris ini akibat provokasi intelijen,” paparnya.  

Kata Mulyo, teroris Solo semakin mencurigakan karena aparat kepolisian menyebutkan para pelakunya melakukan pelatihan di Gunung Merbabu. “Polisi harus mengungkap siapa yang melatih para ‘teroris’ itu, atau jangan-jangan intelijen sendiri. Menggunakan senjata terlebih lagi umur mereka masih muda itu sangat aneh sekali dan mampu membunuh polisi,” jelasnya. Kecurigaan Mulyo bertambah, korban aparat kepolisian yang tertembak di Solo tidak diotopsi. “Harusnya korban dari pihak kepolisian diotopsi dan diumumkan ke publik agar masyarakat semakin tahu. 

Kalau kayak gini semakin menambah kecurigaan,” paparnya. Ia juga mengatakan, dalam sebuah operasi intelijen adlah hal yang biasa membunuh teman sendiri, itu untuk menekankan teroris melakukan perlawanan. “Dalam operasi intelijen itu sudah biasa untuk membunuh teman sendiri. Dan kejadian di Solo itu ada kemungkinan, yang membunuh Densus ya temannya sendiri,” ungkap Mulyo. Kata Mulyo, dari pengakuan warga yang berada di lokasi bahwa Densus langsung memberondong orang-orang yang diduga teroris. “Kalau saya baca di media, ada pengakuan warga di lokasi bahwa orang-orang yang diduga teroris langsung diberondong dan tidak ada perlawanan. Ini yang jarang diungkap di televisi,” pungkasnya. Ditambah lagi pemberitaan yang tidak imbang, media terlalu memblowupnya sepihak, seolah-olah pelaku adalah penjahat tunggal yang tidak diberi hak bicara ataupun menjelaskan kronologinya. Masyarakat dipaksa memvonis sendiri akhir drama teror tersebut.(itoday/GM/BringBackIslam)

Artikel Terkait: