Sabtu, 03 Januari 2015

KENAPA PROSES EVAKUASI (QZ8501) SULIT?

Sudah hampir sepekan tim Sar kesulitan melakukan evakuasi pesawat Airasia 8501 di selat Karimata, Pangkalan Bun Kalimatantan Selatan, mereka berhadapan dengan kondisi cuaca ekstrim di lapangan yang membuat semakin sulitnya ditemukan bangkai pesawat. Adanya hujan, ombak tinggi, dan cuaca ekstrim menghalangi semua tim pencari walau mereka sudah berbekal peralatan canggih dari berbagai negara. Ada Apa ini? mengapa ada penghalang yang mengebabkan manusia sekali lagi tidak berdaya menghadapi alam? Adakah Tuhan tidak menghendaki tragedi ini dibawa ke permukaan? Adakah alam hendak menyimpan badan pesawat di dalam laut-Nya agar menjadi peringatan bagi kita semua? Adakah pesan dibalik semua ini?


Di alam ini ada banyak hal yang bisa diungkap ke permukaan dan ada juga sebagian yang disembunyikan. Ada beberapa hal yang harus diungkapkan namun ada juga yang sebaiknya disimpan. Namun berkaitan dengan jatuhnya pesawat ke dalam laut, serta banyaknya hambatan yang dalam proses pencarian ini harusnya kita sudah harus sadar bahwa mungkin pesannya adalah sebaiknya kita menerima kenyataan bahwa pesawat ini sudah hancur dan tidak menyisakan satupun penumpang hidup di dalamnya. Sudah waktunya kita merelakan yang pergi, agar mereka bisa pergi dengan tenang. Karena jika yang hidup masih berpikir si korban masih hidup, maka mereka (arwah)nya tidak akan bisa pergi dengan tenang, mereka juga masih menunggu di lokasi untuk segera ditemukan. Mereka belum mau pergi hingga dapat bertemu saudaranya yang menunggunya. Maka dari itu relakanlah mereka pergi.

Kedua, sudah waktunya kita membiarkan sejenak alam menentukan nasib pesawat itu. Karena faktnya semakin keras manusia melawan arus dan ombak diatasnya, maka akan semakin sulit tim mencapai bangkai pesawat. Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi jika proses evakuasi dipaksakan terus-menerus;Ombak akan semakin besar dan kemungkinan badan pesawat untuk ditemukan makin sulit karena bisa jadi badan pesawat bergeser/berpindah tempat akibat terbawa arus dalam laut. Kedua, bisa jadi badan pesawat ini makin hancur terguncang-guncang arus dalam laut akibat banyak gesekan dengan batu karang di bawah laut. Dan ketiga, ada kemungkinan badan pesawat akan tertutup lumpur dan ini makin mempersulit proses pencarian, karena tim tidak berhasil menemukannya di dalam laut. Semantara sumber daya yang harus dikeluarkan juga tidak sedikit, tenaga pencari juga punya batasan kesehatan dan yang masih hidup harus melanjutkan hidupnya masing-masing. Mau berapa lama kita disibukkan dengan proses evakuasi jika hanya mengandalkan cuaca baik. Bisa-bisa harus menunggu hingga akhir bulan maret, karena februari adalah bulannya orang imlek yang biasanya menganggap hujan sebagai tanda keberuntungan.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Pertama, sebaiknya keluarga yang ditinggalkan sudah waktunya merelakan kepergian si korban dengan iklas, mereka sudah menganggap anak/familinya sudah ada di surga dan sudah menjalani kehidupan akhirat. Jangan lagi mencari atau memaksakan diri ingin melihat wujud jasad korban, karena kondisinya sekarang pasti sudah tidak layak lagi, karena sudah membusuk dan tidak dapat dikenali. Percaya saja bahwa ketika seseorang wafat, maka dalam waktu 40 hari arwahnya masih diberi kesempatan berkumpul bersama di rumah keluarganya. Mereka sebenarnya ada di sekeliling kita, hanya saja kita tidak bisa melihat mereka. Yang sedang dicari dan diburu tim itu hanya seonggok badan yang sudha tidak bernyawa, badan itu sudah tidak ada artinya lagi. Maka daeri itu doakan saja agar yang pergi dapat diterima di sisi-Nya.

Kepada Tim Sar? melihat kondisi cuaca seperti ini mungkin sebaiknya mereka tidak memaksakan diri melawan badai. Rehat sejenak menunggu cuaca membaik, lalu melakukan pencarian Black box maka itu jauh lebih baik. Tidak akan ada gunanya dipaksakan, karena sesungguhnya musibah ini terjadi atas kehendak dan Ijin Allah swt. Dan di tutupnya awan atas mereka juga bagian dari rahasia Allah. Diantara hikmah-hikmah musibah yang terjadi pada anak manusia adalah agar tidak terlalu condong terhadap dunia/materil. Jangan menganggap dunia dan materi yang mereka kejar-kejar adalah bagian yang hal yang dianjurkan Allah, bisa jadi ia adalah hal yang harus dijauhi, karena sesungguhnya sudah cukup bagi kita yang memiliki mata hati untuk mengambil pelajaran dari kejadian ini. Berikut cuplikan firman-Nya:

" Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras karenanya (memaksakan diri), ...... “
. ( Al-An’Am 42 – 43 ).

Kadangkala rasa sedih jauh lebih baik karena dengannya ia mendapatkan pahala dan pujian, maka hal tersebut terpuji dari sisi (kejadian) buka dari sisi kesedihannya. Seperti sedih terhadap musibah yang terjadi belakangan ini. Hal ini akan mendapatkan pahala dari apa yang ada dalam hatinya karena kecintaan pada kebaikan dan ketidak sukaan pada kejelekan. Akan tetapi kalau kesedihan tesebut sampai berakibat meninggalkan perintah, seperti perintah untuk bersabar, bertawakal, dan tawadhu. Maka hal ini dilarang. Maka pahamilah ini wahai orang yang ingin Allah merubah kondisinya.

Dan Firman Allah : " Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) ". Yaitu Nampak kerusakan di darat dan laut, kerusakan kehidupannya dan kekurangan serta terjadi berbagai macam bencana.

Adapun hikmah lain yang dari musibah tersebut adalah sebagai ganjaran bagi yang telah mendapatkan peringatan akan tetapi tidak bisa mengambil manfaat dan tidak juga berubah kebiasaannya. Kebiasaan buruk menghambakan barang/materi adalah hal buruk lalu menganggap jasad/barang itu tidak ada artinya di mata Allah itulah yang berharga, dimana dalam keadaan sedih akibat bencana datang umat-Nya berpasrah dan berserah diri kepada-Nya. Maka dengan kondisi demikian semoga ALlah mengampuni dosa-dosa kita.


Artikel Terkait:

1 komentar: