Kamis, 29 Agustus 2013

Miss World Miliki Misi Tersembunyi terhadap Perempuan Indonesia

Hidayatullah.com--Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai kegiatan Miss World memiliki misi tersembunyi terhadap perempuan di Indonesia. Demikian disampaikan anggota MUI, KH Muhydin Djunaedi Miss World mempunyai misi dibalik keberadaannya di Jakarta.

Menurutnya, adanya festival kecantikan Miss World berbeda dengan kegiatan seperti Abang None Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan para wanita yang mewakili 140 negara itu di Indonesia merupakan bentuk liberalisasi dan kapitalisasi ekonomi di Indonesia. Acara itu juga dinilai menghabiskan biaya yang sangat besar

Kiai Muhyidin membandingkan dengan acara Abang None Jakarta, berupa kegiatan lokal Indonesia yang tidak melawan nilai-nilai ketimuran. Sementara Miss World begitu jelas memiliki misi westernisasi terutama untuk kalangan wanita.

"Jelas itu dua hal berbeda, jangan dikaitkan-kaitkan untuk jadi pembenaran Miss World," jelasnya kepada hidayatullah.com usai konferensi pers penolakan kegiatan Miss World di kantor MUI Jakarta, Jum'at (23/08/2013).

"Misi liberalisasi wanita ini juga bertentangan dengan nilai-nilai konstitusi UUD 45," tambahnya.

Ditanya mengenai bahwa negara Indonesia bukan negara agama, Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan menjelaskan kalaupun ada kalangan non Muslim tidak mempermasalahkan Miss World, namun, MUI sadar acara ini tetap akan disiarkan melalui televisi dan tetap dikonsumsi oleh mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam.

"Kalaupun tidak ada sesi menampilkan penggunaan pakaian dalam, tetap kegiatan Miss World ini mengedepankan pada konsumsi sensualitas kecantikan wanita dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan Islam mengharamkan seorang wanita mempertontonkan kecantikannya atau disebut tabarruj," jelas Amirsyah kepada hidayatullah.com pada kegiatan yang sama.

Sementara itu, pengurus MUI lainnya, Natsir Djubaedi menambahkan masih banyak tokoh-tokoh wanita yang bisa menjadi rujukan wanita Indonesia. Ia menyebutkan sosok seperti Cut Nyak Dien, Kartini dan pahlawan wanita Indonesia lainnya. Tokoh-tokoh itu dikenal karena kontribusi kecerdasan dan kebangsaannya bukan eksploitasi kecantikannya.

"Sementara Miss World justru mencetak figur wanita yang bertentangan dengan nilai-nilai tokoh-tokoh wanita Indonesia itu," jelas Natsir lagi.

"Kalaupun ada kontes IQ itu hanya pelengkap saja, inti utama dari Miss World adalah menilai kecantikan wanita dari mengekploitasi keindahan fisiknya, kami tegas menolaknya," tambahnya lagi kepada hidayatullah.com.*

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar