Rabu, 07 Juni 2017

FENOMENA BUNUH DIRI DI JEPANG

Kompasiana, Beberapa hari ini sedang marak berita tentang bunuh diri.

Di Indonesia ada berita tentang mantan pacar selebgram yang bunuh diri. Di belahan dunia lain, ada vokalis band ternama bunuh diri. Dan di Jepang, 3 hari lalu ada berita tentang pegawai perusahaan konstruksi yang bunuh diri.

Spekulasi mengenai kenapa mereka sampai melakukan bunuh diri juga bermacam-macam. Kemungkinan karena depresi yang berkepanjangan, atau terbelit masalah yang dirasa tidak bisa terselesaikan lagi, dan lain-lain. Namun saya tidak akan membahas lebih dalam lagi tentang alasan atau apa yang melatarbelakangi seseorang melakukan bunuh diri. Di sini saya hanya ingin sharing tentang serba-serbi bunuh diri dengan fokus negara Jepang berdasarkan informasi yang saya berusaha eja dari buku, maupun informasi dari internet.

Kebanyakan kita beranggapan bahwa Jepang merupakan negara di mana angka bunuh dirinya paling tinggi di dunia. Ini bisa dimaklumi karena kadang imajinasi tentang "bunuh diri" ini sudah menjadi stigma pada Jepang karena banyak istilah bahasa Jepang yang berhubungan dengan bunuh diri seperti harakiri, jibakutai, kamikaze, tokkoutai yang sering kita baca maupun dengar mulai dari film (juga anime), komik sampai dengan media yang lain.

Namun, sebenarnya jumlah orang yang bunuh diri di Jepang bukanlah yang terbanyak di dunia. Jepang menempati peringkat ke 6, yang bukan posisi teratas akan tetapi masuk dalam posisi 10 terburuk di dunia. Memang jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang lain seperti Inggris, Amerika, Kanada, Perancis dll, posisi Jepang merupakan posisi yang terburuk.

Ada sedikit catatan mengenai peringkat tersebut. Di Jepang, banyak kematian yang ditemukan lama setelah kejadiannya. Ini disebabkan karena populasi orang yang hidup sendirian juga banyak. Orang-orang yang hidup sendirian ini bisa jadi karena sudah ditinggal oleh istri atau suami (cerai) bahkan oleh anak-anaknya, atau memang masih sendiri oleh karena sebab-sebab yang lain. Kemudian orang-orang yang seperti ini umumnya sangat jarang (walaupun tidak semuanya) untuk saling berkomunikasi, baik dengan kerabatnya, maupun dengan lingkungan sekitar.

Nah, kalau orang tersebut meninggal dunia dan ditemukan lama setelah itu, karena tidak ada orang yang bisa dimintai keterangan tambahan yang diharapkan dapat membantu investigasi, maka identifikasi tentang faktor penyebab kematiannya jadi agak sulit terutama jika polisi maupun lembaga yang berwenang pun sudah angkat tangan mengenai sebab kematiannya.

Akibatnya, pengelompokan tentang faktor penyebab kematian orang seperti inilah yang terkadang bisa membuat data menjadi bias, karena kemudian pengelompokan faktor penyebab kematian menjadi tidak jelas (tergantung dari keputusan lembaga yang terkait). Ada kemungkinan orang tersebut melakukan bunuh diri, tapi disisi lain terbuka juga kemungkinan bahwa kematiannya disebabkan oleh faktor selain dari bunuh diri.

Di luar catatan di atas, kasus bunuh diri di Jepang memang relatif lebih mudah diidentifikasi karena kebanyakan dari mereka "biasanya" meninggalkan pesan yang mengisyaratkan baik secara langsung maupun tidak langsung bahwa mereka bunuh diri.

Seperti kasus yang saya tulis di awal, pekerja muda yang bunuh diri tersebut menulis memo tentang keputus-asa'anya karena sudah capek jasmani dan rohani dengan pekerjaan dan tidak tau harus berbuat apa lagi. Dia juga meminta maaf kepada keluarga, teman maupun kepada kantor tempat dia bekerja karena telah membuat susah (merepotkan) dengan "kepergiannya".

Terungkap bahwa sebulan sebelum meninggal, dia harus bekerja over time lebih dari 200 jam! Terlebih lagi menurut berita, pemuda tersebut baru saja masuk sebagai pekerja baru setelah lulus kuliah, dan dia mendapat tugas berat dengan jadwal yang sangat padat untuk membantu mengawasi pembangunan Stadion Nasional baru di Yoyogi yang dipercepat untuk keperluan Olimpik tahun 2020 mendatang.

Kemudian, jika dilihat dari kisaran umur, kematian akibat bunuh diri di Jepang umumnya dilakukan oleh orang yang relatif berusia muda di umur 15-39 tahun, menurut data yang dibuat oleh Kementrian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan.

Faktor penyebab dari bunuh diri ternyata juga bervariasi. Pada usia 15-19 tahun, faktor sekolah merupakan penyebab utama, disusul faktor kesehatan lalu faktor rumah tangga. Yang saya tahu, faktor sekolah ini salah satunya adalah berhubungan dengan bullying.

Lalu untuk usia 20-29 tahun, faktor kesehatan merupakan penyebab utama, diikuti oleh faktor ekonomi lalu faktor pekerjaan. Dan terakhir, di usia 30-39 tahun faktor utama dan kedua sama dengan usia 20-29 tahun, yaitu kesehatan lalu ekonomi, dan faktor ketiga adalah masalah keluarga. (sumber)

Saya tidak mengetahui secara persis mengapa faktor kesehatan bisa menjadi begitu dominan sehingga menjadi penyebab bunuh diri. Mungkin saja data itu tidak begitu akurat. Menurut apa yang saya pernah baca, pada kebanyakan kasus bunuh diri di Jepang, jika setelah pemeriksaan polisi ataupun dokter sekalipun tidak bisa menemukan sebabnya, ditambah tidak ditemukannya "pesan" atau surat wasiat dari orang yang meninggal, maka polisi akan melakukan tanya jawab kepada keluarga korban (jika korban masih mempunyai kerabat yang bisa dihubungi).

Nah di sinilah biasanya pihak keluarga korban akan memberikan pendapat bahwa kemungkinan penyebabnya adalah masalah kesehatan, untuk menghindari pemeriksaan lebih jauh dan detail kepada keluarga tersebut.

Alasannya adalah, sebagai antisipasi karena bagi beberapa keluarga, jika dalam pemeriksaan lebih lanjut itu terjadi banyak pertanyaan yang menyinggung hal-hal yang sifatnya sangat pribadi bagi keluarga tersebut, mereka tentunya akan merasa agak risih.

Kalau dilihat dari cara bunuh dirinya, untuk pria yang terbanyak adalah gantung diri, disusul dengan menggunakan gas, lalu melompat dari ketinggian. Untuk wanita, cara yang terbanyak sama dengan pria yaitu gantung diri, kemudian disusul dengan cara lompat dari ketinggian lalu dengan cara menelan obat-obatan.

Berdasarkan data itu juga, persentasi orang yang bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta api yang sedang berjalan adalah sangat kecil, yaitu sekitar 2%. Sependek pengalaman saya, di kota besar seperti Tokyo memang jarang jadwal kereta terlambat karena sebab ini. Di Jepang, jika orang bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta api yang sedang berjalan, maka keluarga atau kerabatnya bisa dituntut oleh perusahaan kereta api untuk mengganti kerugian. Apakah ini juga yang menjadi alasan untuk persentasi yang kecil dibanding cara bunuh diri yang lainnya, saya kurang tahu pasti.

Tuntutan kerugian tersebut bisa berupa penggantian biaya kerusakan jika ada infrastruktur yang rusak, maupun kerugian biaya operasional karena otomatis kereta tidak bisa beroperasi sesuai jadwal. Masih bisa juga ditambah penggantian biaya lain misalnya ongkos transfer bagi para penumpang.

Karena biasanya kalau ada kecelakaan dan pemulihan jadwal atau pengoperasian kereta kembali memakan waktu lama, maka perusahaan kereta api akan menyediakan bus atau mempersilahkan penumpang menggunakan kereta dengan rute lain (baik kereta dari perusahaan yang sama ataupun berbeda) sampai ketempat tujuan tanpa tambahan biaya.

Juga tidak menutup kemungkinan tuntutan dilakukan oleh perorangan, misalnya akibat kerugian ekonomi (bisnis) yang diderita karena tidak beroperasinya kereta api sesuai jadwal, maupun misalnya tuntutan penggantian biaya pengobatan karena orang tersebut terkilir atau terjatuh kemudian terluka saat kereta mengerem mendadak ketika korban menabrakkan dirinya ke kereta api. Sebagai tambahan, penggantian kerugian ini juga bisa dibebankan kepada orang yang bunuh diri dengan cara jibaku(meledakkan diri sendiri).

Di Jepang ada beberapa lokasi yang terkenal sebagai tempat bunuh diri. Di antaranya ada Aokigaharajukai, di kaki Gunung Fuji di Prefektur Yamanashi. Lalu ada air terjun Kegon no Taki di Tochigi, Bendungan Amagase di Kyoto, tebing Toujinbou di daerah Fukui dan lainnya. Umumnya di daerah seperti ini, banyak papan peringatan yang sengaja dipasang dengan kalimat-kalimat yang bertujuan untuk mencegah orang berbuat nekat dengan bunuh diri.

Ada juga yang menyediakan telepon umum gratis, agar orang yang punya niat bunuh diri bisa berbicara terlebih dahulu dengan orang lain (bisa juga terhubungkan langsung dengan orang yang berprofesi sebagai konselor) dan diharapkan bisa membuat orang itu berpikir duakali lalu membatalkan niatnya.

Walaupun sejarah bunuh diri di Jepang cukup panjang karena tulisan mengenai bunuh diri sudah dapat ditemukan di Kojiki (buku tertua sejarah Jepang), namun bunuh diri terutama dengan cara harakiri atau seppuku (merobek perut) yang dipandang sebagai cara "terhormat" untuk menyatakan kebersihan diri sebenarnya baru mulai populer di era Edo (sekitar tahun 1600).

Lalu kenapa yang perut yang dirobek bukan misalnya menancapkan pisau ke bagian lain ?

Perut bagi orang Jepang merupakan bagian penting tempat bersemayamnya "jiwa" dan di perut juga kita bisa lihat segala hal (niat, nafsu, keinginan, dan lain-lain) yang berhubungan dengan orang tersebut tanpa bisa ditutup-tutupi. Dengan merobek perut, maka diharapkan agar orang bisa melihat dirinya secara "telanjang", dan sekaligus sang Samurai yang melakukan harakiri bisa membuktikan bahwa jiwanya murni dan bersih.

Dengan "memperlihatkan" jiwa bersihnya, maka kemudian diharapkan kehormatannya pun bisa terjaga. Penjelasan ini bisa ditemukan di buku karya Nitobe Inazou yang berjudul Bushido yang pertama kali diterbitkan tahun 1900 dalam bahasa Inggris.

Sebagai tambahan, ada juga beberapa ungkapan yang menunjukkan bahwa perut merupakan bagian yang penting. Contohnya "hara guroi" . Hara adalah perut dan Guroi (kuroi) artinya adalah hitam. Karena perut adalah tempat bersemayamnya jiwa, dan hitam sebagai lambang sesuatu yang buruk (lawan dari putih), maka dalam kata "perut hitam" menunjukkan sifat orang yang berjiwa atau berhati busuk (licik).

Contoh lainnya "hara wo watte hanasu" . Watte adalah memecah atau membuka, dan hanasu adalah berbicara. Dalam kata "membuka perut dan berbicara" mempunyai makna berbicara sambil bisa melihat isi dari perut lawan bicara. Artinya adalah berbicara secara blak-blakan tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Sebagai penutup, berdasarkan data-data di atas, bisa kita ketahui bahwa Jepang bukan negara dengan jumlah orang bunuh diri terbanyak di dunia, walaupun masih yang terburuk diantara negara-negara maju. Lalu, walaupun orang Jepang terkenal sebagai workaholic, namun pekerjaan bukanlah melulu faktor yang menyebabkan orang bunuh diri.

Jumlah orang yang bunuh diri di Jepang juga semakin berkurang dari tahun ke tahun. Ini mungkin disebabkan karena banyaknya penyuluhan yang gencar dilakukan oleh pemerintah maupun oleh organisasi kemasyarakatan, baik melalui media (cetak, elektronik dan daring) maupun dengan menyediakan banyak nomor hotline sehingga mudah dihubungi oleh masyarakat yang membutuhkan konsultasi.

Bahkan di kantor-kantor, kita bisa curhat jika punya masalah tanpa menyebut identitas diri, baik melalui telpon ataupun email sebagai upaya untuk mengurangi kemungkinan orang yang bunuh diri karena pekerjaan (entah karena stress ataupun harassment).

by;Amakusa Shiro

Artikel Terkait: