Selasa, 07 Maret 2017

MISI LAIN DIBALIK KUNJUNGAN RAJA SALMAN DI ASIA

Hal yang tidak Nampak dan tidak banyak diketahui public (dibalik segala kemewahan yang ditampilkan rombongan kerajaan) mengenai alasan kedatangan sang raja Arab Saudi, Yang mulia Salman Bin Abdul Aziz al Saud ke Negara-negara Asia (Malaysia, Indonesia, Brunei dsb) adalah bahwa Arab Saudi kini sudah memasuki masa krisis, sedang mengalami ekonomi sulit. Diperkirakan, dengan harga minyak yang terus berada di kisaran US$ 50 per barel sejak beberapa tahun lalu, IMF memperkirakan dalam waktu lima tahun ke depan Arab Saudi akan menjadi Negara miskin. Kondisi ekonomi arab Saudi saat ini mulai memprihatinkan, diambang kebangkrutan, disamping karena gaya keluarga kerajaan sudah terlanjur tinggi, biaya belanja publik juga besar, konflik dengan Iran, lemahnya daya beli, dan iklim investasi Amerika serikat yang dipimpin Donald Trump juga makin memperburuk kondisi.

Hingga saat ini Saudi arabia sedang berupaya melakukan penghematan dan pemangkasan anggaran untuk menjaga stabilitas ekonomi, mulai dari memangkas gaji para menteri, memberlakukan penarikan pajak penghasilan dan pengurangan subsidi juga dilakukan secara besar-besaran pada sektor air, listrik dan gas. Dibalik kemeriahan dan kemewahan yang ditampilkan dalam setiap lawatannya, sSiapa yang menyangka bahwa ternyata Saudi sedang mengalami banyak masalah. Dan berikut ini ulasan lengkapnya untuk anda ketahui lebih banyak lagi.

MASA KEEMASAN


Kondisi Arab Saudi saat ini sudah tidak sama lagi dengan masa keemasannya di saat harga minyak melebih US$ 100 per barrel. Disaat semua Negara menggantungkan kebutuhan energinya kepada minyak dan hanya negara-negara teluk yang mampu menyediakan minyak dalam jumlah besar, bahkan Negara-negara barat sekelas Amerika serikat pun membeli minyak dari OPEC. Keadaan ekonomi mereka saat itu, masa kejayaan emas yang ditunjukkan dengan sangat mewahnya gaya hidup masyarakat dan keluarga kerajaan, sudah menjadi pemandangn umum kala itu.


Salah satu pemandangan biasa terjadi disana saat itu, ada banyak orang dengan sengaja membuang mobil sport mewah di pinggir-pinggir jalan. Masa-masa itu banyak pangeran yang kerap menampakkan gemerlap hidup penuh pesta mewah dan hura-hura bersama selebritis dunia disebuah club malam. Atau kebiasaan sebagian bangsawannya memelihara binatang buas sejenis harimau dan macan tutul di kediamannya, masa itu menunjukkan gaya hidup yang sangat wah.


Masa itu arab Saudi sedang mencapai puncak kejayaan, bergelimang harta, penuh kemewahan, sementara kondisi Indonesia saat itupun sedang dalam masa sulit, terjadi krisis ekonomi diawal tahun 2000-an, karena tingginya harga minyak dunia kala itu mengakibatkan kenaikan harga BBM naik bertubi-tubi dalam kurun waktu singkat dan itu sangat memukul ekonomi masyarakat. Pemerintahnya juga baru saja melakukan reformasi besar-besaran dan masih terkontaminasi sistem pemerintahan yang korup setelah peralihan dari rezim orde baru. Yang mana ketimpangan ekonomi ini sangat terasa tetapi tidak membuat raja saudi peduli bahkan sama sekali tidak mengenal siapa itu Indonesia.

Tapi sejak harga minyak dunia turun drastic, maka seluruh kejayaan itupun mulai sirna. Kondisi ekonomi arab Saudi saat ini juga mulai terganggu dan mulai mencari pinjaman dari bank internasional senilai Rp 131 triliun atau US$ 10 milliar di tahun 2016 lalu. Arab Saudi kini sudah bukan Negara super kaya yang gaya hidupnya glamor dan mewah lagi. Saat ini mereka sedang berusaha bertahan dengan sumber dana tersisa dan sebagian bertumpu pada sumber pendapatan biro perjalanan haji dan umroh. Dimana alasan kedatangan sang raja ke Indonesia adalah dalam rangka ingin menjaga hubungan erat dalam hal biro perjalanan dan bidang lain. Meningkatkan lagi tingkat kunjungan Umroh ke Negara tersebut dengan cara membuka 3 jalur penerbangan langsung baru menuju Madinah. Tiga bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I yaitu Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, dan Bandara El Tari Kupang, resmi menambah jumlah penerbangan.

SUMBER DEVISA TERBESAR

Data terakhir menunjukkan dalam setahun sebanyak 1,2 juta orang indonesia pergi ke tanah suci untuk umroh. Atau dengan kata lain, Indonesia kini menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Saudi. Disamping Indonesia juga menjadi importir minyak terbesar serta pengirim tenaga kerja murah. Indonesia saat ini bukan hanya telah menjadi sumber keuangan terbesar Arab Saudi, tetapi juga menjadi sumber keuangan Negara yang paling penting di jaga hubungan baiknya, terutama dimasa-masa sulit seperti ini. Dalam kondisi seperti ini posisi Indonesia justru sebenarnya yang lebih baik jika dibanding Arab Saudi. Tertact di tahun lalu posisi Saudi dengan angka pertumbuhan 1%, posisi Indonesia berada jauh di atas Arab Saudi yaitu 5% per tahun.

PANDANGAN SALAH KAPRAH

Sebuah kondisi yang justru selama ini terbalik telah terungkap, adalah selama ini arab Saudi selalu beranggapan bahwa Indonesia adalah Negara miskin dan terbelakang, karena menjadi salah satu Negara penyalur tenaga kerja (TKI) terbesar, atau posisi Indonesia dimata mereka setara dengan Negara muslim miskin lainnya seperti Somalia, Sudan dan Afganistan. Bahkan sebagian warganya tida mengetahui di mana letak negara bernama Indonesia yang notabene masih memaliki hubungan suadara sesama muslim.

Kondisi ini membuat mereka takjub ketika melihat langsung kenyataan dilapangan bahwa anggapan itu salah besar karena Indonesia tidaklah seburuk yang mereka sangkakan selama ini. Indonesia adalah Negara berkembang dengan seribu macam potensi keunggulan bersatu padu dalam keberagaman. Indonesia bukan Negara konflik walau diisi dengan berbagai macam etnik dan budaya, sebaliknya Indonesia adalah pusat seni dan kebudayaan yang terus mendobrak pintu-pintu modernisasi tanpa menimbulkan gesekan ataupun benturan. Orang arab selama ini salah kaprah menilai Indonesia, karena faktanya data-data diatas menunjukkan Indonesia adalah salah satu Negara terkuat ekonominya ditengah kelesuan global yang merontokkan perekonomian banyak Negara-negara maju.

Atas dasar kesadaran mengenai kondisi ekonomi mereka yang mulai melambat bahkan cenderung menurun inilah pihak kerajaan Arab Saudi mengambil inisiatif mencari cara menggali dan mencari sumber pemasukan dari sector selain minyak. Saatnya mulai melakukan ekspansi besar-besaran dalam banyak bidang, menggunakan pengaruh kedekatan emosional berlandaskan primordial masyarakat yang sama-sama memeluk agama islam. Dengan susah payah, sang raja yang sudah berusia 81 tahun mendatangi satu persatu kepala Negara Asia, bukan sekedar ingin membuka jalan tetapi untuk lebih memantapkan lagi hubungan kerjasama antar Negara menjadi lebih erat.

Walau kenyataannya saat ini kondisi sang raja pun sedang sakit-sakitan, menurut beberapa sumber sang raja mengindap penyakit demensia, yaitu sejenis penurunan daya ingat, yang mana sang raja hanya mampu berkonsentrasi beberapa jam saja dalam sehari dan beliau tidak bisa melakukan banyak kegiatan berat sekaligus. Keputusan dan berbagai kebijakan banyak diserahkan kepada putra mahkota yaitu pangeran Muhmamamad bin Salman dan para menterinya.

KEHORMATAN RAJA JADI TARUHAN


Walau sebelumnya pihak arab Saudi lebih memilih berteman dan berkongsi dengan orang-orang di dunia barat (amerika dan sekutunya), mereka selama ini banyak menanamkan modalnya disana, karena diangagap lebih menguntungkan. Tapi kali ini, Raja sendiri yang datang dan menampakkan diri ke public dan disaksikan oleh khalayak ramai (dunia maya) bahwa kali ini rajanya sendiri yang melakukan diplomasi langsung dengan Negara-negara yang mereka kategorikan miskin selama ini. (Walau sebenarnya ini bisa saja dilakukan oleh para menteri) tapi Raja Salman sendiri yang dengan susah payah membangun kepercayaan dengan Asia, mungkin karena ada perasaan kurang yakin akan mendapat sambutan hangat, karena sadar selama ini kurang memberikan perhatian pada indonesia (setelah 47 tahun) Arab tidak pernah berkunjung.

Atau karena merasa perlu ijin penguasa setempat, karena sebenarnya kunjungan ini dalam rangka liburan ke Bali semata, ini bisa dilihat dari (masa kunjungan ke ke Bali 8 hari sementara masa berdiplomasi di Jakarta hanya 3 hari). Disertai dengan para pangeran dan kerabat mendampingi beliau dalam jumlah jumbo (1500 orang) bertandang dan melayani semua permintaan berbagai macam orang. Padahal sebelumnya pihak kerajaan tidak pernah memberi kesempatan ini kepada sembarang orang, tapi lihatlah apa yang terjadi.

Semua ini dilakukan oleh seorang raja agung yang salama ini sangat dihormati warga dunia, ini bukanlah hal mudah, dan ini bukanlah sesuatu yang seharusnya dilakukan, kecuali sang raja juga memiliki kepentingan. Mana ada, yang namanya seorang raja agung mau melayani permintaan berselfie ria dengan rakyat jelata, kecuali sang raja memiliki keinginan tertentu yang harusnya bisa dibaca oleh banyak orang bahwa dibalik semua ini tentulah raja memiliki pesan yang ingin ia sampaikan dan ingin diberikan perhatian khusus.

Lalu, hal apa yang menjadi keinginan terdalam sang raja? Atas segala upayanya mendekati dan meladeni rakyat jelata? Pesan apa yang ingin beliau sampaikan dibalik kesahajaannya itu?

MISI DIBALIK MISI


Pesan tidak tersirat yang tergambarkan mulai dari rencana kedatangan yang tidak diketahui dengan pasti kunjungannya dalam konteks apa, hingga beredarnya berbagai isu dan berita bahwa sebenarnya kedatangan raja dan rombongan adalah dalam rangka ingin menawarkan saham Saudi Aramco, sebesar 5% yang segera akan mereka rilis ditahun 2018 kepada pengusaha dan pemerintahan Negara Asia. Kedatangan mereka sebenarnya adalah dalam rangka mencari investor kaya yang akan mampu membayar nilai saham Saudi Aramco sebesar $ 100 miliar (Rp. 1335 triliun). NIlai saham paling tinggi di dunia ini akan segera dilepas perdana tahun 2018 untuk mengatasi defisit anggaran, ditengah anjloknya harga minyak dunia, nampaknya ini membutuhkan upaya besar untuk mewujudkannya.

Disamping rencana promosi saham tersebut, raja dan rombongan juga ingin melakukan liburan murah meriah di pulau Bali, karena sebagaimana kita semua ketahui, dimasa lalu, keluarga kerajaan selalu memilih daerah sekitaran Eropa dan Amerika sebagai lokasi liburan favorit, dengan menggunakan kapal pesiar mewah (yatch). Tetapi dengan kondisi ekonomi krisis seperti ini, mereka memilih Bali sebagai destinasi wisata, menghitung nilai kursnya sangat terjangkau, berbanding jauh jika harus membelanjakan uang dalam kurs Euro, nilainya bisa berlipat-lipat (kurs rupiah terhadap riyal Rp. 3.500 dan terhadap Euro Rp. 16.000), maka dari itu masa liburan diperpanjang menjadi 8 hari dari yang sebelumnya hanya 5 hari dan berakhir tanggal 12 maret. Mungkin ini adalah versi liburan keluarga kerajaan yang konroversial di mata dunia internasional, ramainya pemberitaan di media mengenai perjalanan mewah sang raja diberbagai negara Asia menjadi perbincangan, karena ini menjadi sesuatu yang mengkhawatrikan banyak pihak.

Ditengah kondisi kesulitan ekonomi, perjalanan mewah masih tetap dilakukan dalam rangka untuk meyakinkan calon investornya (walaupun sebenarnya itu dianggap tidak perlu). Karena rakyat Arab Saudi yang mengetahui persis keadaan dalam negeri sedang tidak stabil, pihak kerajaan masih saja bergaya hidup mewah untuk di hormati, akibatnya banyak kalangan masyarakat yang menentang kebiasaan keluarga kerajaan yang dianggap masih menghambur-hamburkan uang ditengah kondisi krisis.

REALISASI INVESTASI "MASIH JAUH"

Melihat kondisi ini, maka tidak heran jika pada akhirnya banyak pihak yang merasa pesimis dengan rencana investasi yang ditawarkan sang raja kepada pemerintahan Indonesia. Sebab apa? Dosamping karena Indonesia bukan anggota negara koalisi bentukan Arab Saudi dalam memerangi ISIS. Sebagaimana halnya Malaysia, yang selama ini selalu mendapat perhatian khusus dari kerajaan Saudi. Alasan lain, karena tidak ada kejelasan dan kepastian mengenai keseriusan kerjasama itu (total nilai dan jangka waktu), sama seperti yang pernah terjadi di waktu-waktu sebelumnya. Sudah banyak MoU yang ditanda tangani, tetapi hingga kini belum ada yang terealisasi dan adanya hasil nyata yang pernah terwujud. Di masa lalu dalam hal investasi, Indonesia masih dianggap miris dan hanya diberikan janji-janji surga, namun tidak pernah terealisasi. Dan dari ulasan diatas pun, nampaknya perihal yang sama akan terulang kembali, karena ternyata sang raja datang dalam rangka mempromosikan saham Aramco dan berlibur ke Bali bukan dalam rangka menanamkan modal sebagaimana yang disangkakan banyak pihak.

Saudi sendiri sedang dalam keadaaan kesulitan keuangan, jadi tidak mungkin mereka akan mengeluarkan banyak uang. Mungkin pihak arab Saudi memang memiliki planning jangka panjang terhadap indonesia, tetapi bisa jadi itu akan membutuhkan waktu panjang, sebab apa? Arab Saudi tidak hanya datang ke Indonesia, mereka juga akan datang ke Jepang dan Tiongkok. Jadi masih ada banyak kemungkinan dalam pelaksanaan 11 Mou yang sudah ditanda tangani. Karena sebagaimana kita semua juga tahu bahwa selama ini Arab Saudi sudah menjadi mitra kerja yang baik dengan Jepang, Tiongkok, dan Negara-negara non muslim lainnya. Jadi misi utama mereka dalam kerjasama bukan sekedar memandang kesamaan akidah umat, tetapi murni bicara uang dan keuntungan materi jangka pendek atau panjang. Lalu dalam rangka apa raja saudi datang ke Jepang dan Tiongkok?

Peran ARAMCO sangat penting dalam perkembangan produk-produk lokal, memperluas ekspor negara dan hasil produksi. ARAMCO memiliki perusahaan anak cabang, proyek-proyek venture, kantor-kantor, perusahaan-perusahaan di Cina. Mesir, Jepang, Yunani, Belanda, Philipina, Korea Barat, Sigapura, Emirat Arab, UK dan Amerika. Telah ditandatangani kesepakatan antara ARAMCO Saudi dengan perusahaan Sumitomo Chemical Jepang untuk kerjasama dengan proyek raksasa untuk pengembangan lembaga terpadu pada sektor penyulingan dengan bahan petrokimia di kota Rabigh yang terletak pada pantai bagian Barat Saudi Arabia, Awal November 2009 lalu, Aramco melakukan pendekatan pada China Petroleum & Chemical Corp atau lebih dikenal dengan nama Sinopec untuk membeli saham ladang minyak Qingdao.Kedua, perusahaan kemungkinan akan melakukan kerjasama, meliputi proses produksi dan penjualan minyak mentah. Negara importir seperti Cina membutuhkan sumber daya energi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Lalu Dimana posisi Indonesia? Belum bisa dipastikan.

Atau bisa saja kebijakan yang diterapkan Saudi adalah baru akan menanamkan modal dalam jumlah besar jika Indonesia mau membeli 5% saham Saudi Aramco. Dari mana indonesia punya dana sebesar itu, bahkan belakangan ini saja Indonesia baru mengambil hutang dan melepas surat hutang negara (SUN) baru. Target penerimaan program Amnesti pajak saja tidak sampai segitu. Disamping Indonesia sendiri sedang berusaha keras mempertahankan tambang emas PT. Freeport yang kini sedang bermasalah dan berharap kedatangan Saudi ini bisa menjadi jalan keluar dengan dibelinya saham Freeport oleh Saudi. Tapi apa mau dikata, ternyata keduanya punya kepentingan berbeda dan belum bisa dikatakan satu faham yang sama dalam hal kepentingan investasi. Keduanya sama-sama punya kepentingan atas asset yang sedang berusaha mereka pertahankan saat ini. Maka bisa dikatakan belum satu arah satu tujuan, masih bersifat wacana dan masih banyak memungkinkan.

Kesimpulannya;
Atas apa yang terjadi belakangan ini, kita semua harus mau berpikir realistis dan logis. Jika tersebar kabar bahwa raja Saudi datang dalam rangka bagi-bagi uang dalam jumlah besar, maka itu adalah berita Hoax yang menyesatkan, karena ternyata kedatangan sang raja adalah dalam rangka menawarkan saham tambang minyaknya dan mereka sedang dalam masalah keuangan besar serta sedang menjajaki kemungkinan diversifikasi investasi di luar minyak. Arab saudi justru ogah jika ditawari untuk memperbanyak lagi kilang minyak baru di negara baru, cadangan minyak yang mereka miliki saat ini saja sudah tidak bisa ditampung lagi. Menambah kilang minyak baru justru itu akan makin mengancam eksistensi mereka. Harga minyak akan semakin jatuh dan ekonomi mereka makin terpuruk. Saudi juga sedang berupaya menjaga hubungan bilateral yang baik dengan indonesia, karena indonesia adalah sumber devisa terbesar dari perjalanan haji dan umroh. Tujuan tambahan lainnya adalah tujuan liburan di Bali sebagai destinasi terkenal eksotis di kalangan mancanegara. Beberapa agenda lain yang tidak disebutkan dan nampak jelas dipermukaan adalah adanya upaya menyebarkan faham wahabi untuk dimasukkan dalam kurikulum sekolah dan perguruan tinggi. Jika benar maka isu itu harus diwaspadai oleh semua kalangan.

Arab saudi saat ini sedang berusaha bertahan dan mereka sedang berusaha memanfaatkan asset yang ada untuk membiayai beragai kebutuhan, walaupun itu harus dengan cara merogoh kantong sangat dalam, karena kebiasaan dan gaya hidup mewah yang salama ini mereka geluti masih sulit ditinggalkan. Mereka terbiasa mendapat pujian dan gelaran karpet merah dalam setiap kunjungannya, semata-mata untuk menarik minat dan meyakinkan investor bahwa mereka masih memiliki segalanya. Tetapi kenyataannya saat ini mereka sedang sekarat.

Dibalik semua itu, semoga saja kondisi ini bisa membuka mata mereka untuk banyak berubah dan memperbaiki diri. Jalinan silahturahmi ini memang dilandasi atas dasar rasa kesamaan dan kebutuhan untuk saling tolong menolong, bukan karena uang semata.

Baca Juga:
Pasukan Panji Hitam akan datang Jika kita Bersatu
Mari Kenali Ruh dan Jiwa Kita
Anak Indigo: Agen Perubahan Akhir Zaman
Terungkap: Misteri Buah Khuldi
Sosok Harry Poter di Kehidupan Nyata


Artikel Terkait: