Selasa, 20 Januari 2015

GERAKAN ANTI YAHUDI DI UNI EROPA MENINGKAT

Brussel (voa-islam.com) Semenjak krisis ekonomi yang menghebat di seluruh daratan Eropa, mengakibatkan muncul gerakan anti Yahudi di hampir seluruh kawasan itu, menyeruak. Masyarakat Uni Eropa telah menuduh para bankir, dan "baron" Yahudi sebagai biang dari krisis ekonomi yang melanda Eropa.

Kalangan penduduk Eropa merasakan kondisi yang mereka alami, semata-mata akibat keserakahan para konglomerat Yahudi yang mendominasi sistem monoter dan ekonomi di negara-negara Uni Eropa. Kekayaan ekonomi yang berada di tangan para "baron" Yahudi itu, kini memunculkan krisis ekonomi yang sangat hebat di seluruh dunia.

Di Amerika setahun lalu, lahir gerakan "Menduduki Wall Street" (OWS), di mana gerakan itu, kemudian berubah menjadi gerakan nasional. Ini karena terjadi ketimpangan yang sangat lebar, di mana 2 persen orang kaya Amerika menguasai 98 persen, hajat hidup rakyat Amerika.


Orang kaya Amerika itu, mereka para penguasa di Wall Street, menguasai pusat bisnis uang global. Warren Buffet, Bill Gate, Rupert Murdoch, Mark Zuckerberg dan lainnya, hanyalah segelitir Yahudi, dan sangat berkuasa di Amerika, dan bahkan merekalah yang menentukan kebijakan Gedung Putih dan Capitol Hill.

Sekarang seperti banyak orang Yahudi di Eropa mengatakan anti antisemitisme (Yahudi) meningkat, khususnya, menurut survei yang dilakukan badan hak asasi Uni Eropa, Fundamental Right Agency (FRA). Survei terhadap 5.847 orang Yahudi menunjukkan 66% di antaranya mengangkat antisemitisme sebagai masalah.

Tiga perempat responden, atau sekitar 76%, mengatakan anti Yahudi meningkat dalam lima tahun terakhir. Survei itu dilakukan pada 2012 di delapan negara yang merupakan tempat tinggal sekitar 90% populasi Yahudi di Uni Eropa.

Para responden di Belgia, Prancis, Jerman, Hungaria, Italia, Latvia, Swedia dan Inggris ditanya tentang "pendapat mereka dan pandangan tentang tren antisemitisme dan antisemitisme sebagai masalah".

Mereka juga ditanya tentang pengalaman pribadi dan kekhawatiran tentang keselamatan mereka dan anggota keluarga. Mereka menyatakan sudah tidak nyaman lagi hidup dan tinggal di Uni Eropa, karena menjadi sasaran komunitas lainnya yang merasa dirugikan, akibat keserakahan mereka.

Pertimbangkan untuk pindah

Sebagian besar responden menyatakan khawatir tentang antisemitisme di internet dan bahwa isu ini semakin parah.

Seorang wanita Inggris yang berusia 50-an, dikutip dalam survei itu, dan mengatakan ia mendengar "lebih banyak komentar antisemitisme" sejak memilliki akun di Facebook "dibandingkan apa yang pernah saya alami sepanjang hidup saya".

Dia menambahkan, "Kecepatan komentar buruk dan informasi salah akan beredar dan menakutkan karena akan menciptakan ketidaktenangan, yang mungkin saja tidak terkait dengan realitas di lapangan orang Yahudi yang tinggal di komunitas beragam."

Survei itu menemukan sekitar 29% responden mempertimbangkan untuk pindah karena khawatir atas keselamatan. Angka tinggi untuk pindah tercatat di Hungaria, 48%, Prancis, 46% dan Belgia, 40%.

FRA mengatakan negara-negara Uni Eropa harus "segera" mencari cara efektif memerangi antisemitisme di internet. Badan ini juga menyerukan kepada tokoh masyarakat untuk mengecam komentar antisemitisme.

Sementara itu, mantan Menteri Luar Negeri Israel, David Lieberman, menuduh pemerintah Afrika Selatan, mengobarkan permusuhan terhadap komunitas Yahudi. Lieberman menginginkan jaminan keamanan terhadap komunitas Yahudi, dan melindungi hak-hak hidup mereka.

Sementara itu, di Kenya terjadi serangan oleh kelompok al-Shabab terhadap Mall West Gate, dan mengibatkan ratusan para pengunjung Mall West Gate. Mall West Gate milik kongkomerat Yahudi di Kenya.

Zionis-Israel juga terlibat perang di Sudan Selatan, dan menyebabkan Sudan Selatan, lepas dengan Sudan. Inilah taktik Zionis-Israel menciptakan kekacauan dan disintegrasi di berbagai negara, dan tujuannya untuk membuat negara itu tergantung dan terjajah oleh Israel. af/hh


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar