Rabu, 19 Juli 2017

"BULLYING" CIKAL BAKAL "PSIKOPAT"

Ada sebuah fenomena baru dimasyarakat dalam berinteraksi dengan sesama, kegiatan bullying atau mentertawakan atau mengolok-olok orang lain dengan berbagai bentuk dan cara, pada beberapa kasus, perilaku bullying bisa mengancam nyawa seseorang jika korbannya merasa terancam dan dianggap tidak akan mampu menahan penderitaan mental, mereka akan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Definisi Menurut bidang psikologi, Bullying adalah sebuah kegiatan perorangan atau sekelompok orang yang merasa dominan dengan cara menyudutkan, menekan, memojokkan orang yang dianggap remeh dan lebih rendah kedudukan/posisi/status dengan tujuan ingin menujukkan eksistensi/keunggulan/kelebihan kepada orang lain, demi mendapatkan status reputasi lebih baik atau lebih unggul dibanding korban tanpa memperhatikan efek yang diderita di korban atau tanpa ada ada rasa bersalah. Tingkat keberhasilan bullying ditentukan dengan kondisi tertekan dan tersudut si korban.

Ini adalah sebuah fenomena yang sangat mengkhawatirkan, dimana efek yang ditimbulkan bisa mengakibatkan trauma panjang bahkan bisa menurunkan rasa percaya diri korban. Pada tingkat tertentu, dimasa depan korban bullying bisa menjadi orang yang pendendam dan bahkan bisa merubah kepribadian dari sebelumnya korban, ketika ada kesempatan mereka akan melampiaskan diri menjadi pelaku bullying. Atau korban akan menjadi pribadi yang tertutup dan memilih mengasingkan diri dari pergaulan untuk menghindari terulangnya trauma berkepanjangan.

Sementara Bagi para pelakunya, bullying memiliki sensasi keasyikan tersendiri, yaitu bagian dari cara menghibur diri dengan menertawakan orang lain dianggap bisa menyalurkan emosi. Orang yang suka membully disinyalir memiliki potensi menjadi pembunuh berdarah dingin dimasa depan, karena mereka sama sekali tidak punya empati dan rasa kasihan kepada korbannya. Berawal dari kesenangan pribadi atau alasan iseng dan bergurau/bercanda, bullying juga bisa menjadi cikal-bakal orang yang bermental psikopat alias suka menyiksa dan merasa senang dengan penderitaan orang lain. Jika tindakan mereka tidak mendapat perlawanan, perilaku bullying ini juga bisa menimbulkan unsur ketagihan bagi pelakunya, mereka akan mengulangi lagi kegiatannya itu kepada orang yang sama atau orang yang berbeda, sampai mereka benar-benar merasa puas atau jera. Ada dua macam perilaku bullying di dunia nyata dan satu macam di dunia maya, berikut ini penjelasannya....

1. BULLY PERORANGAN

Bullying yang dilakukan secara perorangan kepada satu korban lain, umumnya dilakukan dengan tujuan untuk menguji keberanian dan nyali pelaku, seberapa besar kemampuannya menunjukkan kekuatan menekan dan menakut-nakuti calon korbannya. Pelaku bullying juga memiliki kriteria sendiri dalam menentukan korbannya, biasanya orang yang memiliki standar dibawah dirinya, pelaku bisanya mengukur korban dari kebiasaan sang korban sehari-hari, seperti; ukuran tubuhnya lebih kecil, calonnya dikenal mudah menangis, dikenal mudah menuruti permintaan orang lain, dikenal mudah terbawa emosi dan sebagainya. Ciri-ciri korban yang dikenal memiliki banyak kelemahan ini yang dianggap memiliki potensi untuk diremehkan dan disepelekan oleh pelaku, jenis korban seperti ini bisanya akan mudah menyerah dan memilih mengikuti saja apa yang diperintahkan orang yang ada satu level diatasnya. Dengan demikian, tujuan menakut-nakuti akan mudah tercapai, dan ia akan mendapatkan rasa kepuasan dari kegiatannya membully tersebut. Sebuah keyakinan pada dirinya bahwa ia punya cukup nyali dan layak ditakuti.

2. BULLY BERKELOMPOK

Bullying yang dilakukan secara berkelompok atau lebih dari satu orang, umumnya dilakukan dalam rangka mencari pelampiasan, menunjukkan eksistensi diri, menaikkan reputasi, dan mengharapkan pujian/hormat. Bullying dengan cara berkerumun dilakukan karena dalam kelompok itu sudah terbentuk sikap merasa paling hebat, paling populer, paling disegani, paling berpengaruh dan paling segalanya. SIkap angkuh dan congkak sudah merasuki genk ini untuk kemudian menujukkan dan memandang rendah siapa saja yang menurut mereka tidak selevel dan setara dengan status sosial mereka dilingkungan tersebut. Calon korban yang dijadikan sasaran biasanya adalah orang yang ada disekeliling mereka juga, memiliki keterbatasan fisik, kekurangan materi, kondisi sosial terbatas dan kelemahan ekonomi.

Korban biasanya adalah orang yang mereka kenal dan bisa mereka temui sehari-hari, punya kebiasaan yang menurut mereka aneh dan tidak sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan anggota genk ini. Ketidaksamaan status sosial yang terlalu jauh bisa mendorong anggota genk ini untuk berbuat nekat mendekati dan mencemooh tingkah laku sikorban secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Puncak dari kesenangan bullying berkelompok ini adalah ketika pelaku bisa membuat korban terpuruk dan terperosok dalam rasa malu, semakin terpuruk kondisi korban, maka semakin terhibur si pelaku. Para pelaku menganggap korbannya ini adalah bagian dari hiburan yang mengasikkan, dengan mengintimidasi seseorang yang tidak berdaya, mereka bisa melakukan apa saja sesukanya dan bisa menganggap reaksi tingkah laku korban sangat lucu dan menggemaskan.

3. BULLYING DI MEDIA SOSIAL
Mengisi kolom komentar dengan nada sinis di halaman pribadi orang lain sudah dianggap lumrah, apalagi jika si pemilik akun telah membuat sebuah kesalahan fatal, bertindak norak misalnya. Mudah saja bagi mereka mencemooh dan menjelek-jelekkan karena di media sosial tidak berlaku sanksi apapun. Semua orang bebas berpendapat dan mengungkapkan perasaaan tanpa perlu menunjukkan identitas asli dan tidak perlu mengklarifikasi perkataannya. Media sosial adalah media yang tidak kasat mata, kedua perilaku bully diatas (perorangan atau berkelompok) bermula dari kebiasaan membully di media sosial ini, karena korban tidak akan bisa melakukan tindakan apapun terkait ucapannya yang menyudutkan atau bahkan menghina. Publik figur yang banyak followersnya dipandang memang populer, tetapi didalamnya juga tumbuh benih-benih kebencian jika sang artis selalu bikin sensasi. Apapun yang dilakukan idolanya akan dihujat dan di cecar sampai berdarah-darah dan tidak ada ampun. Pada banyak kasus, si artis akan membiarkan saja dan menganggap itu hal biasa, padahal sesungguhnya dari situlah tumbuh sikap dan perilaku sadis seseorang dalam berpendapat. Si artis harusnya langsung melakukan tindakan pemblokiran terhadap akun-akun yang ingin menjatuhkan martabat dirinya, dengan begitu pelaku bullyers akan tau rasanya diabaikan.

Sikap mental pengecut dan penuh kebencian ini yang sedang merasuki jiwa anak muda kita, di banyak negara semua orang mengalami hal ini. Ini adalah buah dari berkembangnya tekonologi informasi, berbagai kemudahan dan kecanggihan digenggaman tangan dengan cepat bisa menghancurkan mental seseorang jika kegiatan itu dilakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang. Sikap mental yang suka merendahkan dan menganggap paling hebat diri sendiri, itu adalah salah satu ciri terjangkitnya penyakit hati; iri, dengki, hasut, dan cemooh. Tidak ada obat yang paling mujarab untuk menghilangkan penyakit jenis ini, selain usaha orang-orang disekitarnya untuk segera mengingatkan mereka untuk kembali pada jalan kebaikan dan keihlasan. Jangan biarkan anak-anak kita memiliki mental perusak dan pendendam, kelak mereka akan tumbuh menjadi manusia berdarah dingin dan sadis.

FAKTOR PENYEBAB PERILAKU BULLY

Ada beberapa penyebab yang pelaku bullying ini melakukan tindakan nekat seperti ini, biasanya karena pengalaman pernah menjadi mantan korban bully, atau bisa juga karena tekanan dari keluarga.

1. ALASAN DENDAM MASA LALU
Banyaknya kasus kekerasan di lembaga pendidikan pada saat penerimaan siswa baru, hingga akhirnya korban meregang nyawa adalah salah satu bentuk bullying yang dilampiaskan senior kepada yuniornya. Sang senior pernah menerima perlakuan serupa di masa lalu, pada kesempatan ini ia pun memanfaatkan moment itu untuk memberi pelajaran yang sama dengan yang sudah diterimanya. Budaya kekerasan diturunkan kepada seluruh generasi pada setiap awal tahun ajaran baru, bukan hanya menekan dan mencaci maki, tindakan kekerasan fisik juga dilancarkan untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan sang pendahulu. Sampai dengan jatuh korban melayang nyawa, barulah tradisi penataran murid baru ini dihentikan dan ditiadakan.

2. ALASAN KURANG PERHATIAN ORANG TUA
Tindakan bullying ini merupakan bagian dari cara kebanyakan anak remaja saat ini mencari perhatian, akibat tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari keluarganya, mereka menganggap dengan cara melampiaskan kekesalan kepada orang lain, mereka bisa menyalurkan kemarahannya sehingga si korban bisa ikut merasakan penderitaan yang dialami. Pelaku menganggap, kurangnya kasih sayang dari orang tua yang mengakibatkan mereka menjadi kurang percaya diri, bisa dilampiaskan dengan cara menunjukkan dominasi amarahnya kepada orang yang lebih lemah mentalnya. Karena anak-anak itu tidak akan menolak perintahnya dan menuruti apa saja kemauannya, apalagi jika itu disertai dengan kekesarasan dan intimidasi.

Anak-anak remaja saat ini, dimana kebanyakan orang tuanya sibuk bekerja dan mengejar karir tidak punya waktu untuk anak-anaknya, cenderung untuk membiarkan anaknya menyelesaikan semua masalah sendiri. Si anak diberikan berbagai fasilitas gadget dan akhirnya si anak bisa belajar banyak hal. Dan menurut sudut pandang anak, cara paling efektif dan cepat mewujudkan keinginannya adalah dengan cara kekerasan. Sifat keras ini terbentuk dari banyaknya tontonan dan bacaan yang membenarkan bahwa dengan kekerasan setiap orang akan bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Kebiasan menerapkan sikap keras ini akhirnya tumbuh sikap pelampiasan menerapkan perilaku keras kepada orang yang lemah, dengan maksud untuk mendapatkan kesenangan dan hiburan.

Puncak dari kegiatan bullying yang paling akut adalah, atas pemahaman kemampuannya menekan orang lain ini, pelaku bullying menganggap, ia akan bisa mendapatkan apa pun yang diinginkan, misalnya melakukan tindak pemalakan. Dengan cara kekerasan, memalak seseorang dan menghadangnya di tengah jalan, akan membuahkan hasil si korban akan menyerahkan apapun yang dimilikinya tanpa banyak basa-basi. Sikap perilaku bullying ini diawal memang hanya bermaksud coba-coba, bergurau, atau berkelakar, tetapi puncaknya akan membentuk karakter orang yang suka bertindak menggunakan kekerasan, menjurus pada kriminal. Maka dari itu, jika anda ingin agar anak anda tidak menjadi pelaku bullying, berikan mereka banyak perhatian nyata, jangan diserahkan pada media sosial. Dan jika anda tidak ingin anak anda menjadi korban bullying, berikan mereka pelatihan fisik seperti taekwondo atau karate sederhana, dalam rangka untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak dan mencegah upaya kawan sebayanya mencemooh atau menjelek-jelekkannya.








Artikel Terkait: