Selasa, 07 Januari 2014

Penelitian: Suhu Global Meningkat 4 Derajat Celcius Tahun 2100

Suhu dunia saat ini mungkin terasa lebih panas dari tahun-tahun sebelumnya, peningkatan suhu global akan terus terjadi di tahun-tahun mendatang. Diperkirakan suhu global rata-rata meningkat 4 derajat Celcius pada tahun 2100 jika emisi karbon dioksida tidak berkurang.

Menurut tim ilmuwan yang dipimpin Profesor Steven Sherwood dari University of New South Wales, penelitian mereka menunjukkan respon rendah karbon dioksida pada iklim suhu global menjadi dua kali lipat, sejak zaman pra-industri uap air tidak melewati proses yang benar dalam pembentukan awan. Hal ini dianggap telah memecahkan misteri tentang sensitivitas iklim, peran pembentukan awan memiliki efek positif atau negatif pada pemanasan global.

Pengaruh Uap Air Terhadap Kenaikan Suhu Global

Jika kita merasakan suhu panas pada tahun-tahun terakhir, maka di tahun-tahun mendatang suhu global akan jauh lebih panas lagi. Para ilmuwan menemukan bukti bahwa iklim global lebih sensitif terhadap karbon dioksida, semakin tinggi emisi maka semakin cepat bumi mengalami perubahan suhu panas.


Perkiraan sensitivitas suhu global setidaknya diperkirakan meningkat dua kali lipat akibat karbon dioksida berkisar 3 hingga 5 derajat Celcius, padahal perkiraan sebelumnya hanya meningkat berkisar 1.5 hingga 5 derajat Celcius. Fakta yang bisa terlihat dapat ditemukan dalam peran uap air yang membentuk awan, dimana uap air yang menguap ke atmosfer yang mencapai ketinggian 15 kilometer akan membentuk awan dan menghasilkan hujan lebat. Atau uap air yang menguap menacapai ketinggian lebih dari 15 kilometer sebelum kembali ke permukaan bumi tanpa membentuk awan hujan, artinya membentuk awan panas.

Disaat uap air naik jauh lebih tinggi, situasi ini akan mengurangi beban awan karena menarik lebih banyak uap air. Para peneliti menemukan model perubahan iklim memiliki respon karbon dioksida rendah terhadap suhu global dan tidak mengalami proses penguapan (uap air) menjadi awan hujan. Tetapi sebaliknya, simulasi menunjukkan bahwa sedikit uap air yang naik keatas (lebih dari 15 km) berasal dari karbon dioksida membentuk awan, dimana awan ini ternyata semakin meningkatkan suhu panas global.

Awan yang tercipta dari uap air karbon dioksida meningkatkan (memantulkan) sinar matahari yang menerangi permukaan bumi dan meningkatkan panas yang memasuki atmosfer. Juga mempengaruhi peningkatan sensitivitas iklim dan gangguan sirkulasi alam lainnya. Proses uap air ini menggambarkan sensitivitas iklim yang meningkat dua kali lipat dan akan terjadi dalam 50 tahun kedepan, atau dengan kata lain peningkatan suhu minimal 4 derajat Celcius pada tahun 2100.

Dari apa yang kita lihat, peningkatan emisi karbon dioksida disebabkan oleh banyaknya industri yang didirikan, penggunaan bahan kimia seperti pupuk, dan belum sepenuhnya penggunaan kenderaan energi alternatif, semua ini terus meningkat setiap tahun. Perhitungan kenaikan suhu 4 derajat Celcius berdasarkan data tahun ini, jika ditahun mendatang terjadi peningkatan lebih besar tentunya suhu global akan meningkat jauh lebih besar.

Menurut data satelit yang dihimpun sejak desember 1978, suhu globar rata-rata meningkat 0.14 derajat Celcius per dekade hingga tahun 2011, pada tahun 2004 analisa meningkat 0.19 derajat Celcius per dekade. Rekor suhu menunjukkan fluktuasi suhu atmosfer dan lautan melalului berbagai rentang waktu. Ada banyak perkiraan suhu sejak periode Glaciation Pleistosen akhir khususnya yang terjadi pada zaman Holocene. Data ini bisa diperoleh melalui pengukuran kuantitas diameter pohon, pertumbuhan karang, variasi isotop inti es, sedimen laut dan danau, fosil gua, dan analisis gletser.

Peningkatan suhu global rata-rata (khususnya atmosfer dan lautan) sudah terjadi sejak akhir abad ke-19 dan diperkirakan akan berkelanjutan. Sejak awal abad ke-20 suhu permukaan bumi meningkat 0.8 derajat Celcius, sekitar dua pertiga dari kenaikan yang terjadi sejak tahun 1980. Kenaikan suhu global disebabkan meningkatnya konsentrasi emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Menurut data terdahulu, peningkatan suhu global abad ke-21 kemungkinan akan meningkat antara 1.1 hingga 2.9 derajat Celcius.

Penerapan penggunaan energi alternatif rendah karbon dioksida diharapkan semakin dikembangkan di masa mendatang. Perencanaan saat ini akan membantu penurunan tingkat emisi, sehingga suhu global rata-rata tidak langsung berdampak besar pada dunia dan ekonomi diberbagai negara.

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar