Sabtu, 25 Juni 2016

KENAPA KAUM NON MUSLIM SULIT MENERIMA ISLAM?

Dibulan yang penuh rahmat dan ampunan ini, bisa merasakan kenikmatan dan kekhusukan beribadah tanpa adanya gangguan di tengah masyarakat adalah suatu anugerah yang amat besar. Bersyukur sekali tahun ini kita bisa melaksanakan ibadah puasa tanpa adanya gangguan baik dari dalam maupun dari luar yang bisa berpengaruh pada ketaqwaan kita kepada Allah swt. Seperti misalnya waktu puasa yang tidak terlalu panjang, tidak ada bencana alama seperti banjir dan badai atau cuaca panas ektrim dan sebagainya. Semua itu adalah karunia yang besar dari sang Khalik.

Tapi sayang, sungguh amat disayangkan, tidak semua orang di negeri ini bisa ikut merasakan kenikmatan ibadah ini karena ada sebagian saudara kita yang tidak ikut melaksanakan puasa karena perberbedaan keyakinan/akidah. Ada banyak kaum non muslim yang bahkan mereka harus merasakan ibadahnya orang muslim menjadi siksaan, karena mereka terpaksa harus ikut melaksanakan puasa (walau tidak sah) dalam rangka untuk menghormati yang sedang berpuasa. Ritual ini sudah menjadi semacam kewajiban untuk menjaga kerukunan beragama. Namun walau mereka tidak ikut berpuasa, mereka tetap bisa ikut merasakan kenikmatan ketenangan dan kekhusukan orang-orang yang sedang berpuasa disekitarnya.

Yang menjadi pertanyaan kali ini adalah, didalam keadaan tenang seperti ini, dimana ada banyak kaum non muslim yang menyadari keindahan ajaran islam, namun hingga kini mengapa mereka belum membuka hatinya untuk menerima Islam sebagai agamanya. Mengapa mereka masih tetap dalam agama lamanya (kristiani, tionghoa, budha, hindu dll), dimana kita juga melihat kebanyakan kaum non muslim di negeri ini sulit diajak berhijrah menuju islam? Mereka sama sekali tidak tertarik ingin mempelajari islam secara sukarela. Meskipun mereka tahu bahwa agama yang mereka anut bukan bersumber dari kebenaran, walaupun mereka tahu didalam ajaran agamanya terdapat banyak kesimpangsiuran. Dan walau mereka tahu bahwa ajaran islam adalah agama yang benar, lalu mengapa mereka sama sekali tidak berminat untuk mengerti islam. Mengapa mereka masih menolak islam dalam dirinya? Sebagai satu-satunya sumber kebenaran sejati?

Berbeda halnya dengan yang terjadi di benua eropa, meski islam sudah sangat keras tumbuh disana disertai hujat dan fitnah secara terang-terangan (tragedi Charlie Hedbo), namun jumlah orang yang berhijrah menuju islam tidak bisa dibendung, jumlahnya semakin meningkat setiap tahun. Jumlah penduduk non muslim yang antusias belajar islam membludak di mana-mana. Padahal di sana jumlah orang muslim hanya minoritas dari sekelompok besar mayoritas non muslim. Mengapa di negeri yang mayoritas muslim ini justru minoritas orang non muslimnya tidak mau menerima islam yang mana mereka sendiri sudah memahami kebenaran ada di sisi umat islam. Ada apa gerangan? Ada apa dengan islam di negeri ini? Apa yang salah dengan islam di negeri ini? Bukan hanya terjadi di Indonesia, ini juga terjadi di Malaysia dan negara mayoritas muslim lainnya. Kondisi ini sangat memprihatinkan kita tentunya, pasti ada yang salah dengan ini semua.

Untuk membuka tabir ini, maka disini kami meminta anda untuk menyimak dengan seksama dan mari kita koreksi sama-sama apa saja titik kelemahan dan kekurangan yang menjadi penyebab timbulnya permasalahan sulitnya umat non muslim menerima islam di negeri mayoritas muslim terbesar di dunia ini. Ada empat alasan yang menjadi pertimbangan utama mengapa kaum non muslim ini sulit menerima islam, yaitu kesemuanya berkaitan dengan sikap dan perilaku pemeluk islam itu sendiri.

1. Mayoritas Superior

Penyakit umum di negara manapun dengan jumlah pemeluk agama terbesar akan memiliki sifat ini, yaitu merasa paling benar sendiri dan paling suci sendiri, orang yang lainnya adalah kafir. Inilah yang terjadi dimasyarakat kita, selama ini kita terlalu berada di atas angin, merasa paling besar jumlah dan merasa menjadi golongan yang harus dipuja dan puji. Selama ini kita sudah bersikap bagaikan raja yang berkuasa dan boleh menindas rakyatnya jelata, kita suka memojokkan dan bahkan memaksa mereka mengganti agamanya semudah orang mengganti pakaian. Sikap superior kita yg merasa paling harus mendapat pengakuan ini yang tidak disukai oleh kaum non muslim, karena ini bertentangan dengan nilai-nilai ajaran islam itu sendiri, yang tertera dalam surat Al Kafirun (1-6), yang berisi keutamaan saling menghormati agama yang berbeda (untukmu agamamu dan untukku agamaku). Bagaimana mungkin non muslim bisa bersikap menerima islam sementara perilaku kita sombong dan pongah seperti itu. Allah saja tidak membenaran sikap seperti itu, yang harus diutamakan adalah hargailah sikap mereka memilih kepercayaan yang ingin mereka anut, tetaplah berbuat baik dan jangan merasa sombong, lalu berserah dirilah kepada-Nya semoga Allah memberikan Hidayah kepada mereka yang belum mau menerima islam dengan cara-Nya.

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."
(QS. Luqman:18)

2. Intoleransi dan Diskriminasi

Selain bersikap sombong, banyak dari kita yang tanpa sadar masih suka bersikap diskriminatif terhadap non muslim, misalnya dalam hal ekonomi dan perdagangan, kadang kita lebih memilih berbelanja kepada penjual yang beragama muslim jika dibanding non muslim (chinese/tionghoa). Padahal, Sikap kita ini justru membuat mereka jadi makin memperburuk stigma bahwa islam suka membeda-bedakan etnis. Atau misalnya dalam hal jual beli makanan, masih banyak diantara kita yang suka berburuk sangka tentang barang dagangan yang di jajakan para etnis thionghoa misalnya dikhawatirkan jika makan di rumah makan chinese ada beberapa yang mengandung babi, lalu tanpa sadar masyarakat kita mencap bahwa semua rumah makan chinese identik dengan babi. Sebenarnya perlukah kita mencurigai seseorang sampai sedemikian detailnya, jika di papan depannya mereka sudah mencantumkan bahwa mereka menjual makanan halal. Sikap antipati ini yang menyebabkan ada jurang pemisah yang lebar antara keduanya.


3. Radikal dan Brutal


Walau saat ini perilaku radikal seperti mensweeping tempat-tempat hiburan; diskotik dan club malam sudah tidak dilakukan lagi. Yang mana walaupun ini pernah dilakukan dalam rangka menghormati bulan ramadhan, sikap yang pernah dilakukan anggota FPI (Front Pembela Islam) ini mencerminkan perilaku umat muslim pada umumnya. Karena mereka membawa bendera islam dan mengatasnamakan islam dalam tindakan brutalnya. Lalu bagaimana non muslim bisa menilai bahwa islam itu agama yang damai dan mendamaikan, sementara sikap dan perilakunya suka merusak seperti itu. Ditambah lagi sikap para pemimpin muslim kita yang suka mengambil yang bukan haknya atau mereka melakukan tindakan korupsi di berbagai bidang, lalu ditangkap penegak hukum karena sudah berkongsi dengan banyak pihak dalam rangka memperkaya diri. Lalu berbagai sikap para teroris di suriah yang bernama ISIS dan membawa bendera islam dalam setiap aksinya dan mengatasnamakan islam didalamnya sudah berhasil menghancurkan total imeg islam secara masif.

4. Pemaksaan dan Melampaui Batas


Yang sangat amat wajib kita fahami tentang kerelaan seseorang mau menerima islam di dalam hatinya itu adalah semata-mata karena datangnya Hidayah Allah swt, bukan karena kerasnya usaha sebagain orang menginginkan ditegakkannya syariat islam dalam kehidupan bernegara dengan cara pemaksaan kehendak. Satu-satunya jalan halal yang diridhoi Allah ketika seorang non muslim beralih kepada Islam itu adalah karena adanya campur tangan Allah didalamnya. Allah yang Maha Mengehendaki dan Allah yang Maha membolak-balikkan hati manusia, serahkan urusan hidayah itu hanya kepada-Nya.
Banyak sekali diantara kita yang kadang suka memaksakan kehendak dan melampaui batas dalam mengajak atau mendorong seseorang untuk memahami islam dengan sedikit pemaksaan. Dalam hal ini, orang tersebut tentu merasa kesal dan akhirnya timbul rasa benci. Ditambah lagi kadang kita suka merespon secara berlebihan tindakan kaum non muslim yang secara tidak sengaja melakukan kesalahan. Tanpa disadari di masyarakat kita ada semacam aturan tidak tertulis yang berbunyi bahwa orang non muslim dilarang berbuat sembrono dan kesalahan, karena pasti akan timbul reaksi berlebihan dari sebagian besar umat muslim yang akan memperburuk situasi. Seharusnya kita tidak perlu super reaktif menanggapi berbagai persoalan itu, utamakan musyawarah akan jauh jauh lebih baik.

Dalam hal pemilihan agama, sudah tercantum dalam firman-Nya berikut ini;
"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (islam), sesungguhnya sudah sangat jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dan jalan yang sesat....(QS. Al Baqarah, 2:256)

Faktor penyebab lain adalah, di masa lalu kita memang punya sejarah panjang terkait etika berkomunikasi antar umat beragama yang semuanya dimulai dengan berbagai konflik antar agama yang diciptakan penguasa (orde baru)kala itu, sehingga itu membuat jurang pemisah yang besar antara dua kelompok mayoritas dan minoritas hingga saat ini. Dan nampaknya konflik itu teramat sulit dipulihkan, keduanya sudah terbangun tembok pemisah yang amat tebal, sehingga tidak memungkinkan bagi keduanya untuk bisa saling menjalin hubungan harmonis. Tapi untuk apa lagi kita membangun masa depan dengan berkaca pada masa lalu, sudah saatnya kini kita saling memaafkan dan membangun kebersamaan tanpa rasa curiga dan sebagainya.

Sekarang bisa kita fahami, alasan mereka secara terang-terangan menolak islam bukan karena kandungan ajaran kebenaran yang disampaikan rasulullah, namun karena sikap dan perilaku kita sendiri yang tidak mencerminkan inti ajaran kebaikan dan kebenaran antar umat beragama. Salah kaprah di masyarakat kita ini yang membuat kaum minoritas memilih diam dan menjauh dari kebenaran. Bagi mereka memilih menempatkan diri sebagai kaum terpencil jauh lebih baik jika dibanding harus berhadapan dengan umat muslim. Padahal seharusnya sebagai satu negara kesatuan sudah seharusnya kita bisa saling menyelamatkan dalam hal akidah, setidaknya upaya kita berbuat baik kepada sesama akan menumbuhkan rasa cinta antar sesama untuk bisa saling menuntun menuju cahaya kebenaran.

Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap, inilah yang perlu menjadi pelajaran bagi kita semua. Yaitu janganlah lagi kita bersikap sombong dan pongah kepada mereka yang belum mendapatkan petunjuk dari-Nya, janganlah lagi kita bersikap diskriminasi kepada mereka dalam kehidupan bermasyarakat, janganlah lagi kita mengatasnamakan agama dalam bergaul dan bertindak sesuai kehendak pribadi. Apa yang terjadi di eropa itu bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa meskipun jumlah mereka hanya sedikit tetapi mereka bisa menjaga adab dan perilaku, mereka bersikap sabar dan toleran, hal ini yang membuat kagum para kaum non muslim untuk ingin mengenal dan mempelajari islam dengan lebih baik. Dalam kesabaran dan ketenangan, islam bisa tumbuh pesat di sana, mengapa itu tidak bisa terjadi di negara mayortas muslim sendiri. Atau bisa jadi alasan sulitnya kebanyakan non muslim mau menerima islam adalah karena Allah belum menurunkan cahaya hidayah2-Nya karena sikap dan perilaku kita yang belum santun dan ramah kepada sesama. Karena kita masih sombong dan keras sehingga sikap itu menutupi cahaya rahmat dan hidaya-Nya.

Dan sesungguhnya dengan pendekatan lemah lembut kita akan mampu merangkul mereka, karena hakikatnya jiwa mereka terkekang dan terbelenggu. Hakikatnya hati mereka keras dan marah/kecewa, tetapi ada baiknya kita menggapai tangan mereka dengan keindahan dan keramahan atas nama islam. Karena dalam hati yang keras dan marah itu tersembunyi kelembutan, tersembunyi kebutuhan ingin disayangi dan dilindungi. Kita selaku penganut mayoritas harusnya melindungi mereka dan memberikan pelayanan terbaik kepada mereka dalam banyak hal di kehidupan ini. Bersikap toleransi dan menghormati apapun pilihan yang ingin mereka jalani, kita tetap saja dianjurkan untuk menjaga sikap dan perilaku santun dan sabar dalam berkehidupan. Jangan lagi meremehkan, merendahkan apalagi mencemooh, perlakukan mereka dengan sebaik-baiknya umat pada umumnya. Karena itu akan bisa mendatangkan kebaikan baik kita semua, yaitu turunya rahmat Allah atas hati umatnya yaitu Islam Rahmatan Lil alamin.

Semoga saja dengan timbulnya kesadaran ini, di tahun-tahun akan datang, akan ada lebih banyak kaum non muslim yang sudah mendapatkan cahaya hidayah dan mau menerima islam dengan penuh kesadaran, kita bisa beribadah puasa bersama-sama dan bisa merasakan indahnya kebersamaan.

Artikel Terkait:

2 komentar:

  1. Bagi kami umat Kristen, tidak memerlukan ajaran Islam dan mengganggap Islam bukanlah Agama (A=tidak;gama=kacau-balau tetapi merupakan paham Muhammadisme untuk menguasai dunia. Paham "virus seruan perang" yang dibungkus oleh jargon-jargon (selogan-selogan) indah dengan membawa-bawa al-illah Pagan Arab. Virus seruan perang ini berkembang dalam pikiran dan alam bawah sadar orang-orang Islam yg sewaktu-waktu muncul dalam bentuk teror dan perang nyata untuk mencapai tujuan kelompoknya. Paham yg pro-brutality (teror) anti damai dan cintah kasih sesama manusia bersumber dari ayat-ayat makhluk Goa Hira (Alquran). Mengajari memancungi kepala manusia dgn penuh keindahan Islam.
    GBU

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas komentarnya, saya anggap wajar apapun perbedaan yang anda kemukakan, krn itu menunjukkan anda memang punya jati diri. Siapapun sah-sah saja menganggap diri mereka paling benar dan yang paling berhak menilai ini adalah Tuhan saja. Dan lagi saya juga sangat berterima kasih anda mau menyempatkan diri mampir di blog khusus muslim ini, krn itu artinya anda punya perhatian khusus dgn perkembangan islam, krn isi artikel diatas ditujukan untuk umat muslim, bukan untuk anda umat kristiani, sekali lagi thanks for your attensi

      Hapus