Jumat, 29 Juli 2011

“Teroris Agama”, (Tak Ada) Agama “Teroris”!

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

PASKA tumbangnya Uni Soviet dan berubah menjadi Federasi Rusia Bersatu, mata panah permusuhan dan fitnah kaum kapitalisme dan kaki tangan sekulerisme langsung mengarah pada Islam. Ideologi sosialisme yang masih diusung beberapa negara besar, macam Federasi Rusia Bersatu dan Republik Rakyat China, menjadi nomor dua, dan seketika Islam dianggap sebagai halangan berikutnya.

Segala sesuatu yang melekat pada Islam dan umat Muslim yang dahulu dilihat biasa-biasa saja, malah lazim dipraktekkan secara terbuka —sebab menjadi bagian dari hukum agama besar ini— kini menjadi momok yang sengaja diformat menakutkan bagi dunia barat.

Fundamentalisme Islam, yang dahulu adalah bagian dari praktek menjalankan agama secara tegas, langsung dicap sebagai biang terorisme. Padahal, fundamentalisme tidak hanya dikenal dalam Islam, agama terdahulu semisal Yahudi, Kristen, Hindu, Budha atau beberapa aliran kepercayaan juga memperaktekkan fundamentalisme.

Dahulu fundamentalisme belum serta-serta di masukkan dalam kamus sekulerisme sebagai mata rantai kekerasan. Namun saat ini, sekulerisme-kapitalisme --yang membelokkan arti kata fundamentalisme-- memasukkannya dalam bingkai kekerasan. Siasat-strategi sekulerisme-kapitalisme dalam Silent War (perang rahasia) yang sesungguhnya sedang berlangsung saat ini.

Islam sebagai agama yang dianut hampir seperdua penduduk dunia, dalam bingkai sekuleris-kapitalis adalah ancaman. Kata-kata ini tentu akan bermakna seperti yang dikehendaki paham sekuler, jika kita serta-merta meletakkannya dalam otak kita. Kita bisa menolak menerima persepsi atau paham sekuler-kapitalis, dan tetap berpegang pada pemahaman yang sudah kita ketahui.

Dalam siasat-strategi Silent War sekuler-kapitalis, Barat (Eropa sekuler) dan Zionis-Amerika memang memainkan makna-makna simbolis dan menggunakannya sebagai cap. Tentu saja, cap-cap yang disodorkan sekuler-kapitalis sengaja dimodifikasi sebagai sesuatu yang jahat.

Jihad dalam Islam secara harfiah adalah panggilan atau tekad untuk berkorban demi agama Allah SWT. Bentuk Jihad pun tergantung era di mana Muslim sebagai komunitas hidup. Jika dahulu jihad diserukan untuk membela kepentingan agama Allah, yang mengalami penekanan oleh entitas religius dan paham lain, berupa upaya membela diri, bebas dari gangguan.

Bentuknya pun bisa bermacam-macam, seperti menerima tawaran perang dari para penekan, membela diri dari serangan para penekan, membela negara, bahkan bekerja demi Allah SWT untuk kepentingan keluarga termasuk dalam konteks jihad.

Dari pemaknaan di atas, tidakkah jihad —atau dalam agama atau paham lain memiliki penyebutan berbeda— sama dan sering dilakukan pula? Dalam sejarah Kristen, para ksatria Templar pernah melakukan pembelaan atau jihad. Agama Kristen juga memilikinya yang dikenal sebagai Crusaider (terhadap kepentingan Vatican, dan mengikuti ambisi gereja-gereja Eropa untuk menguasai tanah suci Yerusallem). Dalam sejarah Yahudi pun, juga pernah membela diri dari kejaran tentara-tentara Kristen Nazi Hitler di daratan Eropa —kendati peristiwa genoside Yahudi ini, sejauh yang diyakini adalah akal-akalan belaka.

Namun intinya adalah, semua upaya pembelaan dalam bentuk pengorbanan terhadap sesuatu yang layak diperjuangkan, oleh orang kaum Muslimin dikenal sebagai jihad.

Sekulerisme-kapitalisme memformat secara negatif pemaknaan jihad ini sebagai bentuk dasar dari yang mereka sebut terorisme. Ironisnya, secara bodoh, orang-orang menerima hasil format tersebut sebagai pemahaman baru dan meninggalkan pemahaman hakiki yang dipegangnya ratusan tahun, tanpa berusaha menyadari bahwa apa yang mereka terima itu sebagai bentuk dari upaya mendiskreditkan kebenaran Islam.

Lalu, adakah kaitan dengan apa yang terjadi sekarang ini sebagai bentuk pembelaan diri sekelompok orang, yang oleh sekuler-kapitalis menyebutnya sebagai jihad? Penulis sepenuhnya tidak percaya dan menolak keras asumsi ini.

Sebab, sebuah entitas agama/kaum barulah akan melakukan tindakan membela diri bila entitas tersebut ‘diserang’ secara eksternal maupun internal. Contoh-contoh di atas memberikan bukti bahwa secara faktual betapa sebuah agama belum akan melakukan jihad jika secara eksistensial agama tersebut tidak diserang atau mendapat tekanan. Premis ini pun berlaku pada agama selain Islam.

Mungkin yang masih faktual untuk menggambarkan sebuah tindakan jihad di mana eksistensialisme sebuah agama telah diserang, adalah bentuk jihad kaum Katolik Irlandia Utara yang didukung sayap militer PIRA (Provisional Irish Republican Army, atau kerap dikenal sebagai IRA), yang hendak membebaskan diri dari tekanan kaum Ulyster Protestan yang didukung oleh Inggris Raya. Konflik berdarah yang masih terjadi hingga saat ini berawal dari serangan tiba-tiba terhadap Orange Order (Orde Oranye) oleh pihak IRA.

Serangan IRA itu adalah buntut dari tekanan politis dan represif tentara pemerintah Inggris yang memaksa agar wilayah Irlandia Utara segara masuk dalam yuridiksi Irlandia bentukan Inggris yang mayoritas Protestan. Orange Order merupakan organisasi persaudaraan penganut agama Kristen Protestan yang berbasis di Irlandia Utara dan Skotlandia. Orange Order diambil dari nama William of Orange yang mengalahkan pasukan Katolik James II dalam Perang Boyne, 1690. Sejak inilah kebencian antara katolik dan protestan berlarut-larut di zona itu.

Jihad juga boleh dilekatkan pada perjuangan penduduk Muslim Uighur di Urumqi provinsi Xinjiang, China, terhadap serbuan tentara pemerintah Republik China, atau jihad warga Budha Tibet terhadap tekanan Pemerintah China.

Pemerintah-negara yang melakukan tekanan bisa saja berkelit bahwa semua upaya negatif yang mereka lakukan itu karena alasan politis. Jika benar demikian, bagaimana pemerintah negara-negara tersebut menjawab fakta tentang hampir 10.000 korban jiwa Muslim tewas secara tragis menyusul serbuan tentara China di Urumqi?

Tekanan politis seperti apa yang membuat warga Kristen Irlandia Utara kehilangan ratusan ribu jiwa semenjak Irlandia Utara menuntut kemerdekaannya? Menurut CAIN, sejak sengketa Katolik Irlandia dengan Ulyster Protestan pada 1969 hingga tahun 2001, telah menyebabkan kematian 1.706 jiwa, 497 di antaranya warga sipil.

Jika kejadian-kejadian di atas masih dapat digolongkan sebagai bentuk jihad, lalu bagaimana melihat pergerakan kelompok-kelompok macam Al-Qaidah atau Jamaah Islamiyah? Dapatkah aksi-aksi mereka selama ini bisa dikatakan sebagai bentuk jihad?

Jika semua kelompok yang dituding pemerintah Amerika dalam daftar “teroris” mereka berlatar belakang agama tertentu, ini juga sulit diterima dan mestinya serta merta ditolak. Sebab dalam penamaan sesuatu, baik sebuah kelompok kerja, korporasi, atau sekadar benda, memang benar jika secara umum sebuah nama akan menggambarkan karateristik dari objeknya. Tapi sebuah nama pun bisa dijadikan kamuflase untuk mendorong opini publik memilih klaimnya sendiri-sendiri.

Sehingga, tak ada bedanya, antara Ksatria Templar, Zionis, Mason, Jamaah Islamiyah, dan Al-Qaidah. Kelima ini adalah bagian dadi kelompok sebuah agama, yang bekerja secara internasional.

Sebab sebuah kelompok terbentuk tidak saja membentukannya berdasarkan kesamaan agama, tetapi juga adanya kesamaan kepentingan, ideologi, misi-visi, nasib, tujuan dan lain sebagainya.

Bukankah kita terlampau lugu jika mengira sebuah kelompok yang dipimpin seorang lelaki berusia 60-an tahun, dengan sebuah kaki pincang, mampu membuat jaringan yang kuat dan mengglobal, sulit dilacak, bahkan cukup sulit ditembus intelijen negara sekelas Amerika Serikat yang berusaha melacak kelompok atau organisasi ini dengan segenap peralatan canggih dan sumberdaya manusia yang cakap, masih kesulitan dan meminta bantuan internasional. Kelompok dan pemimpin yang bisa terus eksis hingga detik kematiannya dalam sebuah serbuan di kota Abbottabad, sekitar 150 km utara Islamabad, Pakistan? Walau sampai detik ini pun pihak Amerika Serikat tidak berani merinci kejadian sebenarnya dari serbuan yang mereka sebut sebagai “operasi khusus” itu.

Artinya, doktrin sekuler-kapitalis yang masuk ke kepala kita bahwa satunya-satunya yang menggerakkan banyak negara dalam perang terhadap terorisme adalah sebuah “kelompok Islam” bernama Al-Qaidah dan seorang “lelaki Muslim” gaek bernama Usamah bin Ladin, benar-benar telah merasuk dan tertanam dalam benak setiap orang.

Sekarang kita dikejutkan oleh seorang pemuda Kristen fundamentalis, Anders Behring Breivik, mengatakan kepada hakim dalam sidang perdananya Senin (25/07/2011) bahwa aksi "teroris" yang dilakukannya bertujuan menyelamatkan Eropa dari Muslim. Setelah sebelumnya Breivik mengaku bertindak sendiri, pada akhirnya ia mengungkapkan di persidangan, bahwa masih ada "dua sel lagi" di dalam organisasi besar Freemasonry dimana dia menjadi anggota.* (bersambung)

Penulis adalah seorang jurnalis dan kolomnis

Artikel Terkait: